Persatuan Perawat Nasional Indonesia: PPNI Jawa Tengah Journal
Not a member yet
566 research outputs found
Sort by
Pengembangan Sistem Aplikasi Online untuk Penerapan Evidence Based Nursing Practice
Evidence-Based Nursing Practice (EBNP) adalah pendekatan sistematis untuk meningkatkan kualitas praktik keperawatan dengan mengumpulkan bukti terbaik dalam pengambilan keputusan praktik yang telah menjadi tuntutan pada tatanan rumah sakit. Pada kenyataanya masih banyak kendala dalam penerapan EBNP, misalnya: kurangnya pengetahuan, terbatasnya waktu, dan terbatasnya sarana dan prasarana. Perkembangan teknologi memberikan alternatif pemecahan masalah tersebut agar EBNP lebih masif penggunaannya. Studi ini merupakan metode penelitian pengembangan dengan 3 langkah yang dimulai dengan need assessment berupa wawancara dengan 9 perawat klinik; wawancara dengan ekspert dalam bidang Teknologi Informasi; dan pengembangan aplikasi online dengan mengadaptasi tujuh (7) langkah penerapan EBNP. Penggunaan teknologi untuk mengembangkan aplikasi dalam penerapan EBNP bersama tim IT tentang catatan digital dan masukan dari expert tentang metode input (voice to text), maka tercipta sebuah aplikasi berbasis Dynamic Website bersifat personal dengan nama online START EBP. Fitur aplikasi yang dimiliki meliputi menu registrasi, menu profile, menu tujuh langkah pencarian bukti (searching journals, appraisal, share link review expert dan partisipan, monitoring dan evaluasi), resume pdf, link media Jurnal club. Aplikasi Online START ringan dan dapat digunakan diberbagai platform digital dengan setiap tahapan EBNP yang tersimpan dengan baik kedalam database. Penggunaan aplikasi Online START EBP dapat menjadi alternatif modern dalam upaya promosi EBNP bagi perawat klinik
Hubungan Sikap Keselamatan dengan Implementasi Sasaran Keselamatan Pasien oleh Perawat di Rumah Sakit
Keselamatan pasien menjadi tujuan sangat penting dalam pemberian pelayanan kesehatan yang berkualitas. Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan antara sikap keselamatan dengan implementasi keselamatan pasien di rumah sakit dengan menggunakan standar nasional akreditasi rumah sakit (SNARS). Penelitian merupakan penelitian kuantitatif dengan metodean deskriptif dan cross-sectional. Metode sampling dengan purposive sampling, didapatkan sampel sebanyak 345 orang. Terdapat hubungan signifikan antara sikap keselamatan dengan implementasi keselamatan perawat (r= 0,441, P<0,01). Faktor jenis kelamin, usia, pengalaman kerja, dan jenjang karier secara signifikan berpengaruh pada implementasi keselamatan (P<0,05). Rumah sakit dan manajer perawat memiliki peranan penting dalam meningkatkan keselamatan pasien untuk menghindari terjadinya insiden keselamatan dengan melakukan pemanfaatan sumber daya secara optima
Nurses’ Disaster Mitigation Competencies in Public Health Center during Pandemic Covid-19
Mitigation is an effort to reduce disaster risk through physical development, public awareness, and community capacity building in facing disaster. The public health center (Puskesmas) as a facility is the spearhead of individual and community health services, especially in disaster situations. Nurses as the frontline in providing health services are expected to have competence in dealing with disasters. Increased disaster mitigation for nurses could be done by understanding disaster risk, disease prevention, health promotion, and policy development and planning. This study aims to determine the nurses’ competencies in disaster mitigation in the public health center. This research is a descriptive explorative with a cross-sectional study design. The total sampling method was carried out at two Puskesmas totaling 42 respondents. Data collection using Google-form in a dichotomy scale developed by researchers totaling 23 questions adopted from ICN-WHO, 2009. The questionnaire tested reliability with Cronbach Alpha = 0.7. The results of the study showed that the nurse\u27s disaster mitigation competencies were at a good level (54.8%). For the sub-scales understanding of disaster risk (47.6%), disease prevention (76.2%), health promotion (61.9%) and policy development and planning (35.7%) are good competencies. It is recommended to health workers and community health centers to improve disaster risk management by making policies and plans that are organized by involving across professions, sectors, and all components of society.Mitigation is an effort to reduce disaster risk through physical development, public awareness, and community capacity building in facing disaster. The public health center (Puskesmas) as a facility is the spearhead of individual and community health services, especially in disaster situations. Nurses as the frontline in providing health services are expected to have competence in dealing with disasters. Increased disaster mitigation for nurses could be done by understanding disaster risk, disease prevention, health promotion, and policy development and planning. This study aims to determine the nurses’ competencies in disaster mitigation in the public health center. This research is a descriptive explorative with a cross-sectional study design. The total sampling method was carried out at two Puskesmas totaling 42 respondents. Data collection using Google-form in a dichotomy scale developed by researchers totaling 23 questions adopted from ICN-WHO, 2009. The questionnaire tested reliability with Cronbach Alpha = 0.7. The results of the study showed that the nurse\u27s disaster mitigation competencies were at a good level (54.8%). For the sub-scales understanding of disaster risk (47.6%), disease prevention (76.2%), health promotion (61.9%) and policy development and planning (35.7%) are good competencies. It is recommended to health workers and community health centers to improve disaster risk management by making policies and plans that are organized by involving across professions, sectors, and all components of society
Terapi Musik dalam Menurunkan Kecemasan Remaja di Masa Pandemi Covid-19
The COVID-19 pandemic has a major impact, especially on adolescents. This pandemic demands new habits of social distance, home quarantine, learning from home, limiting teenagers from playing and going out of the house with peers. This makes adolescents feel depressed until they experience mental disorders in the form of anxiety. Anxiety that occurs in adolescents can be overcome with music therapy. Music therapy is a therapy that does not have an adverse effect on adolescents and can reduce anxiety levels by increasing endorphins. This type of research is Quasy experimental pre test post test with control group with the sampling technique with purposive sampling. Music therapy was given for 6 days with a duration of 20-30 minutes. The type of music given is in accordance with the music that the respondent likes. Media providing music therapy with mp4. The level of anxiety in this study was measured using the DASS 42 questionnaire with a reliability of r = 0.82 and a validity test with a Cronbach alpha result of 0.85. The results of the paired t-test showed that the value of p = 0.000 in the intervention group with a mean before the intervention was 12.5 (moderate anxiety) and after being given the intervention in the form of music therapy the mean decreased to 5.5 (normal anxiety) and obtained a value of p = 0.000 and in the control group with a mean 12.3 (moderate anxiety) and after getting the mean 15.05 (severe anxiety). Music therapy given to adolescents has benefits in reducing anxiety so that it can be recommended in providing nursing care.Pandemi COVID-19 berpengaruh besar khususnya pada remaja. Pandemic ini menuntut kebiasaan baru untuk social distance, karantina dirumah, belajar dari rumah, membatasi remaja untuk bermain dan keluar rumah dengan teman sebaya. Hal ini membuat remaja merasa tertekan hingga mengalami gangguan mental berupa kecemasan. Kecemasan yang terjadi pada remaja bisa diatasi dengan terapi musik. Terapi musik adalah terapi yang tidak memberikan efek yang merugikan bagi remaja dan dapat menurunkan tingkat kecemasan berupa meningkatkan hormon endorfin. Jenis penelitian ini Quasy experimental pre test post test with control grup dengan teknik pengambilan sampel dengan purposive sampling. Pemberian terapi musik dilakukan selama 6 hari dengan durasi 20-30 menit. Jenis musik yang diberikan sesuai dengan musik yang difavoritkan responden. Media pemberian terapi musik dengan mp4. Tingkat kecemasan pada penelitian ini diukur menggunakan kuesioner DASS 42 dengan reabilitas r = 0,82 dan uji valididtas dengan hasil Cronbach alpha 0.,85. Hasil paired t-test didapatkan nilai p=0,000 pada kelompok intervensi dengan mean sebelum dilakukan intervensi 12.5 (kecemasan sedang) dan sesudah diberi intervensi berupa terapi musik mean menurun menjadi 5.5 (kecemasan normal) dan didapatkan nilai p=0,000 dan pada kelompok kontrol dengan mean 12.3 (kecemasan sedang) dan sesudah mendapatkan mean 15.05 (kecemasan parah). Terapi musik yang diberikan pada remaja mempunyai manfaat dalam mengurangi kecemasan sehingga dapat disarankan dalam memberikan asuhan keperawatan
Resiliensi Berhubungan dengan Kualitas Hidup pada Orang dengan HIV/AIDS
HIV / AIDS is a chronic disease that can affect all aspects of life of sufferers. People with HIV / AIDS (PLWHA) experience problems both physically and psychologically which lead to the quality of life of the individual, therefore the ability to manage and rise from the various pressures experienced with resilience is needed. Resilience is an effort that is owned by a person to be able to withstand changes, illness conditions or difficulties experienced. Resilience functions to cope with, control and overcome negative experiences in life, so that PLWHA can adapt. this study used a descriptive correlation design with a cross-sectional study. Sampling method was using total sampling obtained 50 samples. The data used are primary data by collecting ODHA in one place and given a questionnaire of relevance and quality of life. Data were analyzed using Rank Spearman test. The results of resilience in PLWHA were 39 people (78%) in the medium category, and the quality of life for PLHIVs was 33 people (66%) with moderate category. Spearman rank test results with a value of α = 0.05, the results obtained p value = 0.00 with value of r = 0.785, which means there is a relationship of resilience with quality of life in people with HIV/AIDS (PLWHA) (p<α) with strong strength and positive correlation direction. In people with HIV/AIDS, it is not only enough to manage, organize themselves so that life goals are achieved, but also the ability to survive and adapt to the stresses experienced so that PLWHA can have a better quality of life.HIV/AIDS merupakan penyakit kronis yang dapat berdampak pada semua aspek kehidupan penderitanya. Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) mengalami permasalahan baik secara fisik maupun psikologis yang berujung kualitas hidup individu tersebut, maka dari itu dibutuhkan kemampuan untuk mengelola dan bangkit dari berbagai tekanan yang dialami dengan resiliensi. Resiliensi merupakan sebuah usaha yang dimiliki oleh seseorang untuk mampu bertahan dalam perubahan, kondisi sakit ataupun kesulitan yang dialami. Resiliensi berfungsi untuk menanggulangi, mengendalikan serta mengatasi pengalaman negative dalam hidup, sehingga ODHA mampu beradaptasi. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif korelasi dengan desain penelitian cross sectional. Teknik sampling menggunakan total sampling didapatkan 50 sampel. Data yang digunakan adalah data primer dengan mengumpulkan ODHA dalam satu tempat dan diberikan kuesioner relisiliensi dan kualitas hidup. Data dianalisis dengan menggunakan uji Rank Spearman. Hasil resiliensi pada ODHA sebanyak 39 orang (78%) dengan kategori sedang, dan kualitas hidup sebanyak 33 orang (66%) dengan kategori cukup baik. Hasil uji rank spearman dengan nilai α=0,05, didapatkan hasil p value=0,00 dengan nilai r= 0,785, yang berarti ada hubungan resiliensi dengan kualitas hidup (p<α) dengan kekuatan kuat dan arah korelasi positif. Pada orang dengan HIV/AIDS tidak hanya cukup dengan mengelola, mengatur diri agar tujuan hidup tercapai, namun juga dibutuhkan pula kemampuan untuk bertahan serta beradaptasi terhadap tekanan yang dialami sehingga ODHA dapat memiliki kualitas hidup yang lebih baik
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Munculnya Tanda Gejala Depresi di Masa Pandemi Covid-19
COVID-19 pandemic not only has significant impact on public health but also on public mental health. It is shown by the increasing number of people with depression during this pandemic. Studies reveal that there are several factors can predict depressive symptoms during COVID-19 pandemic. This study aimed to identify factors that significantly predict depressive symptoms during COVID-19 pandemic. In the present literature review, articles that focused on factors predicting depressive symptoms among general population during the COVID-19 pandemic were searched in the ProQuest, PubMed and Google Scholar databases by using Boolean Operator. Words such as general population, adult, predicting factors, protective factors, risk factors, depressive symptoms, depression, during pandemic COVID-19 were used as keywords. Then, 114.823 potential studies were found and screened based on inclusion criteria. The final 14 articles were reviewed and used in this study. The majority of population in the present study aged 18 years old and older with the total population was 129.527. Age, gender, marital status, having children, employment status, history of having mental illness, education, income and loneliness are factors that significantly predict depressive symptoms among general population during COVID-19 pandemic. These social determinants and loneliness were found as predictive factors of depressive symptoms among general population during COVID-19 pandemic.Pandemi COVID-19 tidak hanya berdampak signifikan terhadap kesehatan masyarakat tetapi juga terhadap kesehatan mental masyarakat. Hal tersebut ditunjukkan dengan semakin banyaknya penderita depresi selama pandemi ini. Studi mengungkapkan bahwa ada beberapa faktor yang dapat memprediksi gejala depresi selama pandemi COVID-19. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang secara signifikan dapat memprediksi gejala depresi selama pandemi COVID-19. Dalam tinjauan pustaka ini, artikel yang berfokus pada faktor-faktor yang memprediksi gejala depresi di antara populasi umum selama pandemi COVID-19 dicari di database ProQuest, PubMed, dan Google Cendekia dengan menggunakan Boolean Operator. Kata kunci seperti populasi umum, dewasa, faktor prediksi, faktor pelindung, faktor risiko, gejala depresi, depresi, saat pandemi COVID-19 digunakan sebagai kata kunci. Kemudian, 114.823 studi potensial ditemukan dan disaring berdasarkan kriteria inklusi. 14 artikel terakhir ditinjau dan digunakan dalam penelitian ini. Mayoritas populasi dalam penelitian ini berusia 18 tahun ke atas dengan jumlah populasi 129.527. Usia, jenis kelamin, status perkawinan, memiliki anak, status pekerjaan, riwayat penyakit mental, pendidikan, pendapatan dan kesepian merupakan faktor-faktor yang secara signifikan dapat memprediksi gejala depresi pada populasi umum selama pandemi COVID-19. Determinan sosial dan kesepian ini ditemukan sebagai faktor prediktif gejala depresi pada populasi umum selama pandemi COVID-19
Concept Analysis: Compliance Among Diabetic Patients
There is a lot of evidence showing that the level of compliance is a fundamental factor in determining the health status of people with diabetes mellitus. Although many treatments have been effective in treating this disease, there are still many patients who fail to achieve glycemic control which causes complications and premature death. The purpose of this analysis concept is to clarify the concept of compliance with diabetes mellitus patients so that it becomes the basis for understanding in decision making in avoiding complications and long-term adherence in diabetes management. This concept analysis uses eight methods of 8 step walker and avant from 11 articles reviewed. Compliance in carrying out antidiabetic therapy is an active participation of patients on an ongoing basis in carrying out the use of drugs, diet and exercise. The concept of this analysis serves to direct the mindset of nurses in determining standard guidelines and improving adherence to the regimen of diabetic patients
Ansietas dan Prestasi Mahasiswa D3 Kebidanan pada Program PKL di Masa Pandemi Covid 19
Pandemi covid 19 membawa disrupsi kehidupan tidak terkecuali dunia pendidikan. Perubahan yang cepat menuntut kemampuan adaptasi dan kondisi distress terlebih pada pembelajaran praktik lapangan. Ansietas menjadi gejala awal mahasiswa yang mungkin bisa berdampak buruk pada prestasi dan hasil belajar mahasiswa. Penurunan imun, depresi dan penurunanan kualitas pendidikan menjadi muara risiko jika kondisi ansietas tidak ditangani.Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan ansietas dengan tingkat prestasi mahasiswa kebidanan FK Undiksha selama mengikuti PKL di pelayanan kesehatan pada masa pandemi covid 19 Tahun 2021. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi target yaitu seluruh mahasiswa Prodi D3 Kebidanan FK Undiksha berjumlah 198 orang. Teknik pengambilan sampel yaitu probability random sampling dengan simple random sampling, sebanyak 39 orang. Kecemasan diukur dengan kuesioner Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). Prestasi belajar didapat dengan data sekunder diukur dari nilai PKL mahasiswa. Analisis univariat secara deskriptif. Analisis bivariat dilakukan dengan uji Rank Spearman. Hasil menunjukkan bahwa ansietas memiliki hubungan yang signifikan dengan prestasi belajar mahasiswa, nilai signifikansi p 0.04<0.05 dengan nilai r = -0.330 yang berarti bahwa Ho ditolak yaitu terdapat hubungan yang signifikan antara ansietas dengan pertasi belajar mahasiswa kebidanan yang mengikuti program PKL. Semakin tinggi tingkat ansietas maka semakin rendah prestasi akademik mahasiwa dan begitu sebaliknya.Simpulan dari penelitian ini adalah ansietas berhubungan berlawanan arah dengan prestasi mahasiswa kebidanan semester v selama PKL
Hubungan Stres Kerja dengan Burnout Syndrome di Masa Pandemi Covid-19 pada Perawat
Kemunculan pandemi COVID-19 seiring dengan berjalannya waktu terus mengalami peningkatan jumlah pasien yang terkonfirmasi. Tingginya kasus tersebut tentunya akan mempengaruhi kondisi perawat sebagai tenaga kesehatan. RSUD Dr Ratulangi Tondano sendiri merupakan salah satu rumah sakit yang merawat pasien terkonfirmasi di Sulawesi Utara, hal tersebut tak jarang menimbulkan Stres saat bekerja hingga tanpa disadari perawat bisa mengalami burnout syndrome. Penelitian ini untuk mengetahui hubungan stres kerja dengan burnout syndrome dimasa pandemi COVID-19 pada perawat RSUD Dr Sam Ratulangi Tondano. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif dengan desain penelitian menggunakan cross-sectional design. Lokasi penelitian di RSUD Dr Sam Ratulangi Tondano dengan pengambilan data menggunakan purposive sampling n = 40 responden, pengambilan data menggunakan kuesioner. Penelitian ini menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil analisis mengenai hubungan antara stres kerja dan burnout syndrome didapatkan P = 0,001 dengan nilai korelasi = 0,518. Terdapat hubungan antara Stres kerja dengan burnout syndrome di masa pandemi COVID-19 dimana semakin tinggi tingkat stres kerja maka akan mempengaruhi kejadian burnout syndrome
Hubungan Tingkat Spiritualitas Wanita Menopause dengan Sindrom Menopause pada Daerah Pedesaan
Introduction: Menopausal women experience a number of symptoms called menopausal syndrome. Previous study) states that menopausal syndrome in women in Europe reaches 70-80%, Americans 60%, Malaysia 57%, China 18%, Japan and in Indonesia 10%. The prevalence and severity of menopausal syndrome in Asia show lower rates than women in Western. Another study states, high spiritual well-being can provide adaptive coping and contribute to reducing menopausal symptoms. Studies on the relationship between the spiritual level of menopausal women and menopausal syndrome in rural areas are still limited. The study aims to determine the relationship of spirituality levels with menopausal syndrome in rural area. Method: This study is correlation research with cross sectional approach. Number of samples is 207 women. The sampling technique used stratified random sampling. The research was conducted in Tangkisan Village, Tawangsari District, Sukoharjo Regency. Instruments used in this study is Spiritual Well-Being Scale (SWBS) to measure spirituality levels and Menopausal Rating Scale (MRS) to determain the level of menopausal syndrome. The quesionnare distributed online by whatsapp.using google form. Data analysis using using Spearman rank test. Result: The analysis showed that there was a significant relationship between the level of spirituality with menopausal syndrome in women with a correlation value of -0,300 and p value ≤ 0,05.Conclusion: A high level of spirituality reduced menopausal syndrome. Menopausal women are expected to prepare and improve their spirituality to be more ready to undergo menopause