Walennae: Journal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara
Not a member yet
277 research outputs found
Sort by
TRADISI PENGUBURAN MAYAT MASA PERUNDAGIAN DI TEJAKULA, BALI
Tradisi penguburan mayat sebagai bagian dari budaya prasejarah yang berasal dari masa mesolitik. Sisa-sisa penguburan dari masa perundagian juga telah ditemukan di Tejakula, pesisir pantai utara Bali. Sisa aktivitas penguburan masa prasejarah di Tejakula merupakan temuan baru yang belum diteliti. Kajian terhadap tradisi penguburan bertujuan untuk mengetahui konsepsi kepercayaan sebagai dasar tatacara penguburan yang dianut oleh masyarakat Tejakula pada masa perundagian serta melihat sebarannya. Metode yang digunakan pengumpulan data pustaka dan lapangan yang diolah serta dianalisis untuk menghasilkan interpretasi data. Hasil yang diperoleh bahwa berdasarkan sisa penguburan di Tejakula pada masa perundagian telah mengenal kepercayaan tentang alam kehidupan setelah mati
ARKEOLOGI DAN INDIKASI RITUAL DI GANTARANG LALANG BATA SELAYAR PROPINSI SULAWESI SELATAN
Kitab Negarakertagama menyebutkan nama-nama toponim kerajaan di Sulawesi Selatan sudah ada sebelum tahun 1365 Masehi, termasuk Selayar. Selayar merupakan daerah yang kaya akan tinggalan arkeologisnya, khususnya di daerah Gantarang Lalang Bata. Melihat tinggalan budaya tersebut maka perlu dilakukan penelitian arkeologi yang sistematis dengan tujuan untuk mengungkapkan kronologi dari situs dan eksistensi tinggalan arkeologisnya. Metode yang digunakan berupa pengumpulan data pustaka dan lapangan kemudian dianalisis untuk memberikan interpretasi data. Hasil yang diperoleh bahwa Gantarang Lalang Bata membuktikan sebagai situs kota tua. Daerah ini juga bermukim para pendatang yang menyebarkan agama Islam tetapi beberapa tradisi pra-Islam masih dilakukan masyarakat setempat
BENTUK DAN PERANAN BUDAYA MEGALITIK PADA BEBERAPA SITUS DI KABUPATEN BANTAENG
Tradisi pendirian bangunan meglitik selalu berdasarkan pada kepercayaan antara yang hidup dan yang mati. Bngunan ini kemudian menjadi medium penghormatan sekaligus lambing si-mati. Konsepsi pemujaan nenek moyang melahirkan tata carayang menjaga tingkah laku masyarakat di dunia fana. Berdasarkan hasil penelitian diberbagai daerah di Indonesia dapat diketahui bentuk peninggalan megalitik. Sulawesi selatan penelitian tentang kebudayaan megalitik baru dilakukan sejak tahun 1990-an, termasuk di Kabupaten Bantaeng yang telah dilakukan beberapa penelitian awal terhadap budaya megalitik. Tujuan dari penulisan ini, yaitu menggambarkan bentuk dan peranan budaya megalitik di Kabupaten Bantaeng. Metode yang dilakukan berupa pengumpulan data dan klasifikasi data yang diakdiri dengan interpretasi. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini bahwa bentuk dan makna tradisi megalitik di Bantaeng, tentang kepercayaan dan kosmologis yang disebut Patuntung, ajaran kepercayaan tersebut mengenai konsep kepercayaan terhadap alam kehidupan setelah mati. Konsep kepercayaan tersebut kemudian diimplementasikan dalam upacara penyembahan arwah leluhur. Letak pekuburan selalu dekat dari pemukiman yang menunjukkan bahwa kubur merupakan salah satu unsur dari suatu pola permukiman
BENTENG KOLONIAL BELANDA DI BALANGNIPA KABUPATEN SINJAI
Before the arriving of the colonial. The fort of Balangnipa is built from the shell, Brick, in the ford it wasn't found the artefact. Such as the fort that was used by the kingdom of Tellung Limpoe by the colonial then the design of ford was changed with Europe design. The artefact, such as. Currency, ceramics, that can be known from Sinjai it has been communicated with the bussinesman from China and Europe. And even both ever colonize the Sinjai area. It indicated that eventrough Sinjai is rather small but it has many potency.Sebelum kedatangan kolonial, Benteng Balangnipa dibangun dari kerang, dan bata. Di sekitar benteng tidak ditemukan sama sekali artefak, seperti benteng yang digunakan oleh kerajaan Tellung Limpoe oleh kolonial maka desain benteng diubah dengan desain Eropa. Artefak seperti mata uang, keramik, yang bisa diketahui dari Sinjai itu telah dikomunikasikan dengan pedagang dari Cina dan Eropa. Dan bahkan keduanya pernah menjajah wilayah Sinjai. Ini menunjukkan bahwa peristiwa melalui Sinjai agak kecil tetapi memiliki banyak potensi
JEJAK-JEJAK ARKEOLOGIS DI KAKI GUNUNG BAMBAPUANG KABUPATEN ENREKANG SULAWESI SELATAN
Sites located in Buntu Kotu Enrekang, is one of the suspected sites as settlement sites. It was seem from the variability of findings of such a monumental and artifaktual stone mortar and fragments of pottery. In addition, this location is very strategic in terms of defense because it was on a hill called Kotu. Period must start and end of the residential site can not be determined, but it can be expected to have existed since praislam. The causes of abandonment of the site not known for certain, however, can be attributed to several events such as natural disasters, wars, or the reduced quality of natural resources in the places of origin so that the site was left to look for a new settlement site.Situs yang terletak di Buntu Kotu Enrekang, adalah salah satu situs yang diduga sebagai situs pemukiman. Itu terlihat dari variabilitas temuan seperti lesung batu yang monumental dan artifaktual serta pecahan tembikar. Selain itu, lokasi ini sangat strategis dalam hal pertahanan karena berada di sebuah bukit yang disebut Kotu. Mengenaia kapan dimulain dan berakhirnya situs pemukiman ini tidak dapat ditentukan, tetapi dapat diperkirakan telah ada sejak praislam. Penyebab ditinggalkannya situs tidak diketahui secara pasti, bagaimanapun, dapat dikaitkan dengan beberapa peristiwa seperti bencana alam, perang, atau berkurangnya kualitas sumber daya alam di tempat asal sehingga memeutuskan untuk mencari pemukiman yang baru
MANIK-MANIK DALAM KONTEKS PENGUBURAN DI SITUS GUA WOLATU, KOLAKA UTARA, SULAWESI TENGGARA
Research conducted at the site found some Wolatu Cave beads made of stone and glass with various colors, associated with a bronze bracelet, foreign ceramics and wood fragments allegedly used as a burial container. The findings also strengthen the interpretation used as stock tomb. Ethnographic study showed that functional beads grave as with stock, also has a primary function, namely as accessories to beautify the objects themselves and as a medium of exchange in trade trading activities.Penelitian yang dilakukan di situs Gua Wolato ditemukan beberapa manik-manik terbuat dari batu dan kaca dengan berbagai warna, terkait dengan gelang perunggu, keramik asing dan pecahan kayu yang sebelumnya digunakan sebagai wadah penguburan. Temuan ini juga memperkuat interpretasi yang digunakan sebagai makam. Studi etnografi menunjukkan bahwa manik-manik difungsikan sebagai bekal kubur, juga memiliki fungsi utama, yaitu sebagai aksesoris untuk mempercantik benda itu sendiri dan sebagai media pertukaran dalam aktivitas perdagangan
PERANAN TOSORA SEBAGAI PUSAT PEMERINTAHAN KERAJAAN WAJO ABAD XVI-XIX
The ruins of various building of Tosora site from the past is a silence witness of the glorious and decline story of the Kingdom of Wajo at the 16 to 19 century, which can be seen and observed at the present time. These building consist of Mosque, Mushallah, Gaddong, Tombs, Forts, Ancient Well, Port, Canon and others artefacts such as ceramics, earthenware, metal-items and other. Based by that evidence of remaining items of the past which widely scattered within the Tosora site and its surrounding area, it can be referred as the witness of how the role of Tosora in the past time, as the center of government of the Kingdom of Wajo. Tosora was selected as the capital city of the Kingdom of Wajo due to its strategic location.Runtuhan bangunan situs Tosora dari masa lalu adalah saksi bisu dari kisah kejayaan dan kemunduran Kerajaan Wajo pada abad 16 hingga 19, peninggalan yang dapat diamati pada saat ini yaitu bangunan Masjid, Mushallah, Gaddong, Makam, Benteng, Sumur Kuno, Pelabuhan, Canon dan artefak lainnya seperti keramik, gerabah, logam dan lainnya. Berdasarkan artefak yang ditemukan dapat dijadikan bukti peran Tosora di masa lalu yaitu sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Wajo, Tosora terpilih sebagai ibu kota Kerajaan Wajo karena lokasinya yang strategis
ERONG: SALAH SATU BENTUK WADAH KUBUR DI TANA TORAJA SULAWESI SELATAN
Penelitian yang dilakukan dengan metode survei menghasilkan sejumlah data mengenai distribusi wadah penguburan (erong) di wilayah budaya Enrekang Toraja. Erong sebagai wadah berfungsi untuk menempatkan mayat di dalamnya, yang secara implisit juga akan memberikan pengaruh yang kuat pada wadah pengguna dalam mencapai tujuan utamanya, kebahagiaan dalam alam roh untuk orang mati dan kesejahteraan bagi keluarga yang masih hidup. Tana Toraja sebagai daerah budaya, dapat dilihat dari berbagai bentuk warisan material dan juga kebiasaan dan tradisi yang menyertainya masih berlanjut hingga sekarang. Sejumlah situs penguburan gua yang diteliti menunjukkan bahwa erat hubungan antara budaya erong atau duni di Enrekang dan Toraja. Secara geografis, kedua daerah tersebut masih merupakan kesatuan wilayah budaya yang sama, sehingga Toraja dijadikan sebagai areal studi etnoarkeologi. Budaya itu diperkirakan berkembang sebelum Islam diterima secara universal di Sulawesi Selatan.Research using survey method produces some data related to the distribution of burial case (erong) and culture in culture area of Enrekang Toraja. Erong as a case has function to put the human corpse buried inside it. Implicitly it also gives strong influence in order to obtain its main purpose which is to have a happy life in afterlife world and welfare for the living family. Tana Toraja has cultural area which can be seen on various form of heritage materials, habits, and traditions. Those heritage materials still present row on. Some researched cave burial sites show close relationship or erong culture or duni in Enrekang and Toraja. Geographically, these two area are still in the same cultural area, show that Toraja becomes the area for etnoarchaeological study. The development of this culture was estimated before Islam come in universally in South Sulawesi