Walennae: Journal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara
Not a member yet
277 research outputs found
Sort by
TELAAH AWAL TEMUAN MERIAM KUNA DI SURABAYA
A cannon is any tubular piece of artillery that uses gunpowder or other usually explosive based propellants to launch a projectile. Cannon vary in caliber, range, mobility, rate of fire, angle of fire, and firepower; different forms of cannon combine and balance these attributes: varying degrees, depending on their intended use on the battlefield. The word cannon is derived from several languages, in which the original definition can usually be translated as tube, cane, or reed. In modern times, cannon has fallen out of common usage, usually replaced by "guns" or "artillery", if not a more specific term, such as "mortar" or "howitzer". By the 1500s, cannon were made in a great variety of lengths and bore diameters, but the general rule was that the longer the barrel, the longer the range. Some cannon made during this time had barrels exceeding 10 ft (3.0 m) in length, and could weigh up to 20,000 pounds (9,100 kg). Consequently, large amounts of gunpowder were needed, to allow them to fire stone balls several hundred yards. Meriam adalah bagian dari tabung artileri yang menggunakan bubuk mesiu atau propelan berbasis bahan peledak lainnya untuk meluncurkan proyektil. Meriam bervariasi dalam kaliber, jangkauan, mobilitas, laju api, sudut api, dan daya tembak; berbagai bentuk meriam menggabungkan dan menyeimbangkan atribut-atribut ini: derajat yang berbeda-beda, tergantung pada tujuan penggunaannya di medan perang. Kata meriam berasal dari beberapa bahasa, di mana definisi aslinya biasanya dapat diterjemahkan sebagai tabung, tongkat, atau buluh. Di zaman modern, meriam telah jatuh dari penggunaan umum, biasanya digantikan oleh "senjata" atau "artileri", jika bukan istilah yang lebih spesifik, seperti "mortar" atau "howit¬zer". Pada tahun 1500-an, meriam dibuat dalam berbagai variasi panjang dan diameter lubang, tetapi aturan umumnya adalah semakin panjang laras, semakin panjang jaraknya. Beberapa meriam yang dibuat selama ini memiliki barel melebihi 10 kaki (3,0 m) panjangnya, dan bisa berbobot hingga 20.000 pound (9.100 kg). Akibatnya, dibutuhkan bubuk mesiu dalam jumlah besar, untuk memungkinkan mereka menembakkan bola batu beberapa ratus meter
MUNGKINKAH DI KABUPATEN BUTON MEMILIKI TEMUAN PRASEJARAH
Selama ini Kabupaten Buton dijuluki sebagai "kota seribu benteng". Hal itu dapat dimengerti karena Buton memiliki sebaran benteng, dan selama ini menjadi topik pembahasan di kalangan sejarawan maupun arkeolog. Dalam perspektif arkeologi, penelitian situs-situs yang berindikasi prasejarah di Sulawesi bagian Tenggara terbilang masih jarang ditemukan. Penelitian berupa eksplorasi gua-gua yang dilakukan 2011 belum ditemukan adanya temuan prasejarah baik di beberapa situs gua maupun situs terbuka. Sejumlah gua yang disurvei hanya memperlihatkan bekas aktivitas ritual. Padahal, kondisi topografi Sulawesi Tenggara yang tidak jauh berbeda dengan kondisi topografi wilayah Sulawesi Selatan dan memungkinkan adanya keterkaitan budaya antara dua wilayah hunian prasejarah. Selain tindak ritual, tradisi pembuatan tembikar juga ditemukan di Buton, merupakan lahan studi etnoarkeologi yang menjanjikan harapan kajian yang akurat, guna melahirkan berbagai model penelitian etnoarkeologi di Indonesia. Dengan melihat kondisi topografi, mungkinkah Buton memiliki temuan prasejarah yang dapat memberi gambaran mengenai awal peradaban manusia? All this time Buton Regency is titled as the "city of a thousand fortresses ". This is understandable because Buton has spread fortress, and has been a topic of discussion among historians and archaeologists. In archaeological perspective, the sites studies that are indicated prehistoric in Southeast Sulawesi are still fairly rare. The study of caves exploration conducted in 2011 has not found any prehistoric findings in several cave sites and open sites. A number of caves surveyed showed only former ritual activity. In fact, Southeast Sulawesi topographic conditions are not much different from the topography of South Sulawesi and it allow for cultural linkages between the two prehistoric residential areas. In addition to acts of ritual, tradition of making pottery is also found in Buton, which is a promising area of accurate assessment expectations of etnoarcheology study, gave birth to a variety of models etnoarcheology study in Indonesia. By looking at the topography, is it possible that Buton has prehistoric findings may give an idea of the beginning of human civilizatio
PERANAN SITUS LIANG DALAM SISTEM PEMUKIMAN MASYARAKAT TORAJA
Banyak tulisan ilmiah yang telah dilahirkan para ahli tentang pemukiman tradisional masyarakat Toraja, namun belum ada yang membahas tentang bagaimana peranan penguburan (Liang) dalam sistem pemukiman Toraja. Dalam tulisan ini akan diuraikan tentang Liang dan peranannya dalam sistem pemukiman masyarakat Toraja, sebab pada kenyataannya setiap Tongkonan mempunyai pasangan, yaitu Liang. Liang bagi masyarakat Toraja dianggap sebagai banua tang merambu, yang dipandang oleh masyarakat Toraja mempunyai nilai yang sama dengan Tongkonan, yaitu sebagai bahagian dari warisan dan pusaka mereka secara turun-temurun yang tidak ternilai harganya.Many scientific papers have been written about the traditional of Toraja settlements, but no one has discussed about how the role of burial (Liang) in Toraja settlement system. This paper described on Liang and role in human settlement systems Toraja. In fact every Tongkonan have a partner that is Liang. Liang in Toraja communities regarded as banua tang merambu, which is considered by the Toraja people have the same value with Tongkonan, namely as a portion of their legacy and heritage for generations that is priceless
TIPE NISAN ACEH DAN DEMAK-TROLOYO PADA KOMPLEKS MAKAM SULTAN HASANUDDIN, TALLO DAN KATANGKA
Proses Islamisasi di Makassar, tidak lepas dari pengaruh budaya Aceh (Melayu) dan budaya Jawa. Banyak teori tentang asal-usul masuknya agama Islam di Sulawesi Selatan, namun berdasarkan bukti arkeologis seperti makam, dapat diketahui dari mana pengaruh budaya Islam tersebut berasal. Dengan menggunakan metode deskripsi dan perbandingan antara bentuk-bentuk nisan tipe Aceh yang berkembang di Sumatra dan Semenanjung Malaysia dan tipe Demak-Troloyo dengan bentuk nisan pada makam-makam kuno di kawasan Makassar, dapat diketahui bahwa asal-usul dari budaya tersebut, adalah budaya Aceh (Melayu) dan Jawa. Hal ini terutama dapat dilihat pada kehadiran nisan tipe Aceh dan tipe Demak-Troloyo pada masa lampau di beberapa kompleks makam kuno di Makssar. Tipe nisan Aceh dan Demak-Troloyo digunakan oleh para raja dan tokoh-tokoh agama Islam pada masa lampau sebagai nisan pada makam mereka, separti yang nampak pada kompleks makam Sultan Hasanuddin, Katangka dan Tallo.The process of lslamization in Makassar, is related wite from the cultural influence of Aceh (Malay) and Javanese culture. Many theories about the origins of the emergence of Islam in South Sulawesi, but based on archaeological evidence, such as tombs, can be known from where the influence of Islamic culture is derived. By using the method of description and comparison between these forms tombstones is a widespread type of Aceh in Sumatra and Peninsular Malaysia and the type of Demak-Troloyo with a gravestone in ancient tombs in the area of Makassar, it is known that the origins of these cultures, is of Acehnese culture (Malay) and Java. This can especially be seen in the presence of graves in Aceh type and Demak-Troloyo type in the past on some ancient tomb complex in Makassar. Type of tombstone Aceh and Demak-Troloyo used by kings and religious leaders of Islam in the past as a headstone on their graves, as visible in the tomb complex of Sultan Hasanuddin, Katangka and Tallo
CATATAN ATAS TEMUAN ARCA TERAKOTA DI KABUPATEN BANTAENG, SULAWESI SELATAN
Penelitian ini merupakan tindak lanjut dari laporan terkait penemuan beberapa arca terakota yang berasosiasi dengan keramik, tembikar dan manik-manik kornelian hasil penggalian liar dari situs killing-kiling desa Patalasang, kecamatan Tompobulu Kabupaten Bantaeng Sulawesi Selatan. Dari hasil wawancara yang dilakukan kepada para penggali liar diperoleh informasi bahwa, kuat dugaan terdapat kesatuan fungsi yang terjalin antara keramik asing, arca terakota dan fragmen tembikar. Berdasarkan kronologi relatif yang diperoleh dari analisis terhadap fragmen keramik diperkirakan bahwa arca terakaota tersebut berasal dari periode pra islam yaitu sekitar abad ke XI-XII dengan fungsi sebagai sarana perbadanan roh yang umumnya di anut terjadi pada kurun waktu tersebut di beberapa daerah Jawa.
REFLEKSI STRATIFIKASI SOSIAL MASYARAKAT BUGIS PADA SITUS KOMPLEKS MAKAM KALOKKOE WATU SOPPENG
Sistem pelapisan sosial pada masyarakat Sulawesi Selatan sudah terbentuk sejak lama yaitu golonganbangsawan yang berasal dari keturunan to manurung, lapisan orang-orang biasa yang disebut to maradekadan lapisan ata atau hamba sahaya. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai adanyastratifikasi sosial yang dimanifestasikan dalam penataan makam-makam pada awal Islam. Studi inimenitikberatkan pada pengkajian bentuk dan tata letak makam di Kompleks Makam Kalokkoe WatuSoppeng. Dalam pencapainnya digunakan teknik observasi dan analisis berdasarkan atribut bentuk dangaya jirat maupun nisan di kompleks tersebut. Refleksi stratifikasi sosial masyarakat masa lampau terlihatdengan jelas pada sistem penataan ruang-ruang mikro. Letak maupun bentuk jirat dari tokoh bangsawanmemiliki keistimewaan dari makam-makam yang lainnya
BENTUK-BENTUK WADAH KUBUR KAYU DI SULAWESI SELATAN DAN TENGGARA
Penelitian ini bersifat deskriftif yang memberikan gambaran terkait bentuk-bentuk wadah kubur kayu di sulawesi selatan dan Tenggara. Penelitian ini berhasil mengidentifikasi beberapa bentuk wadah kubur kayu seperti bentuk, babi, rumah adat, perahu, kerbau, kuda, bentuk bulat dan bentuk persegi empat panjang. Dengan mempelajari bentuk-bentuk wadah kubur yang ada, dapat disimpulkan bahwa tradisi penguburan menggunakan wadah kayu adalah kelanjutan dari tradisi megalitik, bentuk penguburan yang dilakukan adalah penguburan kedua disertai dengan bekal kubur dan bentuk-bentuk wadah kubur yang bervariasi tidak lain di dorong oleh latar belakang kepercayaan, adaptasi dengan lingkungan serta pengalaman sehari-hari dan pengalaman batin mereka