Walennae: Journal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara
Not a member yet
277 research outputs found
Sort by
VARIASI TIPE NISAN WAJO SULAWESI SELATAN
Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang tipe nisan yang ada pada kompleks makam islam di Kabupaten Wajo. Berdasarkan hasil observasi dan klasifikasi yang dilakukan, diketahui bahwa tipe nisan pada beberapa kompleks makam di kabupaten Wajo memiliki persamaan dengan tipe nisan pada kompleks makam islam yang ditemukan umumnya di Sulawesi selatan, yaitu di dominasi oleh nisan tipe silindrik dan nisan tipe pipih, namun terdapat beberapa tipe nisan khas Wajo seperti tipe cerobong asap, meriam kuna dan tipe bundar (berbentuk seperti buah labu)
PEMUKIMAN KUNA CENRANA, BONE: BEBERAPA ASPEK DATA SEJARAH-SOSIAL BUGIS
Situs Cenrana merupakan zona penting di pesisir selatan Sulawesi, baik ditinjau dari struktur geografis maupun tatanan sosial budaya dan politik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi klauster atau satuan-satuan ruang pada situs Pemukiman kuna Cenrana. Berdasarkan hasil penelusuran pustaka dan observasi lapangan, diperoleh gambaran tentang bentuk-bentuk pembagian ruang atau klaster di situs Pemukiman kuna Cenrana, seperti klauster produksi berada di sebelah barat dan timur istana, produksi strategis berada di sebelah barat dan di sebelah timur terdapat produksi pertanian
VARIABILITAS TIPE ARTEFAK SITUS PAROTO, SOPPENG: INDIKATOR KARAKTER BUDAYA
The research along Walennae River has been under working since 1946-1947, but until the present day the absolute chronology and human-cultural-supported has yet to be found. Based on fauna fossils and artifacts (tools stone) it was assumed that Walannae Valley has closely related with Pleistocene age. Many fossils are found along the. Walennae River from fauna species that hitherto no longer be found, such as dwarf stegodon. There are eight stone tools found associates with fauna which exposing cultural characters and activities that once has taken place in Soppeng, Paroto sites
KEMUNGKINAN PENERAPAN METODE ANALITICAL HIERARCHI PROCESS DALAM PERSPEKTIF RUANG SKALA MIKRO (STUDI KASUS GUA GARUNGGUNG, KABUPATEN PANGKEP)
Gambar prasejarah yang terdapat pada gugusan gua hunian di Maros-Pangkep, dapat dijadikan suatu objek ujicoba pendekatan metode analytical hierarchi proses (AHP) dalam bidang arkeologi. Secara umum permasalahan penelitian berkaitan dengan fenomena tersebut, yaitu apa yang menjadi alas an pendukung kebudayaan Garunggung dalam memilih ruang dan bidang gua sebagai media gambar. Pendekatan ini bertujuan untuk menguji variabilitas data ruang dan bidang sebagai media gambar. Metode yang digunakan berupa pengumpulan data, karena pendekatan analitical hierarchi proses membutuhkan beberapa kriteria data seperti data morfologi gua yang berkaitan dengan keruangan, dilanjutkan dengan menganalisa dan menafsirkan data. Hasil yang diperoleh bahwa tulisan ini barulah sebatas ujicoba, dan harus diujicobakan pada gua-gua prasejarah lain yang tersebar digugusab kawasan karts Maros-Pangkep dan objek arkeologi lain. Penerapan pendekatan ini layak dipertimbangkan dalam analisis yang memiliki spesifikasi jangkauan ruang skala mikro
BENTUK-BENTUK WADAH PENGUBURAN DALAM SISTEM KEPERCAYAAN MASYARAKAT MAMASA, SULAWESI BARAT
Mamasa is one of the districts in West Sulawesi that many store various forms of culture and tradition which is still maintained. Cultural forms such as traditional houses and other burial containers and ancestral traditions that run in the context of belief systems. Survey indicates there are several types of burial containers in Mamasa "tedong-tedong" namely the tomb of the wooden containers mimic the anatomy of the buffalo, "Bangka-bangka" and "batutu" the tomb container placed on a home-like shape Mamasa traditional house. There are many similarities with both forms of the Toraja traditional houses and tradition run. This equation implies a close relationship between the two communities area. Mamasa adalah salah satu kabupaten di Sulawesi Barat yang banyak menyimpan berbagai bentuk budaya dan tradisi yang masih dipertahankan. Bentuk budaya seperti rumah tradisional dan wadah penguburan lainnya serta tradisi leluhur yang dijalankan dalam konteks sistem kepercayaan. Survei menunjukkan ada beberapa jenis wadah penguburan di Mamasa "tedong-tedong" yaitu makam dari wadah kayu meniru anatomi kerbau, "Bangka-bangka" dan "batutu" wadah makam yang diletakkan di rumah Mamasa seperti bentuk rumah tradisional. Ada banyak kesamaan dengan kedua bentuk rumah tradisional Toraja dan tradisi yang dijalankan. Persamaan ini menyiratkan hubungan yang erat antara wilayah dua komunitas
PERMUKIMAN DI SEPANJANG DAERAH ALIRAN SUNGAI BIANG KEKE DAN CALENDU KABUPATEN BANTAENG, SULAWESI SELATAN
Bantaeng is one of the regencies in South Sulawesi which has history that came since 13th century. There are many cultural remains found in this area especially from prehistoric and Islamic period. Bantaeng was still a small kingdom in southern Sulawesi peninsula. The whole site has been surveyed along the Biang Keke River at the east side of Bantaeng and the Calendu River in the middle side of Bantaeng. The presence of big rivers with its branch that get upstream at Lompobattang's mountainside and flows across many Bantaeng's regions, allows the creation of settlement that rely on the farm fecundity and availability of fresh water. In later times, the settlements along the river flows of Biang Keke and Celendu river is constitute a small kingdom that depends on trade and agriculture sector.Bantaeng adalah salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan yang memiliki sejarah sejak abad ke-13. Ada banyak sisa-sisa budaya yang ditemukan di daerah ini terutama dari periode prasejarah dan Islam. Bantaeng masih merupakan kerajaan kecil di semenanjung Sulawesi selatan. Seluruh situs telah disurvei di sepanjang Sungai Biang Keke di sisi timur Bantaeng dan Sungai Calendu di sisi tengah Bantaeng. Kehadiran sungai-sungai besar dengan cabangnya yang berhulu di lereng gunung Lompobattang dan mengalir melintasi banyak wilayah Bantaeng, memungkinkan terbentuknya permukiman yang mengandalkan kesuburan pertanian dan ketersediaan air tawar. Di kemudian hari, pemukiman di sepanjang aliran sungai Biang Keke dan sungai Celendu merupakan kerajaan kecil yang tergantung pada sektor perdagangan dan pertanian