Persatuan Perawat Nasional Indonesia: PPNI Jawa Tengah Journal
Not a member yet
566 research outputs found
Sort by
Efek Kepemimpinan Transformasional Pada Kinerja Perawat
Aktivitas perawat dalam menerapkan suatu wewenang, tugas dan tanggung jawab dalam rangka pencapaian fungsi utama profesi dan organisasi merupakan gambaran dari kinerja. Kinerja perawat mempunyai arti seperti prestasi kerja di suatu perusahaan. Pengukuran kinerja perawat dilakukan berdasarkan fakta, terbuka dan dapat dikomunikasikan. Tujuan penelitian untuk melihat dampak kepemimpinan transformasional terhadap kinerja perawat. Metode penelitian menggunakan kuantatif dengan True-Experimental Design melalui rancangan Pretest-Postest Control Group Design. Populasi penelitian perawat pelaksana rumah sakit, jumlah sampel sebanyak 76 yang terdiri dari 38 kelompok intervensi dan 38 kelompok kontrol. Uji statistik menggunakan General Linear Model Repeated Measures. Hasil penelitian didapatkan bahwa nilai p value 0,001 < 0,05 pada setiap pengukuran, Â Nilai perbedaan rata-rata dari pengukuran pertama sampai ketiga 6,55. Maka disimpulkan bahwa kepemimpinan transformasional mempengaruhi kinerja perawat. Kesimpulan penelitian bahwa kepemimpinan transformasional kepala ruangan dapat meningkatkan kinerja perawat pelaksana secara signifikan dengan p value 0,001. Sehingga intervensi yang dilakukan kepada kepala ruangan mempengaruhi nilai kinerja perawat pelaksana
Strategi Pemasaran Pada Masa New Normal di Praktik Keperawatan Mandiri Kota Tasikmalaya
Perawat sangat berpeluang untuk mendirikan praktik keperawatan mandiri. Namun dalam pelaksanaannya diperlukan sebuah strategi pemasaran untuk meningkatkan kunjungan pasien, terlebih lagi pasca pandemic covid-19 menyebabkan penurunan jumlah kunjungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pemasaran di tempat praktik keperawatan mandiri TNC. Menggunakan mix methode, dengan salmpel 30 responden dan 3 pengelola praktik keperawatan mandiri. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada pengaruh bauran pemasaran terhadap keputusan menggunakan pelayanan, dimana bauran produk terlihat ada pengaruh positif. Dari hasil tersebut didapatkanlah strategi yang dilaksanakan yaitu product life cycle yang terdiri dari 4 tahap. Diharapkan pengelola praktik keperawatan mandiri dapat meningkatkan pemasaran dengan konsistensi yang efektif
Stres Kerja Memicu Sindrom Kelelahan Pada Perawat Manajer di Masa Pandemi Covid-19
Sindrom kelelahan menjadi masalah kesehatan akibat stres kerja yang dialami oleh semua manajer keperawatan di masa pandemi Covid-19. Perawat manajer rentan mengalami kelelahan karena beban kerja yang tinggi dan kurang waktu istirahat dalam melakukan peran dan fungsinya sebagai manajer. Peningkatan stres kerja akan menimbulkan kelelahan psikis dan fisik perawat manajer. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi stres kerja sebagai faktor yang berhubungan dengan sindrom kelelahan perawat manajer di masa pandemi Covid-19.Desain penelitian menggunakan korelasi deskriptif dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan terhadap 147 responden. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan estimasi proporsi. Analisis yang digunakan analisis univariat dan analisis bivariat dengan menggunakan uji korelasi pearson. Sindrom kelelahan perawat manajer di masa pandemi Covid-19 sebesar 42,04%. Stres kerja perawat manajer di rumah sakit selama pandemi Covid-19 sebesar 57,71%. Terdapat hubungan yang signifikan antara stres kerja dengan sindrom kelelahan (p=0,000). Stres kerja dapat memicu sindrom kelelahan perawat manajer di masa pandemi Covid-19. Penelitian ini merekomendasikan agar pimpinan rumah sakit mengadakan pelatihan manajemen diri, membangun lingkungan kerja yang kondusif, dan meningkatkan kesejahteraan dengan pemberian insentif, gaji, serta penghargaan yang sesuai di masa pandemi. Dukungan organisasi untuk perawat manajer dengan pemberian waktu istirahat yang cukup, makanan sehat, program spiritual, dan olahraga di masa pandemi Covid-19
Edukasi Kesehatan Reproduksi Pada Pasangan Usia Subur Dalam Pemilihan Jenis Kontrasepsi Keluarga Berencana di Desa Kumpulrejo Kaliwungu Kendal
Keluarga Berencana (KB) merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas penduduk dalam mengatasi pertumbuhan penduduk dengan tujuan mengatur kehamilan. Ada beberapa macam jenis kontrasepsi dalam menkjalankan Keluarga Berencana. Namun seringkali pasangan usia subur masih bingung dalam menentukan jenis kontrasepsi tersebut. Sehingga seringkali muncul permasalahan dalam pemilihan jenis kontrasepsi yang tepat untuk pasangan usia subur. Untuk dapat membantu pasangan usia subur meilih jenis kontrasepsi perlu diselenggarakan berbagai kegiatan yang mendukung pada pelayanan kesehatan reproduksi khususnya dalam pemilihan jenis alat kontrasepsi serta penguatan pemahaman yang berkaitan dengan pentingya kontrasepsi yang digunakan oleh pasangan sehingga pasangan memahami dan dapat memilih jenis kontrasepsi yang tepat untuk diri dan pasangan dalam rangka mempertahankan dan meningkatkan Kesehatan reptroduksi pasangan dan menjaga keharmonisan rumah tangga yang dibinanya. Dalam rangka mendukung pelayanan dan peningkatan pemahaman masyarakat tentangkesehatan reproduksi, maka diadakan kegiatan pengabdian masyarakat berupa Edukasi Kesehatan Reproduksi dan Hak-hak Reproduksi pada Pasangan Usia Subur dalam pelayanan Keluarga Berencana, di Desa Kumpulrejo Kaliwungu Kendal. Sebanyak 41 pasangan usia subur mengikuti kegiatan ini yang dilaksanakan dalan 2 kali pertemuan dalam 2 pekan
Pengelolaan Penyakit Tidak Menular (Diabetes Melitus) Melalui Program “MASDARMin†(Masyarakat Sadar DM Secara Independen) Di Kelurahan Banyumanik, Kecamatan Banyumanik Kota Semarang
Pengelolaan penderita diabetes melitus tipe 2 di Indonesia saat ini masih lebih berfokus pada peran sentral tenaga kesehatan (health officers-centered care) dibandingkan dengan berpusat pada pasien (patient-centered care), keluarga (family-centered care), ataupun masyarakat. Pasien dan keluarganya masih terkesan dianggap sebagai objek yang pasif dan bukan sebagai mitra dalam pengelolaan diabetes melitus tipe 2. Kesempatan untuk mengambil keputusan penting seperti meminum obat belum didasarkan pada aspek-aspek latar belakang pasien dan keluarga pasien seperti nilai dan budaya serta aspek spiritualitas. Pengelolaan diabetes melitus tipe 2 menjadi tidak optimal dan dan tidak tuntas. Pemberdayaan masyarakat menjadi penting untuk pengelolaan penyakit diabetes melitus secara mandiri melalui program MASDARMIn. Metode kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan dengan cara melakukan pendampingan kepada masyarakat yang anggota keluarganya terdapat penderita diabetes melitus tipe 2. Hasil pendampingan melalui program MASDARMIn berdampak pada peningkatan tingkat pemahaman dan pengetahuan keluarga dan penderita DM tentang DM dan cara pengelolaannya; meningkatkan pelibatan secara aktif anggota keluarga; memampukan keluaraga memilih alternatif tindakan yang baik; memunculkan rasa nyaman pada klien karena dikelola oleh orang yang sangat dikenal dan dekat dengan klien seperti pasangan hidup (suami-istri) dan anak dewasa yang sangat memahami karakter dan latar belakang budaya; memberikan dampak secara nyata pada perilaku keluarga dan penderita DM tipe 2 untuk melakukan Diabetes Self-Management (DSM). Disarankan untuk melakukan sosialisasi program MASDARMIn di wilayah yang lebih luas dan diberikan pada kelompok prediabetes
KONDISI LANJUT USIA YANG MENGALAMI HIPERKOLESTEROLEMIA DI POS PELAYANAN TERPADU ( POSYANDU ) LANJUT USIA DESA BETENGSARI, KARTASURA : PILOT STUDY
Latar belakang: Hiperkolesterolemia berhubungan dengan bertambahnya usia dan merupakan faktor utama yang dapat menyebabkan penyakit kardiovaskular. Kejadian hiperkolesterolemia pada lansia berhubungan dengan asupan makanan berlemak dan faktor lainnya. Dampak hiperkolesterolemia adalah 80% pasien meninggal mendadak akibat serangan jantung. Tujuan:  Mengetahui gambaran kondisi lansia yang mengalami hiperkolesterolemia di Posyandu lansia Desa Betengsari, Kartasura. Metode: Penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik dan merupakan pilot study. Total jumlah sampel adalah 29 responden. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Instrumen untuk mengukur kadar kolesterol adalah GCU (Glukosa Colesterol Urid acid) merk EasyTouch. Hasil: semua responden memiliki riwayat kolesterol tinggi,, sebanyak 23 respponden (79,3%) berjenis kelamin perempuan, sebanyak 26 responden (89,7%) memiliki pola makan diet lemak jenuh, sebanyak 29 responden (100%) melakukan aktivitas fisik olah raga dan sebanyak 3 responden (10,3%) memiliki kebiasaan merokok. Kesimpulan penelitian ini 100 % lansia memiliki riwayat kolesterol tinggi. Saran diperlukan intervensi yang tepat untuk mengatasi hiperkolesterolemia. Selain pemberian terapi farmakologi (obat normolipidemia), perawat dapat memberikan terapi komplementer herbal yaitu rebusan daun salam yang terbukti efektiv untuk mengurangi kadar kolesterol dalam darah. Latar belakang: Hiperkolesterolemia berhubungan dengan bertambahnya usia dan merupakan faktor utama yang dapat menyebabkan penyakit kardiovaskular. Kejadian hiperkolesterolemia pada lansia berhubungan dengan asupan makanan berlemak dan faktor lainnya. Dampak hiperkolesterolemia adalah 80% pasien meninggal mendadak akibat serangan jantung. Tujuan:  Mengetahui gambaran kondisi lansia yang mengalami hiperkolesterolemia di Posyandu lansia Desa Betengsari, Kartasura. Metode: Penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik dan merupakan pilot study. Total jumlah sampel adalah 29 responden. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Instrumen untuk mengukur kadar kolesterol adalah GCU (Glukosa Colesterol Urid acid) merk EasyTouch. Hasil: semua responden memiliki riwayat kolesterol tinggi,, sebanyak 23 respponden (79,3%) berjenis kelamin perempuan, sebanyak 26 responden (89,7%) memiliki pola makan diet lemak jenuh, sebanyak 29 responden (100%) melakukan aktivitas fisik olah raga dan sebanyak 3 responden (10,3%) memiliki kebiasaan merokok. Kesimpulan penelitian ini 100 % lansia memiliki riwayat kolesterol tinggi. Saran diperlukan intervensi yang tepat untuk mengatasi hiperkolesterolemia. Selain pemberian terapi farmakologi (obat normolipidemia), perawat dapat memberikan terapi komplementer herbal yaitu rebusan daun salam yang terbukti efektiv untuk mengurangi kadar kolesterol dalam darah. Â
The Reliability of Vibration based mobile phone in Detecting Peripheral Neuropathy in Patient with Diabetic Foot Ulcers
The aim of this study was to evaluate the reliability of mobile phone vibrations in detecting peripheral neuropathy in diabetic foot wound patients between the nurse and the patient\u27s family. The design of this study was a pilot study with a cross sectional study approach. The study was conducted on 37 respondents in four wound care clinics in Makassar City and its surroundings. The instrument used is a mobile phone vibration using the vibrations-test application. Interater reliability analysis test used cohen\u27s kappa test. The results showed that 67.6% of the patients did not feel the vibrations of the mobile phones performed by the nurses, while 70.3% of the patients did not feel the vibrations of the cellphones carried out by the family. Interrater reliability examination of diabetic feet using a mobile phone vibration shows an almost perfect agreement, namely (k = 0.973). The reliability of mobile phone vibrations using the vibrations-test application is quantitatively reliable. Thus, mobile phone vibrations can be used as an alternative screening tool to detect neuropathy in Diabetes Mellitus patients in the community
Pengaruh Pemberian Teh Bawang Dayak terhadap Penurunan Tekanan Darah pada Penderita Hipertensi
Background: The number of people at risk aged >18 years who took blood pressure measurements was 36.53%. From the results of blood pressure measurements, as many as 12.98% were declared hypertensive. Giving dayak onion tea is one form of non-pharmacological treatment that can overcome the decrease in blood pressure in people with hypertension. Objective: To determine the effect of dayak onion tea on reducing blood pressure in patients with hypertension. Research Methods: This study uses a type of experimental research with a One-Group Pretest-Postest Design research design. Sampling using a total sampling technique with 14 respondents. The normality test uses Shapiro Wilk and data analysis uses the Wilcoxon test. Results: Shapiro-Wilk normality test results obtained for systole blood pressure before and after treatment obtained a significance value of p (0.001) and for the results of diastolic blood pressure before and after treatment obtained a significance value of p (0.002). Wilcoxon test results, obtained pre-test and post-test has a significant value of 0,000 where p <0.050 so that Ha is accepted and Ho is rejected. Conclusion: There is an effect of Dayak onion tea on reducing blood pressure in people with hypertension.Latar Belakang : Jumlah penduduk berisiko usia >18 tahun yang dilakukan pengukuran tekanan darah tercatat sebanyak 36,53%. Dari hasil pengukuran tekanan darah, sebanyak 12,98% dinyatakan hipertensi. Pemberian teh bawang dayak merupakan salah satu bentuk pengobatan non farmakologi yang dapat mengatasi penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi. Tujuan : Mengetahui pengaruh pemberian teh bawang dayak terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi. Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan jenis penelitian eksperimen dengan rancangan penelitian One-Group Pretest-Postest Design. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling dengan 14 responden. Uji normalitas menggunakan Shapiro Wilk dan analisis data menggunakan uji Wilcoxon. Hasil : Hasil uji normalitas Shapiro-Wilk didapatkan hasil untuk tekanan darah sistol sebelum dan sesudah perlakuan memperoleh nilai signifikasi p (0.001) dan untuk hasil tekanan darah diastol sebelum dan sesudah perlakuan memperoleh nilai signifikasi p (0.002). Hasil uji Wilcoxon, diperoleh pre test dan post test memiliki nilai signifikan 0.000 dimana p< 0.050.
Kesimpulan : Ada pengaruh teh bawang dayak terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertens
Meta Analisis: Potensi Faktor Usia dan Jenis Kelamin pada Kejadian Depresi di Masa Pandemi Covid-19
The consistent negative psychosocial impact of the COVID-19 pandemic is mental health disorders in the form of depression. Various studies have shown that several factors can influence, such as gender and age. The purpose of this meta-analysis is to measure the influence of gender and age on the incidence of depression during the COVID-19 pandemic in various countries. Database searches were conducted from January-March 2021. Databases included PubMed, Google Scholar, NIH, CDC, and Science Direct. Key words include: “COVID 19 and depression†and “COVID 19 and depression and adjusted Odds Ratioâ€, “COVID 19 and depression and age†and “COVID 19 and depression and age and adjusted odds ratioâ€. 5 articles included to quantitative analysis. People aged ≥ 25 years were 2.65 times more likely to experience depression although the result was not significant OR 2.65 (95% CI 0.98-7.18; P = 0.05). Women had 1.77 times the risk of experiencing depression than men and it was statistically significant OR 1.77 (95% CI 1.36-.2.28; P <0.001).Dampak psikososial negatif yang konsisten dari pandemi COVID-19 adalah gangguan kesehatan mental berupa depresi. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa beberapa faktor dapat memengaruhi, seperti jenis kelamin dan usia. Tujuan meta analisis ini mengukur pengaruh faktor jenis kelamin dan usia terhadap kejadian depresi selama pandemi COVID-19 di berbagai negara. Pencarian basis data dilakukan dari bulan Januari-Maret 2021. Basis data termasuk PubMed, Google Scholar, NIH, CDC, dan Science Direct. Kata kunci antara lain: “COVID 19 and depression†dan “COVID 19 and depression and adjusted Odds Ratioâ€, “COVID 19 and depression and age†dan “COVID 19 and depression and age and adjusted odds ratioâ€. 5 artikel masuk dalam tahap kuantitatif. Orang yang berusia ≥ 25 tahun memiliki kemungkinan 2.65 kali untuk mengalami depresi meskipun hasil tersebut tidak signifikan OR 2.65 (95%CI 0.98-7.18; P=0.05). Perempuan memiliki risiko mengalami depresi 1.77 kali dibandingkan lelaki dan secara statistik signifikan OR 1.77 (95%CI 1.36-.2.28 ; P<0.001)
Adakah Hubungan Kekerasan Fisik dan Verbal Orang Tua dengan Perkembangan Psikososial Anak Usia Sekolah?
Violence in children is an action taken by the caregiver or parent in physical or verbal forms that can endanger the child\u27s health, survival, dignity and development of the child and one of them is psychosocial development. The child\u27s psychosocial development will be disrupted if the caregiver or parent is wrong in educating the child, so that the child withdraws, has difficulty concentrating, likes to interfere, and shows behavior that is not appropriate to his age stage. This study aims to determine the relationship between physical and verbal abuse of parents and the psychosocial development of school age children. This quantitative study used a cross sectional approach with a descriptive correlational design. The study population was school-age children living in Kendal City. The sample consisted of 55 respondents. The data were collected using a questionnaire consisting of 3 statements, namely 8 statements of physical violence, 8 statements of verbal violence and 16 statements of psychosocial development. The validity test was carried out on 30 respondents with r count> 0.361. Reliability test results obtained Cronbach alpha 0.917.Statistical test using the chi square test. The results showed that there was a relationship between the physical and verbal abuse of parents and the psychosocial development of school age children with a value of p = 0.000 (p value <0.05).Kekerasan pada anak merupakan tindakan yang dilakukan oleh caregiver atau orang tua dalam bentuk fisik ataupun verbal yang dapat membahayakan kesehatan anak, kelangsungan hidup, martabat dan perkembangan anak dan salah satunya yaitu perkembanganpsikososial. Perkembangan psikososial anak akan terganggu apabila caregiver atau orang tua salah dalam mendidik anak, sehingga anak menarik diri, sulit berkonsentrasi, suka menggangu, dan menunjukkan tingkah laku yang tidak sesuai dengan tahap usianya. Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan kekerasan fisik dan verbal orang tua dengan perkembangan psikososial anak usia sekolah. Penelitian kuantitatif menggunakan pendekatan cross sectional dengan desain descriptive correlational. Populasi penelitian adalah anak usia sekolah yang tinggal di Kota Kendal. Sampel berjumlah 55 responden. Data diambil menggunakan kuesioner yang terdiri dari 3 yaitu kekerasan fisik sebanyak 8 pernyataan, kekerasan verbal 8 pernyataan dan perkembangan psikososial 16 pernyataan. Uji validitas telah dilakukan pada 30 responden dengan r hitung>0,361. Hasil uji reliabilitas didapatkan alpha cronbach 0,917. Uji statistik menggunakan uji chi square . Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara kekerasan fisik dan verbal orang tua dengan perkembangan psikososial anak usia sekolah dengan nilai p= 0,000 (p value < 0,05)