Walennae: Journal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara
Not a member yet
    277 research outputs found

    Cover

    No full text

    INTERPRETASI AWAL TEMUAN GIGI MANUSIA DI SITUS BALA METTI, BONE DAN SITUS LEANG JARIE, MAROS, SULAWESI SELATAN

    Full text link
    Hasil-hasil penelitian arkeologi selama ini, baik dari sejak zaman penjajahan hingga sekarang belum ada laporan tentang temuan rangka manusia dari pendukung budaya masa plestosen di Sulawesi Selatan. Laporan yang ada, hanya terbatas pada temuan sisa-sisa manusia masa holosen yang berciri Mongoloid. Oleh sebab itu, dalam tulisan ini akan disajikan beberapa data baru hasil penelitian untuk dapat memberi interpretasi awal tentang siapa manusia pendukung dari budaya batu di Sulawesi. Gigi manusia yang ditemukan dalam penggalian berasosiasi dengan alat-alat batu, khususnya mata panah bergerigi dan mikrolit di situs Bala Metti. Jika gigi manusia tersebut adalah dari ras Mongoloid, maka dapat dikatakan bahwa mata panah bergerigi juga telah diproduksi pada masa bercocok tanam. Metode analisis yang diterapkan dalam penulisan ini adalah metode ekskavasi dan metode komparasi atau perbandingan

    ANALISIS TEKNOLOGI LABORATORIS TEMBIKAR DARI SITUS GUA BULU SUMI, KABUPATEN PANGKEP, PROVINSI SULAWESI SELATAN

    Full text link
    Tembikar di Indonesia merupakan salah satu benda yang memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat dari masa prasejarah hingga masa kini. Tembikar merupakan salah satu sisa benda budaya yang paling sering ditemukan dalam penelitian arkeologi, terbuat dari tanah liat dan dibakar. Analisis teknologi laboratoris tembikar bertujuan memperoleh data yang akurat tentang fungsi dan kualitas dari suatu tembikar. Metode yang digunakan adalah analisis fisik dan analisis kimia (gravimetri). Berdasarkan hasil analisis teknologi laboratoris tersebut, tembikar-tembikar dari Situs Gua Bulu Sumi termasuk dalam kategori peralatan sehari-hari yang berfungsi untuk menampung air, mengolah makanan, penyajian makanan dan minuman. Dari segi kualitas, tembikar-tembikar tersebut, termasuk dalam tingkat kualitas sedang hingga baik, dengan tingkat pembakaran mencapai 500°-600° Celcius serta dibakar pada udara terbuka (open air baked).

    Reviewer Acknowledgement

    No full text

    Biodata Penulis

    Full text link

    IDENTIFIKASI RANGKA MANUSIA SITUS GUA BALANG METTI, KABUPATEN BONE, SULAWESI SELATAN

    Full text link
    Gua Balang Metti adalah salah satu situs gua yang ditemukan di kawasan budaya prasejarah Pattuku, Kabupaten Bone. Situs ini memiliki potensi tinggalan arkeologis yang baik, mengingat ditemukannya satu rangka manusia dalam kondisi sangat rapuh. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui jenis manusia yang menjadi pendukung kebudayaan Situs Gua Balang Metti. Metode yang digunakan adalah ekskavasi dan analisis tulang rangka manusia dengan mengidentifikasi bagian-bagian rangka untuk penjelasan tentang jenis manusia yang menjadi penghuni gua Balang Metti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rangka manusia situs gua Balang Metti dalah dari jenis manusia mongoloid dengan kebudayaan penutur bahasa Austronesia pada masa kurang dari 3000 tahun yang lalu. Penelitian ini telah memberi kontribusi awal dalam upaya mencari dan menelusuri jejak manusia pendukung kebudayaan gua yang sampai saat ini belum pernah ditemukan di Sulawesi

    TEKNIK PEMBUATAN SERPIH BILAH DENGAN PENDEKATAN ARKEOLOGI EKSPERIMENTAL

    Full text link
    Penelitian yang dilakukan bertemakan, teknik pembuatan serpih bilah dengan menggunakan pendekatan arkeologi eksperimental. Aktivitas eksperimen inilah yang dijadikan acuan untuk menjelaskan kemungkinan cara yang ditempuh manusia dalam hal memproduksi artefak. Penelitian ini memiliki dua permasalahan meliputi, bagaimana proses pembuatan serpih bilah dengan teknik penyerpihan langsung dan bentuk apa sajakah yang dihasilkan dari pemilihan dataran pukul secara acak dan di satu bidang datar pada material. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kemungkinan cara-cara hidup manusia masa lampau dalam hal membuat alat batu serta mengetahui secara rinci proses pembuatan serpih bilah. Metode yang digunakan meliputi pengumpulan data, pengolahan data dan interpretasi data dengan menganalisis berdasarkan pada proses pembuatan serpih bilah dan bentuk yang dihasilkan.  Hasil eksperimen berupa artefak serpih-bilah, memperlihatkan keahlian manusia membuat alat serta kemampuan mental memikirkan dan mempersiapkan rangkaian operasionalnya. Rangkaian operasional dalam eksperimen ini dapat memberi gambaran tentang rangkaian proses pembuatan jenis artefak batu yang sebenarnya

    PERIODE KOLONIAL DI PESISIR TIMUR PULAU SERAM (MALUKU): KONTAK AWAL HINGGA TERBENTUKNYA MORFOLOGI KOTA BULA

    Full text link
    oai:walennae:article/1Salah satu daerah di Maluku yaitu Bula (pesisir timur Pulau Seram) memiliki potensi tinggalan arkeologi industri pertambangan minyak yang telah dikembangkan sejak masa Hindia Belanda. Penelitian ini membahas tentang penemuan sumber minyak di wilayah tersebut, serta pembangunan prasarana dan sarana pertambangan minyak di Bula menjadi embrio terbentuknya morfologi Kota Bula. Metode yang digunakan dalam membahas topik tersebut adalah metode penelusuran pustaka, serta metode survey dan observasi arkeologi. Awalnya, daerah ini tidak banyak diokupasi oleh bangsa Eropa, hingga pada akhir abad ke-19, seiring dengan penemuan sumber minyak, daerah ini kemudian mulai berkembang. Berbagai prasarana dan sarana pertambangan dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda diantaranya: sumur-sumur minyak, tangki-tangki penampungan hingga sarana pendukung seperti perumahan karyawan, rumah sakit, jaringan jalan, pelabuhan, bandara, serta sarana rekreasi. Berbagai prasarana dan sarana pertambangan minyak yang dibangun saat itu kemudian menjadi awal terbentuknya morfologi kota Bula. Sebagai sebuah kota industri baru, daerah ini kemudian berkembang dan memiliki daya tarik bagi masyarakat dari luar

    ARKEOLOGI PEMUKIMAN SITUS PONGKA, KABUPATEN BONE, SULAWESI SELATAN

    Full text link
    Pongka secara administratif adalah nama sebuah desa yang terletak di Kecamatan Tellu Siattingge Kabupaten Bone. Penelitian ini bertujuan menggambarkan bentuk penataan ruang dan faktor-faktor yang mendukung terbentuknya wilayah pemukiman di situs Pongka. Dari survei dengan teknik systematic random sampling, berhasil dikumpulkan jenis temuan meliputi temuan non-fragmental dan temuan fragmental. Kemudian analisis spesifik, kontekstual, lingkungan, fungsional serta analisis keruangan menghasilkan setidaknya dua katagori ruang di Situs Pongka yaitu ruang sakral dan profan. Kesimpulannya adalah faktor yang berpengaruh terhadap terbentuknya wilayah pemukiman di Situs Pongka adalah faktor politik, yang erat kaitannya dengan keamanan lokasi

    Biodata Penulis

    Full text link

    36

    full texts

    277

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Walennae: Journal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇