Persatuan Perawat Nasional Indonesia: PPNI Jawa Tengah Journal
Not a member yet
    566 research outputs found

    Penggunaan Familiar Auditory Sensory Training (FAST) Terhadap Tingkat Kesadaran dan Skala Nyeri Pada Pasien Post Op Kraniotomi Dekompresi : Studi Kasus

    No full text
    AbstrakProsedur kraniektomi dekompresi merupakan salah satu penatalaksanaan cedera kepalauntuk menurunkan tekanan intrakranial. Tindakan ini dapat menimbulkan komplikasisalah satunya berdampak pada penurunan kesadaran dan nyeri. Pemberian intervensiFamilier auditory sensoric training (FAST) dapat dijadikan sebagai salah satu intervensiyang dapat meningkatkan kesadaran dan menurunkan skala nyeri pada pasien post opkraniektomi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efektivitas pemberian intervensiFAST untuk meningkatkan kesadaran dan menurunkan skala nyeri pada pasien post opkraniektomi dekompresi hari ke 4 di RSUD dr. Soebandi Jember. Metode yang digunakandalam penelitian ini adalah metode case report. Intervensi dilakukan selama enam haripada pasien post op kraniektomi dekompresi hari ke 4. Pengumpulan data tingkatkesadaran menggunakan nilai Glasgow Coma Scale (GCS) dan pengukuran skala nyerimenggunakan Behaviour Pain Scale (BPS). Hasil penelitian menunjukan terdapatperubahan pada tingkat kesadaran dari nilai awal GCS 3 (Coma) menjadi GCS 6 (Supor)dan penurunan skala nyeri dari nilai awal 6 (nyeri) menjadi 5 (tidak nyeri) pada pasienpost op craniotomy dekompresi hari ke 4. Pemberian intervensi FAST pada pasien postop craniotomy hari ke 4 yang dilakukan selama 6 hari dan durasi pemberian selama 10menit terbukti efektif unuk meningkatkan kesadaran dan menurunkan skala nyeri.Keywords: Familiar Auditory Sensory Training, Tingkat Kesadaran, Skala Nyeri AbstractDecompression craniectomy procedure is one of the management of head injuries todecrease intracranial pressure. This procedure can cause complications, one of which has animpact on decreased level of consciousness and pain. Familiar auditory sensory training(FAST) intervention can be used as one intervention that can improvement level ofJurnal Perawat Indonesia, Volume 9 No 1, Hal 1898-1904, Mei 2025e-ISSN 2548-7051Persatuan Perawat Nasional Indonesia Jawa Tengah p-ISSN 2714-65021899consciousness and reduce pain scale in post op craniotomy patients. The purpose of thisstudy was to determine the effectiveness of FAST intervention to improvement level ofconsciousness and reduce pain scale in day 4 post op craniotomy decompression patients atRSUD dr. Soebandi Jember. The method used in this study is case report. The interventionconducted for six days in patients post craniotomy decompression. Level of consciusness wasmeasured using Glasglow Coma Scale (GCS) and pain scale using Behaviour Pain Scale(BPS). The results showed improvement level of consciousness from GCS 3 (Coma) to GCS 6(Suppor) and a decrease in the pain scale from 6 (indicate an unacceptable amount of pain)to 5 (mild pain). Therefore FAST is proven and useful to improvement level of consciousnessand reduce pain post op craniotomy decompression.Keywords: Familiar auditory sensory Training, Level of consciousness, Pain ScaleProsedur kraniektomi dekompresi merupakan salah satu penatalaksanaan cedera kepala untuk menurunkan tekanan intrakranial. Tindakan ini dapat menimbulkan komplikasi salah satunya berdampak pada penurunan kesadaran dan nyeri. Pemberian intervensi Familier auditory sensoric training (FAST) dapat dijadikan sebagai salah satu intervensi yang dapat meningkatkan kesadaran dan menurunkan skala nyeri pada pasien post op kraniektomi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efektivitas pemberian intervensi FAST untuk meningkatkan kesadaran dan menurunkan skala nyeri pada pasien post op kraniektomi dekompresi hari ke  4 di RSUD dr. Soebandi Jember. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode case report. Intervensi dilakukan selama enam hari pada pasien post op kraniektomi dekompresi hari ke 4. Pengumpulan data tingkat kesadaran menggunakan nilai Glasgow Coma Scale (GCS) dan pengukuran skala nyeri menggunakan Behaviour Pain Scale (BPS). Hasil penelitian menunjukan terdapat perubahan pada tingkat kesadaran dari nilai awal GCS 3 (Coma) menjadi GCS 6 (Supor) dan penurunan skala nyeri dari nilai awal 6 (nyeri) menjadi 5 (tidak nyeri) pada pasien post op craniotomy dekompresi hari ke 4. Pemberian intervensi FAST pada pasien post op craniotomy hari ke 4 yang dilakukan selama 6 hari dan durasi pemberian selama 10 menit terbukti efektif unuk meningkatkan kesadaran dan menurunkan skala nyeri

    PENGARUH EDUKASI GIZI PADA ORANG TUA DALAM UPAYA PENCEGAHAN STUNTING: SYSTEMATIC REVIEW

    No full text
    Stunting is a health problem experienced by toddlers in the world today. The World Health Organization (WHO) states that Indonesia is the third country with the highest prevalence of stunting under five in Southeast Asia (29.6%). Stunting is one of the problems of malnutrition that may have a negative impact on child development. Stunting prevention efforts can be carried out through specific nutrition interventions and sensitive nutrition interventions. This effort can be done through nutrition education which is a part of health education and promotion activities, which are health planning efforts to change individual behavior in the health sector. The purpose of this systematic review is to comprehensively examine the effect of nutrition education on stunting prevention and the effective methods that can be used for educational programs. A comprehensive search strategy is carried out using 4 key databases, namely, Pubmed, ProQuest, EBSCO host and Science Direct from 2012-2021 as well as through the Google Scholar Search Engine. The articles used are primary resources using keywords, namely parents, nutrition education and health promotion, prevention of stunting in children, randomized trials and quasi-experiments. Data analysis was carried out with a narrative approach. Based on the search results, found 425 articles but only 9 articles that meet the criteria. The articles obtained prove that nutrition education has an effect on the nutritional status of children which can also be an effort to prevent stunting. Methods that can be used in conducting nutrition education are home visits, counseling, teaching, demonstrations, and discussions. Through these methods nurses can assist in maximizing the implementation of nursing care for stunting prevention through education as a preventive promotive effort.Stunting merupakan masalah kesehatan yang dialami oleh balita didunia saat ini. Word Health Organitation (WHO) menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara ketiga dengan prevalensi balita stunting tertinggi di region Asia Tenggara (29,6%). Stunting merupakan salah satu masalah gizi buruk yang berpotensi memberikan dampak buruk bagi tumbuh kembang anak. Upaya pencegahan stunting dapat dilakukan melalui intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitive. Upaya ini dapat dilakukan melalui edukasi gizi yang merupakan satu bagian dari kegiatan pendidikan kesehatan dan promosi kesehatan, yang merupakan suatu upaya terencana untuk mengubah perilaku individu dalam bidang kesehatan. Tujuan systematic review ini untuk melakukan tinjauan secara menyeluruh tentang pengaruh edukasi gizi terhadap pencegahan stunting serta metode yang efektif yang dapat digunakan untuk program edukasi. Strategi pencarian yang komprehensif dilakukan dengan menggunakan 4 database kunci yaitu, Pubmed, ProQuest, EBSCO host dan Science Direct dari tahun 2012-2021 serta melalui Search Engine Google Scholar. Artikel yang digunakan yaitu primary resources dengan menggunakan kata kunci yaitu orang tua, edukasi gizi dan promosi kesehatan, pencegahan stunting pada anak, uji coba acak terkontrol dan kuasi eksperimen. Analisis data dilakukan dengan pendekatan narrative. Berdasarkan hasil pencarian, ditemukan 425 artikel namun hanya 9 artikel yang memenuhi kriteria. Artikel yang didapatkan membuktikan bahwa edukasi gizi berpengaruh pada status gizi anak yang juga dapat menjadi suatu upaya pencegahan stunting. Metode yang dapat digunakan dalam melakukan edukasi gizi adalah dengan metode kunjungan rumah, konseling, mengajar, demonstrasi, dan diskusi. Melalui metode-metode ini perawat dapat membantu dalam memaksimalkan pelaksanaan asuhan keperawatan untuk penceghan stunting melalui edukasi sebagai upaya promotif preventif

    Pengaruh Nesting Terhadap Kualitas Tidur Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) Di Ruang Perinatologi RSUD Raja Ahmad Tabib Kepulauan Riau

    No full text
    Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) ialah masalah yang mesti memperoleh perhatian,sebab mempunyai risiko mortalitas serta morbiditas yang tinggi. Menyebabkan bayimembutuhkan ruangan perawatan khusus dan memberikan perawatan khususnesting. Nesting ialah intervensi yang penting buat optimalisasi fungsi sistem organpada Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR). Bersumber dari data di RSUD Raja AhmadTabib tahun 2021 diperoleh data angka BBLR sebanyak 86 kasus, sedangkan tahun2022 angka BBLR mengalami kenaikan menjadi 124 kasus. Tujuan dari penelitianini adalah mengetahui pengaruh nesting terhadap kualitas tidur Bayi Berat LahirRendah (BBLR) di ruang Perinatologi RSUD Raja Ahmad Tabib. Metode penelitiankuantitatif dengan desain Pre Experiment dengan rancangan One Group Pre test Posttest tanpa kontrol yang melibatkan satu kelompok subjek. Jumlah sampel sejumlah15 bayi dengan berat badan bayi 1500-2500 gram. Orang tua bayi bersedia anaknyamenjadi responden penelitian. Tidak ada cacat bawaan yang besar atau kelainanneurologis termasuk perdarahan intraventrikular. Tidak diobati dengan obatpenenang 24 jam sebelum intervensi. Alat ukur penelitian menggunakan checklist.Analisa data yang dipakai ialah uji wilcoxon. Hasil penelitian didapatkan adanyapengaruh yang signifikan dari penggunaan nesting terhadap kualitas tidur bayi BeratBadan Lahir Rendah (BBLR) sebelum intervensi (tanpa nesting) dan sesudahdilakukan intervensi (dengan nesting) p value 0,000. Kesimpulan dari penelitianadalah pemberian nesting berpengaruh terhadap kualitas tidur Bayi Berat LahirRendah (BBLR). Perawat bisa mengembangkan hasil penelitian ini denganmemberikan intervensi pada Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) untuk meningkatkankualitas tidur bayi, serta meminimalisir pengaruh lingkungan perawatan intensif..Kata kunci: BBLR, Nesting, kualitas tidurLatar Belakang: Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) ialah masalah yang mesti memperoleh perhatian, sebab mempunyai risiko mortalitas serta morbiditas yang tinggi. Menyebabkan bayi membutuhkan ruangan perawatan khusus dan memberikan perawatan khusus nesting. Nesting ialah intervensi yang penting buat optimalisasi fungsi sistem organ pada Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR). Bersumber dari data di RSUD Raja Ahmad Tabib tahun 2021 diperoleh data angka BBLR sebanyak 86 kasus, sedangkan tahun 2022 angka BBLR mengalami kenaikan menjadi 124 kasus. Tujuan penelitian: Untuk mengetahui pengaruh nesting terhadap kualitas tidur Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) di ruang Perinatologi RSUD Raja Ahmad Tabib Kepulauan Riau. Metode penelitian: Desain penelitian yang dipakai ialah penelitian kuantitatif dengan desain Pre Experiment dengan rancangan One Group Pre test Post test  tanpa kontrol yang melibatkan satu kelompok subjek. Jumlah sampel sejumlah 15 bayi. Alat ukur penelitian menggunakan checklist. Analisa data yang dipakai ialah uji wilcoxon. Hasil: Ada pengaruh yang signifikan dari penggunaan nesting terhadap kualitas tidur bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) sebelum intervensi (tanpa nesting) dan sesudah dilakukan intervensi (dengan nesting) p value 0,000. Kesimpulan: Pemberian nesting berpengaruh terhadap kualitas tidur Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR). Saran: Perawat bisa mengembangkan hasil penelitian ini dengan memberikan intervensi pada Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) buat meningkatkan kualitas tidur bayi, serta meminimalisir pengaruh lingkungan perawatan intensif

    HUBUNGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DAN FASILITAS AIR BERSIH TERHADAP KEJADIAN STUNTING

    No full text
    Kejadian stunting dapat pengaruhi oleh berbagai faktor risiko terutama nutrisi yang didapat setelahdilahirkan, seperti pemberian ASI ekslusif yang masih jauh dari target. Kualitas nutrisi juga perludiperhatikan terutama penggunaan air bersih guna mencegah penyakit pencernaan yang dapatmenyebabkan anak sakit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pemberianASI eksklusif dan fasilitas air bersih terhadap kejadian stunting pada balita di wilayah kerjaPuskesmas Pangkoh. Metode pada penelitian ini menggunakan metode survey analitik denganpendekatan cross sectional. Tehnik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling sebanyak86 responden. Analisis data menggunakan Chi Square. Hasil penelitian ini didapatkan ASI Ekslusifsebanyak (55,8 %) dan sebagian besar fasilitas air bersih dalam kategori cukup (54,6%). AnalisisBivariat menunjukan ada hubungan signifikan antara ASI eksklusif dengan kejadian stunting(Likelihood Ratio adalah sebesar 0,000, Asymp. Sig (2-sided) < 0,05) dan tidak ada hubungansignifikan antara fasilitas air bersih dengan kejadian stunting (Likelihood Ratio adalah sebesar 0,802,Asymp. Sig (2-sided) > 0,05).Kata kunci: ASI ekslusif, fasilitas air bersih, stunting The incidence of stunting can be influenced by various risk factors, especially nutrition obtainedafter birth, such as exclusive breastfeeding which is still far from the target. The quality ofnutrition also needs to be considered, especially the use of clean water, to prevent digestivediseases which can cause children to get sick. The aim of this research is to determine therelationship between exclusive breastfeeding and clean water facilities on the incidence ofstunting among toddlers in the Pangkoh Community Health Center working area. The method inthis research uses an analytical survey method with a cross sectional approach. The samplingtechnique used purposive sampling for 86 respondents. Data analysis using Chi Square. The resultsof this research showed that there was exclusive breastfeeding (55.8%) and most of the cleanwater facilities were in the sufficient category (54.6%). Bivariate analysis shows that there is asignificant relationship between exclusive breastfeeding and the incidence of stunting (LikelihoodRatio adalah sebesar 0,000, Asymp. Sig (2-sided) < 0,05 and there is no significant relationshipbetween clean water facilities and the incidence of stunting (Likelihood Ratio adalah sebesar0,802, Asymp. Sig (2-sided) > 0,05). Keywords: clean water facilities, exclusive breast feeding, stuntingKejadian stunting dapat pengaruhi oleh berbagai faktor risiko terutama nutrisi yang didapat setelah dilahirkan, seperti pemberian ASI ekslusif yang masih jauh dari target. Kualitas  nutrisi juga perlu diperhatikan terutama penggunaan air bersih, guna mencegah penyakit pencernaan yang dapat menyebabkan anak sakit. Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara pemberian ASI eksklusif dan fasilitas air bersih terhadap kejadian stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Pangkoh. Metode pada penelitian ini menggunakan metode survey analitik dengan pendekatan cross sectional. Tehnik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling sebanyak 86 responden. Analisis data menggunakan Chi Square. Hasil penelitian ini menunjukan ada hubungan signifikan antara ASI eksklusif dengan kejadian stunting (0,000<0,05) dan tidak ada hubungan signifikan antara fasilitas air bersih dengan kejadian stunting (0,802>0,05). &nbsp

    HUBUNGAN KESEHATAN MENTAL DENGAN POLA ASUH PADA ORANG TUA DENGAN ANAK STUNTING

    No full text
    Latar Belakang: Balita usia 12-59 bulan, bayi usia 0-11 bulan, dan bayi baru lahir usia 0-28 hari merupakan bagian dari Masa Balita, yaitu masa setelah lahir sampai sebelum berusia 59 bulan. Kesehatan bayi dan balita sangat penting untuk diperhatikan karena pada masa ini perkembangan fisik dan mentalnya terjadi sangat cepat. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan kesehatan mental dengan pola asuh pada orang tua yang memiliki anak stunting. Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah metode analitik korelasi dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah orang tua yang memiliki anak stunting yang berjumlah 28 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling, sehingga jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 28 orang. Hasil: Berdasarkan hasil uji statistik chi-square diperoleh nilai p-Value sebesar 0,009 yang berarti p<0,05 maka H0 ditolak. Kesimpulan: Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan kesehatan mental dengan pola asuh pada orang tua yang memiliki anak stunting. Diterima. Saran: Masyarakat berperan penting dalam mendukung orang tua dalam menjaga kesehatan mental dan pola pengasuhan yang baik. Masyarakat dapat menciptakan lingkungan yang mendukung orang tua dengan terhambatnya pertumbuhan anak melalui kelompok dukungan sosial, seperti kelompok ibu, yang dapat berbagi pengalaman dan memberikan dukungan emosional. Kata kunci: kesehatan mental, pola asuh, stuntingLatar Belakang: Anak balita usia 12 - 59 bulan, bayi usia 0 - 11 bulan, dan bayi baru lahir usia 0 - 28 hari merupakan bagian dari Masa Bayi Balita, yaitu periode setelah lahir hingga sebelum usia 59 bulan. Sangat penting untuk memperhatikan kesehatan bayi dan balita karena perkembangan fisik dan mental mereka terjadi dengan sangat cepat saat ini. Tujuan: Untuk mengetahui gambaran hubungan Kesehatan mental dengan pola asuh pada orang tua dengan anak stunting. Metode: Metode penelitian yang digunakan yaitu metode analitik kolerasi dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah orang tua yang memiliki anak stunting sebanyak 28 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling maka jumlah sampel pada penelitian ini adalah 28 orang. Hasil: Berdasarkan hasil uji statistik chi-square nilai p-Value yang diperoleh adalah 0,009 yang berarti p<0,05 maka H0 ditolak. Kesimpulan: dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara kesehatan mental dengan pola asuh pada orang tua yang memiliki anak stunting.diterima. Saran: Masyarakat memiliki peran penting dalam mendukung orang tua dalam menjaga kesehatan mental dan pola asuh yang baik. Masyarakat dapat menciptakan lingkungan yang mendukung orang tua dengan anak stunting melalui kelompok-kelompok dukungan sosial, seperti kelompok ibu-ibu, yang dapat berbagi pengalaman dan memberikan dukungan emosional. Kata Kunci: kesehatan mental, pola asuh pada orang tua, stuntin

    Pengaruh Edukasi Gizi Terhadap Efikasi Diri Ibu Dalam Pemberian Makan Anak Balita

    No full text
    Abstract The nutritional intake in children is often not met due to several factors, one of which is the lack of self-efficacy of mothers in feeding their children. The results of a documentary study from the nutritional status report of the RW 4 Bulusan posyandu showed that 7.3% of children suffered from malnutrition. Parents stated that they did not have sufficient self-efficacy in providing the right food for their children, as in the practice of feeding, mothers tend to only prepare food that their children like. The purpose of this study was to determine the effect of nutrition education on the self-efficacy of mothers in feeding their children in RW 4 Bulusan, working area of Bulusan Health Center. The research method used was a quantitative method with a quasi-experimental research design (one group pre-test and post-test without control). The sample consisted of 32 respondents, taken by purposive sampling with inclusion and exclusion criteria. Data collection used a questionnaire on the self-efficacy of mothers in feeding. Data analysis was performed using a paired sample t-test. The results of the study showed that there was an effect of nutrition education on the self-efficacy of mothers in feeding their children, with a p-value <α (p-value = 0.000, α = 0.05). In conclusion, nutrition education is recommended to increase the self-efficacy of mothers in feeding their children. &nbsp

    Gambaran Tingkat Kecemasan Keluarga Pasien Saat Menunggu Anak Yang Dirawat Di Ruang PICU RSUP DR Kariadi Tahun 2022

    No full text
    ediatric Intensive Care Unit (PICU) merupakan ruang perawatan untuk anak dengan kondisikritis. Keluarga atau orang tua pasien merupakan bagian yang tidak terpisahkan dariperawatan pasien anak. Orangtua pasien juga dihadapkan pada berbagai masalah ketika harusmendampingi anaknya selama dirawat. Masalah tersebut akan menimbulkan dampakpsikologis orang tua yaitu rasa cemas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambarankarakteristik dan tingkat kecemasan keluarga saat menunggu anak yang dirawat di ruang PICU.Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif kuantitatif dengan jumlah responden40. Instrument yang digunakan adalah kuesioner tentang tingkatan kecemasan HamiltonAnxiety Rating Scale (HARS). Penelitian mendapatkan data yang menunjukkan bahwa 97,5%keluarga pasien mengalami kecemasan dengan tingkat kecemasan yang berbeda : 2,5%mengalami cemas ringan, 7,5% mengalami cemas sedang, 17,5% cemas berat dan 72,5% cemasberat sekali. Mayoritas keluarga pasien berada dalam kategori cemas berat sekali. Tenagakesehatan yang bertugas perlu melakukan melakukan intervensi khusus untuk menurunkantingkat kecemasan keluarga. Pendekatan pelayanan berpusat pada keluarga mungkin bisadiambil sebagai salah satu solusi menurunkan tingkat kecemasan.Kata kunci: tingkat kecemasan, keluarga, penunggu, PICU Pediatric Intensive Care Unit (PICU) is an intensive ward for children with critical conditions.The patient\u27s family or parents are an integral part of child patient care. Parents of patients arealso faced with various problems when they have to accompany their children duringtreatment. This problem will have a psychological impact on parents, namely anxiety. Thisstudy aims to describe the characteristics and levels of family anxiety while waiting for childrento be treated in the PICU room. This study used a quantitative descriptive research design with40 respondents. The instrument used was a questionnaire about anxiety levels on the HamiltonAnxiety Rating Scale (HARS). The study obtained data showing that 97.5% of the patient\u27sfamily experienced anxiety with different levels of anxiety: 2.5% experienced mild anxiety,7.5% experienced moderate anxiety, 17.5% severe anxiety and 72.5% very severe anxiety . Themajority of the patient\u27s family is in the very severe anxiety category. Health workers on dutyneed to carry out special interventions to reduce the level of family anxiety. A family-centeredcare approach might be taken as a solution to reduce anxiety levels.Keyword: anxiety level, family, attendance, PICUAbstrak Pediatric Intensive Care Unit (PICU) merupakan ruang perawatan untuk anak dengan kondisi kritis. Keluarga atau orang tua pasien merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perawatan pasien anak. Orangtua pasien juga dihadapkan pada berbagai masalah ketika harus mendampingi anaknya selama dirawat. Masalah tersebut akan menimbulkan dampak psikologis orang tua yaitu rasa cemas. Penelitian ini bertujuan ntuk mengetahui gambaran karakteristik dan tingkat kecemasan keluarga saat menunggu anak yang dirawat di ruang PICU. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif kuantitatif dengan jumlah responden 40. Instrument yang digunakan adalah kuesioner tentang tingkatan kecemasan Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 97,5% keluarga pasien mengalami kecemasan dengan tingkat kecemasan yang berbeda : 2,5% mengalami cemas ringan, 7,5% mengalami cemas sedang, 17,5% cemas berat dan 72,5% cemas berat sekali

    PAK GANJAR (PAKET KOMPRES ICE GELL AROMATERAPI DAN JAM MUSIK RELAKSASI) MENGURANGI CEMAS DAN NYERI PADA ANAK USIA PRASEKOLAH SELAMA PEMASANGAN INFUS

    No full text
    The purpose of this study was to analyze the effectiveness of Pak Ganjar application in reducing the intensity of pain and anxiety in pre-school-aged children when infusions were placed at Harapan Anda Hospital in Tegal City. This research is a quantitative study with a post-test with control group design. The sample of this study were 66 children who were given an infusion at the Harapan Anda Hospital in Tegal City. Measurement of pain using the Face, Leg, Activity, Cry and Consolability (FLACC) method and measuring anxiety using The Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) Data analysis used univariate analysis and bivariate analysis with an approach using the Wilcoxon test. The results of the study proved that statistically the Asymp sig value was 0.000 <0.05, which means that there was a difference between the control and intervention groups. This means that there is a significant effect of Pak Ganjar intervention on reducing the intensity of pain and anxiety during infusion at RSU Islam Harapan Anda, Tegal City.  Tujuan penelitian ini untuk menganalisis efektivitas penerapan Pak Ganjar dalam menurunkan intensitas nyeri dan Cemas pada anak usia pra sekolah ketika pemasangan infus di RSU Islam Harapan Anda Kota Tegal. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan post test with control group design.  Sampel penelitian ini sebanyak 66 anak yang dilakukan pemasangan infus di RSU Islam Harapan Anda Kota Tegal. Pengukuran nyeri menggunakan metode Face, Leg, Activity, Cry and Consolability (FLACC)  dan Pengukuran cemas menggunakan The Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) Analisis data menggunakan analisis univariat dan analisis bivariat dengan pendekatan menggunakan uji Wilcoxon. Hasil penelitian membuktikan bahwa secara statistik nilai Asymp sig adalah 0,000 < 0,05 yang berarti terdapat perbedaan antara kelompok kontrol dan intervensi. Artinya ada pengaruh yang signifikan intervensi Pak Ganjar terhadap penurunan intensitas nyeri dan cemas pada saat pemasangan infus di RSU Islam Harapan Anda Kota Tegal

    Pengaruh Pendidikan Kesehatan Dengan Media Short Education Movie (SEM) Terhadap Perubahan Pengetahuan Mengenai Perawatan Gigi Pada Anak Kelas 4-6 Di SDN II Waleng

    No full text
    Pengetahuan tentang perawatan gigi harus diberikan pada anak sejak usia dini. Pendidikankesehatan tentang perawatan gigi dilakukan dengan menggunakan berbagai media, namunmedia Short Education Movie (SEM) masih belum diterapkan. Tujuan dari penelitian ini adalahuntuk mengamati pengaruh pendidikan kesehatan dengan SEM terhadap perubahanpengetahuan tentang perawatan gigi pada anak sekolah dasar. Penelitian ini menggunakandesain Quasi Eksperiment dengan pre and post test without control group. Teknik pengambilansampel menggunakan total sampling dengan jumlah sampel 32 responden. Pengumpulan datamenggunakan kuesioner tingkat pengetahuan tentang perawatan gigi. Analisis data penelitianmenggunakan Uji Wilcoxon Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perubahanpengetahuan sesudah dilakukan pendidikan kesehatan dengan media Short Education Movie(SEM) mengenai perawatan gigi pada anak sekolah dasar kelas 4-6 dengan p-value 0,000 < 0,05.Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh pendidikan kesehatan dengan mediaShort Education Movie (SEM) terhadap perubahan pengetahuan mengenai perawatan gigi padaanak kelas 4-6 di SDN II Waleng.Kata kunci : Anak Usia Sekolah, Pendidikan Kesehatan, Pengetahuan, Perawatan Gigi, ShortEducation Movie   Knowledge about dental care must be given to children from an early age. Health education aboutdental care is carried out using various media, but the Short Education Movie (SEM) media is stillnot implemented. The aim of this study was to observe the effect of health education with SEM onchanges in knowledge about dental care in school age children. The study adopted a Quasi-Experimental design with pre and post-tests without a control group. The sampling techniqueused total sampling with 32 respondents. The collecting data utilized a questionnaire on the levelof knowledge about dental care. Analysis of research data applied the Wilcoxon Test. The resultsrevealed differences in post-health education knowledge using Short Education Movie (SEM)media regarding dental care in elementary school children in classes 4-6 with a p-value of 0.000< 0.05. There was an effect of health education using Short Education Movie (SEM) media on theknowledge changes about dental care in students’ classes 4-6 at SDN II Waleng.Keywords: Dental Care, Health Education, Knowledge, School age children, Short EducationMoviePerawatan gigi merupakan suatu cara untuk menjaga kesehatan gigi agar gigi tetap sehat, tumbuh dengan baik, dan dapat menjalankan fungsinya. Short Education Movie (SEM) dapat merubah atau meningkatkan pengetahuan anak sekolah dasar kelas 4-6. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengamati pengaruh pendidikan kesehatan dengan media Short Education Movie (SEM) terhadap perubahan pengetahuan mengenai perawatan gigi pada anak sekolah dasar kelas 4-6. Penelitian ini menggunakan desain Quasi Eksperiment dengan pre and post test without control group. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah sampel 32 responden. Pengumpulan data menggunakan kuesioner tingkat pengetahuan tentang perawatan gigi. Analisis data penelitian menggunakan Uji Wilcoxon Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perubahan pengetahuan sesudah dilakukan pendidikan kesehatan dengan media Short Education Movie (SEM) mengenai perawatan gigi pada anak sekolah dasar kelas 4-6 dengan p-value 0,000 < 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh pendidikan kesehatan dengan media Short Education Movie (SEM) terhadap perubahan pengetahuan mengenai perawatan gigi pada anak kelas 4-6 di SDN II Waleng

    PENGARUH PIJAT TUINA TERHADAP NAFSU MAKAN DAN BERAT BADAN BALITA

    No full text
    Pertumbuhan dan perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh asupan nutrisi yang cukupdan seimbang. Kurangnya nafsu makan pada anak yang dipengaruhi oleh faktor psikologis,kebiasaan makan, dan lingkungan dapat menyebabkan penurunan berat badan sertaberdampak pada status gizi dan perkembangan mereka secara keseluruhan. Upaya untukmengatasi kesulitan makan pada balita dapat dilakukan dengan cara non farmakologimelalui pijat tuina. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pijat Tuinaterhadap nafsu makan dan berat anak. Jenis penelitian yang digunakan adalah preeksperimen one group design dengan pre-test dan post-test. Sampel penelitian ini terdiri dari30 responden dengan menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakanberupa kuesioner untuk menilai variabel nafsu makan dan timbangan berat badan. PijatTuina dilakukan selama 6 hari selama 10-15 menit. Hasil didapatkan rata-rata sebelumintervensi nafsu makan dalam kategori cukup, dan setelah intervensi rata-rata nafsu makandalam kategori baik. Pada variabel berat badan didapatkan rata-rata sebelum intervensiyaitu 17,79 kg, sedangkan setelah intervensi didapatkan 18,01 Kg. Analisis data yangdigunakan uji Wilcoxon untuk variabel nafsu makan didapat p-value 0,003 yang artinya adapengaruh pijat Tuina terhadap peningkatan nafsu makan anak. Variabel berat badan ujidigunakan adalah uji Paired sample t- test didapatkan nilai p-value 0,000 sehingga dapat disimpulkan ada pengaruh pijat Tuina terhadap peningkatan berat badan anak.Kata kunci: anak, berat badan, nafsu makan, pijat tuina Children\u27s growth and development are significantly influenced by adequate and balancednutritional intake. A lack of appetite in children, driven by psychological factors, eating habits,and environmental influences, can lead to weight loss and negatively affect their nutritionalstatus and overall development. Non-pharmacological efforts to address eating difficulties intoddlers can include tuina massage. This study aimed to determine the effect of tuina massageon children\u27s appetite and weight. The research employed a pre-experimental one-groupdesign with pre-test and post-test assessments. The sample consisted of 30 respondentsselected through purposive sampling. A questionnaire was used to evaluate the variables ofappetite and body weight. Tuina massage was administered for 6 days, lasting 10-15 minuteseach session. Results indicated that the average appetite before the intervention fell within thesufficient category, while after the intervention, it improved to the good category. Regardingweight, the average before the intervention was 17.79 kg, and after the intervention, itincreased to 18.01 kg. Data analysis utilized the Wilcoxon test for the appetite variable,yielding a p-value of 0.003, indicating a significant effect of tuina massage on enhancingchildren\u27s appetite. The weight variable was analyzed using the paired sample t-test, whichproduced a p-value of 0.000, confirming that tuina massage significantly affects increasingchildren\u27s weight.Key word: child, weight, appetite, tuina massagePertumbuhan dan perkembangan anak merupakan masalah yang sangat penting dan perlu mendapatkan perhatian yang serius. Pertumbuhan dapat dilihat dari berat badan dan lingkar kepala, sedangkan perkembangan dapat dilihat dari kemampuan motorik, sosial, emosional, kemampuan berbahasa, serta kemampuan kognitif. Pertumbuhan dan perkembangan anak dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya dipengaruhi oleh status gizi. Upaya untuk mengatasi kesulitan makan pada balita dapat dilakukan dengan cara non farmakologi melalui pijat tuina.  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pijat Tuina terhadap nafsu makan dan berat anak. Jenis penelitian yang digunakan adalah pre eksperimen one group design dengan  pre-test dan post-test. Sampel  penelitian ini terdiri dari 30 responden dengan menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data yang digunakan uji Wilcoxon untuk variabel nafsu makan didapat p-value 0,003 yang artinya ada pengaruh pijat Tuina terhadap peningkatan nafsu makan anak. Sedangkan untuk variabel berat badan uji digunakan adalah uji Paired sample t- test didapatkan nilai p-value 0,000 sehingga dapat di simpulkan ada pengaruh pijat Tuina terhadap peningkatan berat badan ana

    0

    full texts

    566

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Persatuan Perawat Nasional Indonesia: PPNI Jawa Tengah Journal
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇