Walennae: Journal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara
Not a member yet
277 research outputs found
Sort by
CANDI CETA: REPOSISI LINGGA DULU DAN KINI (TINJAUAN ASPEK FUNGSI KEKINIAN)
Kawasan di sekitar lereng sampai puncak Gunung Lawu memiliki potensi sumberdaya arkeologi yang cukup potensial bagi sejarah perkembangan kebudayaan. Daerah Gunung Lawu memiliki perbedaan nuansa atau sifat keagamaan. Tinggalan arkeologinya bersifat keagamaan hindu, yaitu empat buah candi dari periode Majapahit akhir diantaranya Candi Sukuh, Ceta, Menggung dan Planggatan. Keempat candi ini berada diketinggian 700-1300 mdpl. Melihat situasi tersebut terlihat nuansa prasejarah yang berbentuk punden berundak. Hal ini menimbulkan suatu interpretasi bahwa pada masa akhir Hindu-Budha di Jawa, kepercayaan lokal kembali menguat ditandai dengan bangunan berciri tradisi masa prasejarah. Tujuan dari penelitian ini untuk melihat reposisi lingga dari dulu sampai sekarang. Metode yang digunakan berupa pengumpulan data pustaka dan pendokumentasian serta menganalisis data. Hasil yang diperoleh bahwa masyarakat Hindu Dharma di Lereng gunung Lawu dapat dikatakan telah mengalami proses sinkretisme, terlihat dari tata upacara mereka seperti satu suro dan modosio. Secara konseptual, mereka masih mengenal dewa siwa sebagai dewa tertinggi tetapi dalam upacara telah mengalami transformasi nilai
INTERPRETASI LUKISAN HASIL SURVEI DI GUA POMINSA DAN SUGI PATANI, KABUPATEN RAHA, SULAWESI TENGGARA: LUKISAN MASA PRASEJARAH ATAU BUKAN?
Leang Sakapao sebagai salah satu gua prasejarah di Sulawesi Selatan, menjadi perhatian dalam mengungkapkan tentang bagaimana aktivitas manusia pendukungnya tidak dapat terlepas dari usaha untuk merekonstruksi lingkungan aslinya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat kondisi lingkungan pada masa penghunian di era prasejarah. Metode yang digunakan berupa pengumpulan data pustaka dan pendataan situs yang dilanjutkan dengan analisis artefaktual dan non artefaktual serta interpretasi data. Hasil rekonstruksi lingkungan leang Sakapao dapat dikatakan bahwa untuk memahami dan mengungkap pola kehidupan manusia prasejarah pada jaman mesolitik, mengenai lingkungan merupakan faktor penentu
KUBUR ISLAM KUNO DI PESISIR SULAWESI SELATAN DAN SULAWESI BARAT
Nisan termasuk tinggalan arkeologi Islam yang banyak terdapat di Sulawesi Selatan. Tinggalan arkeologi Islam tidak terlepas dari sejarah kerajaan yang ada di Sulawesi Selatan sekitar abad XIV, dimana tinggalan berupa nisan yang amat bervariasi. Penelitian ini akan bertumpu pada bentuk-bentuk nisan yang ada di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Tujuan penelitian ini, untuk mengungkapkan bentuk-bentuk nisan yang tersebar di beberapa kompleks makam yang ada di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Metode yang digunakan yaitu pengumpulan data dan pengelompokan data. Hasil dari penelitian ini memperlihatkan bangunan makam di beberapa daerah tampaknya tidak mempunyai bentuk yang sama. Analisis bentuk memperlihatkan tipe nisan tertentu di pesisir barat laut Sulawesi Selatan (Majene dan Polewali Mamasa) dan kelompok lainnya berada di pesisir selatan (Gowa dan Bantaeng). Perbedaan karakter pada bentuk nisan dipengaruhi oleh budaya dan sejarah masuknya Islam di dua wilayah tersebut
MANAJEMEN SUMBERDAYA BUDAYA KOTA MAKASSAR “MENUJU STATUS KOTA DUNIA”
Era Millenium ditandai dengan dunia yang semakin bordeless. Kota-kota di dunia berlomba meraih World Status, dalam perjuangan merebut status kota dunia maka kota harus berdaya tarik kuat untuk membangun citra dirinya. Kota-kota tersebut bersaing adu pamor yang digali dari perjalanan sejarah kota, bangsa dan Negara. Kota yang melestarikan dan mendayagunakan peninggalan arkeologisnya, khususnya bangunan bersejarah sebagai sebuah ciri, citra dan lambang kebanggaan kotanya. Sejalan dengan itu, lalu apa dengan kota Makassar?. Tujuan dari tulisan ini, untuk mencari jatidiri Makassar di masa lalu. Metode yang digunakan diantaranya, pengumpulan data dan pengklasifikasian data yang kemudian diinterpretasi untuk menghasilkan kesimpulan. Hasil dari penulisan ini bahwa kompleksitas konflik kepentingan yang terjadi di wilayah perkotaan bukanlah hal mudah untuk dijembatani. Perencanaan kota dalam hal ini pemerintah dan stekholdenta hendaknya duduk bersama untuk menciptakan sebuah kota yang memiliki suatu kesatuan sistem organisasi yang bersifat sosial, visual, maupun fisik yang terancang secara terpadu
GAMBARAN UMUM SITUS GERABAH MANDING SULAWESI BARAT
Earthenware vessel is one of archaeological artifacts made of clay which has been known since prehistoric, the era when human started to plant and staying in one place. Staying together in one village cause knowledge which has to be arrange increased. Technology to produce daily goods started to be increased by making things of clay. Before human knew making stuff made of clay, their needs of organic stuff was still used until now, even earthenware vessel could be made.Bejana tembikar adalah salah satu artefak arkeologis yang terbuat dari tanah liat yang telah dikenal sejak prasejarah, Era ketika manusia mulai menanam dan tinggal di satu tempat. Bermukim di satu desa dapat menyebabkan pengetahuan bertambah. Teknologi untuk menghasilkan barang sehari-hari mulai meningkat dengan membuat bahan dari tanah liat. Sebelum manusia tahu membuat bahan yang terbuat dari tanah liat, kebutuhan mereka akan bahan organik masih digunakan sampai sekarang, bahkan tembikar pun dapat dibuat
KONFLIK KEPENTINGAN DALAM REVITALISASI LAPANGAN KAREBOSI
City as center of agglomeration is an important parameter to measure the growth of a region. The completion of facilities and infrastructure will invite people to stay. So that, the annual population growth become unaviodable. By the growth of population, the public utility and settlement requirement also progressively increase which also implicatese on wider land requirement level. Karebosi's Revitalization Project as the answer of Makassar's City Government on society's the need on facilities, in its implementation apparently ignore contained historical points at in it. Since its early development on 16th October 2007, have evoked conflicts of a variety the interested parties. Makassar's City Government who give management rights to PT. Tosan Permai up to 30 year gets lampooning of a variety party, such from the public, academician, NGOs, Cultural Concerned Institution (Provincial Beurau of Tourism and BPPP) and environment observer. This writing tries to see Karebosi as one place which have historical point but haven't gotten law protection corresponds to that affixed on Law No. 5 years 1992 about Cultural Pledge Object.Kota sebagai pusat aglomerasi adalah parameter penting untuk mengukur pertumbuhan suatu daerah. Selesainya fasilitas dan infrastruktur akan mengundang orang untuk berkunjung. Dengan demikian, pertumbuhan populasi tahunan menjadi tidak dapat diubah. Dengan pertumbuhan populasi, kebutuhan utilitas publik dan pemukiman juga semakin meningkat yang juga berimplikasi pada tingkat permintaan lahan yang lebih luas. Proyek Revitalisasi Karebosi sebagai jawaban Pemerintah Kota Makassar tentang kebutuhan masyarakat akan fasilitas, dalam implementasinya nampaknya mengabaikan poin sejarah yang terkandung di dalamnya. Sejak awal pengembangannya pada 16 Oktober 2007, telah menimbulkan konflik dari berbagai pihak yang berkepentingan. Pemerintah Kota Makassar yang memberikan hak pengelolaan kepada PT. Tosan Permai hingga 30 tahun mendapatkan lamponing dari berbagai pihak, seperti dari publik, akademisi, LSM, Lembaga Peduli Budaya (Beurau Pariwisata dan BPPP) dan pengamat lingkungan. Tulisan ini mencoba melihat Karebosi sebagai salah satu tempat yang memiliki titik sejarah tetapi belum mendapatkan perlindungan hukum sesuai dengan yang tercantum pada UU No. 5 tahun 1992 tentang Objek Sumpah Budaya
PENGELOLAAN SUMBERDAYA BUDAYA DI GANTARANG KEKE KABUPATEN BANTAENG (STUDI KASUS PESTA ADAT PAJJUKUKANG)
Upacara adat Pajjukukang yang dilaksanakan setiap tahunnya merupakan salah satu bentuk pemanfaatan yang dilakukan terhadap sumberdaya budaya tersebut. Keterlibatan Pemerintah daerah adalah sebagai fasilitator dengan menyiapkan sarana pendukung lainnya untuk membantu kelancaran dari pelaksanaan upacara adat tersebut. Namun dalam kenyataannya kegiatan upacara adat Pajjukukang ternyata berjalan kurang efektif. Salah satu kekurangannya adalah kepentingan masyarakat setempat yang tidak diakomodasi secara maksimal. Untuk memaksimalkan pengelolaan upacara adat pajjukukang, pemerintah daerah perlu berkoordinasi dengan lembaga adat Gantarang Keke serta mengevaluasi dan memperbaiki manajemen pengelolaan pesta adat Pajjukukang yang berlangsung sebelumnya. Pajjukukang traditional ceremony that held annually is one form of utilization committed against the culture resources. Local government involvement is as a facilitator to prepare other supporting facilities to help smooth the implementation of these ceremonies. But in reality, Pajjukukang ceremonial activities were running less effective. One of the drawbacks is the interest of local people who are not accommodated maximally. In order to maximize the management of Pajjukukang traditional ceremony, local governments need to coordinate with customary institutions Gantarang Keke as well as evaluate and improve management of Pajjukukang traditional feast that lasts previously
DIMENSI ARKEOLOGI SOSIAL DALAM PERUBAHAN ARSITEKTUR-RUMAH SUKU MAKASSAR DI KAMPUNG TALLO, KOTA MAKASSAR
Kampung Tallo merupakan salah satu pemukiman suku Makassar di Kota Makassar yang memberikan gambaran tentang kronologi-tipologi dari perubahan rumah tradisional suku Makassar sejak pertengahan abad ke-20 hingga awal abad ke-21. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan ikhwal perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat suku Makassar melalui pembacaan terhadap perubahan denah rumahnya. Untuk mencapai tujuan tersebut. Analisis Gamma yang berasal dari Arsitektur diterapkan terhadap 10 rumah yang dipilih secara rational-purposive dari populas rumah suku Makassar yang hingga saat ini masih berdiri di Kampung Tallo. Penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan rumah tradisional suku Makassar di Kampung Tallo bisa dipandang tidak hanya sebagai perubahan morfologis. Namun juga menggambarkan perubahan sosial dari masyarakatnya yang bergerak dari masyarakat tradisional-feodal menuju masyarakat modern-kapitalis.Kampong Tallo is one of the settling location for Makassarese in Makassar City that provide a typological chronology of the transformation of its traditional houses of Makassar since the middle of 20th century until the beginning of 21st century. This research aims are to construct an explanation about the social changes of Makassarese by reading the transformation of its houses ground plan. In order to reach that, the Gamma Analyses that borrowed from architecture are applied toward 10 houses which are selected purposively from the traditional houses that stand still in Kampong Tallo, Makassar. This research shows that the transformation of the Makassar's traditional houses in Kampong Tallo can not only see as a morphological change but also describe the social changes of its society from a traditional-feudal society into a modern-capitalist society.