Walennae: Journal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara
Not a member yet
277 research outputs found
Sort by
TRANSFORMASI SOSIAL-POLITIK MASA AWAL KERAJAAN NEPO: Kajian Berdasarkan Sumber Naskah Lontara dan Data Arkeologi
Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri jejak Kerajaan Nepo yang berada di Kabupaten Barru Propinsi Sulawesi Selatan, fokus kajiannya ialah masa awal Kerajaan Nepo pada saat dipimpin oleh Arung Pattapulo (empat puluh raja) sampai pemerintahan Arung La Bongngo. Metode penelitian yang digunakan ialah pertama, studi literatur yang sumber dari naskah Lontara Nepo dan Lontara Manuba, hasil pembacaan naskah lontara dijadikan petunjuk awal untuk menelusuri topoinim atau tempat-tempat yang disebutkan dalam naskah Lontara Nepo. Metode yang kedua yaitu observasi langsung ke lapangan untuk merekam artefak dan fitur serta melakukan perekaman data ingatan kolektif masyarakat (tradisi tutur) berupa wawancara masyarakat yang berkaitan dengan masa-masa awal terbentuknya Kerajaan Nepo hingga masa pemerintahan Arung La Bongngo, sehingga mendapatkan gambaran proses transformasi kepemimpinan, sistem tata kelola Kerajaan Nepo, transformasi pemukiman dan pertanian pada masa awal Kerajaan Nepo
ARTEFAK LITIK DI KAWASAN PRASEJARAH BATU EJAYYA: TEKNOLOGI PERALATAN TOALIAN DI PESISIR SELATAN SULAWESI
Batu Ejayya adalah salah satu kawasan prasejarah hunian Toalian di pesisir selatan Sulawesi. Kawasan ini mulai dihuni pada masa pertengahan hingga akhir holosen. Kawasan tersebut berada di wilayah formasi batuan Vulkanik, dimana ketersediaan sumber bahan Chert untuk peralatan sulit ditemukan. Permasalahan penelitiannya adalah bagaimana perilaku penghuni Toalian membuat peralatan litik dengan keterbatasan bahan material berkualitas baik di sekitar kawasan situs. Temuan artefak litik dari ekskavasi dan survei akan dianalisis dengan fokus pada kategori alat serpih diretus, serpih tidak diretus, serpih utuh dan batu inti pada bahan batuan Chert dan Vulkanik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan peralatan kecil yang cenderung tinggi dan rumit mengharuskan mereka untuk mencari dan menemukan bahan tersebut sebagai bahan utama. Tahapan teknologi untuk bahan Chert diawali dengan penyerpihan awal yang dilakukan diluar dari kawasan situs. Bahan Vulkanik hanya sebagai bahan alternatif untuk peralatan berukuran besar dan tidak membutuhkan modifikasi tinggi
ASPEK RUANG PEMUKIMAN DI SISI SELATAN TEPI ALIRAN SUNGAI CENRANA, KABUPATEN BONE
Sumber-sumber sejarah menyebut, Situs Cenrana merupakan lokasi pemukiman Kerajaan Bone pada masa pemerintahan La Patau Matanna Tikka. Penelitian arkeologi yang dilakukan sebelumnya, menyebut bahwa temuan arkeologi dan daya dukung lingkungan situs ini memberi indikasi aspek pemanfaatan sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Bone. Meski menyebut kondisi lingkungan sebagai salah satu indikasi aspek pemanfaatan situs, namun penelitian tersebut tidak menganalisis dan menjelaskan secara kontekstual kondisi lingkungan dimaksud. Dalam kerangka mengisi ruang tersebut, penelitian ini menitikberatkan pada analisis kondisi lingkungan tinggalan arkeologis yang berada di sisi selatan tepi aliran Sungai Cenrana. Analisis yang digunakan meliputi analisis pemukiman komunitas dalam skala semi-mikro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaturan ruang pemukiman di Situs Cenrana memanjang dari arah barat ke timur. Sementara, pola sebaran temuannya tidak beraturan dan terdapat empat pembagian ruang, yaitu: lokasi pemerintahan, lokasi produksi, lokasi pemukiman, dan lokasi sakral. dimana faktor lingkungan dan ekonomi yang melatarbelakangi setiap pengaturan ruang ruang tersebut. Faktor utama yang mempengaruhi pembagian ruang tersebut yaitu ekonomi dan keadaan lingkungan yang mendukung, seperti; keadaan geografis, karakteristik lahan, sumberdaya alam dan aksesibilitas
LUKISAN FAUNA, POLA SEBARAN DAN LANSKAP BUDAYA DI KAWASAN KARS SULAWESI BAGIAN SELATAN
Tulisan ini menyajikan studi tentang lanskap pada situs gua-gua yang memiliki gambar dari masa prasejarah. Gua-gua prasejarah di bagian selatan Pulau Sulawesi merupakan kawasan gua dengan karakter lukisan telapak tangan dan fauna. Penelitian ini difokuskan pada lukisan fauna dan lanskap budaya. Metode yang digunakan diantaranya mengumpulkan hasil penelitian lukisan di wilayah ini kemudian mengklasifikasi jenis lukisan fauna dan keletakan situs berlukis tersebut dalam peta dengan menggunakan software GIS. Software ini juga digunakan untuk menghitung jarak situs terdekat dan terjauh dengan pantai di masa Pleistosen. Hasil identifikasi berdasarkan lukisan fauna, pola sebaran gua dan lingkungan masa lalu menjelaskan bahwa kawasan gua-gua prasejarah di bagian selatan Sulawesi merupakan lanskap budaya yang telah diokupasi oleh dua kelompok identitas yang berbeda berdasarkan karakter lukisannya