Walennae: Journal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara
Not a member yet
277 research outputs found
Sort by
SURVEI DAN EKSKAVASI BONTO-BONTOA, BANTAENG TIMUR: INVESTIGASI AWAL
Tulisan ini menjabarkan hasil ekskavasi dan survei di situs Bonto-bontoa kabupaten Bantaeng yang dilakukan Oleh Puslit Arkenas dan Balai Arkeologi Ujung Pandang pada tahun 1998. Melalui hasil analisis bentuk, desain pola hias, dan analisis morfologis disimpulkan bahwa pertama kita dapat memperoleh informasi penting berkenaan dengan watak dari situs tersebut. Kedua dengan berdasarkan kajian banding atas bentuk dan desain manik-manik dapat diketahui unsur penanggalan relatif situs. Ketiga hasil surfei muka tanah pada situs-situs pemukiman tetangganya, sekurang-kurangnya kita mempunyai analogi untuk mengembangkan hubungan antara situs terdekat
SISTEM PENGUBURAN WADAH KAYU DI SULAWESI SELATAN
Penelitian ini bersifat deskriftif yang menyajikan data berupa sebaran wadah kubur Kayu di Sulawesi Selatan yaitu di kabupaten Bulukumba, Selayar, Polmas, Toraja, Mamuju dan Enrekang. Tujuan dari penelitian ini memperjelas maksud dan tujuan penempatan wadah kubur kayu di dalam gua. Bentuk wadah kubur tiap-tiap daerah memperlighatkan ciri-ciri khusus yang berbeda, tetapi mempunyai bentuk-bentuk dasar yang sama yaitu bentuk perahu atau lesung, sedangkan polahias pada wadah kubur dapat menjelaskan keadaan struktur sosial dan ekonomi masyarakat pada waktu itu
EKSISTENSI KERAJAAN BUTON: KAJIAN BENTENG-BENTENG MASA KESULTANAN
Tulisan ini memberikan gambaran tentang arti penting benteng bagi kerajaan Buton. Keberadaan benteng Buton yang demikian banyak, telah memberi informasi untuk kita betapa Buton memiliki kemampuan dan kemandirian dalam pemerintahannya. Selain itu Buton juga merupakan wilayah penting sehingga penguasa perlu membangun benteng sebagai salah satu alat untuk mempertahankan wilayahnya
RAGAM SENJATA PADA LUKISAN DINDING GUA DI PULAU MUNA: TINJAUAN JENIS DAN FUNGSINYA
Tulisan ini mengkaji lukisan senjata pada dinding gua-gua yang ada di Pulau Muna. Beberapa hal yang ingin di bahas adalah bagaimana peranan senjata pada kondisi sosial ekonomi masyarakat pendukung kebudayaan gua-gua di pulau muna. Berdasarkan hasil observasi lapangan dan hasil identifikasi terhadap gambar jenis-jenis senjata yang ada, disimpulkan bahwa pemanfatan senjata secara praktis digunakan pada kegiatan berburu dan berperang namun lebih banyak digunakan untuk kegiatan berburu. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi masyarakat yang masih bergantung pada subsistensi berburu dan meramu
THE CONTEXT OF THE CARNELIAN BEADS FROM BONTO-BONTOA, BANTAENG, SOUTH SULAWESI
No Abstrac
THE ISLAMIC ANTIQUITIES OF BADUNG: A CONTRIBUTION TO HISTORY OF THE BUGIS COMMUNITY IN BALI
No Abstrac
NASIONALISME DAN PELESTARIAN BUDAYA
Tulisan ini memberikan gambaran tentang kondisi Arkeologi di Indonesia, dimana arkeologi Indonesia berada dalam keadaan yang sehat untuk mengalami berbagai perubahan, meskipun terus menghadapi berbagai tantangan dan aneka kepentingan. Pemerintah benar-benar mengerti bahwa tinggalan arkeologi di hargai wisatawan, menjadi sumber pendapatan Negara, tinggalan-tinggalan yang di angkat, dirawat dan di restorasi semakin banyak dilakukan di negeri in. mahasiswa juga terus menuntut ilmu, mengkader diri, mempersiapkan diri untuk menggantikan generasi arkeolog sekarang, dan dan media masa yang selalu tertarik menyampaikan temuan-temuan signifikan. Dengan begini, arkeologi menjadi bagian penting dari kebudayaan Indonesia itu sendiri
EKSISTENSI KOMUNITAS BUGIS DI KERAJAAN PAGATAN DAN KUSAN, KALIMANTAN SELATAN
Bugis migrants were the pioneer of Pagatan Kingdom in South Kalimantan which integrated by Kusan Kingdom by Arung Abdulkarim. Bugis community pocket at Pagatan was pioneered by Penna Dekke, a wealthy ruler of Soppeng, who later on established a kingdom. Bugis existence at Pagatan and Kusan was proved with artifacts and monument finds. Archaeological findings at formerly Bugis settlement pockets are still able to be found. Even the living Bugis culture remains practice by the community, such as its language and religion
KAJIAN TIPOLOGIS KENDI TANAH LIAT SITUS GEDUNGKARYA, JAMBI, DAN PERSAMAANNYA DI ASIA TENGGARA
The background of pot as one of pottery development could be understood in two aspects: commerce, inter-cultural relations, and language. An enormous pot made from clay at Gedungkarya site is a new issue. Where this pot does came from? And, whether Gedungkarya site is an 'industry' or not? Hitherto the question still under debates for white clay pots distribution includes wide areas in South East Asia. A typology study to compare with South East Asia pots is an effort to answer the question above