Persatuan Perawat Nasional Indonesia: PPNI Jawa Tengah Journal
Not a member yet
    566 research outputs found

    Gambaran Kualitas Tidur Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik

    No full text
    Pasien hemodialisa mengalami berbagai masalah yang timbul akibat tidak berfungsinya ginjal. Salah satu akibat yang terjadi adalah memburuknya kualitas tidur pasien hemodialisa. Pasien yang menjalani terapi hemodialisa memiliki resiko lebih besar untuk menderita kualitas tidur yang buruk. Hal ini dikarenakan peningkatan kadar sitokin inflamasi disebabkan oleh beberapa faktor yaitu faktor fisiologis, faktor penyakit fisik, dan faktor lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kualitas tidur pada pasien gagal ginjal kronik di ruang hemodialisa RSUD Pandan Arang Boyolali. Jenis penelitian yaitu deksriptif kuantitatif. Pengambilan sampel menggunakan teknik accidental sampling sebanyak 30 responden dengan instrument penelitian yaitu kuesioner PSQI (Pittsburgh Sleep Quality Indeks) versi bahasa Indonesia. Analisa data menggunakan analisa univariate. Hasil penelitian didapatkan responden dengan kualitas tidur baik sebanyak 13,33% sedangkan responden dengan kualitas tidur buruk sebanyak 86,66%. Kesimpulan pasien yang menjalani hemodialisa dengan kualitas tidur buruk lebih banyak dari pada pasien hemodialisa dengan kualitas tidur baik. Saran bagi peneliti selanjutnya untuk bisa memberikan intervensi untuk meningkatkan kualitas tidur pasien yang menjalani hemodialisa. Kata kunci: GGK, Hemodialisa, Kualitas tidurPasien hemodialisa mengalami berbagai masalah yang timbul akibat tidak berfungsinya ginjal. Salah satu akibat yang terjadi adalah memburuknya kualitas tidur pasien hemodialisa. Pasien yang menjalani terapi hemodialisa memiliki resiko lebih besar untuk menderita kualitas tidur yang buruk. Hal ini dikarenakan peningkatan kadar sitokin inflamasi disebabkan oleh beberapa faktor yaitu faktor fisiologis, faktor penyakit fisik, dan faktor lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kualitas tidur pada pasien gagal ginjal kronik di ruang hemodialisa RSUD Pandan Arang Boyolali. Jenis penelitian yaitu deksriptif kuantitatif. Pengambilan sampel menggunakan teknik accidental sampling sebanyak 30 responden dengan instrument penelitian yaitu kuesioner PSQI (Pittsburgh Sleep Quality Indeks) versi bahasa Indonesia. Analisa data menggunakan analisa univariate. Hasil penelitian didapatkan responden dengan kualitas tidur baik sebanyak 13,33% sedangkan responden dengan kualitas tidur buruk sebanyak 86,66%. Kesimpulan pasien yang menjalani hemodialisa dengan kualitas tidur buruk lebih banyak dari pada pasien hemodialisa dengan kualitas tidur baik. Saran bagi peneliti selanjutnya untuk bisa memberikan intervensi untuk meningkatkan kualitas tidur pasien yang menjalani hemodialisa

    PENGARUH TERAPI PSIKOEDUKASI DENGAN MENGGUNAKAN VIDEO TERHADAP KECEMASAN PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIS YANG MENJALANI HEODIALISIS

    No full text
    Penyakit Ginjal Kronik (PGK) merupakan kelainan fungsi ginjal yang progresif dan ireversibel dimana kemampuan tubuh gagal mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit sehingga menyebabkan uremia, gagal ginjal kronik yang tidak dapat disembuhkan dan memerlukan terapi pengganti seumur hidup yaitu hemodialisis. Hemodialisis seringkali memberikan dampak terhadap permasalahan fisik dan psikis, 46% pasien yang menjalani hemodialisis mengalami permasalahan psikologis yaitu sebagian besar mengalami kecemasan. Mengenali dan mengobati gejala kecemasan akan membantu meningkatkan kualitas hidup dari sudut pandang psikologis. Intervensi untuk menurunkan tingkat kecemasan sudah banyak dilakukan, namun perlu adanya intervensi dengan pendekatan psikologis yang mendidik secara mudah dengan menggunakan teknologi saat ini yaitu video, sehingga peneliti merasa perlu untuk melakukan penelitian tentang bagaimana psikoedukasi menggunakan video terhadap tingkat kecemasan pada suatu penyakit. pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh terapi psikoedukasi menggunakan video terhadap kecemasan pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis. Metode penelitian ini menggunakan desain quasi eksperimen dengan desain pre-post test with control group design. Untuk mengetahui pengaruh terapi psikoedukasi menggunakan video pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis yaitu menggunakan perhitungan Wilcoxon dengan hasil perhitungan uji beda sebelum dan sesudah intervensi dengan (Z- Score = -3.3704, P-Value = 0.00), yang berarti hasil uji Wilcoxon < 0.05 maka dapat disimpulkan ada pengaruh terapi psikoedukasi menggunakan video terhadap tingkat kecemasan pada pasien kronis. pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisis. Kata Kunci: Psikoedukasi, Penyakit Ginjal Kronik, Tingkat Kecemasan. Chronic Kidney Disease (CKD) is a progressive and irreversible kidney function disorder in which the body\u27s ability fails to maintain metabolism and fluid and electrolyte balance, causing uremia, chronic kidney failure which cannot be cured and requires lifelong replacement therapy, namely hemodialysis. Hemodialysis often has an impact on physical and psychological problems, 46% of patients undergoing hemodialysis experience psychological problems, namely most of them experience anxiety. Recognizing and treating anxiety symptoms will help improve quality of life from a psychological perspective. There have been many interventions to reduce anxiety levels, but there is a need for interventions with a psychological approach that educates easily by using current technology, namely video, so researchers feel the need to conduct research on how psychoeducation using videos on anxiety levels in disease patients. The purpose of this study the effect of psychoeducational therapy using video on anxiety in chronic kidney failure patients undergoing hemodialysis. This research method uses a quasi-experimental design with apre-post test with control group design.. To find out the effect of psychoeducational therapy using video in patients with chronic kidney failure undergoing hemodialysis, namely using the Wilcoxon calculation with the results of the difference test before and after the intervention with (Z-Score = -3.3704, P-Value = 0.00), which means that the Wilcoxon test results < 0.05, it can be concluded is an effect of psychoeducational therapy using video on anxiety levels in chronic kidney failure patients undergoing hemodialysis. Keywords: Psychoeducation, Chronic Kidney Disease, Anxiety Level.Chronic Kidney Disease (CKD) adalah gangguan fungsi ginjal yang bersifat progresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit sehingga menyebabkan uremia, gagal ginjal kronis yang tidak dapat disembuhkan dan memerlukan terapi penggantian seumur hidup yaitu hemodialisa. Hemodialisis seringkali berdampak pada masalah fisik dan psikologis, 46% pasien yang menjalani hemodialisis mengalami masalah psikologis yaitu sebagian besar mengalami kecemasan. Mengenali dan mengobati gejala kecemasan akan membantu meningkatkan kualitas hidup dari perspektif psikologis. Sudah banyak intervensi untuk menurunkan tingkat kecemasan, namun perlu adanya intervensi dengan pendekatan psikologis yang mendidik dengan mudah dengan menggunakan teknologi saat ini yaitu video, sehingga peneliti merasa perlu melakukan penelitian tentang bagaimana psikoedukasi menggunakan video tentang tingkat kecemasan pada penyakit. pasien. Tujuan penelitian ini adalah pengaruh terapi psikoedukasi menggunakan video terhadap kecemasan pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis. Metode penelitian ini menggunakan desain eksperimen semu dengan desain pre-post test with control group design. Untuk mengetahui pengaruh terapi psikoedukasi menggunakan video pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis yaitu menggunakan perhitungan Wilcoxon dengan hasil uji perbedaan sebelum dan sesudah intervensi dengan (Z-Score = -3,3704, P-Value = 0,00), yang berarti bahwa hasil uji Wilcoxon < 0,05, maka dapat disimpulkan ada pengaruh terapi psikoedukasi menggunakan video terhadap tingkat kecemasan pada penderita kronis. pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisa

    Hubungan Self Efficacy Dengan Self Care Management Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 Di Wilayah Binaan Puskesmas Karangayu

    No full text
    Diabetes merupakan penyakit kronis yang diakibatkan oleh tidak adekuatnya produksi insulin oleh pankreas. Salah satu faktor yang berperan dalam kejadian komplikasi diabetes mellitus adalah kurang nya keyakinan serta ketidakmampuan dalam melakukan pengelolaan penyakit melalui perawatan diri. Peningkatan keyakinan diri dan motivasi pasien akan mempengaruhi kepatuhan manajemen perawatan diri penderita Diabetes Mellitus, sehingga dapat berimplikasi pada peningkatan kualitas hidup. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan self efficacy dengan self care management penderita diabetes mellitus tipe 2 di Puskesmas Karangayu. Metode yang digunakan yaitu kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini penderita Diabetes Mellitus di Puskesmas Karangayu yang sudah terdata di tahun 2021 sejumlah 124 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Hasil penelitian didapatkan tingkat self efficacy cukup baik, sebesar 88 responden (71%), dan tingkat self care management cukup baik sebesar 74 responden (59,7%). Hasil uji statistik menggunakan uji Spearman rank menunjukkan p value sebesar 0,000 (<0,05) yang mempunyai makna terdapat hubungan yang signifikan antara self efficacy dengan self care management pada penderita diabetes mellitus di wilayah binaan Puskesmas Karangayu, dengan kekuatan hubungan 0,390 yaitu cukup kuat, serta memiliki arah korelasi positif, yang berarti apabila nilai self efficacy tinggi, maka akan diikuti dengan meningkatnya nilai self care management. Hasil penelitian ini, diharapkan tenaga kesehatan dapat meningkatkan self efficacy dengan cara memberikan motivasi pada penderita diabetes mellitus agar selalu konsisten dalam melaksanakan self care management, supaya pengendalian komplikasi penderita diabetes dapat dicegah. Kata Kunci : Diabates Mellitus, Self Care Management, Self EfficacyDiabetes merupakan penyakit kronis yang diakibatkan oleh tidak adekuatnya produksi insulin oleh pankreas. Salah satu faktor yang berperan dalam kejadian komplikasi diabetes mellitus adalah kurang nya keyakinan serta ketidakmampuan dalam melakukan pengelolaan penyakit melalui perawatan diri. Peningkatan keyakinan diri dan motivasi pasien akan mempengaruhi kepatuhan manajemen perawatan diri penderita Diabetes Mellitus, sehingga dapat berimplikasi pada peningkatan kualitas hidup. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan self efficacy dengan self care management penderita diabetes mellitus tipe 2 di Puskesmas Karangayu. Metode yang digunakan yaitu kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini penderita Diabetes Mellitus di Puskesmas Karangayu yang sudah terdata di tahun 2021 sejumlah 124 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Hasil penelitian didapatkan tingkat self efficacy cukup baik, sebesar 88 responden (71%), dan tingkat self care management cukup baik sebesar 74 responden (59,7%). Hasil uji statistik menggunakan uji Spearman rank menunjukkan p value sebesar 0,000 (<0,05) yang mempunyai makna terdapat hubungan yang signifikan antara self efficacy dengan self care management pada penderita diabetes mellitus di wilayah binaan Puskesmas Karangayu, dengan kekuatan hubungan 0,390 yaitu cukup kuat, serta memiliki arah korelasi positif, yang berarti apabila nilai self efficacy tinggi, maka akan diikuti dengan meningkatnya nilai self care management. Hasil penelitian ini, diharapkan tenaga kesehatan dapat meningkatkan self efficacy dengan cara memberikan motivasi pada penderita diabetes mellitus agar selalu konsisten dalam melaksanakan self care management, supaya pengendalian komplikasi penderita diabetes dapat dicegah

    ASUHAN KEPERAWATAN JIWA DENGAN PENERAPAN TERAPI LATIHAN ASERTIF PADA PASIEN DENGAN RESIKO PERILAKU KEKERASAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS LIMBOTO KABUPATEN GORONTALO

    No full text
    Kesehatan jiwa adalah suatu kondisi sehat emosional, psikologis, dan social yang terlihat dari hubungan interpersonalyang memuasakan, perilaku dan koping yang efektif, konsep diri yang positif, dan stabilan emosional. Salah satu diagnosagangguan jiwa yakni risiko perilaku kekerasan. Risiko perilaku kekerasan adalah masalah keperawatan dengan tanda dangejala satu atau lebih yaitu wajah memerah dan tegang, pandangan tajam, mengatupkan rahang dengan kuat,mengepalkan tangan, dan bicara kasar yang didapatkan dari hasil pengkajian melalui wawancara, observasi, dan studidokumentasi. Tujuan penelitian ini mampu menerapkan terapi latihan asertif pada pasien dengan risiko perilakukekerasan di wilayah kerja puskesmas Limboto. Metode penelitian yang di lakukan deskriptif analtik dengan pendekatanstudi kasus pada 3 orang pasien dengan diagnosa risiko perilaku kekerasan di wilayah kerja puskesmas limboto. Hasilpenelitian ini menunjukan bahwa penerapan terapi latihan asertif dapat berpengaruh terhadap pasien dengan risikoperilaku kekerasan.Kesehatan jiwa adalah suatu kondisi sehat emosional, psikologis, dan social yang terlihat dari hubungan interpersonal yang memuasakan, perilaku dan koping yang efektif, konsep diri yang positif, dan stabilan emosional. Salah satu diagnosa gangguan jiwa yakni risiko perilaku kekerasan. Risiko perilaku kekerasan adalah masalah keperawatan dengan tanda dan gejala satu atau lebih yaitu wajah memerah dan tegang, pandangan tajam, mengatupkan rahang dengan kuat, mengepalkan tangan, dan bicara kasar yang didapatkan dari hasil pengkajian melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Tujuan penelitian ini mampu menerapkan terapi latihan asertif pada pasien dengan risiko perilaku kekerasan di wilayah kerja puskesmas Limboto. Metode penelitian yang di lakukan deskriptif analtik dengan pendekatan studi kasus pada 3 orang pasien dengan diagnosa risiko perilaku kekerasan di wilayah kerja puskesmas limboto. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa penerapan terapi latihan asertif dapat berpengaruh terhadap pasien dengan risiko perilaku kekerasan. Kesehatan jiwa adalah suatu kondisi sehat emosional, psikologis, dan social yang terlihat dari hubungan interpersonal yang memuasakan, perilaku dan koping yang efektif, konsep diri yang positif, dan stabilan emosional. Salah satu diagnosa gangguan jiwa yakni risiko perilaku kekerasan. Risiko perilaku kekerasan adalah masalah keperawatan dengan tanda dan gejala satu atau lebih yaitu wajah memerah dan tegang, pandangan tajam, mengatupkan rahang dengan kuat, mengepalkan tangan, dan bicara kasar yang didapatkan dari hasil pengkajian melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Tujuan penelitian ini mampu menerapkan terapi latihan asertif pada pasien dengan risiko perilaku kekerasan di wilayah kerja puskesmas Limboto. Metode penelitian yang di lakukan deskriptif analtik dengan pendekatan studi kasus pada 3 orang pasien dengan diagnosa risiko perilaku kekerasan di wilayah kerja puskesmas limboto. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa penerapan terapi latihan asertif dapat berpengaruh terhadap pasien dengan risiko perilaku kekerasan

    THE EFFECT OF PURSED LIP BREATHING (PLB) EXERCISE ON RESPIRATORY STATUS IN PATIENTS WITH CHRONIC OBSTRUCTIVE PULMONARY DISEASE (COPD)

    No full text
    Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) terjadi karena obstruksi jalan napas. Obstruksi ini menyebabkan penderitaPPOK mengalami kesulitan untuk mengeluarkan napas. Dengan memberikan Pursed Lip Breathing akan membuatfase ekspirasi menjadi lebih lama sehingga lebih banyak udara yang dihembuskan dan mencegah udara terperangkapdi dalam alveoli. Penelitian ini menggunakan desain Quasy Experimen dengan menggunakan convenience sampling.Terdapat 20 responden yang terbagi menjadi kelompok intervensi dan kontrol. Data dianalisis menggunakan pairedsample t-test untuk mengetahui perbedaan pre-test dan post-test pada masing-masing kelompok. Uji-t independendigunakan untuk mengidentifikasi perbedaan rata-rata dua variabel yang tidak berpasangan. Uji paired t-testmenunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada kelompok intervensi pada variabel FEV1, SpO2, danrespiratory rate (p-value < .01). Independent t-test menunjukkan variabel SpO2 dan respiratory rate berbeda secarasignifikan (p-value 0,019, dan 0,028 berturut-turut), sedangkan FEV1 tidak ada perbedaan antara kelompokintervensi dan kontrol (p-value = 0,599). Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa pursed lips breathingberpengaruh signifikan terhadap status pernapasan. Independent t-test test menunjukkan perbedaan antara kelompokintervensi dan kontrol pada peningkatan SpO2 dan penurunan RR namun tidak menunjukkan hasil yang signifikandalam peningkatan FEV1. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pursed lips breathing dapat digunakan sebagai terapitambahan untuk penatalaksanaan sesak napas pada pasien PPOK. Penelitian lanjutan diperlukan dengan menambahjumlah sampel dan pengacakan/randomisasi untuk mengurangi bias penelitian.   Chronic obstructive pulmonary disease (COPD) occurs due to airway obstruction. This obstruction causes COPDsufferers to have difficulty exhaling. By giving pursed lip breathing will make the expiration phase longer so thatmore air is exhaled and prevent air trapping in the alveoli. The study used Quasy Experiment design. Theconvenience sampling technique was used in the study. There were 20 respondents divided into intervention andcontrol groups. Data were analyzed using Paired sample t-test to determine the difference between pre-test and post-test in each group. In addition, an independent t-test was used to investigate the difference in the mean of twounpaired variables. The paired t-test showed that there were significantly different in the intervention group in thevariables FEV1, SpO2, and Respiratory rates (p-value < .01). The independent t-test revealed variables SpO2 andRespiratory Rate were significantly different (p-value of .019, and .028 respectively), whereas FEV1 was nodifference between intervention and control group (p-value was .599). This study concluded that pursed lipsbreathing shows a significant effect on respiratory status. The independent sample t-test test showed a differencebetween the intervention and control groups after pursed lips breathing was performed on an increase in SpO2 and adecrease in RR but did not show a significant result in an increase in FEV1. Pursed lips breathing can be used as anadditional therapy for managing shortness of breath in COPD patients. Further research is expected to have moresample size and randomization. Keywords: COPD, FEV1, pursed lips breathing, respiratory rate, SpO

    The HUBUNGAN PEMENUHAN KEBUTUHAN SPIRITUAL DENGAN KUALITAS HIDUP PADA LANSIA DI DESA KLURAK KECAMATAN CANDI SIDOARJO

    No full text
    ABSTRAK Lansia sangat rentan terhadap penyakit, gangguan pada keyakinan kesulitan merasakan makna dan tujuan hidup melalui hubungan dengan diri, orang lain, lingkungan maupun Tuhan sehingga mempengaruhi kualitas hidupnya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan pemenuhan kebutuhan spiritual dengan kualitas hidup pada lansia di Desa Klurak Kecamatan Candi Sidoarjo. Desain penelitian menggunakan pendekatan observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Besar sampel sebanyak 100 responden dengan pengambilan sampel secara simple random sampling. Variabel independen yaitu kebutuhan spiritual dan variabel dependen yaitu kualitas hidup. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan uji rank spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar 46 lansia (46%) memiliki kebutuhan spiritual yang tinggi dan kualitas hidup baik. Hasil analisa data p = 0,000 (0,000<0,05) yang berarti ada hubungan variabel pemenuhan kebutuhan spiritual dengan kualitas hidup pada lansia. Kesimpulan penelitian ini adalah semakin terpenuhi pemenuhan kebutuhan spiritual lansia maka semakin baik kualitas hidupnya. Disarankan lansia lebih aktif berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan maupun pelayanan kesehatan agar dapat meningkatkan kebutuhan spiritual yang belum terpenuhi dan mempertahankan yang telah terpenuhi sehingga kualitas hidupnya baik.  &nbsp

    Effect of Murottal Alqur’an Therapy against Stress in Mental Illness Caregivers, Patients with Chronic Disease : Literature Review

    No full text
    The trend of increasing chronic disease every year requires comprehensive care and treatment. Patients and the caregivers encounter stressful situations, and the stress of such situations has been reported to have substantial negative effects on family caregivers. The aim of this study was to identify the effect of murottal Al-Qur\u27an therapy on stress in the mental illness caregivers and patients with chronic disease using empirical literature published in the last five years. The data source for article search was conducted through the PubMed, Scopus, Google Scholar, ProQuest, Springerlink, and ScienceDirect. The inclusion criteria in this study were those published in 2018 to 2023 with open access in original articles published in English and Indonesian. The article search strategy uses PICOS frame work with keywords tailored to the topic of writing. Articles were selected based on title, abstract review or full text according to the inclusion and exclusion criteria before being included in the review for review.  A total of 9 articles were submitted to compile this literature review. Stress triggers deep and persistent feelings of worry or fear so that it refers to less specific threats. From 2 related articles, the caregivers who experience stress problems can be treated with murottal Al-qur an therapy, improving positive emotions, and optimism. Whereas, 7 articles showed patients with chronic disease reduce the stress, so it can be concluded that murottal Al-Qur\u27an therapeutic interventions is an affordable and accessible therapy to help reduce the stress, improving positive emotions to achieve better results

    HUBUNGAN KONSEP DIRI TERHADAP KECEMASAN PADA IBU HAMIL TRIMESTER TIGA MENGHADAPI PERSALINAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS WONOSOBO 1

    No full text
    Background: Pregnancy is the period from conception until the fetus is born. During pregnancy, a mother experiences physical and psychological changes, with these changes a mother will from her self-concept, self-concept indirectly affects the occurrence of anxiety in pregnant women such as worry and fear of childbirth. Purpose: this study to determine the relationship between self-concept and anxiety in third trimester pregnant women facing childbirth in the work area Puskesmas Wonosobo 1. Method: This research used cross sectional correlation research design. The sampel in the study amounted to 58 pregnant women. Data collection technique by means of total sampling. A tool to measure self-concept using a questionnaire adapted from previous research and anxiety using hamilton anxiety rating scale (HARS) questionnaire. Statistical test using the spearman test. Result: shows the results of significance of 0,000 (p<0,05), which means there is a relationship between the self-concept to anxiety third trimester pregnant women facing childbirth

    THE THE INFLUENCE OF PSYCHOEDUCATION ON ANXIETY LEVELS TB PATIENTS IN THE BUKETAN ROOM AT BENDAN HOSPITAL OF PEKALONGAN CITY

    No full text
    Tuberculosis (TB) is a public health problem in the world, although many countries have implemented various efforts to control and prevent it. TB is an infectious disease caused by Mycobacterium tuberculosis (MTbc), they can attack the lungs (pulmonary TB) and other organs (extrapulmonary TB), Tuberculosis is transmitted through the air in the form of droplets (sputum splashes), so it can disrupt public health and cause morbidity/morbidity and death/mortality. This study aims to determine the effect of psychoeducational therapy on anxiety levels in TB patients. This type of research is a quasi-experimental design with a control group pre-test - post-test design. The sample size in this study were 22 TB clients, each in the intervention group and the control group, which were taken using a non-probability sampling technique. The study used the HARS (Hamilton Anxiety Rating Scale) instrument. Intervention given psychoeducational therapy for 5 sessions for 5 weeks with 45-60 minutes visually and evaluating at the end of each activity. The data analysis used was the Wilcoxon test and the Mann Whitney test. The study showed that there was an effect of the intervention of providing psychoeducational therapy on reducing the anxiety of TB patients with p = 0.000 and 0.001 (p <0.05). Psychoeducational therapy carried out in 5 sessions for 5 weeks in 40-60 minutes can have an effect on reducing the anxiety of tuberculosis patients

    THE EFFECT OF PROGRESSIVE MOBILIZATION ON THE INCIDENT OF DECUBITUS IN ICU PATIENTS

    No full text
    Introduction: Critical patients who are treated in the ICU are in a long time both sitting and lying positions with limited movement so that it will put the patient at risk of developing decubitus. The role of the nurse in the prevention of decubitus is skin care which includes hygiene care and topical administration, mechanical prevention and surface support. The American Association of Critical Care Nurses (AACN) introduced several pressure sore (decubitus) management techniques, one of which is progressive mobilization intervention. Objective: This study aims to determine the effect of progressive mobilization on the risk of developing decubitus in ICU patients. Method: This research is an analytical study with a Quasy Experimental design with one group pre test – post test design. The instrument used is the Braden Scale which is used to measure pressure sores. Progressive mobilization intervention was carried out for 3 days and then the post-intervention value was measured. Results: The majority of the Braden scale values ​​before the intervention were Very High Decubitus Risk (60%) and after the intervention the majority were High Decubitus Risk (60%). The effect test using the Wilcoxon test was used to obtain the result of p = 0.002 (p <0.005), which means that there is an effect of progressive mobilization interventions. Conclusion: There is an effect of progressive mobilization interventions on reducing the risk of decubitus

    0

    full texts

    566

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Persatuan Perawat Nasional Indonesia: PPNI Jawa Tengah Journal
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇