Walennae: Journal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara
Not a member yet
    277 research outputs found

    Back Cover

    No full text

    EKSISTENSI BENTENG WABULA SEBAGAI BENTUK PERTAHANAN BERLAPIS KERAJAAN BUTON, SULAWESI TENGGARA

    No full text
    This research is a methodological and theoretical application in the context of the fortress kingdom Wabula Buton. Wabula research coverage consists of two main components, namely building the fortren with several cultural components that are involved and the geographic position of Buton keletakannya is an island-shaped country with strategic location on the sea route connecting the producing islands in eastern spices. To strengthen the defense system in maintaining the sovereignty of the kingdom, then the Sultan of Buton built several fortresses scattered layered in some areas, one of whom Wabula castle. Position Wabula fortress overlooking the sea is the political strategy were taken into account, because the position on a hill overlooking the beach make the attackers participated in the defense through the region. Penelitian ini adalah aplikasi metodologis dan teoritis dalam konteks kerajaan benteng Wabula Buton. Cakupan penelitian Wabula terdiri dari dua komponen utama, yaitu membangun fortren dengan beberapa komponen budaya yang terlibat dan posisi geografis Buton keletakannya adalah negara berbentuk pulau dengan lokasi yang strategis di jalur laut yang menghubungkan pulau-pulau penghasil rempah-rempah di timur. Untuk memperkuat sistem pertahanan dalam menjaga kedaulatan kerajaan, maka Sultan Buton membangun beberapa benteng yang tersebar di beberapa daerah, salah satunya benteng Wabula. Posisi benteng Wabula yang menghadap ke laut adalah strategi politik yang diperhitungkan, karena posisi di atas bukit yang menghadap ke pantai membuat para penyerang berpartisipasi dalam pertahanan melalui wilayah tersebut

    MENEMUKAN KEARIFAN LINGKUNGAN DALAM POLA PEMUKIMAN KERATON BUTON

    No full text
    Keraton Buton (the palace of Buton Kingdom) has a settlement pattern which was depicting the spatial arrangement and a function of a complex spatial. The equilibrium of settlement pattern of Keraton Buton has been charged to the Siolimbona, a local custom institution for the last 4 centuries. Since I960, the Siolimbone were removed and as the result a settlement disorder raised. Environmental wisdom of the custom institution of Siolimbona was proved have more effectiveness compared with local act of present regional government of Buton.Keraton Buton (istana Kerajaan Buton) memiliki pola pemukiman yang menggambarkan tata ruang dan fungsi tata ruang yang kompleks. Keseimbangan pola pemukiman Keraton Buton telah dibebankan ke Siolimbona, sebuah lembaga adat setempat selama 4 abad terakhir. Sejak tahun 1960, Siolimbone telah dihapus dan sebagai hasilnya gangguan pemukiman meningkat. Kearifan lingkungan lembaga adat Siolimbona terbukti lebih efektif dibandingkan dengan tindakan lokal pemerintah daerah Buton saat ini

    ANALISIS MANIK-MANIK DALAM PENELITIAN ARKEOLOGI

    No full text
    Study of the beads in a particular geographic area can provide a description of the location of the ancient settlement, the spread of humans and the selection of land used for settlements. Similarly, taking into account qualitative similarities and differences between the beads from various sites, can be described as trade relations between the centers of settlement. In the study of archaeological experts to create analytical models that are used as a bridge to the past through the remains of their material, to determine various aspects of human life, among other things, the classification model, typological analysis, and mineralogical analysis. To reach an understanding in the context of space and time, so do contextual analysis and interpretation with seriation method and ethnographic analogy.Studi tentang manik-manik di wilayah geografis tertentu dapat memberikan deskripsi lokasi pemukiman kuno, penyebaran manusia dan pemilihan lahan yang digunakan untuk pemukiman. Demikian pula, dengan mempertimbangkan persamaan dan perbedaan kualitatif antara manik-manik dari berbagai situs, dapat digambarkan hubungan perdagangan antara pusat pemukiman. Dalam studi arkeologi, para ahli membuat model analitis yang digunakan sebagai jembatan ke masa lalu melalui sisa-sisa peninggalan yang ditemukan, untuk menentukan berbagai aspek kehidupan manusia antara lain, model klasifikasi, analisis tipologis, dan analisis mineralogi. Untuk mencapai pemahaman dalam konteks ruang dan waktu, maka dilakukan analisis dan interpretasi kontekstual dengan metode seriasi dan analogi etnografi

    BENTUK DAN RAGAM HIAS MAKAM ISLAM KUNO DI KABUPATEN JENEPONTO SULAWESI SELATAN

    No full text
    Eksplorasi yang telah dilakukan di Jeneponto diperoleh sebaran makam Islam kuno pada sepuluh situs dengan variabilitas temuan makam yang sangat kompleks. Hubungan yang tampak jelas antara bentuk jirat, nisan dan ragam hias menunjukkan bahwa semakin besar dan tinggi ukuran jirat dan semakin variatif ragam hias suatu makam, maka tokoh yang dimakamkan memiliki strata yang tinggi pula. Bentuk jirat dengan varian ragam hias tidak berkorelasi positif terhadap bentuk jirat untuk melihat strata sosial orang yang dimakamkan. Hubungan bentuk jirat dengan bentuk nisan memperlihatkan bahwa pemakaian bentuk nisan paling banyak pada jirat monolit bersusun dua disusul dengan jirat bersusun tiga. Khusus untuk nisan menhir hanya digunakan pada makam tanpa jirat atau jirat yang tersusun dari batu-batu alam. Tampaknya tidak ada pola yang jelas mengenai penggunaan bentuk-bentuk nisan terhadap bentuk-bentuk jirat. Demikian pula dengan sistem ideologi, terlihat bahwa di daerah Jeaeponto, walaupun kepercayaan yang dianut sebelum adanya Islam, namun masih terlihat adanya unsur-unsur pra-Islam yang teraktualisasi pada bentuk makam, nisan dan ragam hias sebagai akibat adanya proses akulturasi dua unsur budaya. Exploration has been done in Jeneponto was obtained distributions of moslem ancient tombs at ten sites with variability of the tomb findings are very complex. The apparent relationship between the form of sepulcher, tombstones and ornaments show that the larger and height and the more varied decoration of a tomb, then the figures are buried have a higher strata as well. Sepulcher with a variant form of ornamentation is not positively correlated with the form of sepulcher to see the social strata of people are buried. Relationship of sepulcher and tombstone shows that the use of tombstones are most on a monolithic with composition of two, followed with a three one. Especially for menhir, it is used only for tombs without sepulcher or sepulcher that is composed of natural stones. It seems there is no clear pattern regarding the use of grave forms on sepulcher forms. Similarly with ideological system, shows that in Jeneponto area, although the beliefs held prior to Islam, but still visible presence of elements of pre-Islamic which actualized in the form of graves, tombstones and various ornaments as a result of the acculturation process of the two elements of culture

    POTENSI DAN SEBARAN ARKEOLOGI MASA ISLAM DI SULAWESI SELATAN

    No full text
    Sebaran peninggalan arkeologi Islam memang cukup menarik dibicarakan, karena kejadiannya berlangsung cukup lama dalam konteks masyarakat yang konservatif. Namun menjadi identifikasi dasar legitimasi kultural dan kepeloporan pembaharuan dalam masyarakat. Masuknya Islam di Sulawesi Selatan agak terlambat jika dibandingkan dengan kawasan sekitarnya seperti Maluku, Kalimantan, dan Pesisir Utara Jawa. Sejak awal abad ke-17 Masehi, masyarakat Sulawesi menganut agama Islam dan dicap sebagai orang Nusantara yang paling kuat identitas keislamannya. Meskipun demikian, pada saat yang sama berbagai kepercayaan dan tradisi yang berasal dari Praislam masih tetap dipertahankan oleh sebagian masyarakatnya hingga akhir abad ke-20 Masehi. Di beberapa daerah yang juga menerima Islam, bahkan mengalami perkembangannya dengan bukti-bukti arkeologis berupa makam yang megah dan kaya akan ragam hias. Indikasi yang dapat diamati mengenai proses islamisasi yaitu terdapatnya beberapa peninggalan arkeologi berupa kompleks-kompleks makam, mesjid dan naskah-naskah kuno yang ditulis dengan huruf Arab. Peninggalan makam-makam Islam jika dihubungkan dengan kajian proses Islamisasi di setiap daerah, merupakan data yang sangat penting, karena makam sebagai salah satu perilaku ritual sekaligus perilaku sosial dan merupakan salah satu fenomena yang harus ada dalam siklus kehidupan manusia. Demikian pula dengan transformasi budaya yang dapat dilihat pada bentuk makam dan nisan yang digunakan.Spreading of Islamic archaeological inheritance is an interesting topic to be discussed, because it occurred in conservative society for a quite long period of time. It became basic identification for cultural legitimating and renewal pioneering in society. Although the spreading of Islam in South Celebes was a little slow compared with other regions such as Moluccas, Borneo and north of Java. In early 17th century, people of Celebes professed Islam. They were labeled as people with the strongest Islamic identity in Indonesian archipelago. But in the same time, some beliefs and traditions ofpre-Islam were still maintained in the society until the end of 20th century. In some regions, Islam showed its development with some archaeological evidences of luxurious graves with rich ornaments. Islamisation process was indicated on some archaeological inheritance of graves, mosque and ancient scripts written in Arabic. Related to study of Islamisation process in every region, inheritance of Islamic graves is a very important data. Graves indicates as one of ritual and social behavior. It was one of phenomenon that always occur in human life. Likewise, cultural transformation could be seen on graves and gravestones

    TEMUAN MEGALIT DAN PENATAAN RUANG PERMUKIMAN DI KABUPATEN ENREKANG

    No full text
    Situs Tampo dan Situs Buntu Marari adalah situs megalitik yang ditemukan di wilayah Kabupaten Enrekang. Kedua situs tersebut memperlihatkan keberagaman dan sebaran data artefaktual yang cukup menarik untuk dikaji dalam penelitian arkeologi permukiman. Temuan umpak dan struktur bangunan teras membuktikan adanya sistem permukiman yang cukup kompleks dengan sifat kemandirian yang dibangun dalam jalinan sistem okupasi. Lokasi yang berada di daerah ketinggian menunjukkan tingkat okupasi yang cukup tinggi dengan akselerasi penggunaan lokasi berdasarkan pertimbangan teknologis. Dikatakan demikian karena sistem permukiman itu berlangsung di daerah ketinggian yang disesuaikan dengan faktor geografis daerah Enrekang. Mungkin juga lebih disebabkan oleh pertimbangan keamanan, karena daerah ketinggian cukup strategis untuk kemanan, baik secara hubungan komunal maupun dari faktor alam seperti menghindari kemungkinan banjir.Tampo and Buntu Marari Sites are megalithic sites found in the area of Enrekang Regency. These sites show the diversity and distribution of artefactual data that interesting to study in the research of archaeological settlements. Extolled and terrace structure findings proves the existence of a fairly complex settlement system with independence properties built within the occupational system. Location which is located at an altitude regions show a fairly high level of occupational therapy with acceleration of location utilizing based on technological considerations. It was said, because the system of settlements took place in the region height adjusted by geographic factor of Enrekang area. It may also be more due to security considerations, because the height is a good strategic area for safety, both communal relationships as well as natural factors such as avoiding the possibility of flooding

    Info Arkeologi

    No full text

    SITUS RAMPI: MASA PERSEBARAN ARCA MENHIR DAN HUBUNGANNYA DENGAN WILAYAH SITUS TERDEKAT

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk membahas dan menjelaskan tentang persebaran temuan arca menhir yangterdapat di Situs Rampi, termasuk melihat hubungan dan persebarannya di wilayah budaya situs terdekat.Metode yang digunakan adalah survei dan pendeskripsian secara detil terhadap temuan arkeologis,termasuk fenomena yang terdapat pada masing-masing temuan arca menhir, baik itu penempatan, kondisilingkungan dan jarak masing-masing temuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa salah satu bentuk budaya yang pernah berkembang di Situs Rampi adalah pembuatan arca menhir yang diapresiasikandalam bentuk menhir yang berdiri pada beberapa titik di wilayah budaya Rampi. Dari analisis ruang dantipologi temuan yang dilakukan, menunjukkan bahwa masa persebaran arca menhir di Situs Rampi berasal pada masa logam awal (paleometalik) yang didukung dengan pertanggalan pada masa 1800tahun yanglalu

    WADAH KUBUR ERONG DI TANAH TORAJA: TRADISI TEKNO-RELIGI MEGALITIK

    No full text
    Erong yang di kenal luas di tanah toraja merupakan kuburan keluarga, oleh sebab itu dalam satu erong dapat di tempatkan beberapa mayat yang berasal dari satu keluarga atau marga. Erong dalam kedudukannya sebagai wadah kubur, secara artefaktual dapat dianalisis dari erbagai aspek, yaitu fungsi, tipologi, teknologi dan simbol. Berikut ini akan dijelaskan menegnai gambaran singkat tentang tipologi erong di Tana Toraja.

    36

    full texts

    277

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Walennae: Journal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇