Walennae: Journal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara
Not a member yet
    277 research outputs found

    INDUSTRI MAKAM ISLAM DI ALLEKUANG, SIDENRENG RAPPANG, KASUS TEKNOLOGI KUBUR

    No full text
    Penelitian ini memberikan gambaran tentang industri teknologi makam islam di desa Allekkuang kabupaten sidenreng Rappang. Tradisi pembuatan nisan-nisan kubur di Allekkuang memperlihatkan adanya satu mata rantai yang menghubungkan budaya masyarakat masa lampau dengan budaya islam. Produk-produk nisan di Allekkuang memeiliki kesamaan pada beberapa kompleks makam kuna si sulawesi selatan baik dari tipe maupun motif hias nisan

    Bedah Disertasi

    No full text

    Back Cover

    No full text

    TRANSFORMASI SENI PRA ISLAM PADA MAKAM KUNA DI SULAWESI SELATAN

    No full text
    Bangunan makam biasanya mendapat perlakuan khusus dari masyarakatnya, terlihat dari pahatan-pahatan atau relief yang mempunyai arti mendalam secara filosofis. Pahatan tersebut sangat indah sehingga dikeramatkan oleh masyarakat sekitarnya. Perilaku masyarakat dengan mengkeramatkan sebuah makam kuna perlu dikaji secara mendalam, makna apa yang terkandung didalamya sehingga sampai kini fenomena tersebut masih banyak dijumpai dibeberapa situs makam kuna Islam yang ada di Sulawesi Selatan. Tujuannya untuk mengetahui perkembangan keyakinan terhadap seni pra-Islam selama memiliki pendukung. Metode yang digunakan berupa pengumpulan data diantaranya studi pustaka dan pengolahan data. Hasil yang diperoleh bahwa seni hias makam mengungkapkan tingkah keseharian manusia pada masa hidupnya serta beberapa bentuk binatang pada makam merupakan unsur budaya yang masih dilatarbelakangi oleh kepercayaan pendukungnya, yang masih menganut pemujaan kepada leluhur meskipun masyarakat pada waktu itu telah memeluk agama Islam. Bangunan makam yang masih memperlihatkan arsitektur tertentu (pra-Islam), umumnya makam bangsawan yang mempunyai nilai penting bagi masyarakat dan lingkungan di sekitarnya

    CERUK LA SABO DI PULAU MUNA, SULAWESI TENGGARA: INDIKASI PERMUKIMAN PRASEJARAH?

    No full text
    Pulau Muna memiliki situs gua dan ceruk yang banyak menyimpan data guna mengungkap tabir kehidupan manusia pada masa tertentu. Potensi gua dan ceruk terutama dari aspek lukisan dindingnya termasuk data yang sangat penting. Penelitian ini bertujuan untuk merekam data arkeologi khususnya di situs La Sabo. Metode yang digunakan berupa ekskavasi dan survei permukaan untuk dapat mengukur serta mendeskripsi temuan permukaan meliputi lukisan dinding dan situs itu sendiri. Perolehan data kemudian diakumulasi dan diolah menggunakan hipotesis untuk menarik kesimpulan. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini bahwa manusia pendukung tidak bermukim di ceruk La Sabo secara permanen, terlihat kurangnya perkakas yang ditemukan saat dilakukan ekskavasi. Kemungkinan lokasi tersebut dijadikan tempat meluapkan ekspresi mereka dan dihuni secara insidentil atau sewaktu-waktu

    TEMUAN ALAT SERPIH DARI SITUS TINCO

    No full text
    Masa prasejarah, umumnya manusia menghasilkan alat litik untuk mempertahankan hidupnya. Perkakas batu yang mereka buat masih memiliki bentuk sederhana, tetapi disini juga tumbuh ide-ide yang berkembang dalam kehidupan mereka. Pada penelitian ini, penulis mencoba menjelaskan peristiwa arkeologis yang pernah terjadi di situs Tinco, khususnya dengan ditemukannya artefak perkakas serpih bilah, yang sebenarnya merupakan ciri khas masa mesolitik sedangkan situs Tinco merupakan situs megalitik. Tulisan ini bertujuan untuk menjabarkan temuan alat serpih yang ditemukan dalam satu lapisan budaya yang masih insitu dan berkorelasi dengan temuan lainnya seperti beliung persegi, fragmen gerabah, fragmen keramik, tulang dan gigi binatang serta tinggalan batu besar (megalitik). Metode yang digunakan, yaitu pengumpulan data, pengelompokan data dan interpretasi data. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini bahwa kesamaan tipologi dan teknologi alat serpih di situs Tinco dengan alat serpih dari gua hunian prasejarah bukan berarti berasal dari masa yang sejaman melainkan karena adanya dorongan akan kebutuhan hidup dan kondisi lingkungan yang sama. Keberadaan alat serpih di situs Tinco yang berasosiasi dengan berbagai tinggalan budaya lain tidak dapat dikatakan memiliki kronologi tua, tetapi diperkirakan sejaman dengan munculnya tradisi megalitik di Tinco

    Cover

    No full text

    INDIKASI PERMUKIMAN SITUS-SITUS BERCIRI AUSTRONESIA DI PANTAI TIMUR DAN SELATAN PULAU SELAYAR

    No full text
    The arrival of Austronesian communities in South and Southeast Sulawesi did not occur at the same time. Allegedly the coast of South and Southeast Sulawesi mainland inhabited earlier than the small islands to the south. The strategy used is a survey primarily on sites along the east coast and southern Selayar Island. The entire site is the coast with a discovery of a corpse coffin was left of human bones are stored in a cave, bronze bracelets, and artifacts of stone tools and fragments of pottery. Utilization of caves and niches shows a multi-resi­dential space that functions as a dwelling (with indication of shellfish), industrial (with indication of stone tools and chips/waste rock), and the burial place (which proved the dis­covery of human bones and container tomb called duni placed in the cave).Kedatangan masyarakat Austronesia di Sulawesi Selatan dan Tenggara tidak terjadi pada saat yang bersamaan. Diduga pantai daratan Sulawesi Selatan dan Tenggara dihuni lebih awal dari pulau-pulau kecil di selatan. Strategi yang digunakan adalah survei terutama pada situs di sepanjang pantai timur dan Pulau Selayar selatan. Seluruh situs adalah pantai dengan penemuan peti kubur yang tersisa dari tulang manusia yang disimpan di gua, gelang perunggu, dan artefak alat-alat batu dan pecahan tembikar. Pemanfaatan gua dan ceruk menunjukkan ruang multi-residen yang berfungsi sebagai tempat tinggal (dengan indikasi kerang), industri (dengan indikasi alat-alat batu dan keripik / batuan sisa), dan tempat pemakaman (yang membuktikan adanya penemuan tulang manusia dan wadah makam yang disebut duni ditempatkan di gua)

    THE EARTHENWARE FROM ALLANGKANANGNGE RI LATANETE EXCAVATED IN 1999

    No full text
    Situs Allangkanangnge ri Latanete, Wajo adalah pusat Kerajaan Bugis kuno sekitar abad ke 13-17 Masehi. Selain sebagai pusat kerajaan, situs ini juga menjadi pemukiman yang cukup padat dengan bukti temuan fragmen gerabah dan keramik vang cukup padat, baik yang ditemukan di permukaan situs maupun dalam penggalian arkeologi. Khusus temuan fragmen gerabah yang sudah dianalisis, menunjukkan adanya beberapa jenis (teknik pembuatan, dekorasi dan bahan) yang sebagian besar diyakini sebagai produksi lokal, namun sebagian di antaranya adalah gerabah inpor (mungkin dari Jawa atau Sumatera?). Salah satu jenis gerabah yang dianalisis adalah gerabah dari bahan tanah liat berwarna coklat susu (agak putih), halus dan tipis serta hiasan menyerupai anyaman dengan pola teratur pada permukaan luar gerabah (mungkin bekas tempelan kain?). Gerabah jenis ini diberi nama gerabah biskuit dan diperkirakan sebagai produksi lokal masyarakat Bugis kuno. Selain ditemukan di situs Allangkanangnge, gerabah jenis ini juga ditemukan dibeberapa situs di wilayah Kerajaan Luwu kuno

    CIRI BUDAYA AUSTRONESIA DI KAWASAN ENREKANG SULAWESI SELATAN

    No full text
    Enrekang is one of the regencies in South Sulawesi which having less attention in archaeo­logical research. The research of Collo sites shows some of its importance, that is an old abandoned settlement and a shelter burial. The findings at Bambapuang's region, especially from Collo site seems showing its relationship with the character of early agricultural tradition while keep inheriting the late-Neolithic stone tools tradition. The basic character of the cultures in Bambapuang region relates with flakes technology, pottery, and ancestor's worship. The preliminary conclusion from all of the researches in Enrekang is that the first chronology of the settlement growth in Bambapuang Regency--especially at Collo site was at the same period with the spread of Austronesia in Nusantara Archipelago.Enrekang adalah salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan yang kurang perhatian dalam penelitian arkeologi. Penelitian situs Collo menunjukkan beberapa aspek pentingnya, yaitu pemukiman tua yang ditinggalkan dan pemakaman. Temuan di wilayah Bambapuang, terutama dari situs Collo tampaknya menunjukkan hubungannya dengan karakter tradisi pertanian awal sambil tetap mewarisi tradisi alat-alat batu Neolitik akhir. Karakter dasar budaya di wilayah Bambapuang terkait dengan teknologi serpih, tembikar, dan pemujaan leluhur. Kesimpulan awal dari semua penelitian di Enrekang adalah bahwa kronologi pertama pertumbuhan permukiman di Kabupaten Bambapuang - terutama di lokasi Collo - adalah - pada periode yang sama dengan penyebaran Austronesia di Kepulauan Nusantara

    36

    full texts

    277

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Walennae: Journal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇