Persatuan Perawat Nasional Indonesia: PPNI Jawa Tengah Journal
Not a member yet
566 research outputs found
Sort by
PENERAPAN INTERVENSI TERAPI AFIRMASI POSITIF PADA PASIEN DENGAN HARGA DIRI RENDAH KRONIK: STUDI KASUS DESKRIPTIF
Latar Belakang: Skizoafektif merupakan gangguan psikologis yang terdiri dari gejala psikotik (halusinasi dan waham) dan gangguan bipolar (gejala depresi atau mania). Individu yang mengalami gangguan psikologis dapat mengalami konsep diri yang rendah seperti penilaian negatif mengenai dirinya seperti gagal dan tidak berguna. Hal ini dapat mengindikasikan orang dengan gangguan psikotik dapat mengalami harga diri rendah. Deskripsi Kasus: Seorang pria (56 tahun) mengalami pengalaman traumatis dan kesulitan dalam mengatasinya, akibat dari koping yang tidak efektif dan kurangnya dukungan lingkungan dalam penyembuhan, klien melebih-lebihkan penilaian negatif mengenai dirinya dan sering mengkritik diri sendiri, hal ini berlangsung selama lebih dari 1 tahun. Intervensi: salah satu tindakan terapi generalis yang dapat diberikan dalam asuhan keperawatan jiwa adalah terapi afirmasi positif. Tujuan dari diberikannya intervensi ini antara lain untuk melihat perubahan tanda dan gejala harga diri rendah pada pasien dengan diagnosa keperawatan harga diri rendah kronik. Pembahasan: salah satu terapi generalis yang diberikan adalah terapi afirmasi positif. Pada hari ke-3 setelah dilakukan dua kali sesi implementasi, klien terlihat lebih terbuka terhadap orang lain, mulai mengajak berbincang lebih dulu, lebih ceria, dan tidak terlihat defensif seperti biasanya. Klien menjadi lebih sering bercerita dan aktif disetiap kegiatan yang dilaksanakan. Kesimpulan: intervensi terapi afirmasi positif dinilai efektif untuk meminimalisir gangguan konsep diri seperti harga diri rendah karena mampu mengubah fungsi kognitif dan pola perilaku atas persepsi individu terhadap dirinya sendiri.
Kata Kunci: Harga Diri Rendah, Skizoafektif, Terapi Afirmasi Positi
HUBUNGAN SELF EFFICACY DENGAN KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS CAREGIVER DALAM MERAWAT PASIEN SKIZOFRENIA DI PUSKESMAS KOTA PADANG
Berbagai macam permasalahan yang dihadapi caregiver dalam penerimaan anggota keluarga orang dengan skizofrenia yaitu banyaknya waktu yang terbuang, banyaknya biaya hidup yang harus keluarkan, terbatasnya waktu untuk bersosialisasi, munculnya perasaan stress, depresi, malu, perasaan bersalah, stigma bahkan terjadinya kekambuhan yang menyebabkan kesejahteraan psikologis caregiver terganggu. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi kekambuhan pada pasien yang mengalami skizofrenia adalah dengan self-efficacy, yaitu kemampuan caregiver untuk mengatasi permasalahan, stres maupun pemecahan masalah dalam merawat anggota keluarganya dengan skizofrenia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan self efficacy dengan kesejahteraan psikologis cargiver dalam merawat pasien skizofrenia di Puskesmas Kota Padang. Jenis penelitian analitik dengan desain cross sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh keluarga pasien skizofrenia yang datang berkunjung ke Puskesmas Penelitian menggunakan kuesioner dengan cara wawancara. Teknik pengambilan sampel accidental sampling. Analisis statistik yang digunakan adalah Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai (p=0,000) sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan self efficacy dengan kesejahteraan psikologis caregiver dalam Merawat Pasien Skizofrenia di Puskesmas Kota Padang. Diharapkan kepada perawat di Puskesmas untuk melakukan pertemuan dengan keluarga terkait cara perawatan klien skizofrenia di rumah, sehingga keluarga sebagai care giver mampu dan mengetahui cara perawatan klien dengan skizofrenia
LITERATUR REVIEW: RELAXATION HANDHELD FINGER TECHNIQUE TERHADAP PENURUNAN NYERI PADA PASIEN POST SECTIO CAESAREA
Background: Every surgical procedure, including SC surgery, must beaccompanied by pain. SC pain is caused by surgical wounds on the frontwall of the abdomen and uterine wall (Sarwono, 2009). Based on thisphenomenon, pain in post-SC patients needs serious treatment because itcan have an impact both physically and psychologically. Post-SC painmanagement can be done pharmacologically and non-pharmacologically.One of the non-pharmacological studies that are effective for reducingpain in post-SC patients is relaxation handheld finger techniquePurpose: The purpose of writing this scientific paper is to provide an ideaof applying finger grip relaxation therapy to reduce pain intensity so thatit can increase post-SC patient comfort.Method: The method used is a literature review or a review of fiveresearch journals about the effect of finger grip relaxation on post SC pain.The search for these journals was done through PubMed, Onesearch, andGoogle Scholar.Result: Based on a search from five previous research journals, it wasfound that the patient\u27s criteria included being fully aware andcooperative, not experiencing post SC complications, not experiencingother pain, not experiencing mental or mental disorders, and not havingphysical disorders such as muscle stiffness. Giving effective interventionusing a duration of15 minutes, 6-8 hours after administration of analgesics and post SC over12 hours. The steps for giving the intervention include the patient beingadvised to sit or lie down quietly, grasping five fingers, closing the eyes,focusing, and inhaling slowly through the nose, exhaling slowly throughthe mouth.Recommendation: The finger grip relaxation technique can be used as areference in the management literature as a standard operating procedure(SOP) for handling post SC pain reduction
PENGARUH RELAKSASI GENGGAM JARI TERHADAP PENURUNAN NYERI PADA PASIEN POST OPERASI SECTIO CAESAREA
Background: After the postoperative client has complaints that recur, such as pain. It should immediately carry out post-surgical care after the patient is operated on in order to minimize discomfort after surgery. Post-surgical care does not only focus on the organs that have been operated on, but also the client\u27s overall health. Reducing pain intensity through relaxation techniques with finger grip relaxation. The intensity of pain after surgery can be done in an easy and simple way, namely the relaxation technique of holding the fingers by anyone related to the fingers and the flow of energy in the body.Research Target: Knowing the effectiveness abaout application of finger grip relaxation to reducing pain in postoperative Sectio Caesarea.Method: The research uses a nursing care model that focuses on problems described in a complete nursing care approach, namely through assessment, identification of diagnoses and actual problems, preparation of nursing plans, implementation, and evaluating. There were 4 patients in this studyResults of Research All postoperative sectio caesarea patients experienced moderate pain before being given hand-held relaxation. All postoperative sectio caesarea patients after being given finger grip relaxation experienced a decrease in pain to mild pain.Suggestion: All postoperative sectio caesarea patients before being given finger grip relaxation experience moderate pain and after being given finger grip relaxation experience a decrease in pain to mild pai
CORRELATION FAMILY SUPPORT WITH CONTROL COMPLIANCE IN STROKE PATIENTS
Stroke is the leading cause of long-term adult disability and the number five cause of death. Stroke cannot be completely cured, but when handled properly it can minimize disability, reducing dependence on activities. The involvement of the family in the program at home will provide excellent benefits. The purpose of this study was to determine the relationship of family support to control adherence in stroke patients. This research uses a quantitative approach with a cross-sectional research design. This research was conducted at the Regular Polyclinic of PON Jakarta Hospital in 2022. The total population in this study was 1267 patients with a total sample of 101 and accidental sampling techniques. The tools used in this study were questionnaires and observation sheets. The data analysis used is univariate and bivariate analysis with chi square test. The results showed that most respondents had good family support as many as 62 (61.4%) respondents and had a control compliance rate in the compliance category as many as 75 (74.3%) respondents. The chi square test results show that the p value is 0.001 (p ≤ 0.05), then H0 is rejected and Ha is accepted. An OR value of 4.5 which means good family support is 4.5 times more likely to have better control compliance. It can be concluded that there is a relationship of family support with control compliance in stroke patients. It is hoped that families can realize the importance of family support to increase patient motivation for control
Faktor Penentu Perawat sehat di Rumah Sakit
Healthy behavior carried out by nurses often does not produce good results due to several factors. The risks that arise due to not behaving healthy nurses can reduce the health condition of nurses and the quality of service. The purpose of this study was to identify the factors that can influence the behavior of healthy nurses. The research method used a cross-sectional design to 356 nurses at the General Hospital in Jakarta. The results of the analysis showed that there was a significant relationship between age 35 years (p = 0.038) and education D3 Nursing/Midwifery (p = 0.034) with healthy nurse behavior. In multivariate analysis, the most influential variables on the behavior of healthy nurses were physical activity (p<0.05; OR = 4.760, 95%CI), spiritual (p=0.211; OR = 1.456, 95%CI) and stress management (p< 0.05; OR = 4.549, 95%CI). Recommendations to improve the behavior of healthy nurses by making healthy nurse programs on a regular basis
Stres kerja perawat berhubungan dengan pelaksanaan budaya keselamatan pasien di rumah sakit
Keselamatan menjadi salah satu isu global dalam rumah sakit. Rumah sakit memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan mutu pelayanan dalam pengelolaan keselamatan pasien. Upaya yang harus dilakukan dengan menerapkan budaya keselamatan pasien. Setiap perawat memiliki tanggung jawab dalam pelaksanaan keselamatan pasien, namun dalam hal ini terdapat faktor individu mempengaruhi terlaksananya budaya ini adalah tingkat stres yang dialami petugas terutama perawat. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan stres kerja perawat dengan pelaksanaan budaya keselamatan pasien. Desain penelitian ini kuantitatif korelasional dengan rancangan cross sectional. Populasi menggunakan 197 perawat RSUD dr. Gondo Suwarno, sampel penelitian 132 perawat diambil dengan teknik proportional random sampling. Alat pengambilan data menggunakan Kuesioner expanded nursing stress scale (ENSS) dan kuesioner Hospital Survey on Patient Safety Culture (HSOPSC). Analisa data menggunakan uji spearman rank. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa Stres kerja perawat sebagian besar dalam kategori rendah sebanyak 60 responden (48,5%), pelaksanaan budaya keselamatan pasien sebagian besar dalam kategori baik sebanyak 80 responden (60,6%). Hasil uji hipotesis didapatkan nilai p value 0,000 dengan nilai r -0,477 yang berarti ada hubungan cukup signifikan antara stres kerja perawat dengan pelaksanaan budaya keselamatan pasien di RSUD dr.Gondo Suwarno Ungaran.Â
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI STIGMA MASYARAKAT PADA PENDERITA SKIZOFRENIA DI KALIMANTAN BARAT
Stigma masyarakat yang masih negatif memiliki dampak bagi penderita penyakit tertentu salah satunya Skizofrenia. Stigma masih menjadi permasalahan yang dirumuskan dalam pencegahannya. Beberapa faktor yang memengaruhi stigma masyarakat terhadap penderita skizofrenia telah diidentifikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi stigma masyarakat terhadap penderi skizofrenia. Desain penelitian ini menggunakan rancangan crosssectional-online, dengan teknik pengambilan sampel purposive serta snowball. Sampel yang digunakan sebanyak 400 orang. Kuesioner yang digunakan adalah kuesioner Community Attitude Towards the Mental Illness (CAMI). Analisa data bivariat menggunakan chi-square melihat korelasi sosiodemografi dengan stigma. Secara statistik untuk tidak ada korelasi antara karakteristik masyarakat seperti umur, jenis kelamin dan status pekerjaan di buktikan dari nilai p> 0.05. Namun terdapat korelasi yang signifikan antara suku, agama dan pendidikan p< 0.05. Sehingga, hanya faktor suku, agama dan pendidikan yang memengaruhi stigma pada masyarakat pada penderita skizofrenia.Â
The Correlation Cardiorespiratory Cycling Sport With Physical Endurance wearing personal protective equipment level 3
Latar belakang: Penggunaan APD level 3 dapat mempengaruhi ketahanan fisik perawat yang terlibat dalam tindakan operasi pasien Covid-19. Peningkatan kesehatan dan ketahanan fisik dapat diupayakan salah satunya dengan melakukan olahraga kardiorespiratori. Tujuan: penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan olahraga kardiorespirasi bersepeda dengan ketahanan fisik perawat yang menggunakan APD level 3 yang melakukan tindakan operasi pasien Covid-19. Metode penelitian: Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasional dengan rancangan penelitian cross Sectional. Jumlah sampel 30 orang perawat yang terlibat pada operasi di kamar operasi Covid-19 RSUD DR. Moewardi pada periode bulan Juli – September 2021 yang memenuhi syarat sebagai subyek penelitian. Hasil: Hasil analisis dengan uji korelasi Spearman Rank didapatkan nilai koefisien korelasi, r=0.472 dan nilai signifikansi, p value= 0.008 < 0.01. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kedua variabel pada penelitian ini memiliki hubungan yang cukup dan memiliki hubungan yang positif/searah. Nilai signifikansi dapat diinterpretasikan bahwa kedua variable memiliki hubungan yang signifikan. Kesimpulan: berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara olahraga kardiorespirasi bersepeda dengan ketahanan fisik saat mengenakan APD level 3 pada perawat di kamar operasi Covid-19 RSUD DR. Moewardi Kata Kunci: APD Level 3, Covid-19, Olahraga Kardiorespiratori, Perawat
Background: The use of personal protective equipment level 3 can affect the physical endurance of nurses involved in the operation of Covid-19 patients. One of the ways to improve health and physical endurance is by doing cardiorespiratory exercise. Aim: This study aims to determine the relationship between cycling cardiorespiratory exercise and the physical endurance of nurses who use personal protective equipment level 3 who perform surgery on Covid-19 patients. Method: This type of research is descriptive correlational with a cross-sectional research design. The number of samples was 30 nurses who were involved in operations in the Covid-19 operating room at RSUD DR. Moewardi in the period July – September 2021 who met the requirements as research subjects. Results: The results of the analysis using the Spearman Rank correlation test obtained the correlation coefficient, r=0.472, and the significance value, p value= 0.008 < 0.01. These results indicate that the two variables in this study have a sufficient relationship and have a positive/unidirectional relationship. The significance value can be interpreted that the two variables having a significant relationship. Conclusion: Based on this, it can be concluded that there is a significant relationship between cycling cardiorespiratory exercise and physical endurance when wearing level 3 PPE for nurses in the Covid-19 operating room at RSUD DR. Moewardi Keywords: cardiorespiratory exercise, covid-19; personal protective equipment level 3, nursesLatar belakang: Penggunaan APD level 3 dapat mempengaruhi ketahanan fisik perawat yang terlibat dalam tindakan operasi pasien Covid-19. Peningkatan kesehatan dan ketahanan fisik dapat diupayakan salah satunya dengan melakukan olahraga kardiorespiratori. Tujuan: penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan olahraga kardiorespirasi bersepeda dengan ketahanan fisik perawat yang menggunakan APD level 3 yang melakukan tindakan operasi pasien Covid-19. Metode penelitian: Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasional dengan rancangan penelitian cross Sectional. Jumlah sampel 30 orang perawat yang terlibat pada operasi di kamar operasi Covid-19 RSUD DR. Moewardi pada periode bulan Juli – September 2021 yang memenuhi syarat sebagai subyek penelitian. Hasil: Hasil analisis dengan uji korelasi Spearman Rank didapatkan nilai koefisien korelasi, r=0.472 dan nilai signifikansi, p value= 0.008 < 0.01. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kedua variabel pada penelitian ini memiliki hubungan yang cukup dan memiliki hubungan yang positif/searah. Nilai signifikansi dapat diinterpretasikan bahwa kedua variable memiliki hubungan yang signifikan. Kesimpulan: berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara olahraga kardiorespirasi bersepeda dengan ketahanan fisik saat mengenakan APD level 3 pada perawat di kamar operasi Covid-19 RSUD DR. Moeward
THE RELATIONSHIP OF THE ROLE AND ACTION OF PARENTS IN PREVENTION OF ARI WITH THE EVENT OF ACUTE RESPIRATORY INFECTION ON TODDLER IN BABAKAN ASIH VILLAGE: the role and actions of parents with the incidence of ARI in the village of Babakan Asih
Infeksi Saluran Pernafasan Akut adalah proses inflamasi yang disebabkan oleh virus, bakteri, atipikal (mikroplasma), atau substansi asing, yang melibatkan bagian saluran pernafasan dan sering dialami olen balita. Prevalensi ISPA pada Balita menurut Riskesdas 2018 berdasarkan diagnosis gejala yang pernah dialami dijelaskan bahwa Kota Bandung termasuk dalam 10 terbesar dari 27 Kota/Kabupaten di Jawa Barat. Peran orang tua dalam pencegahan ISPA pada balita termasuk dalam peran orang tua dalam perawatan anak. Peran aktif orang tua dalam pencegahan ISPA sangat diperlukan karena yang terkena dampak ISPA adalah usia balita dan anak-anak yang rentan terkena infeksi. Tujuan penelitian menganalisis peran dan tindakan orangtua dengan kejadian ISPA. Desain penelitian ini kuantitatif dengan desain cross sectional. Populasi penelitian balita dengan penentuan sampel sebanyak 92 balita. Analisa data univariat penelitian menggunakan distribusi frekuensi dan median pada variabel peran , tindakan dan kejadian ISPA pada Balita sedangkan analisis bivariat menggunakan analisis chi square. Analisis bivariat didapatkan p value=0,000 artinya ada hubungan antara peran orangtua dalam pencegahan ISPA dengan Kejadian ISPA dan adanya hubungan antara tindakan pencegahan ISPA dengan kejadian ISPA. Diharapkan kader kesehatan sebagai perpanjangan tangan puskesmas untuk dilatih dalam deteksi tanda gejala ISPA dan melaporkan kejadian ISPA secara terintegrasi sebagai data dasar ke posyandu dan puskesmas.
Kata kunci: ISPA, orang tua, peran, tindakan
HUBUNGAN PERAN DAN TINDAKAN ORANGTUA DALAM PENCEGAHAN ISPA DENGAN KEJADIAN ISPA PADA BALITA DI KELURAHAN BABAKAN ASIH KOTA BANDUNG
Ria Angelina
Prodi Keperawatan Institut Kesehatan Immanuel Bandung
Corresponding author: [email protected]
Abstrak
Infeksi Saluran Pernafasan Akut adalah proses inflamasi yang disebabkan oleh virus, bakteri, atipikal (mikroplasma), atau substansi asing, yang melibatkan bagian saluran pernafasan dan sering dialami olen balita. Prevalensi ISPA pada Balita menurut Riskesdas 2018 berdasarkan diagnosis gejala yang pernah dialami dijelaskan bahwa Kota Bandung termasuk dalam 10 terbesar dari 27 Kota/Kabupaten di Jawa Barat. Peran orang tua dalam pencegahan ISPA pada balita termasuk dalam peran orang tua dalam perawatan anak. Peran aktif orang tua dalam pencegahan ISPA sangat diperlukan karena yang terkena dampak ISPA adalah usia balita dan anak-anak yang rentan terkena infeksi. Tujuan penelitian menganalisis peran dan tindakan orangtua dengan kejadian ISPA. Desain penelitian ini kuantitatif dengan desain cross sectional. Populasi penelitian balita dengan penentuan sampel sebanyak 92 balita. Analisa data univariat penelitian menggunakan distribusi frekuensi dan median pada variabel peran , tindakan dan kejadian ISPA pada Balita sedangkan analisis bivariat menggunakan analisis chi square. Analisis bivariat didapatkan p value=0,000 artinya ada hubungan antara peran orangtua dalam pencegahan ISPA dengan Kejadian ISPA dan adanya hubungan antara tindakan pencegahan ISPA dengan kejadian ISPA. Diharapkan kader kesehatan sebagai perpanjangan tangan puskesmas untuk dilatih dalam deteksi tanda gejala ISPA dan melaporkan kejadian ISPA secara terintegrasi sebagai data dasar ke posyandu dan puskesmas.
Kata Kunci : ISPA, Orangtua, peran, tindaka