Persatuan Perawat Nasional Indonesia: PPNI Jawa Tengah Journal
Not a member yet
566 research outputs found
Sort by
STUDI KASUS: OBSERVASI PERBAIKAN LUKA PADA PASIEN WOUND DEHISCENCE DENGANNEGATIVE PRESSURE WOUND THERAPY (NPWT) DI RUANG KEMUNING V RSUP Dr. HASAN SADIKIN BANDUNG
Manajemen bedah dengan sistem tekanan negatif atau negative pressure wound therapy (NPWT) ini dapat menjadi pendekatan baru untuk mengurangi komplikasi luka seperti wound dehiscence. Didapatkan beberapa penelitian mengenai perbaikan luka setelah dilakukan intervensi NPWT, namun sedikit yang mengungkap secara keseluruhan dengan memaparkan berdasarkan data demografi, faktor-faktor wound dehiscence, dan observasi perbaikan luka pada pasien wound dehiscence dengan NPWT. Metode yang digunakan yaitu informed consent, pengumpulan data melalui data primer dan sekunder, lalu dokumentasi. Kriteria inklusi pada studi kasus ini yaitu responden dengan usia >18 tahun, post operasi dengan infeksi akut, infeksi luka post operasi < 3 minggu, dan terpasang NPWT. Didapatkan sampel pada studi kasus ini terdiri dari 2 orang. Data demografi menunjukkan bawa jenis kelamin, usia, lama rawat dan lokasi luka berpengaruh terhadap perbaikan luka. Faktor-faktor wound dehiscence terdapat pengaruh yaitu hipoalbumin, anemia, imobilisasi, dan penyakit penyerta, dimana untuk penyakit penyerta hanya terdapat pada pasien 2. Pengkajian luka pada post NPWT hari ke 6 yaitu lokasi, eksudat, kulit sekitar luka, dan terapi mempengaruhi terhadap perbaikan luka. Simpulan, perbaikan luka pada pasien 1 post pemasangan NPWT terlihat derajat perbaikan yang signifikan ditandai dengan adanya granulasi, pengurangan eksudat sesuai dengan konsep tahapan perbaikan luka. Namun pada pasien 2 pada post 6 hari pemasangan NPWT belum terlihat adanya perbaikan yang signifikan ditandai dengan belum terlihatnya adanya granulasi pada luka tersebut. Keterlambatan perbaikan luka pada pasien 2 dikaitkan dengan faktor penyakit penyerta (diabetes mellitus tipe 2), status vaskularisasi dan oksigenasi.Manajemen bedah dengan sistem tekanan negatif atau negative pressure wound therapy (NPWT) ini dapat menjadi pendekatan baru untuk mengurangi komplikasi luka seperti wound dehiscence. Didapatkan beberapa penelitian mengenai perbaikan luka setelah dilakukan intervensi NPWT, namun sedikit yang mengungkap secara keseluruhan dengan memaparkan berdasarkan data demografi, faktor-faktor wound dehiscence, dan observasi perbaikan luka pada pasien wound dehiscence dengan NPWT. Metode yang digunakan yaitu informed consent, pengumpulan data melalui data primer dan sekunder, lalu dokumentasi. Kriteria inklusi pada studi kasus ini yaitu responden dengan usia > 18 tahun, post operasi dengan infeksi akut, infeksi luka post operasi < 3 minggu, dan terpasang NPWT. Didapatkan sampel pada studi kasus ini terdiri dari 2 orang. Data demografi menunjukkan bawa jenis kelamin, usia, lama rawat dan lokasi luka berpengaruh terhadap perbaikan luka. Faktor-faktor wound dehiscence terdapat pengaruh yaitu hipoalbumin, anemia, imobilisasi, dan penyakit penyerta, dimana untuk penyakit penyerta hanya terdapat pada pasien 2. Pengkajian luka pada post NPWT hari ke 6 yaitu lokasi, eksudat, kulit sekitar luka, dan terapi mempengaruhi terhadap perbaikan luka. Simpulan, perbaikan luka pada pasien 1 post pemasangan NPWT terlihat derajat perbaikan yang signifikan ditandai dengan adanya granulasi, pengurangan eksudat sesuai dengan konsep tahapan perbaikan luka. Namun pada pasien 2 pada post 6 hari pemasangan NPWT belum terlihat adanya perbaikan yang signifikan ditandai dengan belum terlihatnya adanya granulasi pada luka tersebut.Keterlambatan perbaikan luka pada pasien 2 dikaitkan dengan faktor penyakit penyerta (diabetes mellitus tipe 2), status vaskularisasi dan oksigenasi
PRAKTIK PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING AIR SUSU IBU PADA SITUASI BENCANA: STUDI LITERATUR
Latar belakang: Peristiwa bencana menempatkan bayi dan anak usia dini menghadapi situasi krisis salah satunya perihal kebutuhan makanan. Bantuan yang datang seringkali tidak memperhatikan makanan untuk kelompok usia tersebut, sehingga berbagai risiko penyakit akibat nutrisi akan berdampak pada bayi dan anak usia dini. Tujuan: Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui praktik MPASI pada berbagai situasi bencana. Metode: Penelusuran literatur menggunakan beberapa database online dengan kata kunci "infant and young child feedingâ€, “complementary feeding", disaster, emergencies, dan refugee. Filter Kriteria inklusi yang digunakan adalah berisi penelitian terkait MPASI, melibatkan anak usia 6-24 bulan pada situasi bencana, tahun pencarian dibatasi 10 tahun terakhir, artikel dapat diakses secara full text, dan artikel dalam Bahasa Inggris. Kriteria eksklusi yang ditetapkan adalah penelitian melibatkan anak berkebutuhan khusus dan artikel yang berisi systematic review . Hasil: Terdapat sembilan artikel yang lolos seleksi pada studi literatur ini.Tema yang muncul dari sembilan artikel tersebut adalah 1) pemberian MPASI di situasi bencana pada umumnya tidak mencapai Minimum Dietary Diversity; 2) terjadi kerawanan pangan;3) kondisi Water Supply, Sanitation, and Hygiene Promotion (WASH) sebagian besar buruk; dan 4) usia pengenalan MPASI kurang dari 6 bulan. Simpulan: Praktik pemberian MPASI di situasi bencana secara umum belum optimal. Bantuan yang diberikan selayaknya dapat menunjang pemberian MPASI sesuai standa
PERILAKU CARING PERAWAT DALAM MENURUNKAN TINGKAT KECEMASAN PADA KELUARGA PASIEN YANG DI RAWAT DI INTENSIVE CARE UNIT (ICU)
Kondisi yang terjadi pada pasien di ICU akan memungkinkan keluarga merasa cemas karena anggota keluarga mengalami perawatan kritis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungangan perilaku caring perawat terhadap penurunan tingkat kecemasan keluarga pasien yang dirawat di ruang ICU. Studi ini menggunakan metode literatur review dengan mengulas beberapa artikel yang sesuai dengan tujuan awal. Pencarian literature menggunakan 2 database yaitu Google Scholar dan Pubmed Kata kunci yang digunakan dalam pencarian literature antara lain : caring, family anxiety, Intensive Care Unit ( ICU). Pada pencarian menggunakan Google Scholar dan pubmed jumlah jurnal yang didapat yaitu sejumlah 55 jurnal. Hasil pencarian tersebut kemudian diseleksi berdasarkan tahun, metode, setting lokasi dan penggunaan bahasa sehingga ditemukan hasil akhir sejumlah 5 literatur. Berdasarkan hasil analisis keseluruhan artikel yang terpilih menunjukkan bahwa perilaku caring perawat dapat menurunkan tingkat kecemasan keluarga pasien yang di rawat diruang ICU. Sebagai seorang perawat yang bertugas di ruang intensif dalam memberikan asuhan keperawatan kepada pasien dan keluarga hendaknya dengan selalu memberikan pelayaan yang terbaik yaitu, selalu hadir saat keluarga pasien membutuhkan, membangun kepercayaan kepada keluarga pasien, bersikap mau mendengarkan, bersikap ramah, sabar, menghargai orang lain dan cekatan akan memberikan rasa aman kepada keluarga pasien
LISA FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGETAHUAN DAN SIKAP PERAWAT DALAM PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI COVID-19
Determinant Factors of Knowledge and Attitude Nurses’ to Prevent and Control COVID-19 Infection. The main principles of nurse during caring patients with COVID-19 are knowing prevent and control of COVID-19 infection. The increase of knowledge and attitudes are not only determine of age maturity but also other factors. This study aimed to determine factors determinant the knowledge and attitude of nurses in preventing and controlling COVID-19 infection. The present study employed quantitative with analytic observational method with cross-sectional design. The study was conducted in three hospitals at Semarang from May to June 2020 with a sample size of 60 respondents. The inclusion criteria are nurses who work in the emergency unit, the COVID-19 isolation room, ICU, permanent nurses and are not on duty. Meanwhile, the exclusion criteria are nurses who have work experience of less than two years and interns. Each independent variable is evaluated using logistic regression analysis to determine the most influential variable. The results of this study analyzed with wald test that indicate that the variables of training and education have an determine on knowledge with an accuracy level of 68.33%, while the variables of the age group, work unit and education have an effect on nurses\u27 attitudes with an accuracy level of 80.00%. The results of this study indicate that the variables of the age group, work unit and education have the most influence on nurses \u27attitudes in infection prevention and control, while training and education variables have the most influence on nurses\u27 knowledge in preventing and controlling COVID-19 infection.Pencegahan dan pengendalian infeksi COVID-19 adalah prinsip utama yang harus diketahui oleh perawat yang bertugas merawat pasien dengan COVID-19. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor- faktor apa saja yang mempengaruhi pengetahuan dan sikap perawat dalam pencegahan dan pengendalian infeksi COVID-19. Desain penelitian adalah kuantitatif dengan menggunakan metode observasional analitik dengan rancangan cross-sectional. Penelitian dilakukan di tiga Rumah Sakit pada bulan Mei sampai Juni 2020 dengan jumlah sampel 60 responden. Kriteria inklusi adalah perawat yang bekerja di unit emergency, ruang isolasi COVID-19, ICU, perawat tetap dan sedang tidak dinas. Kriteria eksklusinya adalah perawat yang memiliki pengalaman kerja kurang dari dua tahun dan perawat magang. Masing-masing variabel independen dievaluasi menggunakan analisis uji regresi logistik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel pelatihan dan pendidikan berpengaruh terhadap pengetahuan dengan nilai tingkat keakuratan 68,33%, sedangkan variabel kelompok usia, unit kerja dan pendidikan berpengaruh terhadap sikap perawat dengan nilai tingkat keakuratan 80,00%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel kelompok usia, unit kerja dan pendidikan paling berpengaruh terhadap sikap perawat dalam pencegahan dan pengendalian infeksi sedangkan variabel pelatihan dan Pendidikan paling berpengaruh terhadap pengetahuan perawat dalam pencegahan dan pengendalian infeksi COVID-19.
Kata Kunci: COVID-19, pengetahuan, pengendalian dan pencegahan infeksi, sikap
 
Efektifitas penggunaan Virgin Coconut Oil (VCO) untuk Mencegah Ruam Popok Pada Bayi Baru Lahir
Ruam popok termasuk indikator mutu pelayanan yang berkualitas di rumah sakit. Ruam popok dapat meningkatkan ketidaknyamanan pada bayi baru lahir, bahkan dapat menjadi masalah serius bila tidak diintervensi secara tepat. Tujuan penelitian untuk mengetahui efektifitas penggunaan Virgin Coconut Oil (VCO) dalam mencegah terjadinya ruam popok bayi baru lahir (BBL) Ruang Perinatologi Rumah Sakit (RS) rujukan di Jakarta. Desain penelitian kuasi-eksperimental pascaperlakuan dengan kelompok kontrol, jumlah sampel 66 responden yang diambil secara acak. Hasil analisis menunjukkan rata-rata skor Diaper Dermatitis Severity Intensity Score (DDSIS) berdasarkan hari perawatan pada hari ke-1, ke-7 dan ke-14 untuk kelompok intervensi (0,03; 0,00 dan 0,03) sedangkan kelompok kontrol (0,00; 0,33 dan 0,45). Ada perbedaan yang signifikan dari skor DDSIS antara kelompok intervensi dengan VCO dan kelompok kontrol tanpa VCO (nilai p 0,020).Ruam popok merupakan salah satu indikator mutu kualitas pelayanan di rumah sakit. Ruam popok dapat meningkatkan ketidaknyamanan pada bayi baru lahir, bahkan dapat menjadi masalah serius bila tidak dapat ditangani dengan baik. Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperimen post test only with control group dengan jumlah sampel 66 responden yang diambil secara random samplin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuktikan efektifitas penggunaan Virgin Coconut Oil (VCO) atau minyak kelapa terhadap pencegahan kejadian ruam popok pada bayi baru lahir di Perinatologi Rumah Sakit (RS) rujukan di Jakarta. Hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan dari skor DDSIS (Diaper Dermatitis Severity Intensity Score) antara kelompok intervensi dengan VCO dan kelompok kontrol tanpa VCO(nilai p 0,020)
Tingkat Kepercayaan Diri melalui Pelatihan Komunikasi Interpersonal Metode Role Play
Self-esteem is an attitude or feeling of confidence in its own ability so that the individual concerned is not too anxious in any action. Objective: Know the difference in the confidence level before and after the provision of interpersonal communication training in Role play method in youth Orphanage Ar – Rodiyah. Research methods: : This type of research using quantitative studies with the design of the quasi experiment. The population in this study was all adolescent orphanages Ar-Rodiyah Semarang.  The sampling technique used is perposive sampling with a total of 10 respondents.  Data collection using confidence questionnaires . Data processed with paired samples test . Results of the study: That the average self-confidence score in the respondent before interpersonal communication training in the role play method is 109.3, the lowest score is 104 and the highest is 110. An average of the respondents \u27 confidence after interpersonal communication training is 114.8. The lowest lowest score is 109.00 and the highest is 117.00. There is a difference in the level of youth confidence before and after in providing interpersonal communication training in role play method, with a P value of 0.000 < α (0.05). Conclusion: There is a difference in the level of youth confidence before and after the provision of interpersonal communication training.Kepercayaan diri merupakan suatu sikap atau perasaan yakin atas kemampuan sendiri sehingga individu yang bersangkutan tidak terlalu cemas dalam setiap tindakan.Tujuan: mengetahui perbedaan tingkat kepercayaan diri sebelum dan sesudah pemberian pelatihan komunikasi interpersonal metode Role play pada Remaja Panti Asuhan Ar – Rodiyah.Metode penelitian: Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain quasi experiment. Populasi: Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh remaja panti asuhan Ar-Rodiyah Semarang. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan jumlah 10 responden. Pengumpulan data menggunakan kuisioner kepercayaan diri .Data diolah dengan paired samples test . Hasil penelitian: bahwa rerata skor kepercayaan diri pada responden sebelum pelatihan komunikasi interpersonal metode role play adalah 109.3, Skor terendah adalah 104 dan tertinggi adalah 110 .Rerata kepercayaan diri responden setelah dilakukan pelatihan komunikasi interpersonal adalah 114.8.Skor terendah adalah 109.00 dan tertinggi adalah 117.00 . Ada perbedaan tingkat kepercayaan diri remaja sebelum dan sesudah di berikan pelatihan komunikasi interpersonal metode role play, dengan p value sebesar 0,000 < α (0,05). Kesimpulan: Ada perbedaan tingkat kepercayaan diri remaja sebelum dan sesudah pemberian pelatihan komunikasi interpersonal, di harapkan remaja akan terus melatih berkomunikasi interpersonal nya untuk meningkatkan kepercayaan diri
Pemberian Video Edukasi Menurunkan Kecemasan Pasien Coronavirus Disease 2019 di Rumah Sakit
Patients who have been confirmed for Coronavirus Disease 2019 experience problems not only physically but also psychologically. This psychological impact can affect the patient\u27s healing process if it is not addressed immediately. Especially for Coronavirus Disease 2019 patients who are treated in hospital isolation rooms. The purpose of this study was to analyze the effect of educational videos on the anxiety of Coronavirus Disease 2019 patients being treated at the Udayana University Hospital. This research is a quantitative study with the pre-experimental one group pretest-posttest design method which was conducted on 35 respondents with purposive sampling. Educational videos were given for five days with a video duration of five minutes. Data were collected using the Zung-Self Anxiety Rating Scale (ZSAS) instrument which consists of 20 statement items. The pre-test mean value was 24.51 and the post-test mean score was 22.14. The Wilcoxon test results obtained a p value of 0.000, which means that there is an effect of providing educational videos on the anxiety of Coronavirus Disease 2019 patients in the hospital. The provision of this educational video can reduce the anxiety felt by Coronavirus Disease 2019 patients while being treated in the Isolation Room at the Udayana University Hospital.Pasien yang terkonfirmasi Coronavirus Disease 2019 tidak hanya mengalami masalah secara fisik tetapi juga secara psikologis. Dampak psikologis ini dapat memengaruhi proses penyembuhan pasien apabila tidak segera diatasi. Terlebih pada pasien Coronavirus Disease 2019 yang dirawat di ruang isolasi rumah sakit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh video edukasi terhadap kecemasan pasien Coronavirus Disease 2019 yang dirawat di Rumah Sakit Universitas Udayana. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode pre-experimental one group pretest-posttest design yang dilakukan terhadap 35 responden dengan purposive sampling. Pemberian video edukasi dilakukan selama lima hari dengan durasi video selama lima menit. Pengambilan data menggunakan instrumen Zung-Self Anxiety Rating Scale (ZSAS) yang terdiri dari 20 item pernyataan. Nilai rerata pre-test didapatkan 24.51 dan nilai rerata post-test sebesar 22.14. Hasil Uji Wilcoxon didapatkan p value 0.000, artinya terdapat pengaruh pemberian video edukasi terhadap kecemasan pasien Coronavirus Disease 2019 di rumah sakit. Pemberian video edukasi ini dapat mengurangi kecemasan yang dirasakan pasien Coronavirus Disease 2019 selama dirawat di Ruang Isolasi Rumah Sakit Universitas Udayana
Establishing and Evaluating the Effectiveness of AAT for Residents in Nursing Home
AAT is one of the complementary therapies in nursing homes. However, nurses lack related evidence – based AAT. The purpose of this project was to translate the best available evidence in order to improve residents’ well-being. There were four stages in this project. The first stage conducted a systematic review to identify the best available evidences on AAT. The second stage was discussed step by step according to the protocol for audit. The third stage was to educate multidisciplinary personnel to implement the protocol AAT. Lastly, we implemented the AAT protocol and compared the pre- and post- physiological, psychological and social score of residents to evaluate the effectiveness of AAT protocol. Eight residents completed the pretest and the first, second, and third posttest audits. Result from paired-t tests found significant improvements in residents’ physiological, psychological and social score. The project supports that AAT may effectively improve well-being for residents in nursing home
Efektifitas Keterampilan Kader dalam Penggunaan KPSP melalui Model KIE terhadap Motivasi Kader dalam Mendeteksi dan Menemukan Penyimpangan Perkembangan Anak Prasekolah
Sustainable Development Goals  bertujuan pembangunan berkelanjutan dari Millenium Development Goals  untuk meningkatkan kesejahteraan dibidang kesehatan anak yang dicapai pada tahun 2015 telah berakhir dan saat ini dilanjutkan hingga tahun 2030. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan peneliti ditemukan beberapa kader mengeluh hanya sekedar mengetahui informasi yang masih minim tentang deteksi penyimpangan perkembangan anak pra sekolah dibuktikannya masih terdapatnya kekeliruan dalam menilai dan mendeteksi penyimpangan perkembangan anak. Perkembangan anak sangat penting untuk mendapatkan kualitas generasi yang baik.  Beberapa kader juga ditemukan kurang percaya diri dalam mendeteksi karena tidak didampingi petugas kesehatan yang terlatih dalam mendeteksi penyimpangan perkembangan anak sehingga mempengaruhi motivasi kader dalam pelaksanaan kegiatan. Tujuan dari penelitian ini adalah Mengetahui “Efektifitas Penggunaan KPSP (Kuesioner Pra Skrining Perkembangan) melalui model KIE Terhadap Motivasi Kader Dalam Mendeteksi Penyimpangan Perkembangan Anak Prasekolahâ€. Metode penelitian: Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode Quasy Experimental one group pretes-postest, yaitu rancangan penelitian yang hanya menggunakan satu kelompok subjek tidak ada kelompok pembanding serta melakukan pengukuran sebelum dan sesudah pemberian perlakuan pada subject. Populasi dalam penelitian ini adalah kader posyandu. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah Sampling Jenuh (total sampling),  dengan jumlah sampel 50 kader. Uji Wilcoxon Signed Rank menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara motivasi responden sebelum penggunaan KPSP melaui model KIE di kecamatan Singkawang Tengah, yaitu Ztabel= 1.96 lebih kecil dari Zhitung= -6,1
stress Analisis Stress dan Faktor yang Mempengaruhi Stress Orang Tua dalam Mendampingi Anak Belajar Di Rumah Pada Masa Pandemi : faktor yang mempengaruhi stress
Pada masa pandemic sekarang ini orang tua dituntut mampu mendampingi anak selama belajar di rumah. Tugas baru ini sedikit banyak menambah beban pikiran orang tua dan mendorong terjadinya stres pada orang tua. Stres merupakan reaksi fisiologis dan psikologis yang ditunjukkan seseorang ketika ia merasakan adanya ketidak seimbangan antara tuntutan yang dihadapi dan kemampuan yang dimiliki untuk mengamemenuhi tuntutan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat stres dan factor-faktor yang mempengaruhi terjadinya stres pada orang tua dalam mendampingi anak belajar di rumah selama pandemi. Penelitian ini menggunakan desain atau jenis penelitian kuantitatif dengan desain penelitian survey. Populasi dalam penelitian ini adalah orang tua atau wali murid siswa Aisyiyah Bustanul Atfal 7 Kota Madiun. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah random sampling dan berjumlah 34 orang. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah Depression Anxiety Sress Scale sub skala stres. Pengumpulan data dilaksanakan secara daring dengan menyebarkan skala melalui google form. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis univariat dan analisis bivariate. Variabel penelitian dalam penelitian ini antara lain stres, usia, jumlah anak, pekerjaan dan tingkat pendidikan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) tidak ada hubungan antara usia dengan tingkat stres orang tua selama mendampingi anak belajar dari rumah, (2) tidak ada hubungan antara jumlah anak dengan tingkat stres orang tua selama mendampingi anak belajar di rumah, (3) tidak ada hubungan antara pekerjaan dengan tingkat stres orang tua selama mendampingi anak belajar di rumah, (4) tidak ada hubungan pendidikan orang tua dengan tingkat stres orang tua selama mendampingi anak belajar di rumah.Pada masa pandemic sekarang ini orang tua dituntut mampu mendampingi anak selama belajar di rumah. Tugas baru ini sedikit banyak menambah beban pikiran orang tua dan mendorong terjadinya stress pada orang tua. Stress merupakan reaksi fisiologis dan psikologis yang ditunjukkan seseorang ketika ia merasakan adanya ketidak seimbangan antara tuntutan yang dihadapi dan kemampuan yang dimiliki untuk mengamemenuhi tuntutan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat stress dan factor-faktor yang mempengaruhi terjadinya stress pada orang tua dalam mendampingi anak belajar di rumah selama pandemi. Penelitian ini menggunakan desain atau jenis penelitian kuantitatif dengan desain penelitian survey. Populasi dalam penelitian ini adalah orang tua atau wali murid siswa Aisyiyah Bustanul Atfal 7 Kota Madiun. Variabel penelitian dalam penelitian ini antara lain stress, usia, jumlah anak, pekerjaan dan tingkat pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) tidak ada hubungan antara usia dengan tingkat stress orang tua selama mendampingi anak belajar dari rumah, (2) tidak ada hubungan antara jumlah anak dengan tingkat stress orang tua selama mendampingi anak belajar di rumah, (3) tidak ada hubungan antara pekerjaan dengan tingkat stress orang tua selama mendampingi anak belajar di rumah, (4) tidak ada hubungan pendidikan orang tua dengan tingkat stress orang tua selama mendampingi anak belajar di rumah