eJournal UPN Veteran Jakarta (Universitas Pembangunan Nasional)
Not a member yet
2712 research outputs found
Sort by
Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penyerapan Tenaga Kerja di Wilayah Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Barat
Menurut Badan Pusat Statistik, Jawa Barat merupakan provinsi yang memiliki tingkat pengangguran terbanyak kedua seindonesia, tetapi provinsi ini juga memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi terbesar kedua. Hal ini yang menandakan bahwa Jawa Barat memiliki fenomena jobless growth. Fenomena ini merupakan permasalahan yang berhubungan dengan tingkat penyerapan tenaga kerja, di mana fenomena ini merupakan permasalahan suatu wilayah yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tetapi wilayah tersebut juga mengalami krisis ketersediaan lapangan pekerjaan karena pertumbuhan tersebut tidak mampu menciptakan lapangan pekerjaan. Oleh karena itu, penelitian ini berfokuskan apa saja yang dapat mempengaruhi tingkat penyerapan tenaga kerja, seperti pendidikan, upah minimum, jumlah penduduk dan produk domestik regional bruto. Penelitian ini memfokuskan 27 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat tahun 2017-2023. Metode yang digunakan adalah data panel dengan model yang terpilihnya adalah FEM. Hasil penelitiannya adalah variabel jumlah penduduk dan produk domestik regional bruto memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja, sedangkan variabel pendidikan berdasarkan rata-rata lama sekolah dan upah minimum tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja.
Kata Kunci: Penyerapan Tenaga Kerja; Pendidikan; Upah Minimum; Jumlah Penduduk; Produk Domestik Regional Bruto
Abstract
According to the Central Statistics Agency, West Java is the province with the second highest unemployment rate in Indonesia, but this province also has the second largest economic growth rate. This indicates that West Java has a jobless growth phenomenon. This phenomenon is a problem related to the level of labor absorption, where this phenomenon is a problem of a region that has a high level of economic growth, but the region is also experiencing a crisis in the availability of jobs because this growth is unable to create jobs. Therefore, this research focuses on anything that can influence the level of labor absorption, such as education, minimum wage, population and gross regional domestic product. This research focuses on 27 districts/cities in West Java Province in 2017-2023. The method used is panel data with the model chosen being FEM. The results of the research are that the population and gross regional domestic product variables have a significant positive influence on labor absorption, while the education variable based on average years of schooling and minimum wage does not have a significant influence on labor absorption.
Keywords: Labor Absorption; Education; Minimum Wage; Population; Gross Regional Domestic Produc
Peran Zakat dalam Mendorong Pertumbuhan Ekonomi dan Kesejahteraan Sosial
Zakat menjadi salah satu instrumen dalam ekonomi islam yang dapat membantu mendorong pertumbuhan ekonomi dan juga meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat melalui pengumpulan, pengelolaan dan penyampaian yang adil dan transparan. Tujuan dari pembahasan ini untuk mengetahui Peran Zakat dalam Mendorong Pertumbuhan Ekonomi dan Kesejahteraan Sosial. Metode penelitian yang digunakan dalam pembahasan ini menggunakan metode studi literatur dengan pendekatan sistematis. Hasil dari pembahasan ini menyatakan bahwa zakat memiliki peran yang signifikan dalam mendukung aktivitas ekonomi. Peran tersebut meliputi berbagai aspek yang berkaitan dengan penguatan daya beli masyarakat, serta kontribusinya terhadap pemerataan ekonomi dan kesejahteraan sosial. Zakat juga berdampak bagi pertumbuhan ekonomi sebagai bentuk redistribusi kekayaan yang juga memperkuat stabilitas ekonomi dengan meningkatkan daya beli masyarakat kurang mampu. Dalam pengelolaan dan penyaluran nya masih banyak tantangan dan perlu regulasi yang mendukung dari pemerintah dalam pemerataan distribusi zakat yang adil.
Kata kunci: Zakat; Pertumbuhan Ekonomi; Kesejahteraan Sosia
DESIGN OF MONITORING SYSTEM FOR BANKNOTE PIGGY BANK BASED ON ANDROID
This research aims to design and build an Android-based banknote monitoringsystem utilizing Internet of Things (IoT) technology. This system uses TCS3200color sensor to detect the nominal value of banknotes based on RGB (Red, Green,Blue) values, NodeMCU ESP8266 as the main microcontroller, and 16x2 LCD todisplay the nominal information. The detected banknote data is sent to the Androidapplication in real-time, allowing users to monitor the balance, view the savingshistory, and control the opening and closing of the savings box through a solenoidmechanism. System testing showed a 98% success rate in detecting banknotes ofvarious denominations, displaying information on the LCD, and synchronizing datawith the Android application. This system is expected to improve children\u27sfinancial literacy by providing a more interactive, efficient, and safe savingsexperience
Pengembangan Kesadaran Diri Untuk Menghadapi Dampak Pandemi Covid-19 Di SMAN 66 Jakarta
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) ini dilaksanakan untuk memberikan pemahaman tentang kesadaran diri terhadap situasi yang dialami oleh masyarakat, dalam hal ini siswa SMAN 66, dikarenakan terjadinya pandemi Covid-19. Kegiatan pengabdian masyarakat ini memberikan pemaparan mengenai upaya mengembangkan kesadaran diri siswa SMAN 66 untuk menghadapi dampak pendemi Covid-19. Materi yang dijelaskan adalah bagaimana siswa SMAN 66 dapat mengurangi dampak penyebaran pandemi Covid-19 dengan cara melakukan pembatasan kegiatan, belajar dari rumah, dan bagaimana siswa dapat berpartisipasi menghadapi dampak pandemi Covid-19. Dijelaskan juga kaitan pengembangan kesadaran diri dengan ketahanan nasional agar kesadaran individu dapat menjadi dasar bagi ketahanan nasional. Secara umum dapat disimpulkan bahwa kegiatan ini memberikan pemahaman bahwa siapa pun warga negara Indonesia harus mematuhi himbauan pemerintah, seperti ketika terjadi Pandemi Covid-19, jika suatu saat situasi serupa terjadi kembali
Dawet Strategi Pengembangan Bisnis Minuman Tradisional: Studi Kasus Tuan Dawet Indonesia: Strategi Pengembangan Bisnis Minuman Tradisional: Studi Kasus Tuan Dawet Indonesia
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh desain kemasan terhadap ketertarikan anak muda dalam membeli produk Tuan Dawet Indonesia, dengan fokus pada persepsi konsumen terhadap varian rasa, kemasan, dan promosi di media sosial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan wawancara mendalam terhadap 10 responden yang merupakan anak muda berusia 18-30 tahun, yang telah mencoba produk Tuan Dawet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain kemasan yang modern, cerah, dan menarik secara visual memainkan peran penting dalam menarik perhatian konsumen muda. Sebagian besar responden mengungkapkan bahwa kemasan yang eye-catching mendorong mereka untuk mencoba produk, sementara varian rasa yang beragam seperti coklat, thaitea, greentea, milo, dan taro memberikan daya tarik tambahan. Selain itu, promosi yang dilakukan di media sosial seperti Instagram memiliki pengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian, di mana konsumen merasa lebih yakin untuk membeli produk yang sudah familiar melalui interaksi dengan merek di platform digital. Penelitian ini menyimpulkan bahwa desain kemasan yang inovatif, keberagaman rasa, serta promosi di media sosial merupakan faktor penting yang mendukung keberhasilan Tuan Dawet Indonesia dalam menarik minat pasar anak muda
HUBUNGAN PENGETAHUAN, PERSEPSI BUDAYA, DUKUNGAN KELUARGA TERHADAP SELF EFFICACY MENYUSUI
Keberhasilan dalam praktik menyusui dipengaruhi oleh faktor internal, seperti kondisi fisiologis dan psikologis ibu, serta faktor eksternal, termasuk dukungan dari keluarga, lingkungan sosial ibu, dan latar belakang budaya. Kepercayaan diri atau keyakinan ibu dalam memberikan ASI, yang dikenal sebagai self-efficacy, juga menjadi bagian penting dari kesuksesan dalam menyusui. Memahami hubungan antara pengetahuan, persepsi budaya, dan dukungan keluarga terkait pemberian ASI dengan self-efficacy menyusui pada ibu primipara di wilayah kerja Puskesmas Mandiraja 2. Metode yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain korelasional menggunakan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari 35 responden yang dipilih menggunakan teknik consecutive sampling, dan data dianalisis dengan uji chi-square. Sebagian besar responden berusia antara 20-35 tahun, memiliki pendidikan terakhir SMP, dan bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT). Responden dengan self-efficacy tinggi umumnya memiliki pengetahuan yang baik, yaitu sebanyak 26 orang (96,3%), persepsi budaya yang mendukung sebanyak 28 orang (84,8%) dan pada mereka yang menerima dukungan keluarga yang baik, juga sebanyak 28 orang (84,8%). Terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan, persepsi budaya dan dukungan keluarga tentang pemberian ASI dan self-efficacy menyusui pada ibu primipara. Peran perawat dalam pendidikan menyusui efektif dengan memberikan informasi dan dukungan terkait teknik menyusui yang benar serta membantu ibu mengatasi masalah seperti nyeri puting atau kesulitan menyusui.Latar Belakang: Keberhasilan dalam praktik menyusui dipengaruhi oleh faktor internal, seperti kondisi fisiologis dan psikologis ibu, serta faktor eksternal, termasuk dukungan dari keluarga, lingkungan sosial ibu, dan latar belakang budaya. Kepercayaan diri atau keyakinan ibu dalam memberikan ASI, yang dikenal sebagai self-efficacy, juga menjadi bagian penting dari kesuksesan dalam menyusui. Tujuan: Memahami hubungan antara pengetahuan, persepsi budaya, dan dukungan keluarga terkait pemberian ASI dengan self-efficacy menyusui pada ibu primipara di wilayah kerja Puskesmas Mandiraja 2. Metode: Metode yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain korelasional menggunakan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari 35 responden yang dipilih menggunakan teknik consecutive sampling, dan data dianalisis dengan uji chi-square. Hasil: Sebagian besar responden berusia antara 20-35 tahun, memiliki pendidikan terakhir SMP, dan bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT). Responden dengan self-efficacy tinggi umumnya memiliki pengetahuan yang baik, yaitu sebanyak 26 orang (96,3%). Selain itu, self-efficacy tinggi juga terlihat pada responden yang memiliki persepsi budaya yang mendukung sebanyak 28 orang (84,8%) dan pada mereka yang menerima dukungan keluarga yang baik, juga sebanyak 28 orang (84,8%). Kesimpulan: Terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan tentang pemberian ASI dan self-efficacy menyusui pada ibu primipara. Persepsi budaya mengenai pemberian ASI juga berhubungan dengan self-efficacy menyusui pada ibu primipara, demikian pula dengan dukungan keluarga terhadap self-efficacy menyusui pada kelompok ini. Peran keperawatan dalam pendidikan menyusui efektif dengan memberikan informasi dan dukungan terkait teknik menyusui yang benar serta membantu ibu mengatasi masalah seperti nyeri puting atau kesulitan menyusui. Keperawatan juga efektif dalam pendidikan budaya dengan menyediakan informasi yang selaras dengan nilai dan keyakinan budaya ibu. Selain itu, perawatan juga mendukung keterlibatan keluarga melalui edukasi kepada anggota keluarga tentang cara memberikan dukungan kepada ibu primipara, termasuk membantu dalam tugas rumah tangga dan perawatan bayi
Gambaran Tingkat Pengetahuan Orang Tua Tentang Penanganan Tersedak (Choking) Pada Balita Di Desa Manistutu Kecamatan Melaya Kabupaten Jembrana: Gambaran Tingkat Pengetahuan Orang Tua Tentang Penanganan Tersedak (Choking) Pada Balita
Masa balita adalah masa emas atau golden age dalam rentang usia 0-5 tahun pada masa perkembangan anak. Tersedak merupakan kondisi tersumbatnya jalan napas karena masuknya benda asing, makanan, atau pun cairan ke dalam saluran pernapasan yang dapat menyebabkan korban kesulitan bernapas sehingga mengakibatkan kematian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan orang tua tentang penangan tersedak (choking) pada balita di Desa Manistutu. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif, menggunakan Non-probability sampling dengan teknik quota sampling, analisa data menggunakan analisa uji statistik deskriptif univariat. Sampel dalam penelitian ini adalah orang tua yang memiliki balita di Desa Manistutu berjumlah 169 orang. Hasil penelitian ini berdasarkan karakteristik umur mayoritas responden umur 21-35 tahun sebanyak 119 (70,4%) responden. Berdasarkan karakteristik pendidikan mayoritas responden pendidikan SMA/SMK sebanyak 73 (43,2%) responden. Berdasarkan karakteristik pekerjaan mayoritas responden tidak bekerja sebanyak 110 (65,1%) responden. Berdasarkan hasil tingkat pengetahuan sebagian besar responden dengan pengetahuan cukup sebanyak 105 (62,1%) responden. Dengan hasil yang didapatkan diharapkan orang tua lebih aktif dalam belajar atau mengikuti penyuluhan terkait penanganan tersedak (choking) pada balita begitupula kepada petugas kesehatan posyandu dapat memberikan penyuluhan rutin kepada orang tua untuk menambah pengetahuan tentang penanganan tersedak (choking) pada balita.Masa balita adalah masa emas atau golden age dalam rentang usia 0-5 tahun pada masa perkembangan anak. Tersedak merupakan kondisi tersumbatnya jalan napas karena masuknya benda asing, makanan, atau pun cairan ke dalam saluran pernapasan yang dapat menyebabkan korban kesulitan bernapas sehingga mengakibatkan kematian (Dinas Kesehatan, 2021). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan orang tua tentang penangan tersedak (choking) pada balita di Desa Manistutu. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif, menggunakan Non-probability sampling dengan teknik quota sampling, analisa data menggunakan analisa uji statistik deskriptif univariat. Sampel dalam penelitian ini adalah orang tua yang memiliki balita di Desa Manistutu berjumlah 169 orang. Hasil penelitian ini berdasarkan karakteristik umur mayoritas responden umur 21-35 tahun sebanyak 119 (70,4%) responden. Berdasarkan karakteristik pendidikan mayoritas responden pendidikan SMA/SMK sebanyak 73 (43,2%) responden. Berdasarkan karakteristik pekerjaan mayoritas responden tidak bekerja sebanyak 110 (65,1%) responden. Berdasarkan hasil tingkat pengetahuan sebagian besar responden dengan pengetahuan cukup sebanyak 105 (62,1%) responden. Dengan hasil yang didapatkan diharapkan orang tua lebih aktif dalam belajar atau mengikuti penyuluhan terkait penanganan tersedak (choking) pada balita begitupula kepada petugas kesehatan posyandu dapat memberikan penyuluhan rutin kepada orang tua untuk menambah pengetahuan tentang penanganan tersedak (choking) pada balita
Human and Artificial Intelligence Interaction from the Perspective of Social Construction of Technology
This research examines the socio-cultural impacts on the adoption and perception of artificial intelligence, focusing on its role as a communicator in direct human-machine interactions within the framework of Human-Machine Communication. As artificial intelligence becomes increasingly woven into daily human experiences, individuals are turning to it for emotional support and companionship, as seen in narratives of emotional relationships with generative AI. The research aims to understand how direct interactions with artificial intelligence influence perceptions of its utility and emotional closeness, contrasting these with indirect interactions. Employing a qualitative approach, the researchers conducted in-depth interviews, which reveal that initial skepticism about artificial intelligence diminishes with increased usage. Informants start recognizing artificial intelligence not just as a tool but as a companion providing non-judgmental support, facilitated by artificial intelligence-mediated communication. Findings suggest a significant perceptual shift among users, viewing artificial intelligence as capable of fulfilling emotional roles in human relationships. This research contributes to Human- Machine Communication by highlighting the qualitative nuances in how artificial intelligence is embedded in daily life, affecting social and emotional interactions. The research underscores artificial intelligence\u27s potential not only in enhancing productivity but also in serving as a meaningful social and emotional partner. The Social Construction of Technology framework is used to analyze how different social groups influence the development of artificial intelligence, illustrating that the evolution of technology is shaped by societal interactions and perceptions.Penelitian ini mengkaji dampak sosio-kultural terhadap adopsi dan persepsi kecerdasan buatan, dengan fokus pada perannya sebagai komunikator dalam interaksi langsung manusia-mesin dalam kerangka Komunikasi Manusia-Mesin. Seiring dengan semakin terintegrasi kecerdasan buatan dalam pengalaman sehari-hari manusia, individu mulai mengandalkan kecerdasan buatan untuk dukungan emosional dan kebersamaan, yang dibuktikan melalui narasi hubungan emosional dengan kecerdasan buatan generatif. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana interaksi langsung dengan kecerdasan buatan mempengaruhi persepsi tentang kegunaan dan kedekatan emosionalnya, dibandingkan dengan interaksi tidak langsung. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, wawancara mendalam mengungkapkan bahwa skeptisisme awal terhadap kecerdasan buatan berkurang seiring dengan meningkatnya penggunaan. Informan mulai mengakui kecerdasan buatan tidak hanya sebagai alat tetapi sebagai teman yang memberikan dukungan tanpa menghakimi, yang difasilitasi oleh komunikasi yang dimediasi kecerdasan buatan. Temuan menunjukkan pergeseran persepsi yang signifikan di antara pengguna, melihat kecerdasan buatan sebagai mampu memenuhi peran emosional dalam hubungan manusia. Penelitian ini berkontribusi pada Komunikasi Manusia-Mesin dengan menyoroti nuansa kualitatif dalam bagaimana kecerdasan buatan tersemat dalam kehidupan sehari-hari, mempengaruhi interaksi sosial dan emosional. Penelitian ini menekankan potensi kecerdasan buatan dalam meningkatkan tidak hanya produktivitas tetapi juga berfungsi sebagai pasangan sosial dan emosional yang berarti. Kerangka Konstruksi Sosial Teknologi digunakan untuk menganalisis bagaimana berbagai kelompok sosial mempengaruhi pengembangan kecerdasan buatan, menggambarkan bahwa evolusi teknologi dibentuk oleh interaksi dan persepsi masyarakat
Local Mass Media and Multi-Stakeholders as Leading Sector in Disaster Communication at the Community Level
Indonesia is a disaster-prone country, with threats including earthquakes, tsunamis, volcanic eruptions, floods and landslides. Disaster communication at the community level means providing efforts to prevent and handle disaster events. This research aims to find the right instrument to improve digital literacy. It also describes how to implement disaster communication at the community level. The research method used to provide a new perspective related to this research is qualitative research, obtaining data using Focus Group Discussions (FGD). Research results can be used as a new standard for implementing disaster communication at the community level. First, local mass media is important in providing and optimizing literacy and community participation in disaster prevention or mitigation efforts. Local mass media are considered to have emotional and psychological closeness to the right way to approach the community based on local pride. Secondly, by collaborating with stakeholders, the community can optimize literacy with various perspectives and achievements obtained through various institutions
Analisis Implikasi Pengesahan RUU TNI Dalam Sinergi Sipil-Militer dan Konsolidasi Demokrasi di Indonesia
This study aims to provide an analysis of the impact of the ratification of the TNI Bill on the dynamics of relations between the military and civilians which produces 2 research questions, namely With the ratification of this TNI Bill, how can it change the Synergy between Civil and Military Institutions? And What is the impact of the ratification of the TNI Bill on the sovereignty of Democracy in Indonesia. The above objectives are attempted to be achieved by correlating the theory of Civil-military relations, democratic consolidation, and the concept of civil supremacy which are packaged in the form of descriptive qualitative research. research used to explore and interpret the meaning of a social phenomenon. The results obtained from this study are that the TNI Bill could be a threat to the implementation of democracy in Indonesia, with the revised article of the article which is considered to have changed the democratic order and threatens the division of the military and civilians. Of course, this can be a real threat and it is possible that in the future the power held by the military could increase and will also recreate the concept of ABRI\u27s dual function in regulating bureaucracy in Indonesia. So from this research it can be concluded that the TNI Bill will be one of the policies that has the potential to bring big problems because it has damaged the democratic order, especially regarding public participation in regulating the bureaucracy.Penelitian ini bertujuan untuk memberikan analisa mengenai dampak yang dihasilkan dari pengesahan RUU TNI terhadap dinamika hubungan antara militer dengan sipil yang menghasilkan 2 pertanyaan penelitian yaitu Dengan pengesahan RUU TNI ini bagaimana dapat merubah Sinergi antara Institusi Sipil dan Militer? Dan Bagaimana dampak pengesahan RUU TNI terhadap kedaulatan Demokrasi di Indonesia.Tujuan diatas coba dicapai dengan mengkorelasikan teori Relasi sipil-militer, konsolidasi demokrasi, dan konsep supremasi sipil yang dikemas dalam bentuk penelitian kualitatif deskriptif. penelitian yang dipakai untuk mengeksplorasi dan menafsirkan sebuah makna dari suatu fenomena sosial. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini adalah RUU TNI bisa menjadi sebuah ancaman bagi jalannya demokrasi di Indonesia, dengan perevisian pasal-pasal yang dianggap sudah merubah tatanan demokrasi serta mengancam keberadaan pemisahan militer dan sipil. Hal ini tentu saja dapat menjadi ancaman nyata dan tidak menutup kemungkinan kedepannya kekuasaan yang dimiliki militer bisa bertambah dan juga akan menciptakan kembali konsep dwifungsi ABRI dalam jalannya birokrasi di Indonesia. Sehingga dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa RUU TNI akan menjadi salah satu kebijakan yang berpotensi membawa permasalahan yang besar karena sudah merusak tatanan demokrasi terutama berkaitan dengan partisipasi dari masyarakat dalam jalannya birokrasi