Walennae: Journal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara
Not a member yet
277 research outputs found
Sort by
SITUS, BUDAYA, DAN STRATEGI PENGEMBANGAN PENELITIAN NEOLITIK DI SULAWESI SELATAN
The most difficult problem in neolitic period analysis is the loss of archaeological context, material resistance, field function transformation and sites damage. Therefore, a strategy is significant to support the research application, such as: priority scale, quality and quantity, finds inventory and detailed location, and lab material analysis availability
IDENTIFIKASI AWAL DAN REKONSTRUKSI ASPEK BIOLOGIS TEMUAN RANGKA MANUSIA LJ-1 SITUS LEANG JARIE, MAROS, SULAWESI SELATAN
The purpose of this study is to provide an explanation of the physical aspect reconstruction effort one of the human skeletal findings that once bathed the Maros karst area. The results of excavations in 2018 and 2019 found a human skeleton at the Leang Jarie Site (LJ-1) associated with the Toalian techonology stone tools and Austronesian earthenware, with age 2700 BP. Morphometric analysis of the LJ-1 framework on the skeletal part that remains and can be recognized, known that the sex is a male aged 35-40 years with a height of 166 cm, originating from the Austronetian nation. This framework is considered as important data and evidence of human presence as ancestors of the inhabitants of the Maros cultural region, which provides evidence of the relationship between the Austromelanes race (the Toalian people) and the Mongoloid race (Austronesian people). the technology found in one context with this framework is bone artifacts in the form of Bone point, Maros point, mollusca shell kitchen waste and some pottery fragments. The results of this study can provide a new perspective on racial interactions (Austromelanesoid with Austronesian) in the past. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberi penjelasan tentang usaha rekonstruksi aspek fisik salah satu temuan rangka manusia yang pernah mendiami kawasan karst Maros. Hasil ekskavasi tahun 2018 dan 2019 menemukan rangka manusia di Situs Leang Jarie (LJ-1) berasosiasi dengan alat batu teknologi Toalian dan gerabah Austronesia, dengan umur 2700 BP. Analisis morfometri terhadap rangka LJ-1 pada bagian rangka yang masih tersisa dan dapat dikenali, diketahu bahwa berjenis kelamin adalah laki-laki, berusia 35-40 tahun dengan tinggi badan 166 cm, berasal dari bangsa Austronesia. Rangka ini dianggap sebagai data dan bukti penting kehadiran manusia sebagai leluhur penghuni wilayah budaya Maros, yang memberikan bukti terjadinya relasi antara ras Austromelanesoid (bangsa Toalian) dengan ras Mongoloid (bangsa Austronesia. Adapun teknologi yang ditemukan dalam satu konteks dengan rangka ini adalah artefak tulang berupa lancipan (bone point), artefak batu (maros point), sampah dapur cangkang moluska dan beberapa fragmen tembikar. Hasl penelitian ini dapat memberikan perspektif barun tentang intereaksi antara ras (Austromelanesoid dengan Austronesia) yang melahirkan suatu bentuk akulturasi buadaya yang terjadi pada masa lampau
MANGNGADE: CIRI TRADISI MEGALITIK DI DESA WANUAWARU, MALLAWA, MAROS
Mangngade or ‘performing custom’ is a common activity in Wanuawaru Village, Mallawa District, Maros Regency, which is conducted in December and January. The problem in this research is how Wanuawaru villagers doing it and how position Manggade to Wanuawaru Villagers. There are three stages during the Mangngade procession namely visiting salo, gathering in Saoraja, and gathering in Bulu Posso. In Mangngade, the community performs prayers related to agriculture to avoid natural disasters, to beg for peace, safety, and success of personal life. The methods of data collection are ethnographic method and archaeological data recording. The results of data recording are then analyzed using concept in megalithic culture. Based on those data, it is finally concluded that Mangngade is the character of a megalithic tradition that is still carried out by the Wanuawaru villagers from generation to generation for confession about their community.Mangngade atau ‘menjalankan adat’ merupakan kegiatan masyarakat di Desa Wanuawaru, Kecamatan Mallawa, Kabupaten Maros, yang dilakukan pada bulan Desember dan Januari. Masalah yang diangkat dalam penelitian ini, yaitu bagaimana proses acara Mangngade dan kedudukannya dalam masyarakat Desa Wanuawaru. Terdapat tiga tahap saat prosesi Mangngade, yaitu mengunjungi salo, berkumpul di Saoraja, dan berkumpul di Bulu Posso. Dalam Mangngade, masyarakat melakukan doa-doa yang berkaitan dengan pertanian, terhindar dari bencana alam, kedamaian, keselamatan dan kesuksesan kehidupan pribadi. Adapun metode pengumpulan data yang digunakan yaitu, metode etnografi dan perekaman data arkeologi. Hasil perekaman data kemudian dianalisis dengan menggunakan konsep dalam kebudayaan megalitik. Berdasarkan data tersebut akhirnya disimpulkan bahwa Mangngade merupakan ciri tradisi megalitik yang masih dijalankan masyarakat Desa Wanuawaru secara turun temurun dari leluhurnya dalam membangun pengakuan keberadaan kelompoknya
SEBARAN SITUS PALEOLITIK DI TEPI ALIRAN SUNGAI WALENNAE, DI WILAYAH BONE BARAT, SULAWESI SELATAN
Almost all the palaeolithic sites in Cabbenge, Soppeng are on the banks of the Walennae River, both located on ancient river terraces as well as those that exist today. Considering the Walennae River is located in Bone District (Bontocani region), it is very possible in the Bone region connected to the Walennae River, there are palaeolithic sites that contemporary with the oldest occupancy in Soppeng District. This has been guided by the results of the thesis study of Archaeology Departement of Hasanuddin University students, in 1990 of Mallinrung area, Libureng, Bone, which reported the first time that lithic artefacts were found in the area, including those with the characteristics of palaeolithic technology. In the framework of expanding the potential area of palaeolithic archaeological remains on the banks of the Walennae River, this study focused on the Bone West region, including Bengo, Lamuru, Lappariaja, Kahu and Libureng Districts. Exploration surveys are intended to obtain information on the distribution of sites related to palaeolithic potential in the region. The results of the study showed the development of the technology of the palaeolithic stone tools, including flakes, hand-held axes, impact axes, and axe axes. Technological developments in stone tools and palaeolithic culture in the Bone West region, as well as showing palaeolithic cultural connectivity both in the Soppeng region and in the Old Walennae depressed regions, especially in the Bone West region. Hampir semua situs paleolitik di Cabbenge, Soppeng berada di tepi Sungai Walennae, baik yang terletak di teras sungai purba maupun yang ada sekarang ini. Mengingat Sungai Walennae berhulu di Kabupaten Bone (wilayah Bontocani), maka sangat memungkinkan di wilayah Bone yang terkoneksi dengan Sungai Walennae, terdapat situs-situs paleolitik yang sejaman dengan masa hunian tertua di wialayah Kabupaten Soppeng. Hal ini telah dipandu oleh hasil penelitian skripsi mahasiswa arekeologi, Unhas tahun 1990 di wilayah Mallinrung, Libureng, Bone yang melaporkan pertama kali bahwa di daerah tersebut ditemukan artefak litik, termasuk yang memiliki ciri teknologi paleolitik. Dalam kerangka memperluas area potensi tinggalan arkeologi jaman paleolitik di tepi Sungai Walennae, penelitian ini difokuskan pada wilayah Bone Barat, meliputi Kecamatan Bengo, Lamuru, Lappariaja, Kahu dan Libureng. Survei eksploratif dimaksudkan untuk memperoleh informasi sebaran situs terkait potensi paleolitik di wilayah tersebut. Hasil penelitian menunjukkan perkembangan teknologi alat batu paeolitik, diantaranya: alat serpih, kapak genggam, kapak perimbas, dan kapak penetak. Perkembangan teknologi alat batu dan budaya paleolitik di wilayah Bone Barat, sekaligus menunjukkan konektivitas budaya paleolitik baik di wilayah Soppeng maupun wilayah-wilayah depresi Walennae Purba khususnya di wilayah Bone Barat
GEOARKEOLOGI KARST SAROLANGUN, JAMBI
Sarolangun Karst belongs to the Sarolangun Regency, preserving the cultural remains of the mesolithic period, which has not been too concerned by environmental researchers, especially geoarchaeology. This is the issue that covers general geological conditions. The purpose of this research is to mapping the surface geology in general as an effort to present geological information related to archeological site. The aim is to know the geomorphological, stratigraphic aspects of the archaeological sites. The research method is done through literature review, survey, field data analysis and interpretation. Environmental observations provide information on the landscape of the study area consisting of terrestrial morphology units, weak wavy morphology, strong corrugated morphology units, and karst morphology units. The rivers are dendritic and rectangular, along with the mature-old river, the Old River, Periodic/Permanent River and the Episodic/Intermittent River. The rocks of prehistoric cave compilers are limestones. The geologic structure is a fracture of the shear fault type. Exploration at Sarolangun Karst has listed 6 cave sites. From the classification of petrology, litik tools made of jasper, chert, basalt and andesite rocks. Rock as a raw material litik, found around caves in both the outcrop and boulder. For obsidian sources are located in Bukit Hulu Simpang and Bukit Legal Tinggi.Karst Sarolangun termasuk wilayah Kabupaten Sarolangun, menyimpan tinggalan budaya yang berasal dari masa mesolitik, yang selama ini belum terlalu diperhatikan oleh peneliti lingkungan, khususnya geoarkeologi. Hal inilah yang menjadi pokok permasalahan yang mencakup kondisi geologi secara umum. Adapun maksud penelitian ini adalah melakukan pemetaan geologi permukaan secara umum sebagai salah satu upaya menyajikan informasi geologi terkait dengan situs arkeologi. Tujuannya adalah untuk mengetahui aspek-aspek geomorfologi, stratigrafi di situs-situs arkeologi. Metode penelitian dilakukan melalui kajian pustaka, survei, analisis data lapangan dan interpretasi. Pengamatan lingkungan memberikan informasi tentang bentang alam daerah penelitian yang terdiri dari satuan morfologi dataran, satuan morfologi bergelombang lemah, satuan morfologi bergelombang kuat, dan satuan morfologi karst. Sungainya berpola aliran dendritik dan rektangular, berstadia Sungai Dewasa-Tua, Sungai Tua, Sungai Periodik/Permanen, dan Sungai Episodik/Intermittent. Batuan penyusun gua prasejarah adalah batugamping. Struktur geologi berupa patahan dari jenis patahan geser. Eksplorasi di Karst Sarolangun telah mendata 6 situs gua. Dari klasifikasi petrologi, alat-alat litik terbuat dari batuan jasper, chert, basal dan andesit. Batuan sebagai bahan baku alat litik, banyak ditemukan di sekitar gua-gua baik dalam bentuk singkapan maupun boulder. Untuk sumber obsidian terdapat di Bukit Hulu Simpang dan Bukit Legal Tinggi
ARKEOFAUNA KAWASAN KARST BONTOCANI KABUPATEN BONE SULAWESI SELATAN
This study aims to provide a description of the fauna that once interacted with a human in the Bontocani karst Area in Bone District. Of the few excavated sites providing data availability of bone fragments that can be analyzed by conducting comparative studies with existing faunal composition of the fauna. The method of data collection is by excavation at some sites in this Karst Area. The results of this study document a wide range of vertebrates in the Balang Metti fauna including fish, frogs/toads, lizards, snakes, birds, Strigocuscus, Ailurops ursinus, insectivorous bats, Sulawesi monkeys, rats, Sulawesi pigs, babirusa and Anoa. In some layers of culture, the absence of anoa, indicates the environmental change from the environment of the fields and the weeds to the wet rain forest environment around the site, along with the extinction of this fauna. Based on the identified fauna bone analysis, it is illustrated that past habitats and environments in Bontocani Karst area have not changed much. Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran secara lebih jelas tentang fauna-fauna yang pernah berinteraksi dengan manusia pendukung kebudayaan yang ada di Kawasan Karst Bontocani di Kabupaten Bone. Beberapa situs yang telah diekskavasi memberikan ketersediaan data berupa fragmen tulang yang dapat dianalisis dengan melakukan studi komparasi dengan komposisi tulang fauna yang ada saat ini. Metode pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan ekskavasi di beberapa situs yang ada di Kawasan Karst ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar jenis fauna yang ditemukan di situs ini adalah fauna bertulang belakang antara lain: ikan, kodok/katak, kadal, ular, burung, strigocuscus, Ailurops ursinus, kelelawar pemakan serangga, monyet sulawesi, tikus, babi sulawesi, babi russa dan anoa. Pada beberapa lapisan budaya, tidak adanya temuan fauna anoa, menunjukkan perubahan lingkungan dari lingkungan padang dan ilalang menjadi lingkungan hutan hujan basah di sekitar situs, seiring dengan punahnya fauna ini. Berdasarkan analisis tulang fauna yang berhasil diidentifikasi digambarkan bahwa habitat dan lingkungan masa lampau di Kawasan Karst Bontocani tidak banyak mengalami perubahan
MEMAKNAI LUKISAN GUA UHALIE: PENDEKATAN STRUKTURALISME LÉVI STRAUSS
South Sulawesi is an area that has many prehistoric painting sites. Research on the meaning of the painting is still very limited. Therefore this paper attempts to examine the meaning contained the Uhalie Cave site by Lévi Strauss structuralism approach. The issues raised in this paper are how the meaning of Uhalie Cave paintings and why anoa and pigs became the object of paintings in the Uhalie Cave. The answer obtained from the issues will explain the behavior of a group of painters located in the village. The methods used in this study are collecting secondary data of Uhalie Cave Research, then doing analysis of painting classiffication, finding the pattern of painting in the cave, finding sintagmatic, paradigmatic, transformation, determining signified-signifer, and distinctive feature. The result of this study explain that the happines and grief manifestation of Uhalie Cave human in hunting.Sulawesi Selatan merupakan wilayah yang memiliki banyak situs lukisan prasejarah. Penelitian terhadap makna lukisan tersebut masih sangat terbatas, oleh karena itu karya tulis ini mencoba mengkaji makna yang terkandung pada situs Gua Uhalie dengan menggunakan pendekatan strukturalisme Lévi Strauss. Masalah yang diangkat dalam tulisan ini adalah bagaimana makna lukisan Gua Uhalie dan mengapa anoa dan babi menjadi objek lukis di Gua Uhalie. Jawaban yang didapatkan dari permasalahan tersebut akan menjelaskan tingkahlaku kelompok pelukis yang terletak di daerah pedalaman. Metode yang digunakan dalam penelitian ini mengumpulkan data sekunder hasil penelitian Gua Uhalie kemudian melakukan analisis klasifikasi lukisan, menemukan pola keletakannya, menetukan tanda-penanda (signified-signifer), sintagmatik, paradigmatik dan transformasi, serta menentukan ciri pembedanya (distictive feature). Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa lukisan tersebut merupakan perwujudan suka duka manusia pendukung Gua Uhalie dalam melakukan perburuan