eJournal UPN Veteran Jakarta (Universitas Pembangunan Nasional)
Not a member yet
2712 research outputs found
Sort by
The Impact of Financial Condition, Audit Tenure, Profitability, and Opinion Shopping on Going-Concern Audit Opinion
The aim of this study is to evaluate and experimentally demonstrate the impact of financial conditions, audit duration, profitability, and opinion shopping on the going concern opinion. The research employs numerical methodologies and secondary sources of information to examine the population of mining enterprises listed on the Indonesia Stock Exchange among 2017 until 2021. The sample in this research was 25 mining companies within 5 years, with purposive sampling as a technique for taking the sample. In the analysis process, this study used logistic regression. The results showed that financial condition variables had a partial impact on going-concern audit opinion. However, audit tenure, profitability, and opinion shopping have not been significantly impacted on going-concern assessment. It is hoped that this research can subsequently be used to develop theory related to going-concern audit opinion and may be applied by companies and independent auditors to improve understanding of the factors that impact these opinions.
Keywords: Audit Tenure; Financial Condition; Going-Concern Audit Opinion; Opinion Shopping; Profitability
Mapping of Research Themes on Environmental, Social, and Governance (ESG) Using Leximancer
This article presents a study using Leximancer (a text mining tool to visualize themes and concepts in text) to find any themes that still have a great opportunity to be studied further related to ESG. This study used the Scopus database and gathered 159 published articles from 2011 to 2020. The articles were selected based on the analysis of the abstract, the theory used, including the development of hypothesis (if any), and conclusions. Based on the main themes generated by Leximancer software, overall, the ‘social’ theme was the most dominant, while themes such as ‘investor’ and ‘sustainability’ were less dominant. This review reveals that the themes and concepts resulting from Leximancer’s content analysis have not been widely studied in the previous literature. Our study continues the previous literature review with a different scope and method. Leximancer offers a larger list of potentially useful keywords for further analysis and provides a visually appealing display of themes and concepts and their level of importance. The results of this review could be used as a basis for providing academic guidance in future ESG research.
Keywords: Leximancer, ESG, ESG themes, ESG concepts
EDUKASI ANALISIS BAHAYA DAN TITIK PENGENDALIAN KRITIS (HACCP) BAGI PENGRAJIN TEMPEH DI SENTUL, BOGOR: EDUKASI ANALISIS BAHAYA DAN TITIK PENGENDALIAN KRITIS (HACCP) BAGI PENGRAJIN TEMPEH DI SENTUL, BOGOR
Tempe merupakan salah satu makanan populer di Indonesia yang merupakan sumber protein nabati dan banyak digemari oleh masyarakat Indonesia. Salah satu hal yang sering menjadi perhatian adalah kebersihan dan titik kritis kontaminasi yang terjadi pada setiap tahapan proses produksi. Peningkatan kondisi higiene dan sanitasi menjadi hal penting yang harus dilakukan untuk menjadikan suatu produk dengan kualitas yang lebih baik. Kegiatan edukasi dilaksanakan di ruang mitra yang merupakan bagian dari masjid Jabal Nur Sentul City, Kabupaten Bogor. Lokasi kegiatan juga dilaksanakan di lokasi produksi tempe yang masih dalam komplek Radja Tempe yang sama. Pelaksanaan kegiatan dilaksanakan pada bulan Mei - Juni 2024 dengan target kegiatan yaitu pengurus Radja Tempe, Pengrajin, dan masyarakat sebanyak 24 orang peserta. Berdasarkan hasil evaluasi pengetahuan yang telah dilakukan, diperoleh hasil bahwa terdapat perbedaan pengetahuan yang signifikan sebelum dan sesudah pelaksanaan kegiatan. Terjadi peningkatan rerata pengetahuan peserta yang pada saat pre-test memiliki skor pengetahuan 82,5 ± 11,9 meningkat pada saat post-test dengan skor pengetahuan 88,3 ± 9,6. Hasil ini menunjukkan bahwa pengetahuan peserta meningkat setelah dilakukan edukasi yang diharapkan pengetahuan peserta tentang keamanan pangan dan HACCP juga akan meningkat. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pengetahuan peserta sebelum dan sesudah kegiatan edukasi (p<0,05). Perbedaan yang signifikan ini menunjukkan bahwa skor pengetahuan peserta sesudah kegiatan edukasi lebih tinggi dibandingkan dengan skor pengetahuan peserta sebelum kegiatan edukasi. Kegiatan edukasi dengan metode partisipatif dapat dilakukan untuk memberikan edukasi tentang HACCP kepada mitra pengrajin. Kegiatan edukasi ini memberikan manfaat kepada mitra yaitu melalui peningkatan pengetahuan tentang keamanan pangan dan HACCP
PENGARUH ERGONOMIC EXERCISE TERHADAP KADAR PIRAI PADA LANSIA DI POSBINDU DESA X WILAYAH KOTA TULUNGAGUNG
Elderly people are susceptible to increased uric acid levels or gout due to a decrease in the function of purine metabolism in the body due to degenerative factors. One action that can be taken to reduce uric acid levels is physical activity. Ergonomic exercise is physical activity with a combination of muscle movements and breathing techniques. This research uses a Quasy Experiment research design. The population in this study were all elderly people in Posbindu Village X with a total of 46 respondents. The sample for this research was some of the elderly in Posbindu Village X with a total of 30 respondents selected using purposive sampling techniques. Research instruments: observation sheet and operational standard sheet. Data processing takes the form of editing, coding, scoring, tabulating, and data analysis using the non-parametric Wilcoxon sign rank test. The results of this research show that before the ergonomic exercise was carried out, the majority of respondents who had high levels of gout, with 23 respondents (77%) experienced a decrease in distribution to 7 respondents (23%). The ρ value (0.001) < α (0.05). This research proves that there is an influence of ergonomic exercise on gout levels in the elderly in Village.Lansia rentan mengalami peningkatan kadar asam urat atau pirai dikarenkan penurunan fungsi metabolisme purin didalam tubuh akibat faktor degeneratif. Salah satu tindakan yang dapat dilakukan untuk menurunkan kadar asam urat adalah aktifitas fisik. Senam ergonomis aktivitas fisik dengan kombinasi gerakan otot dan teknik pernafasan. Penelitian ini menggunakan desain penelitian Quasy Experiment. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh lansia di Posbindu Desa X dengan jumlah 46 responden. Sampel dari penelitian ini adalah sebagian lansia di Posbindu Desa X dengan jumlah 30 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian lembar observasi dan lembar standart operasional. Pengolahan data berupa editing, coding, scoring, tabulating, dan analisa data menggunakan uji non-parametrik wilcoxon sign rank test. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa sebelum dilakukan ergonomic exercise sebagian besar responden yang mempunyai kadar pirai tinggi dengan jumlah 23 responden (77%) mengalami penurunan distribusi menjadi 7 responden (23%). Nilai ρ value (0,001) < α (0,05). Penelitian ini membuktikan bahwa terdapat Pengaruh Ergonomic Exercise Terhadap Kadar Pirai Pada Lansia Di Desa X. Senam ergonomic sangat bermanfaat bagi tubuh, melakukan senam ergonomic secara rutin dapat meningkatkan kekuatan otot dan efektivitas fungsi jantung, melancarkan sistem pernafasan dan mencegah pengerasan pembuluh arteri.
Kata Kunci: Ergonomic Exercise, Lansia, Pira
SELF-COMPASSION, SPIRITUALITAS DAN KUALITAS HIDUP PADA LANSIA
Elderly individuals often experience a decline in physical function and face various complex physical, psychological, and social challenges, which can impact their quality of life. The quality of life of the elderly in nursing homes requires special attention because it also influences their perspective and self-perception.This study aims to analyze the relationship between self-compassion, spirituality, and the quality of life of the elderly in the "X" social institution in Jakarta. The research used a cross-sectional design with a correlational approach. Sampling was conducted using purposive sampling, involving 111 elderly individuals. The research instruments included the Self-Compassion Short Form (SCSSF), The Daily Spiritual Experience Scale (DSES), and WHOQOL-BREF. Univariate analysis was performed using descriptive statistics, while bivariate analysis was conducted using the spearman test. The results showed that the majority of the elderly participants were female (62 people, or 55.9%), with an average age of 72.12 years. A total of 38 elderly individuals (34.2%) had elementary school education, and the average length of stay in the institution was 4.29 years. Most elderly individuals were also found to suffer from gout (54 people, or 48.6%). The chi-square test revealed a significant relationship between self-compassion and quality of life, with a p-value of 0.001 (p < 0.05) and a correlation coefficient of 0.326, indicating a moderately strong relationship. Additionally, there was a significant relationship between spirituality and quality of life, with a p-value of 0.001 (p < 0.05) and a correlation coefficient of 0.30, also indicating a moderately strong relationship.It is recommended that elderly individuals become more actively involved in religious activities provided by social institutions to strengthen their spiritual well-being.ABSTRAK
Lansia sering mengalami penurunan fungsi tubuh serta menghadapi berbagai tantangan fisik, psikologis, dan sosial yang kompleks, yang dapat berdampak pada kualitas hidup mereka. Kualitas hidup lansia di panti werdha memerlukan perhatian khusus karena hal ini turut memengaruhi cara pandang dan persepsi diri mereka.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara self-compassion dan spiritualitas dengan kualitas hidup lansia di panti sosial "X" di Jakarta. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah cross-sectional dan menggunakan pendekatan korelasional. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling, melibatkan 111 lansia. Instrumen penelitian meliputi Self-Compassion Short Form (SCSSF), The Daily Spiritual Experience Scale (DSES) dan WHOQOL-BREF. Analisis univariat dilakukan dengan statistik deskriptif, sementara analisis bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas lansia berjenis kelamin perempuan, yakni sebanyak 62 orang (55,9%), dengan rata-rata usia 72,12 tahun. Sebanyak 38 lansia (34,2%) memiliki tingkat pendidikan SD, dengan rata-rata masa tinggal di panti selama 4,29 tahun. Sebagian besar lansia juga diketahui menderita asam urat, sebanyak 54 orang (48,6%). Uji Spearman menunjukkan adanya hubungan signifikan antara self-compassion dengan kualitas hidup, dengan nilai p = 0,001 (p < 0,05) dan keeratan hubungan 0,326, yang termasuk kategori cukup kuat. Selain itu, ditemukan pula hubungan antara spiritualitas dan kualitas hidup, dengan nilai p = 0,001 (p < 0,05) dan keeratan hubungan sebesar 0,30, yang juga termasuk dalam kategori cukup kuat. Disarankan agar lansia lebih terlibat aktif dalam kegiatan keagamaan yang telah disediakan oleh panti sosial untuk memperkuat aspek spiritual mereka.
Kata kunci: Kualitas Hidup, Lansia, Self-compassion, Spiritualitas
 
Hubungan Resiliensi Akademik dengan Distres Psikologis Pada Mahasiswa Tingkat Akhir Fakultas Keperawatan Universitas Riau dalam Menyusun Skripsi: Tinjauan terhadap Hubungan Resiliensi Akademik pada Tingkat Distres dalam Penyusunan Skripsi
Menyusun skripsi merupakan tantangan utama bagi mahasiswa tingkat akhir, yang menuntut resiliensi untuk menghindari distres psikologis. Penelitian kuantitatif deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian ini adalah mahasiswa tingkat akhir yang dalam proses penyusunan skripsi sebanyak 121 orang dengan menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner Academic Self-Efficacy Scale (ASE-30) untuk menilai resiliensi akademik dan Kessler Psychological Distress Scale (K10) untuk menilai distres psikologis. Analisis yang digunakan adalah analisis univariat dengan distribusi frekuensi dan analisis bivariat dengan menggunakan uji Spearman rank correlation. Hasil analisis univariat menunjukkan responden terbanyak berada pada rentang usia 17-25 tahun (90,1%), berjenis kelamin perempuan (89,3%), memiliki resiliensi akademik dengan kategori sedang (56,2%), dan memiliki distres psikologis dengan kategori sedang (62%). Hasil analisis bivariat menggunakan uji statistik Spearman rank correlation ditemukan taraf signifikansi sebesar 0,000 dengan koefisien korelasi -515. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa resiliensi akademik mempunyai hubungan signifikan yang negatif dengan distres psikologis pada mahasiswa tingkat akhir, artinya semakin rendah resiliensi akademik maka semakin tinggi distres psikologis pada mahasiswa tingkat akhir, dan semakin tinggi resiliensi akademik maka semakin rendah distres psikologis. Penelitian ini menekankan pentingnya merancang program dan intervensi yang bertujuan untuk meningkatkan resiliensi akademik, agar mahasiswa dapat lebih efektif menghadapi tekanan psikologis selama proses penyusunan skripsi.Menyusun skripsi merupakan tantangan utama bagi mahasiswa tingkat akhir, yang menuntut resiliensi untuk menghindari distres psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara resiliensi akademik dengan distres psikologis pada mahasiswa keperawatan tingkat akhir Universitas Riau dalam Menyusun skripsi. Penelitian kuantitatif deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian ini adalah mahasiswa tingkat akhir yang dalam proses penyusunan skripsi sebanyak 121 orang dengan menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner Academic Self-Efficacy Scale (ASE-30) untuk menilai resiliensi akademik dan Kessler Psychological Distress Scale (K10) untuk menilai distres psikologis. Analisis yang digunakan adalah analisis univariat dengan distribusi frekuensi dan analisis bivariat dengan menggunakan uji Spearman rank correlation. Hasil analisis univariat menunjukkan responden terbanyak berada pada rentang usia 17-25 tahun (90,1%), berjenis kelamin perempuan (89,3%), memiliki resiliensi akademik dengan kategori sedang (56,2%), dan memiliki distres psikologis dengan kategori sedang (62%). Hasil analisis bivariat menggunakan uji statistik Spearman rank correlation ditemukan taraf signifikansi sebesar 0,000 dengan koefisien korelasi -515. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa resiliensi akademik mempunyai hubungan signifikan yang negatif dengan distres psikologis pada mahasiswa tingkat akhir, artinya semakin rendah resiliensi akademik maka semakin tinggi distres psikologis pada mahasiswa tingkat akhir, dan semakin tinggi resiliensi akademik maka semakin rendah distres psikologis. Penelitian ini menekankan pentingnya merancang program dan intervensi yang bertujuan untuk meningkatkan resiliensi akademik, agar mahasiswa dapat lebih efektif menghadapi tekanan psikologis selama proses penyusunan skripsi
Pengaruh Pendidikan Kesehatan berbasis Media Audiovisual pada Pengetahuan Anak-anak tentang Tuberkulosis
Tuberculosis (TB) continues to be a global health concern. TB does not only harm adults, but also children. Therapy of TB in children is still found to fail, namely: incorrect treatment, treatment failure, and discontinuation of treatment so that appropriate education is required. This study aims to determine the impact of audiovisual media-based health education on children’s knowledge of tuberculosis. This study is a pre-experiment with one group pre-test post-test design. The population in this study was 60 students. Data were analyzed using the paired t-test statistical test. The results showed that there was a significant difference between before and after being given audiovisual media-based health education (p-value = 0.001). The number of respondents who had good knowledge before the intervention was 23 people (38.3%) increasing to 58 people (96.7%) after the intervention, while respondents who had sufficient knowledge before the intervention were 33 people (55%) decreasing to 2 people (3.3%) after the intervention. No respondents were included in the category of lacking knowledge after the intervention. These results indicate that health education with audiovisual media has an impact on children’s knowledge of tuberculosis. It is suggested that providing education about TB in children using audiovisual media should be done continuously to raise awareness of the threat of tuberculosis.Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan global. TB tidak hanya menyerang orang dewasa tetapi juga anak-anak. Terapi TB pada anak masih ditemukan mengalami kegagalan, yaitu: pengobatan yang tidak tepat, kegagalan pengobatan, dan penghentian pengobatan sehingga diperlukan edukasi yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak pendidikan kesehatan berbasis media audiovisual terhadap pengetahuan anak tentang tuberkulosis. Penelitian ini merupakan penelitian pra eksperimen dengan rancangan one group pre test post test. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 60 siswa. Data dianalisis menggunakan uji statistik paired t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan berbasis media audiovisual (p-value = 0,001). Responden yang memiliki pengetahuan baik sebelum intervensi sebanyak 23 orang (38,3%) meningkat menjadi 58 orang (96,7%) setelah intervensi, sedangkan responden yang memiliki pengetahuan cukup sebelum intervensi sebanyak 33 orang (55%) menurun menjadi 2 orang (3,3%) setelah intervensi. Tidak ada responden yang termasuk dalam kategori kurang pengetahuan setelah dilakukan intervensi. Hasil ini menunjukkan bahwa pendidikan kesehatan dengan media audiovisual memiliki pengaruh terhadap pemahaman anak tentang tuberkulosis. Disarankan agar pemberian pendidikan tentang TB pada anak menggunakan media audiovisual dilakukan secara terus-menerus untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman tuberkulosis
Differences in Corpse Stiffness (Rigor Mortis) of Organophosphate-Induced and Ordinary (Decerebrated) Dead Wistar Rats : A Randomized Experimental Study
Corpse Stiffness (rigor mortis) is a secondary sign of death that can be used to estimate the time and cause of death. Organophosphates are the most toxic pesticides and often cause poisoning until death in humans. This study aims to determine the differences in corpse stiffness (rigor mortis) due to organophosphate poisoning and ordinary death (decerebration) using Wistar rats. The parameters of corpse stiffness (rigor mortis) used include 4 aspects: Corpse Stiffness Appearance, Perfect Formation of Corpse Stiffness, Persistent Corpse Stiffness, and Relaxation of Corpse Stiffness. Data were processed with univariate analysis and then tested with the Independent Sample T-test. There was a significant difference (p<0.05) in the duration of the appearance, perfect formation, persistent and relaxation of corpse stiffness between the control group and the treatment group. Meanwhile, there was no significant difference (p>0.05) in persistent corpse stiffness duration between the control and treatment groups, although there was a slight difference in the mean. Between ordinary and died rats due to organophosphate induction, there was a significant difference in the duration of appearance, perfect formation, and relaxation of corpse stiffness. However, there was no significant difference in the duration of persistent stiffness.
Keywords: Organophosphates; Poisoning; Corpse Stiffness; Rigor Morti
HUBUNGAN ANTARA FORWARD HEAD POSTURE DENGAN KESEIMBANGAN STATIS PADA LANSIA DI KELURAHAN UNTIA KOTA MAKASSAR
Humans will inevitably experience stages of the aging process which will result in functional and anatomical changes in organs such as a decrease in the musculoskeletal system which if there is a decrease in the system will affect changes in posture, one of which is forward head posture. This posture condition will cause difficulty in controlling balance. This study aims to determine the relationship between forward head posture and static balance in the elderly in Untia Village, Makassar City. This research is included in the type of quantitative research using a cross-sectional approach. Respondents of this study were elderly people aged over 60 years as many as 67 elderly people who met the exclusion and inclusion criteria. The normality test used is Kolmogorov Smirnov which shows the significance value (p) of Kolmogorov Smirnov of 0.000 which means that the data is not normally distributed (p <0.05). Furthermore, a non-parametric correlation test was carried out, namely Spearman\u27s rho correlation and obtained variable results of 0.001 (p <0.05) which means that the two variables have a significant (real) relationship, namely between forward head posture and static balance with data obtained by researchers showing 46 of 67 respondents had FHP conditions and 38 of 67 elderly people experienced low stability. The results of the study showed that there was a relationship between forward head posture and static balance in the elderly in Untia Village, Makassar City.
Keywords: Elderly, Forward Head Posture, Static Balance.Manusia akan mengalami tahapan proses penuaan yang mana hal ini mengakibatkan perubahan fungsional dan anatomi dari tubuh seperti penurunan sistem muskuloskeletal, yang mana jika terjadi penurunan akan berpengaruh terhadap perubahan postur tubuh, salah satunya yaitu Forward Head Posture (FHP). Kondisi postur tersebut akan menimbulkan kesusahan dalam mengontrol keseimbangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara forward head posture dengan keseimbangan statis pada lansia di Kelurahan Untia Kota Makassar. Penelitian ini termasuk ke dalam jenis merupakan penelitian kuantitatif dengan memakai pendekatan cross sectional. Responden penelitian ini merupakan lansia yang berusia diatas 60 tahun sebanyak 67 lansia yang memenuhi kriteria eksklusi maupun inklusi. Uji normalitas yang dipakai yaitu Kolmogorov Smirnov yang menunjukkan nilai signifikansi (p) kolmogorov smirnov sebesar 0,000 yang berarti data tidak berdistribusi normal (p<0,05). Selanjutnya dilakukan uji korelasi non parametrik yaitu Spearman’s rho correlation dan didapatkan hasil variabel sebesar 0,000 (p<0,05) yang berarti kedua variabel memiliki hubungan yang signifikan (nyata) yakni antara forward head posture dan keseimbangan statis dengan data yang didapatkan peneliti menunjukkan 46 dari 67 responden memiliki kondisi FHP dan 38 dari 67 lansia mengalami kestabilan yang rendah. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara forward head posture dengan keseimbangan statis pada lansia di Kelurahan Untia Kota Makassar.
Kata kunci: Forward Head Posture; Keseimbangan Statis; Lansia.
POTENSI OVERKRIMINALISASI PADA PENGATURAN TINDAK PIDANA KOHABITASI DALAM KITAB UNDANG – UNDANG HUKUM PIDANA: PERSPEKTIF FAIR TRIAL
Tindak pidana kohabitasi diatur dalam Pasal 412 KUHP yang melarang setiap individu untuk hidup bersama sebagaimana suami istri, kendatipun hubungan tersebut dilakukan di luar perkawinan. Adapun ancaman bagi setiap orang yang terbukti melanggar ketentuan ini adalah sanksi pidana penjara paling lama enam bulan atau pidana denda paling banyak kategori II (sepuluh juta rupiah). Pengaturan mengenai tindak pidana kohabitasi telah menimbulkan berbagai kekhawatiran, khususnya mengenai potensi kriminalisasi yang berlebihan atau dikenal dengan istilah overkriminalisasi. Menggunakan hukum pidana untuk mengatasi sebuah permasalahan haruslah menjadi upaya terakhir, sebagaimana diartikulasikan dalam prinsip ultima ratio. Douglas Husak telah memperingatkan bahaya overkriminalisasi, dimana negara diberikan wewenang yang terlalu luas untuk mengontrol individu di wilayah yurisdiksinya dengan menggunakan hukum pidana. Kriminalisasi suatu perbuatan harus mempertimbangkan pembatasan internal dan eksternal. Pembatasan internal berfokus pada tingkat kerusakan, kerugian dan niat jahat yang diakibatkan oleh sebuah tindakan, yang menjamin klasifikasinya sebagai tindak pidana. Selanjutnya, pembatasan eksternal juga menjadi faktor lainnya yaitu fokusnya pada kepentingan negara dan bagaimana kriminalisasi suatu tindakan dapat berkontribusi terhadap tujuan tersebut. Selain itu, terdapat kekhawatiran mengenai potensi terjadinya overkriminalisasi akibat dimasukkannya kohabitasi ke dalam KUHP, yang dapat bertentangan dengan prinsip-prinsip hak asasi manusia, khususnya hak atas peradilan yang adil. Di balik tujuan kriminalisasi tindakan kohabitasi dimana pendekatannya merujuk pada moral dan norma umum, diperlukan sebuah penelitian untuk mengkritisi pandangan tersebut sebagai bentuk sumbangan pemikiran baru khususnya kepada perkembangan hukum pidana di Indonesia