Persatuan Perawat Nasional Indonesia: PPNI Jawa Tengah Journal
Not a member yet
    566 research outputs found

    STRES KERJA DAN TURNOVER INTENTION PERAWAT DI RUMAH SAKIT DI JAWA TIMUR

    No full text
    Nurses who work to provide nursing care to patients experience various stressors and stress is known to be an important predictor of nurses\u27 turnover intentions. The aim of this study was to determine the relationship between job stress and turnover intention of nurses in hospitals in East Java. Research design uses correlation analytics with a cross-sectional study. The samples in this study were nurses in various hospitals in East Java. The sampling technique used in this research was purposive sampling. The sample consisted of 190 respondents. Data collection using a questionnaire consisted of a questionnaire for job stress and a questionnaire for turnover intentions. Statistical test using chi square. This study showed that of the 53.7% of respondents with high job stress who had the intention to move, there were 71 respondents (37.4%). The higher the job stress, the higher the turnover intention. The results of statistical tests show that there is a relationship between job stress and turnover intention with p = 0.047.  One of the causes of intention to move is job stress. job stress is felt by nurses as pressure when completing a task. so they may choose or have the intention to leave the workplace.Perawat yang bekerja memberikan asuhan keperawatan pada pasien mengalami berbagai stresor dan stres diketahui menjadi salah satu prediktor penting dari niat berpindah perawat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan stres kerja dengan turnover intention perawat di rumah saki di Jawa Timur.   Desain Penelitian menggunakan analitik korelasi dengan studi cross-sectional. sampel dalam penelitian ini adalah perawat di berbagai rumah sakit di Jawa Timur. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah puposive sampling. Sampel berjumlah 190 responden. Pengumpulan data menggunakan kuesioner terdiri dari kuesioner untuk stres kerja dan kuesioner untuk keinginan berpindah (turnover intention). Uji statistik menggunakan chi square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 53,7% responden dengan stres kerja tinggi yang memiliki niat berpindah yaitu sebanyak 71 responden (37,4%). Semakin tinggi stres kerja maka semakin tinggi niat berpindah. Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan antara stres kerja dengan niat berpindah dengan p = 0.047.  Penyebab terjadinya niat berpindah salah satunya adalah stress kerja. Stres kerja dirasakan oleh perawat sebagai tekanan saat menyelesaikan suatu tugas. sehingga mungkin memilih atau memiliki niat untuk keluar dari tempat kerja

    PENGARUH PROMOSI KESEHATAN TERHADAP PENINGKATAN PENGETAHUAN KUALITAS TIDUR PADA LANSIA HIPERTENSI DI POSYANDU BINTANG WILAYAH KERJA PUSKESMAS LEMPAKE SAMARINDA

    No full text
    Background: Aging is often associated with hypertension, which increased from 4.5% in 1971 to 10.7% in 2020 in Indonesia. Sleep disturbances are common among the elderly and can negatively impact health. This study evaluates the effect of health promotion on knowledge of sleep quality in elderly individuals with hypertension at Posyandu Lansia Bintang, employing video-based education to enhance understanding of the relationship between sleep patterns and hypertension. Objective: To determine health promotion\u27s impact on sleep quality knowledge in elderly individuals with hypertension. Method: This study utilized a quantitative approach with a pre-experimental design using a One Group Pretest-Posttest method. Measurements were conducted before and after the health promotion intervention focused on knowledge of sleep quality. Results: The study analyzed the characteristics of 38 elderly individuals with hypertension and the impact of health promotion on their knowledge of sleep quality. Most respondents were 60-74 years old (78.9%) and female (76.3%). Before the promotion, 100% had moderate knowledge; after the intervention, the percentage of those with good knowledge increased to 76.3% (p < 0.05). These findings highlight the importance of education on sleep quality for the health of elderly individuals with hypertension. Conclusion: The study at Posyandu Lansia Bintang, Puskesmas Lempake Samarinda, examined the influence of health promotion on the knowledge of elderly individuals with hypertension regarding sleep quality. Key findings indicate that most respondents were 60-74 years old (78.9%) and female (76.3%); 47.4% had no formal education. Poor sleep quality was prevalent, and there was a high prevalence of hypertension among the elderly. A significant relationship was found between sleep quality and blood pressure (p-value 0.001).Latar belakang: Penuaan sering disertai hipertensi, yang meningkat dari 4,5% pada 1971 menjadi 10,7% pada 2020 di Indonesia. Gangguan tidur umum di kalangan lansia dapat memperburuk kesehatan. Penelitian ini mengevaluasi pengaruh promosi kesehatan terhadap pengetahuan tentang kualitas tidur pada lansia hipertensi di Posyandu Lansia Bintang, dengan metode edukasi berbasis video untuk meningkatkan pemahaman tentang hubungan antara pola tidur dan hipertensi. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh promosi kesehatan terhadap pengetahuan kualitas tidur pada lansia hipertensi. Metode: Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ialah pendekatan kuantitatif menggunakan metode pre eksperimen dengan One Group Pretest-posttest. Peneliti melakukan pengukuran sebelum dan sesudah diberikan perlakuan yang berupa promosi kesehatan tentang pengetahaun kualitas tidur. Hasil: Penelitian ini menganalisis karakteristik 38 lansia hipertensi dan dampak promosi kesehatan terhadap pengetahuan tentang kualitas tidur. Mayoritas responden berusia 60-74 tahun (78,9%) dan perempuan (76,3%). Sebelum promosi, 100% memiliki pengetahuan sedang; setelah intervensi, pengetahuan baik meningkat menjadi 76,3% (p < 0,05). Temuan ini menekankan pentingnya edukasi tentang kualitas tidur untuk kesehatan lansia hipertensi. Kesimpulan: Penelitian di Posyandu Lansia Bintang, Puskesmas Lempake Samarinda, mengkaji pengaruh promosi kesehatan terhadap pengetahuan lansia hipertensi tentang kualitas tidur. Temuan utama adalahm Mayoritas responden berusia 60-74 tahun (78,9%) dan perempuan (76,3%); 47,4% tidak bersekolah, Kualitas tidur buruk mendominasi,Tinggi prevalensi hipertensi di kalangan lansia, Ada pengaruh signifikan antara kualitas tidur dan tekanan darah (p value 0,001)

    Pemberdayaan Orang Tua dalam Meningkatkan Nafsu Makan Balita melalui Akupresur Titik Zhongwan (CV12) sebagai Upaya Pencegahan Stunting

    No full text
    Pemberdayaan orang tua dalam meningkatkan nafsu makan balita melalui akupresur pada titik Zhongwan (CV12) merupakan upaya untuk mendukung tumbuh kembang anak dan mencegah stunting. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan orang tua di Desa Tunjung, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar, mengenai manfaat akupresur dalam meningkatkan nafsu makan balita. Kegiatan dimulai dengan survei awal, dilanjutkan dengan sosialisasi dan pelatihan teori serta praktik langsung. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test untuk mengukur perubahan pemahaman orang tua setelah pelatihan. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman orang tua mengenai teknik akupresur; sebelum pelatihan, 80% peserta memiliki pemahaman "Kurang", sementara setelah pelatihan, 90% peserta menunjukkan pemahaman "Baik". Program ini berhasil meningkatkan keterampilan orang tua dalam mengaplikasikan teknik akupresur di rumah, yang diharapkan dapat mendukung peningkatan nafsu makan balita secara alami. Evaluasi lebih lanjut diperlukan untuk menilai dampak jangka panjang dari penerapan teknik ini terhadap kesehatan balita dan keberlanjutan program pengabdian masyarakat ini

    the Retrospective Study: Risk Factors for Surgical Site Infections Following Cesarean Section: Retrospective Study: Risk Factors for Surgical Site Infections Following Cesarean Section

    No full text
    ABSTRAKLatar belakang: Infeksi Daerah Operasi (IDO) pada pembedahan Sectio Caesarea (SC) dapat menghambat proses nifas ibu dan masa menyusui bayi. Lama rawat, biaya perawatan pasien bahkan tingkat mortalitas ibu dapat meningkat. RSUD Bali Mandara adalah salah satu rumah sakit milik Provinsi Bali yang menjadi rujukan RS tipe B menunjukkan prevalensi IDO sebesar 3,2% pada tahun 2020. Sedangkan standar nasional yang ditetapkan menurut Peraturan Menteri Kesehatan no.27 tahun 2017 adalah 2%. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhikejadian IDO pada pembedahan SC. Metodelogi: Data secara kuantitatif dikumpulkan melalui rekam medis pasien yang menjalani pembedahan SC mulai tahun 2019-2021 di RSUD Bali Mandara. Teknikpengambilan data dengan total sampling didapatkan sebanyak 836 orang dengan 9 orang mengalami IDO. Analisis data penelitian ini menggunakan uji Chi Square dan multivariat regresi logistik berganda. Hasil: Berdasarkan hasil analisis bivariat dan multivariat, faktor intrinsik yaitu usia, paritas ibu, penyakit penyerta ibu (anemia, Diabetes Melitus) serta faktor ekstrinsik yaitudurasi operasi dan jumlah tim operasi tidak mempengaruhi kejadian IDO, karena nilai pvalue > 0,05. Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa faktor-faktor dalam penelitian ini tidak mempengaruhi kejadian IDO pada pembedahan SC. Rekomendasi terhadap rumah sakit agar senantiasa menerapkan pelaporan surveilans IDO untuk menganalisis kembali factor yang signifikan empengaruhi IDO dalam rangka pencegahan komplikasi dari IDO. Perlu adanya penelitian lebih lanjut dalam mengidentifikasi faktor penyebab IDO sebagai evidence-based practice dalam menentukan arah kebijakan rumah sakit. Kata kunci: Infeksi Daerah Operasi, Sectio Caesarea, pembedahanLatar belakang: Infeksi Daerah Operasi (IDO) pada pembedahan Sectio Caesarea (SC) dapat menghambat proses nifas ibu dan masa menyusui bayi.  Lama rawat, biaya perawatan pasien bahkan tingkat mortalitas ibu dapat meningkat. IDO adalah salah satu Insiden Keselamatan Pasien (IKP) yang dapat dicegah sehingga pelayanan rumah sakit yang aman dan bermutu dapat terselenggara. Survei Badan Kesehatan Dunia tahun 2014 menunjukkanIDO telah meningkat dari 1,2 kasus menjadi 23,6 kasus per 100 pembedahan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian IDO pada pembedahan SC mulai tahun 2019-2021 di RSUD Bali Mandara.  Metodelogi: Data secara metode kuantitatif dikumpulkan melalui rekam medis pasien. Teknik pengambilan data dengan total sampling didapatkan sebanyak 836 orang dengan 9 orang mengalami IDO. Analisis data penelitian ini menggunakan uji Chi Square dan multivariat regresi logistik berganda. Hasil: Berdasarkan hasil analisis bivariat dan multivariat, faktor yaitu usia, paritas ibu, serta faktor ekstrinsik yaitu durasi operasi dan jumlah tim operasi tidak berhubungan kejadian IDO, karena nilai p-value > 0,05. Sementara penyakit penyerta ibu(anemia, Diabetes Melitus) berhubungan kejadian IDO, karena nilai p-value < 0,05. Hasil uji regresi logistik menunjukkan bahwa pada pasien dengan anemia memiliki 0,800 kali lebih besar terkena IDO. Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan probabilitas adanya faktor lain yang signifikan berpengaruh terhadap kejadian IDO pasca pembedahan SC. Rekomendasi terhadap rumah sakit agar senantiasa menerapkan pelaporan surveilans IDO untuk mengetahui faktor yang signifikan mempengaruhi IDO. Perlu adanya penelitian lebih lanjut dalam mengidentifikasi faktor penyebab IDO sebagai evidence-based practice dalam menentukan arah kebijakan rumah sakit

    Intervensi Metode Kangaroo Mother Care (KMC) Pada Bayi Berat Lahir Rendah: A Literature Review: Literature Review

    No full text
    Abstract Babies with low birth weight have a number of clinical manifestations both in their physical and psychological conditions. Clinical manifestations that occur are nutritional problems, hypothermia, decreased physiological conditions and cause stress to the mother and baby. Many studies have examined the effectiveness of the Kangoroo Mother Care (KMC) method applied to infants and mothers by looking at its effect on these manifestations. The purpose of this study was to analyze the effectiveness of research on the application of Kangoroo Mother Care (KMC) to mothers and babies. This research method is by reviewing journals collected from several databases such as Google Scholar, PubMab, PMC and Science Direct. The keywords used are Kangoroo†and “preterm†and “infact†and “premature†in the original research article. The reviewed articles were published in the 2015-2022 range. Results: Analysis of 9 journals concluded that the implementation of Kangoroo Mother Care (KMC) had an effect on overcoming increased body weight, increased body temperature, physiological stability and reduced stress for mothers and babies. So that it can be concluded that the implementation of care using Kangoroo Mother Care (KMC) is effectively applied to low birth weight babies and has become a nursing care program for newborns around the world.  Keywords: Kangoroo Mother Care (KMC), low birth weight babiesAbstrak Bayi dengan berat badan lahir rendah memiliki sejumlah manifestasi klinis baik pada kondisi fisik maupun psikologisnya. Manifestasi klinis yang terjadi adalah masalah nutrisi, hipotermia, penurunan kondisi fisiologis dan menimbulkan stress pada ibu dan bayi. Banyak penelitian yang sudah meneliti efektifitas metode Kangoroo Mother Care (KMC ) yang diterapkan pada bayi dan ibu dengan melihat pengaruhnya terhadap manifestasi tersebut. Tujuan penelitian ini adalah menganalisa keefektifan penelitian dalam penerapan Kangoroo Mother Care (KMC )  pada ibu dan bayi. Metode penelitian ini adalah dengan review jurnal yang dikumpulkan dari beberapa database seperti googel scholar, PubMab, PMC dan Science Direct. Kata kunci yang digunakan adalah Kangoroo†and “preterm†and “infact†and “premature†dalam artikel penelitian original. Artikel yang direview dipublikasi pada rentang tahun 2015-2022.Hasil: Analisa 9 jurnal menyimpulan implementasi Kangoroo Mother Care (KMC )  berpengaruh mengatasi peningkatan berat badan, peningkatan suhu badan, stabilitas fisiologis dan menurunkan stress ibu dan bayi. Sehingga apat disimpulkan implementasi perawatan menggunakan Kangoroo Mother Care (KMC )  effektif diterapkan untuk bayi berat lahir rendah dan telah menjadi progam asuhan keperawatan bayi baru lahir seluruh dunia. Kata Kunci :  Kangoroo Mother Care (KMC ) , bayi berat lahir rendah   &nbsp

    HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP TERHADAP PERILAKU ORANG TUA TENTANG PENCEGAHAN KEJADIAN PNEUMONIA PADA ANAK

    No full text
    Pneumonia merupakan radang akut yang menyerang jaringan paru dan sekitarnya. Berdasarkan sistem registrasi Balitbangkes tahun 2016 berjumlah lebih dari 800.000 anak meninggal di Indonesia disebabkan kasus pneumonia yang umumnya terkait dengan faktor internal dan faktor eksternal. Perilaku pencegahan perlu dilakukan guna menurunkan angka kejadian kasus pneumonia pada anak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pengetahuan, sikap dan perilaku orang tua terhadap kejadian pneumonia pada anak. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain deskriptif melalui pendekatan cross sectional. Sampel penelitian dengan teknik total sampling sebanyak 33 responden. Pengumpulan data melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner kemudian dilakukan uji korelasi spearman. Hasil penelitian menunjukan pengetahuan orang tua antara lain, umur, pendidikan, pengalaman, pekerjaan, dan informasi. Orang tua yang anaknya dirawat karena pneumonia pada penelitian ini memiliki tingkat pengetahuan baik sebesar 66% dengan skor rata-rata 5,91, sikap baik sebesar 51,5% dengan skor rata-rata 38,42 dan perilaku baik sebesar 81,8% dengan skor rata-rata 6,27. Adanya hubungan antara tingkat pengetahuan orang tua dengan perilaku orang tua mengenai upaya pencegahan kejadian pneumonia pada anak namun tidak ada hubungan bermakna antara sikap terhadap perilaku orang tua mengenai pencegahan kejadian pneumonia pada anak mereka. Kata kunci : Anak pneumonia, Perilaku orang tua.   Abstract Pneumonia is an acute inflammation that attacks the lung tissue and its surroundings. Based on the Balitbangkes registration system in 2016, more than 800,000 children died in Indonesia due to pneumonia cases which were generally related to internal and external factors. Preventive behavior needs to be carried out to reduce the incidence of pneumonia cases in children. The aim of this research is to determine the relationship between knowledge, attitudes and behavior of parents on the incidence of pneumonia in children. This type of research is quantitative with a descriptive design using a cross sectional approach. The research sample used a total sampling technique were 33 respondens. Data were collected through interview using a questionnaire and then a Spearman correlation test was carried out. The research results show in this study had a good level of knowledge of 66% with a mean score of 5,91, a good attitude of 51.5% with a mean score of 38,42 and good behavior of 81.8% with a mean score of 6,27. There is a relationship between the level of parental knowledge and parental behavior regarding efforts to prevent pneumonia in children, but there is no significant relationship between attitudes and parental behavior regarding preventing pneumonia in their children   Keyword: Children with pneumonia, parental behavior.Pneumonia merupakan radang akut yang menyerang jaringan paru dan sekitarnya. Berdasarkan sistem registrasi Balitbangkes tahun 2016 berjumlah lebih dari 800.000 anak meninggal di Indonesia disebabkan kasus pneumonia yang umumnya terkait dengan faktor internal dan faktor eksternal. Perilaku pencegahan perlu dilakukan guna menurunkan angka kejadian kasus pneumonia pada anak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pengetahuan, sikap dan perilaku orang tua terhadap kejadian pneumonia pada anak. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain deskriptif melalui pendekatan cross sectional. Sampel penelitian dengan teknik total sampling sebanyak 33 responden. Pengumpulan data melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner kemudian dilakukan uji korelasi spearman. Hasil penelitian menunjukan pengetahuan orang tua antara lain, umur, pendidikan, pengalaman, pekerjaan, dan informasi. Orang tua yang anaknya dirawat karena pneumonia pada penelitian ini memiliki tingkat pengetahuan baik sebesar 66% dengan skor rata-rata 5,91, sikap baik sebesar 51,5% dengan skor rata-rata 38,42 dan perilaku baik sebesar 81,8% dengan skor rata-rata 6,27. Adanya hubungan antara tingkat pengetahuan orang tua dengan perilaku orang tua mengenai upaya pencegahan kejadian pneumonia pada anak namun tidak ada hubungan bermakna antara sikap terhadap perilaku orang tua mengenai pencegahan kejadian pneumonia pada anak mereka. Kata kunci : pneumonia, anak, perilaku orang tua &nbsp

    KEMANDIRIAN DAN PERILAKU KESEHATAN ANAK TUNAGRAHITA TERHADAP KEMAMPUAN MENYIKAT GIGI

    No full text
    Anak tunagrahita sering menghadapi hambatan dalam menjaga kesehatan gigi. Keterbatasan fisik, mental, dan perkembangannya berkaitan erat dengan kerentanan masalah kesehatan gigi. Perawatan gigi yang baik merupakan faktor utama memastikan kesehatan gigi dan mulut mereka. Oleh karena itu, penting sekali untuk memahami sejauh mana anak-anak tunagrahita dapat melakukan perawatan gigi secara mandiri serta bagaimana perilaku kesehatan gigi mereka sehari-hari dan kemampuan mereka dalam menyikat gigi. Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui kemandirian dan perilaku kesehatan anak tunagrahita terhadap kemampuan menyikat gigi di SLB Bukesra Banda Aceh. Metode penelitian yang digunakan adalah analitik korelasional dengan pendekatan cross-sectional study. Sampel sebanyak 30 responden dipilih dengan menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan pada tanggal 27 September sampai 12 Oktober 2023. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang mencakup kemandirian, perilaku kesehatan gigi, dan lembar evaluasi kemampuan menyikat gigi. Analisa data hasil penelitian menggunakan uji deskriptif dan uji chi-square test. Hasil penelitian di dapatkan sebanyak 60% anak tunagrahita memiliki kebersihan mulut yang kurang bersih dan 76,7% mengalami gigi berlubang, 66% tingkat kemandirian masih memerlukan bantuan, 53% menunjukkan perilaku kesehatan gigi kurang baik dan 43,3% kemampuan menyikat gigi anak tunagrahita kurang tepat. Analisis korelasi menunjukkan adanya hubungan antara kemandirian dengan kemampuan menyikat gigi (P-value 0,045), serta antara perilaku kesehatan gigi dengan kemampuan menyikat gigi (P-value 0,004). Oleh karena itu, diperlukan upaya meningkatkan kesadaran dan keterampilan merawat kesehatan gigi pada anak tunagrahita di SLB Bukesra Banda Aceh Kata kunci: Anak Tunagrahita, Kemandirian, Perilaku kesehatan gigi, Menyikat gigi\   Abstract Children with intellectual disabilities often face challenges in maintaining dental health. Their physical, mental, and developmental limitations are closely related to the vulnerability of dental health issues. Good dental care is a key factor in ensuring their dental and oral health. Therefore, it is crucial to understand the extent to which children with intellectual disabilities can independently perform dental care and their daily dental health behaviors, including their toothbrushing abilities. The aim of this research is to determine the independence and dental health behaviors of children with intellectual disabilities regarding their toothbrushing abilities at SLB Bukesra Banda Aceh. The research method used was correlational analytics with a cross-sectional study approach. A sample of 30 respondents was selected using total sampling techniques. Data collection was conducted from September 27 to October 12, 2023. Data were collected through questionnaires covering independence, dental health behaviors, and toothbrushing ability evaluation sheets. Data analysis was performed using descriptive tests and chi-square tests. The research results showed that 60% of children with intellectual disabilities had inadequate oral hygiene, and 76.7% experienced cavities. Furthermore, 66% of them still required assistance in independence, 53% exhibited poor dental health behaviors, and 43.3% had inadequate toothbrushing abilities. Correlation analysis indicated a relationship between independence and toothbrushing abilities (P-value 0.045), as well as between dental health behaviors and toothbrushing abilities (P-value=0.004). Therefore, efforts are needed to increase awareness and skills in maintaining dental health among children with intellectual disabilities at SLB Bukesra Banda Aceh  Keyword: Children with intellectual disabilities, Independence, Dental health behavior, ToothbrushingAnak tunagrahita sering menghadapi hambatan dalam menjaga kesehatan gigi. Keterbatasan fisik, mental, dan perkembangannya berkaitan erat dengan kerentanan masalah kesehatan gigi. Perawatan gigi yang baik merupakan faktor utama memastikan kesehatan gigi dan mulut mereka. Oleh karena itu, penting sekali untuk memahami sejauh mana anak-anak tunagrahita dapat melakukan perawatan gigi secara mandiri serta bagaimana perilaku kesehatan gigi mereka sehari-hari dan kemampuan mereka dalam menyikat gigi. Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui kemandirian dan perilaku kesehatan anak tunagrahita terhadap kemampuan menyikat gigi di SLB Bukesra Banda Aceh. Metode penelitian yang digunakan adalah analitik korelasional dengan pendekatan cross-sectional study. Sampel sebanyak 30 responden dipilih dengan menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan pada tanggal 27 September sampai 12 Oktober 2023. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang mencakup kemandirian, perilaku kesehatan gigi, dan lembar evaluasi kemampuan menyikat gigi. Analisa data hasil penelitian menggunakan uji deskriptif dan uji chi-square test. Hasil penelitian di dapatkan sebanyak (60%) anak tunagrahita memiliki kebersihan mulut yang kurang bersih dan (76,7%) mengalami gigi berlubang, (66%) tingkat kemandirian masih memerlukan bantuan, (53%) menunjukkan perilaku kesehatan gigi kurang baik dan (43,3%) kemampuan menyikat gigi anak tunagrahita kurang tepat. Analisis korelasi menunjukkan adanya hubungan antara kemandirian dengan kemampuan menyikat gigi (P-value 0,045), serta antara perilaku kesehatan gigi dengan kemampuan menyikat gigi (P-value=0,004). Oleh karena itu, diperlukan upaya meningkatkan kesadaran dan keterampilan merawat kesehatan gigi pada anak tunagrahita di SLB Bukesra Banda Ace

    TERAPI BERMAIN ORIGAMI MENURUNKAN TINGKAT ANSIETAS ANAK USIA 3-6 TAHUN YANG SEDANG MENJALANI HOSOITALISASI

    No full text
    Hospitalization experienced by a child is an orchestrated process or crisis requiring the child to remain in the hospital to undergo therapeutic treatment until he recovers. Feelings of anxiety are one of the impacts of the hospitalization process that children may experience when they are faced with stressors in the hospital environment and to reduce the impact of anxiety due to hospitalization on children, it is important to provide media that allows them to express their feelings of anxiety. One effective method is play therapy. Origami play therapy games are considered more effective in reducing anxiety and are suitable for ages 3-6 years. Applying nursing care to hospitalized children aged 3-6 years who experience anxiety by providing origami play therapy. The design of this scientific work uses a descriptive analysis design with a case study approach. The results of the intervention before and after providing origami play therapy showed that origami play therapy had an effect on reducing anxiety levels in hospitalized children aged 3-6 years. Origami play therapy has been proven to help reduce the level of anxiety in children who are hospitalizedHospitalisasi yang dialami oleh anak merupakan suatu proses yang diatur atau krisis mengharuskan anak tetap berada di rumah sakit untuk menjalani pengobatan terapi hingga ia pulih kembali. Perasaan ansietas adalah salah satu dampak dari proses hospitalisasi yang mungkin dialami oleh anak ketika mereka dihadapkan pada stressor yang terdapat dalam lingkungan rumah sakit dan untuk mengurangi dampak ansietas akibat hospitalisasi pada anak, penting untuk menyediakan media yang memungkinkan mereka untuk mengungkapkan perasaan ansietas mereka. Salah satu metode yang efektif adalah terapi bermain. Permainan terapi bermain origami dinilai lebih efektif untuk mengurangi ansietas dan sesuai dengan usia 3-6 tahun. Mengaplikasikan asuhan keperawatan pasien hospitalisasi anak usai 3-6 tahun yang mengalami ansietas dengan pemberian terapi bermain origami. Desain karya ilmiah ini menggunakan desain analisis deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Hasil intervensi sebelum dan sesudah pemberian terapi bermain origami didapatkan hasil bahwa terapi bermain origami berpengaruh terhadap penurunan tingkat ansietas pada pasien hospitalisasi anak usia 3-6 tahun. Terapi bermain origami terbukti dapat membantu mengurangi tingkat ansietas anak yang sedang mengalami hospitalisasi. Kata Kunci: Ansietas, Terapi Bermain Origami, Hospitalisas

    PENGARUH EDUKASI CUCI TANGAN MENGGUNAKAN MEDIA AUDIO VISUAL TERHADAP PENGETAHUAN SANTRI DI PONDOK PESANTREN SERUMPUN CAHAYA

    No full text
    Pengetahuan merupakan salah satu dari beberapa unsur yang dapat mempengaruhicuci tangan. Sangat penting bahwa setiap orang di masyarakat, terutama siswa dansiswi belajar dan memahami perlunya mencuci tangan sejak dini. Menggunakan mediaaudio visual untuk mendidik masyarakat tentang hidup sehat, cuci tangan, dan topiklainnya adalah salah satu pendekatan untuk menyebarkan informasi. Tujuanpenelitian ini untuk mengetahui pengaruh edukasi cuci tangan menggunakan mediaaudio visual terhadap pengetahuan santri di pondok pesantren serumpun cahaya.Jenis penelitian ini adalah Pre eksperimental menggunakan pendekatan one group pre-test dan post-test. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini secara Nonprobability sampling dengan teknik Total sampling yang berjumlah 43 responden.Analisis data pada penelitian ini menggunakan uji Wilcoxon signed rangk test. Hasilpenelitian ini menunjukkan sebelum diberikan edukasi cuci tangan pada 33 (76,7%)memiliki pengetahuan yang baik, 9 (20,9%) memiliki pengetahuan cukup, dan 1(2,3%) memiliki pengetahuan kurang. Setelah mendapatkan edukasi cuci tangan 40(93,0%) berpengetahuan baik, pengetahuan cukup 3 (7,0%). Hasil uji statistikmenggunakan uji Wilcoxon signed rank tes dengan nilai p 0.000 atau p-value 0.05. Adapengaruh edukasi cuci tangan menggunakan media audio visual terhadap tingkatpengetahuan santri di pondok pesantren serumpun cahaya.Kata lunci: Edukasi, Cuci Tangan, Audio Visual, Pengetahuan Knowledge is one of several elements that can influence hand washing. It is veryimportant that everyone in society, especially boys and girls learn and understand theneed to wash their hands from an early age. Using audio-visual media to educate thepublic about healthy living, hand washing and other topics is one approach todisseminating information. The aim of this research was to determine the effect of handwashing education using audio-visual media on the knowledge of students at the SerpunCahaya Islamic boarding school. This type of research is pre-experimental using a onegroup pre-test and post-test approach. The sampling technique in this research was non-probability sampling with a total sampling technique of 43 respondents. Data analysis inthis study used the Wilcoxon Signed Rank Test. The results of this study showed thatbefore being given hand washing education, 33 (76.7%) had good knowledge, 9 (20.9%)61had sufficient knowledge, and 1 (2.3%) had poor knowledge. After receiving handwashing education, 40 (93.0%) had good knowledge, 3 (7.0%) had sufficient knowledge.Statistical test results use the Wilcoxon Signed Rank Test with a p-value of 0.000 or p-value of 0.05. There is an influence of hand washing education using audio-visual mediaon the level of knowledge of students at the Serpun Cahaya Islamic boarding schoolKeywords: Education, Hand washing, Audio Visual, KnowledgeLatar Belakang: Pengetahuan merupakan salah satu dari beberapa unsur yang dapat mempengaruhi cuci tangan. Sangat penting bahwa setiap orang di masyarakat, terutama siswa dan siswi belajar dan memahami perlunya mencuci tangan sejak dini. Menggunakan media audio visual untuk mendidik masyarakat tentang hidup sehat, cuci tangan, dan topik lainnya adalah salah satu pendekatan untuk menyebarkan informasi. Tujan: Untuk mengetahui pengaruh edukasi cuci tangan menggunakan media audio visual terhadap pengetahuan santri di pondok pesantren serumpun cahaya. Metode: Jenis penelitian ini adalah Pre eksperimental menggunakan pendekatan one group pre-test dan post-test. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini secara Non probability sampling dengan teknik Total sampling yang berjumlah 43 responden. Analisis data pada penelitian ini menggunakan uji Wilcoxon signed rangk test. Hasil: Sebelum diberikan edukasi cuci tangan pada tingkat pengetahuan 33 responden atau 76,7% memiliki pengetahuan yang baik, 9 responden atau 20,9% memiliki pengetahuan cukup, dan 1 responden atau 2,3% memiliki pengetahuan kurang. Sesudah diberikan edukasi cuci tangan pada tingkat pengetahuan memiliki pengetahuan baik setelah mendapatkan edukasi cuci tangan 40 orang atau (93,0%), sedangkan pengetahuan cukup hanya 3 orang atau (7,0%). Hasil uji statistik menggunakan uji Wilcoxon signed rank tes dengan nilai p 0.000 atau p-value 0.05. Kesimpulan: Ada pengaruh edukasi cuci tangan menggunakan media audio visual terhadap tingkat pengetahuan santri di pondok pesantren serumpun cahaya.   &nbsp

    Pengaruh Pemberian Terapi Bermain: Mewarnai Gambar Terhadap Tingkat Kecemasan Pada Anak Usia Prasekolah Yang Menjalani Hospitalisasi Di Rs Rawalumbu

    No full text
    Hospitalisasi yang dialami anak usia prasekolah menyebabkan terjadinya peningkatankecemasan karena beberapa tindakan menimbulkan trauma pada suatu bagian tertentu,seperti pengambilan darah, pemberian obat, prosedur operasi, dan perawatan medis. Salahsatu implementasi keperawatan untuk mengatasi hospitalisasi dengan terapi bermain.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian intervensi mewarnai gambarterhadap penurunan tingkat kecemasan pada anak usia prasekolah yang menjalanihospitalisasi di RS Rawalumbu. Desain penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatifdengan rancangan eksperimen semu (Quasi Experiment), dengan menggunakan one gruppretest posttest design. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah anak usia pra sekolah dandidampingi orangtua yang bersedia menjadi responden. Pengumpulan data menggunakaninstrumen untuk mengukur tingkat kecemasan responden dengan HARS (Hamilton AnxietyRate Scale) dan analisa data dengan Uji Wilcoxon. Hasil penelitian ini menunjukan terdapatpengaruh pemberian intervensi mewarnai gambar terhadap penurunan tingkat kecemasananak usia prasekolah yang menjalani hospitalisasi di RS Rawalumbu (p-value= 0,000; α= 0,01).Dapat disimpulkan bahwa pemberian terapi bermain dengan mewarnai gambar terbuktiberpengaruh terhadap tingkat kecemasan pada anak usia prasekolah yang menjalaniHospitalisasi.Kata kunci : Hospitalisasi, Mewarnai Gambar, Prasekolah, Tingkat KecemasanAbstractAbstractHospitalization experienced by children is thought to cause increased anxiety because someactions cause trauma to a particular area, such as taking blood, administering medication,surgical procedures and medical treatment. One application of bleeding is to overcomehospitalization with play therapy. This study aims to determine the effect of providing coloringpicture intervention on reducing anxiety levels in children of gestational age who are hospitalizedat Rawalumbu Hospital. This research design uses a quantitative approach with a quasi-experimental design (Quasi Experiment), using a one group pretest posttest design. The inclusioncriteria in this study were pre-school age children and parents who were willing to berespondents. Data collection used instruments to measure respondents\u27 anxiety levels with HARS(Hamilton Anxiety Rate Scale) and analyzed data with the Wilcoxon Test. The results of this studyshow that there is an effect of providing coloring picture intervention on reducing the anxietylevel of children of gestational age who are hospitalized at Rawalumbu Hospital (p-value= 0.000;α= 0.01). It can be concluded that providing play therapy with coloring pictures has proven toinfluence the level of anxiety in gestational age children undergoing hospitalizationHospitalisasi yang dialami anak usia prasekolah menyebabkan terjadinya peningkatan kecemasan yang dikarenakan adanya tindakan yang menyebabkan trauma pada suatu bagian tertentu, misalnya ketika anak akan dilakukan pengambilan darah, pemberian obat, prosedur operasi, dan perawatan medis lainnya. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pemberian intervensi mewarnai gambar terhadap penurunan tingkat kecemasan pada anak usia prasekolah yang menjalani perawatan di RS Rawalumbu. Desain penelitian ini menggunakan pendekatan Kuantitatif dengan rancangan eksperimen semu (Quasi Experiment) dengan menggunakan one grup pretest posttest design. penggumpulan data, data primer didapatkan dengan pengambilan secara langsung yang terdiri dari Usia, Jenis kelamin. instrumen penelitian yang digunakan untuk mengukur tingkat kecemasan responden dengan HARS (Hamilton Anxiety Rate Scale) dan analisa data menggunakan SPSS dan dengan Uji Wilcoxon. Hasil penelitian ini menunjukan terdapat pengaruh pemberian intervensi mewarnai gambar terhadap penurunan tingkat kecemasan anak usia prasekolah yang menjalani hospitalisasi di RS Rawalumbu yang ditunjukan P-value sebesar 0,000 dimana angka < α = 0,01. Dapat disimpulkan bahwa pemberian terapi bermain dengan mewarnai gambar terbukti berpengaruh terhadap tingkat kecemasan pada anak usia prasekolah yang menjalani Hospitalisasi. Kata kunci : Hospitalisasi, Mewarnai Gambar, Prasekolah, Tingkat Kecemasa

    0

    full texts

    566

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Persatuan Perawat Nasional Indonesia: PPNI Jawa Tengah Journal
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇