Persatuan Perawat Nasional Indonesia: PPNI Jawa Tengah Journal
Not a member yet
566 research outputs found
Sort by
Peningkatan kepuasan kerja perawat di ruang rawat inap dengan teknik komunikasi SBAR saat timbang terima pasien
Penerapan komunikasi SBAR merupakan salah satu upaya dalam meningkatkan keamanan pasien di Rumah sakit. Keamanan pelayanan di Rumah Sakit salah satunya peningkatan komunikasi efektif antar perawat, sehingga tidak terjadi kesalahan informasi saat handover dan menjamin keselamatan pasien. Selain itu, cara lain untuk memenuhi kualitas kepawatan yaitu perawat membutuhkan kepuasan kerja agar ada rasa senang dalam diri perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan penerapan komunikasi SBAR saat handover dengan kepuasan kerja perawat di Ruang Rawat Inap RSUD Ciamis Tahun 2023. Metode penelitian yang digunakan yaitu analitik kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel sebanyak 66 dengan teknik sampel proporsional random sampling. Hasil penelitian menunjukan penerapan komunikasi SBAR saat handover sebagian besar perawat efektif dalam menerapkan komunikasi SBAR saat handover sebanyak 45 orang (68,2%), kepuasan kerja perawat sebagian besar perawat merasa puas yaitu sebanyak 41 orang (62,1%), dan terdapat hubungan yang disignifikan antara penerapan komunikasi SBAR saat handover dengan kepuasan kerja perawat karena nilai α > Ï value (0,05 > 0,000), yaitu semakin baik efektif penerapan komunikasi SBAR saat handover maka semakin puas perawat dalam bekerja dan sebaliknya semakin kurang efektif penerapan komunikasi SBAR saat handover maka semakin tidak puas perawat dalam bekerja. Hubungan ini ditunjukan dengan nilai korelasi sebesar 0.741 yang termasuk kedalam kategori kuat (0,60-0,80). Kesimpulan penelitian ini adalah ada hubungan antara penerapan komunikasi SBAR saat handover dengan kepuasan kerja perawat. Saran diharapkan semua perawat menerapkan komunikasi SBAR saat handover secara lengkap dan jelas dengan mengikuti standar operasional prosedur yang ada
Hubungan Mutu Layanan Kesehatan Dengan Minat Kunjungan Ulang Pasien Dalam Memanfaatkan Kembali Jasa Di Puskesmas
Indonesia masih menghadapi permasalahan pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan, misalnya masyarakat enggan melakukan kunjungan ke puskesmas karena waktu pelayanan yang tidak cepat dan pelayanan yang kurang maksimal. Hal itu bisa menjadi indikator penurunan mutu layanan kesehatan. Salah satu Indikator mutu layanan kesehatan adalah kepuasan pasien. Kepuasan pasien menjadi tolak ukur dalam menilai keberhasilan mutu layanan kesehatan. Berdasarkan penelitian ditemukan bahwa angka kepuasan pasien di puskesmas masih rendah di angka 76,61%. Hal ini menunjukkan masih di bawah standar minimal yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan yaitu ≥ 90%. Hal ini bisa berdampak pada perkembangan puskesmas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan mutu layanan kesehatan dengan minat kunjungan ulang pasien Puskesmas X Lampung. Jenis penelitian menggunakan deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional. Populasi pada penelitian merupakan pengunjung UPTD Puskesmas X Lampung tahun 2023 sebanyak 1604 responden dengan jumlah sampel penelitian sebanyak 94 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling. Data dianalisis dengan uji Chi Square. Hasil analisis menyatakan bahwa mutu pelayanan cukup baik sebanyak 50 responden (53,3%) dan minat kunjungan ulang ke puskesmas sebanyak 63 responden (67,1%). Ada hubungan antara Mutu Pelayanan dengan Minat kunjungan ulang Di Puskesmas X Lampung (p value 0.003). Disarankan pihak manajemen Puskesmas X Lampung membuat sistem manajemen antrean secara online dan membuat program loyalty atau penghargaan untuk pasien yang sering berkunjung atau memberikan umpan balik positif
Pengaruh Manajemen Stress Terhadap Motivasi Kerja Dan Turnover Intention Untuk Manajer Keperawatan Di RSUD KRT. Setjonegoro Wonosobo
Stres terkait pekerjaan sering menjadi penyebab tingginya tingkat turnover dan meningkatnya tingkat burnout di antara perawat. Kurangnya keterampilan kepemimpinan atau pelatihan cenderung membuat manajer keperawatan yang tidak siap dan tidak berpengalaman, sehingga menimbulkan stress dan merasa tidak nyaman pada posisinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh manajemen stress terhadap motivasi kerja dan turnover intention untuk manajer keperawatan. Metode penelitian ini adalah kuantitatif dengan rancangan cross sectional. Populasi penelitian ini seluruh manajer keperawatan di RSUD KRT Setjonegoro Wonosobo pada bulan September 2023 sejumlah 33 responden. Teknik sampling yang digunakan pada penelitian ini adalah sampel jenuh yaitu dengan mengambil semua populasi penelitian. Analisis data menggunakan analisis univariat dan analisi bivariat dengan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh manajemen stress terhadap motivasi kerja pada manajer keperawatan di RSUD KRT. Setjonegoro Wonosobo. Ada pengaruh manajemen stress terhadap niat berpindah tempat kerja (turnover intention) pada manajer keperawatan di RSUD KRT. Setjonegoro Wonosobo. Ada pengaruh motivasi kerja terhadap niat berpindah tempat kerja (turnover intention) pada manajer keperawatan di RSUD KRT. Setjonegoro Wonosobo. Pengaruh manajemen stress terhadap turnover intention pada manajer keperawatan di RSUD KRT. Setjonegoro Wonosobo merupakan pengaruh langsung. Hendaknya dapat memberikan pelatihan kepada manajer dan perawat di RSUD KRT. Setjonegoro Wonosobo mengenai manajemen stress, sehingga mampu mengelola stress kerja secara positif
Penilaian Kualitas Pelayanan Keperawatan Dengan Loyalitas Pasien Rawat Inap
Kualitas pelayanan kesehatan menjadi hal penting yang ingin diwujudkan oleh sarana pelayanan kesehatan. Rumah sakit berkewajiban untuk berperan aktif dalam memberikan pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, anti diskriminasi dan efektif dengan mengutamakan kepentingan pasien sesuai standar pelayanan rumah sakit. Kepuasan pelanggan menjadi penilaian pada kualitas pelayanan rumah sakit yang akan digunakan sebagai acuan dalam pembenahan pelayanan sehingga menciptakan suatu loyalitas dari pasien.Penelitian inii bertujuan mengidentifikasi kualitas pelayanan keperawatan dengan loyalitas pasien di Ruang Rawat Penyakit Dalam. Desain penelitian menggunakan metode deskriptif dengan desain Cross Sectional dengan teknik pengambilan sampel Random Sampling yang dilakukan pada 73 responden dengan uji analisa data Chi Square. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai p-value sebesar 0.001 dengan batas kemaknaan (α<0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan kualitas pelayanan keperawatan dengan loyalitas pasien di Ruang Rawat Penyakit Dalam
Skrining dan Pencegahan Stroke pada Penderita Hipertensi
Stroke merupakan gangguan sistem syaraf yang masih dalam kategori mengancam jiwa, dimana faktor risiko terjadinya stroke adalah peningkatan tekanan darah (hipertensi). Berdasarkan analisa situasi maka didapatkan permasalahan mitra, yaitu perlu peningkatan pengetahuan tentang hipertensi dan pencegahan stroke, belum pernah dilakukan penyuluhan kesehatan dengan topik tersebut, banyaknya warga yang mengalami hipertensi. Perlu adanya pencegahan kejadian stroke dan pengontrolan kejadian hipertensi melalui kegiatan penyuluhan kesehatan. Sebelum kegiatan penyuluhan dilakukan perlu dilakukan skrining untuk mengindentifikasi kejadian hipertensi agar sasaran penyuluhan yang diberikan tepat. Kegiatan ini terdiri dari persiapan, pelaksanaan dan evaluasi. Kegiatan diikuti oleh 30 peserta yaitu penderita hipertensi, yang dilaksanakan pada Juni 2022. Metode yang digunakan yaitu edukasi dengan pre-post test untuk mengetahui perubahan pengetahuan setelah dilakukan edukasi. Kuesioner terdiri dari 10 pertanyaan yang berisi tentang pencegahan stroke. Hasil pengabdian masyarakat didapatkan peningkatkan pengetahuan rata-rata mencapai 59,35% dengan rata-rata nilai post test 91,13 %. Program edukasi yang diberikan kepada penderita hipertensi memiliki dampak positif dalam menghadapi ataupun mencegah terjadinya kejadian stroke. Lansia memiliki resiko terhadap kejadian hipertensi dan terjadinya stroke karena kejadian hipertensi yang dialami. Pendidikan kesehatan atau edukasi memberikan tambahan ilmu bagaimana penderita hieprtensi pada lansia dalam membuat pola hidup sehat
Risiko Mortalitas Pasien Stroke Infark Berdasarkan Lokasi Infark, Profil Darah dan Riwayat Penyakit Jantung: Studi Komparasi Pada Rumah Sakit Daerah di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta
AbstractBackground: Stroke case identification was developed to recognize the signs of strokeand recognize the risk of mortality in infarction stroke patients. Biomarker examinationis directed at looking for markers of brain tissue damage, markers of vascular endothelialinflammation and coagulation or thrombosis factors. Objective: To determine differencesin the risk of infarction stroke mortality. Research methodology: Mixed methodexplanation sequential method design. Research at one regional hospital in Central Javaand one regional hospital in the Special Region of Yogyakarta. The sample size was 120respondents divided into case and control groups. The results showed that thecharacteristics of respondents in both RSUDs were the same (> 60 years, male, history ofcardiovascular disease, history of recurrent stroke, most locations in the parietal area).Routine blood profile (hemoglobin, leukocyte count, platelet count) showed no difference.Inflammatory markers seen as neutrophil lymphocyte ratio (NLR) were not different.Analysis of factors triggering mortality in the two hospitals from leukocyte counts (pvalue 0.02 and 0.035 with OR 1.818 and 2). The risk of mortality in Central Java RegionalHospital was from NLR (p value 0.033 with OR 1.316) and in DIY Regional Hospital fromcardiovascular history (p value 0.00 with OR 15). Conclusion: The characteristics ofstroke infarction patients in the two hospitals are not different. Leukocyte count is thesame risk factor for mortality in both hospitals and cardiovascular history and NLR countare different risk factors for mortality.Keywords: Blood profile, Heart disease, Infarction stroke, Infarction Location, Mortality,Latarbelakang: Kasus stroke di Indonesia terjadi lonjakan pada beberapa tahun terakhir. Pasien masuk rumah sakit dengan kondisi klinis yang bervariasi. Identifikasi kasus stroke dikembangkan untuk pengenalan tanda-tanda stroke dan pengenalan risiko mortalitas pasien stroke infark. Pemeriksaan biomarker diarahkan untuk mencari penanda kerusakan jaringan otak, penanda inflamasi endotel vaskuler dan faktor koagulasi atau trombosis.
Tujuan penelitian: Mengetahui perbedaan risiko mortalitas stroke infark berdasarkan karakteristik pasien, riwayat penyakit kardiovaskuler, profil darah pasien, lokasi infark dan marker inflamasi.
Metodologi penelitian: Desain mixedmethode explanation sequensial methode. Tahap pertama desain case control dan tahap kedua desain studi fenomenologi. Penelitian di satu RSUD di Jawa Tengah dan satu RSUD di Daerah Istimewa Yogyakarta. Besar sampel 120 responden dibagi dalam kelompok kasus dan kontrol. Pengambilan sampel dengan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukan karakteristik responden di kedua RSUD sama (>60 tahun, laki-laki, riwayat penyakit kardiovaskuler, riwayat stroke berulang, lokasi terbanyak di parietal). Profil darah rutin (hemoglobin, hitung leukosit, hitung trombosit) tidak ada perbedaan. Marker inflamasi dilihat neutropfil limfosit rasio (NLR) tidak berbeda. Analisis faktor pemicu mortalitas di kedua RSUD dari hitung leukosit (p value 0,02 dan 0,035 dengan OR 1.818 dan 2). Risiko mortalitas di RSUD Jawa Tengah dari NLR (p value 0,033 dengan OR 1,316) dan di RSUD DIY dari riwayat kardiovaskuler (p value 0,00 dengan OR 15).
Kesimpulan: Karakteristik pasien stroke infark pada kedua RSUD tidak berbeda. Hitung leukosit menjadi faktor risiko mortalitas yang sama di kedua RSUD dan riwayat kardiovaskuler serta hitung NLR menjadi faktor risiko mortalitas yang berbeda
Kata kunci : Stroke infark, Mortalitas, Lokasi Infark, Profil darah, Penyakit jantun
APLIKASI DISTRAKSI EKSPRESI PERASAAN PADA KLIEN SKIZOFRENIA TAK TERINCI DENGAN HALUSINASI PENDENGARAN: STUDI KASUS
Latar Belakang: Skizofrenia masih menjadi permasalahan di Indonesia. Salah satu gejala positif dari skizofrenia adalah halusinasi pendengaran. Pasien dengan halusinasi pendengaran biasanya akan mengalami penurunan kemampuan individu dalam kehidupan sehari-harinya. Beberapa dampak yang muncul pada pasien halusinasi adalah cemas, depresi, dan isolasi sosial. Salah satu terapi yang bisa mengurangi gejala tersebut adalah mengekspresikan perasaan pada orang lain. Tujuan: Mengaplikasikan intervensi ekspresi perasaan pada kasus halusinasi pendengaran melalui asuhan keperawatan. Gambaran Kasus: Seorang pria berusia 30 tahun mengalami trauma sebagai korban buli. Akibat koping yang tidak efektif dan kurangnya dukungan, muncullah suara-suara yang berisi menyalahkan pasien sehingga pasien tidak memiliki keberanian untuk melakukan hal baru karena takut dianggap salah. Intervensi: Studi kasus desain observasi partisipasif menggunakan proses keperawatan berdasarkan Evidence-Based Practice distraksi mengekspresikan perasaan dengan bercakap-cakap yang dilakukan sekali sehari selama 3 hari dengan mengajarkan strategi pelaksanaan 1-4. Hasil: Pasien dapat mengidentifikasi isi halusinasinya, yaitu suara-suara yang selalu menyalahkan dirinya; waktu terjadinya, yaitu di pagi hari atau di tengah malam; situasi yang memicu halusinasi, yaitu saat pasien berdiam diri; manfaat distraksi perasaan, yaitu pasien merasakan suara halusinasi terdengar samar saat sedang bercakap-cakap; dan pasien sadar bahwa halusinasi yang ia alami adalah penyakit dan bukanlah hal yang salah. Kesimpulan: Distraksi ekspresi perasaan bercakap-cakap dinilai efektif dalam mengendalikan halusinasi pendengaran karena pasien mengetahui jenis halusinasi, waktunya, situasi yang menyebabkannya, dan manfaat bercakap-cakap. Saran: Diharapkan teknik distraksi untuk mengungkapkan perasaan melalui percakapan dengan pasien halusinasi pendengaran dapat diterapkan secara konsisten dan diajarkan kepada keluarga untuk mempersiapkan pelaksanaannya saat pasien kembali bersama keluarganya
Motivasi kerja perawat dengan penerapan prinsip 6 benar dalam pemberian obat
Prinsip 6 benar merupakan standar prosedur operasional pemberian obat dengan menerapkan 6 benar, yaitu benar obat, benar dosis, benar pasien, benar cara pemberian, benar waktu pemberian dan benar dokumentasi. Motivasi kerja perawat merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi penerapan prinsip 6 benar dalam pemberian obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan motivasi kerja perawat dengan penerapan prinsip 6 benar dalam pemberian obat di instalasi rawat inap RSD Idaman Kota Banjarbaru. Jenis penelitian menggunakan cross sectional melibatkan 76 perawat pelaksana dengan teknik stratified random sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Data dianalisis menggunakan uji Chi Square (Continuity Correction). Hasil penelitian ini Terdapat hubungan antara motivasi kerja perawat dengan penerapan prinsip 6 benar dalam pemberian obat (p-value= 0,020). Motivasi kerja perawat dapat mempengaruhi penerapan prinsip 6 benar dalam pemberian obat. Peneliti menyarankan agar pihak rumah sakit dapat meningkatkan motivasi kerja perawat, agar perawat lebih bersemangat dalam menerapkan prinsip 6 benar dalam pemberian obat yang dapat mencegah kesalahan pemberian obat (medication error)
The Effect of Group-Based Hope Intervention on Happiness of Patients with End-Stage Renal Disease Undergoing Hemodialysis
Background: People undergoing hemodialysis may impact on physical or psychological patients. Feelings of happiness affect the immune system in the body, fight stress, improve sleep comfort and creativity.
Purpose: The purpose of this study was to determine the effect of group-based hope intervention on the happiness of patients with end-stage renal disease undergoing hemodialysis.
Methods: Quasi experimental research design was used in this study and involved a total of 40 patients in the control group and 40 patients in the intervention group, who met the inclusion and exclusion criteria. The samples were recruited randomly using paper containing odd and even numbers. The inclusion criteria were end stage renal disease patients undergoing routine hemodialysis twice a week for ≥3 months, aged ≥18th and ≤65th years old, graduating from junior high school, and patients who are participants of the National Health Insurance. The exclusion criteria were patients with hospitalization and experience decreased consciousness. Hope intervention is given 2 times a week for 4 weeks with a duration of 30-45 minutes each meeting in the group consisting of 8-12 patients. The control group was given standard hospital intervention with consultation. Data were collected using the Oxford Happiness Questionnaire. Data analysis used the Wilcoxon Signed Rank Test and the Mann Whitney Test.
Results: The results showed that after the intervention, the mean level of happiness in the intervention group increased from 2.93±0.888 to 4.10±0.709, and in the control group, the mean increased from 3.25±0.707 to 3.25±0.707. After the implementation of hope intervention and peer support, there was a significant difference in the level of happiness between the intervention group and the control group (p<0.001).
Conclusion: The increase in happiness in end-stage kidney disease patients undergoing hemodialysis was due to increased expectations and support from peers in the group
Hubungan Sikap Perawat dengan Pelaksanaan Keselamatan Pasien di Ruang Rawat Inap RSD Idaman Kota Banjarbaru
Pelaksanaan keselamatan pasien merupakan upaya yang dilakukan untuk mencegah insiden keselamatan pasien, salah satu faktor yang memengaruhi pelaksanaannya, yaitu sikap. Sikap merupakan respon tertutup yang menggerakkan seseorang untuk bertindak, semakin baik sikap seseorang maka pelaksanaan keselamatan pasien pun akan semakin tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan sikap perawat dengan pelaksanaan keselamatan pasien di ruang rawat inap. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain korelasional dengan pendekatan cross sectional dengan teknik stratified random sampling yang dilakukan pada 123 responden. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner. Data dianalisis menggunakan uji chi square. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara sikap perawat dengan pelaksanaan keselamatan pasien di ruang rawat inap dengan nilai p-value > α (0,061>0,05). Dalam pelaksanaan keselamatan pasien, perawat perlu memiliki sikap, kemampuan, dan pengetahuan yang luas. Sikap belum tentu menjadi sebuah tindakan, untuk mewujudkannya menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung, yaitu pelatihan dan sumber daya