Walennae: Journal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara
Not a member yet
277 research outputs found
Sort by
PUSAT PERDABAN ABAD XV-XVIII KERAJAAN BUKI SELAYAR SULAWESI SELATAN
The center of Kingdom of Buki was known as a teritory of a powerfull dinasty and reaches their golden age in XV to XVI century based on the foreign ceramics population found. In the next centuries, Buki was still became a powerful dinasty when the Islamic influence spread stronger in XVIII century. At the top of Islamic influence's glory, there was a control to the Silolo site's area that located in the east side of the Kingdom of Buki. But the site of Buki was a still a center for the elite of the kingdom. Buki, Selayar is quite interesting for a research to get a more accurate data. There is several finds like, Maros point (serration arrow point) that found in Batang Mata Sappo area, human skull from Batu Tumpa cave at Bonto Sikuyu, and many other finds. These kinds of finds commonly found in South Sulawesi but Selayar is placing an important position based on the quantity and the quality of its finds.Pusat Kerajaan Buki dikenal sebagai wilayah dinasti yang kuat dan mencapai zaman keemasan mereka di abad XV - XVI berdasarkan populasi keramik asing yang ditemukan. Pada abad-abad berikutnya, Buki masih menjadi kerajaan yang kuat ketika pengaruh Islam menyebar lebih luas di abad XVIII. Pada puncak kejayaan pengaruh Islam, ada kontrol terhadap area situs Silolo yang terletak di sisi timur Kerajaan Buki. Tapi situs Buki masih menjadi pusat elit kerajaan. Buki, Selayar cukup menarik untuk sebuah penelitian untuk mendapatkan data yang lebih akurat. Ada beberapa temuan seperti, maros poin (mata panah bergerig) yang ditemukan di daerah Batang Mata Sappo, tengkorak manusia dari gua Batu Tumpa di Bonto Sikuyu, dan banyak temuan lainnya. Temuan semacam ini umumnya ditemukan di Sulawesi Selatan tetapi Selayar menempatkan posisi penting berdasarkan kuantitas dan kualitas temuannya
KAITAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 1997 DENGAN UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1992
Within Act number 23 Year 1997 regarding the living environment management, Act number 5 year 1992 have not considered, whereas these two Acts were closely related. It will easier to understand, then, that in the description of regulation under Act number 23 Year 1992, cultural heritage material issue have an insufficiency accommodation.Dalam UU nomor 23 Tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup, UU nomor 5 tahun 1992 belum mempertimbangkan, sedangkan kedua UU ini saling terkait erat. Maka akan lebih mudah untuk memahami bahwa dalam uraian peraturan berdasarkan Undang-undang nomor 23 Tahun 1992, masalah materi warisan budaya memiliki akomodasi yang tidak mencukupi
KEHIDUPAN PRASEJARAH DI WILAYAH JENEPONTO, SULAWESI SELATAN: IDENTIFIKASI BERDASARKAN ARTEFAK LITIK (ALAT BATU)
The set of findings splinter-bar in South Sulawesi are usually associated with human presence with a custom sapiens living in a niche or cave and rock painting traditions developed (rock art). This sapiens human groups are also expected to expand its territory to areas acupation open field by the river. Although until now there has been no evidence of human stone tool industry supporters in Jeneponto, but with the discovery of stone tools is widespread in the region are strong evidence of prehistoric human presence in this region during a given. Himpunan temuan sempalan-bar di Sulawesi Selatan biasanya dikaitkan dengan kehadiran manusia sapiens yang hidup di ceruk atau gua dan tradisi lukisan batu yang dikembangkan (seni cadas). Kelompok manusia sapiens ini juga diharapkan memperluas wilayahnya ke daerah-daerah akupasi lapangan terbuka di tepi sungai. Meskipun hingga saat ini belum ada bukti pendukung industri alat batu manusia di Jeneponto, tetapi dengan ditemukannya alat-alat batu yang tersebar luas di wilayah tersebut merupakan bukti kuat keberadaan manusia prasejarah di wilayah ini selama diberikan