E-Jurnal UIN (Universitas Islam Negeri) Alauddin Makassar
Not a member yet
19582 research outputs found
Sort by
RELASI KONFLIK RUANG DAN PERILAKU PENGGUNA PADA KAFETARIA KAMPUS BERBASIS ARSITEKTUR PERILAKU
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konflik ruang (spatial conflict) dan perilaku adaptasi pengguna yang timbul akibat desain fasilitas toilet campur dan ketidakjelasan zonasi area merokok di Kafetaria samping Perpustakaan UIN Alauddin Makassar. Fasilitas publik di lingkungan pendidikan tinggi Islam seharusnya mencerminkan nilai kesehatan, privasi, dan norma kesopanan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Arsitektur Perilaku (Behavioral Architecture). Teknik pengumpulan data meliputi observasi pemetaan perilaku, observasi jejak fisik, dan wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan dua masalah utama: (1) Desain toilet campur tanpa vestibule menyebabkan tumpang tindih sirkulasi antar gender yang menurunkan rasa aman pengguna perempuan, dan (2) Ketiadaan zonasi tegas menyebabkan asap rokok menyebar ke seluruh area makan, memicu invasi teritorial. Solusi yang diusulkan adalah redesain fasilitas dengan pemisahan fisik area wastafel, penyediaan visual screening, dan pembuatan area merokok terisolasi untuk meningkatkan kenyamanan dan kesehatan lingkungan kampus.
Kata Kunci : Arsitektur Perilaku, Adaptasi Pengguna,Konflik Ruang,Toilet Campur, Zonasi Meroko
Smiles, Systems, and Support: How Technology and Workplace Climate Shape Frontline Employee Growth
Frontline employees stand where technology meets human service. This study contributes to HRM scholarship by integrating Job Demands–Resources and Social Exchange theories to explain how technological support and a supportive working environment jointly uphold employee growth in service organizations. Using survey data from 329 Indonesian retail workers and partial-least-square structural-equation-modeling, results reveal that technology enhances growth both directly and through a supportive climate that nurtures trust and engagement. The findings extend socio-technical and JD–R perspectives by illustrating how digital tools become developmental resources only when embedded in caring organizational climates. Managers should treat technology not as automation but as a partner in human capability building through empathy, training, and supportive design.
Model Tradisional Pengelolaan Zakat Pada Masyarakat Pedesaan di Kabupaten Mandailing Natal: Studi Kualitatif atas Kesadaran Sosial dan Efektivitas Distribusi
This study aims to conduct an in-depth analysis of the practices of zakat management and distribution among rural communities in Mandailing Natal, as a representation of traditional zakat patterns in rural areas. The research employs a descriptive qualitative method with a field study approach, utilizing in-depth interviews and direct observation. The findings reveal that although the level of public awareness in fulfilling zakat obligations is relatively high, the understanding of sharia principles such as nishab (minimum threshold), haul (zakat maturity period), and zakat rates remains low. As a result, zakat is often given in ways that do not align with fiqh (Islamic jurisprudence). Zakat management is carried out conventionally without the involvement of formal institutions, and its distribution tends to be consumptive, without addressing the economic empowerment of the mustahiq (eligible zakat recipients). This study recommends strengthening zakat institutions at the village level, enhancing literacy in zakat fiqh, and implementing productive zakat distribution models to optimize the social function of zakat.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam praktik pengelolaan dan pendistribusian zakat pada masyarakat pedesaan Mandailing Natal, sebagai representasi dari pola zakat tradisional di wilayah pedesaan.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi lapangan, melalui wawancara mendalam dan observasi langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun tingkat kesadaran masyarakat dalam menunaikan zakat cukup tinggi, pemahaman terhadap ketentuan syariat seperti nishab, haul, dan kadar zakat masih rendah, sehingga zakat yang dikeluarkan sering tidak sesuai dengan ketentuan fiqh. Pengelolaan zakat dilakukan secara konvensional tanpa melibatkan lembaga resmi, dan distribusinya bersifat konsumtif serta belum menyentuh aspek pemberdayaan mustahiq secara ekonomi. Penelitian ini merekomendasikan perlunya penguatan kelembagaan zakat di tingkat desa, peningkatan literasi fiqh zakat, dan penerapan model distribusi zakat yang produktif agar fungsi sosial zakat dapat dioptimalkan
Unifikasi Bacaan Al-Qur'an
Tulisan ini membahas unifikasi bacaan al-Qur’an dari masa Nabi Muhammad SAW hingga pada masa Khalifah Utsman bin Affan dan sesudahnya. Fokus utama terletak pada bagaimana unifikasi bacaan dilakukan demi menjaga keautentikan dan keseragaman bacaan di tengah keragaman dialek Arab. Penulis mengkaji proses penyusunan mushaf Utsmani, respon terhadap qira’at non-kanonik, serta pengaruh ijma’ ulama dalam menetapkan bacaan mutawatir. Penelitian ini mengungkap bahwa proses unifikasi membawa manfaat sekaligus tantangan, yakni antara menjaga kemurnian wahyu dan menyikapi ragam tradisi bacaan yang sah. Dengan menelaah karya Taufik Adnan Amal, artikel ini mengkritisi kecenderungan taqlid dan menekankan pentingnya pendekatan moderat dalam menyikapi perbedaan qira’at.Tulisan ini membahas unifikasi bacaan al-Qur’an dari masa Nabi Muhammad SAW hingga pada masa Khalifah Utsman bin Affan dan sesudahnya. Fokus utama terletak pada bagaimana unifikasi bacaan dilakukan demi menjaga keautentikan dan keseragaman bacaan di tengah keragaman dialek Arab. Penulis mengkaji proses penyusunan mushaf Utsmani, respon terhadap qira’at non-kanonik, serta pengaruh ijma’ ulama dalam menetapkan bacaan mutawatir. Penelitian ini mengungkap bahwa proses unifikasi membawa manfaat sekaligus tantangan, yakni antara menjaga kemurnian wahyu dan menyikapi ragam tradisi bacaan yang sah. Dengan menelaah karya Taufik Adnan Amal, artikel ini mengkritisi kecenderungan taqlid dan menekankan pentingnya pendekatan moderat dalam menyikapi perbedaan qira’at
DIALEKTIKA EKSENTRIK GIBRAN DALAM DEBAT PILPRES 2024 (SEBUAH PENDEKATAN HERMENEUTIKA JACQUES DERRIDA)
This research examines Gibran's style of using gimmicks, unusual technical terms, and provocative gestures, which can be interpreted as a practice of deconstruction. He systematically undermines traditional binary oppositions such as "substance vs. gimmicks" and "ethical vs. unethical" through questions like "greenflation" and on-stage gestures. This creates tensions of meaning. Furthermore, this communication style has a significant impact on public perception, triggering strong polarization. Gibran successfully cultivated an image as a confident representative of "youth," but he also drew criticism for being condescending to opponents and lacking substance. This divided public perception demonstrates that deconstruction has shifted the focus from the substance of the debate to style and performance.
The research used was qualitative, employing Jacques Derrida's deconstruction approach. This approach is descriptive and emphasizes the analysis of processes and the meanings behind them. The theory used serves as a guide to ensure the research remains relevant to the realities on the ground. Data were collected from video and article analysis of the 2024 Presidential Election debates, as well as from literature discussing Jacques Derrida's hermeneutic theory of deconstruction and previous research on political communication.
The implications of this research can be concluded that Gibran's eccentric communication style has had a broader impact on political dynamics in Indonesia. His style challenges long-established structures of authority and hierarchy among the political elite, opening up space for unconventional forms of communication. This phenomenon signals a shift in how politicians compete and interact with the public, where unique "political branding" has become as important as track record. However, this also raises important questions about the health of democracy: whether a political style that prioritizes gimmicks and performance will erode the substance of debate and ultimately undermine ethical political values.
Penelitian ini membahas tentang gaya Gibran yang menggunakan gimik, istilah teknis tidak biasa, dan gestur provokatif dapat ditafsirkan sebagai praktik dekonstruksi. Ia secara sistematis meruntuhkan oposisi biner tradisional seperti "substansi vs. gimik" dan "etis vs. tidak etis" melalui pertanyaan seperti "greenflation" dan gestur di panggung. Hal ini menciptakan ketegangan makna. Selain itu, gaya komunikasi ini memiliki dampak signifikan pada persepsi publik, memicu polarisasi yang kuat. Gibran berhasil membentuk citra sebagai representasi "anak muda" yang percaya diri, tetapi ia juga menuai kritik karena dianggap merendahkan lawan dan kurang substansi. Persepsi publik yang terpecah ini membuktikan bahwa dekonstruksi telah menggeser fokus dari substansi debat ke gaya dan performa.
Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan dekonstruksi Jacques Derrida. Pendekatan ini bersifat deskriptif dan menitikberatkan pada analisis proses serta makna di baliknya. Teori yang dipakai berfungsi sebagai panduan agar penelitian tetap relevan dengan realitas di lapangan. Data dikumpulkan dari analisis video dan artikel tentang debat Pilpres 2024, serta dari literatur yang membahas teori hermeneutika dekonstruksi Jacques Derrida dan riset sebelumnya terkait komunikasi politik.
Implikasi dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa gaya komunikasi Gibran yang eksentrik membawa dampak yang lebih luas pada dinamika politik di Indonesia. Gayanya menantang struktur otoritas dan hierarki yang sudah lama ada di kalangan elite politik, membuka ruang bagi bentuk komunikasi yang tidak lazim. Fenomena ini menandakan adanya pergeseran dalam cara politisi bersaing dan berinteraksi dengan publik, di mana "political branding" yang unik menjadi sama pentingnya dengan rekam jejak. Namun, hal ini juga memicu pertanyaan penting tentang kesehatan demokrasi, yaitu apakah gaya politik yang mengutamakan gimik dan performa akan mengikis substansi debat dan pada akhirnya merusak nilai-nilai etika berpolitik
Investigating ward nurses’ perceptions of hospital pharmacy service quality: The case of a South African Private Hospital Group
In recent years, organisations have increasingly focused their attention on internal service quality, which has a significant effect on customer satisfaction, which in turn impacts the performance of the organisation and ultimately profitability. However, there is limited research locally and/or internationally that has investigated the internal service quality provided to nursing staff by the hospital’s pharmacy. This study investigated ward nurses’ perceptions of service quality provided by the hospital pharmacy of a hospital group in South Africa. The quantitative survey drew on the work of Hollis, who identified eleven dimensions of internal service quality in a health context. Data was collected via a questionnaire comprising 47 question items, on a 5-point Likert scale, distributed to over 700 registered ward nurses to seven acute hospitals in the province of KwaZulu-Natal in South Africa. Factor analysis identified six latent factors that influenced the ward nurses’ perception of the hospital pharmacy’s service quality. The factors identified (with Cronbach Alpha values provided) were courtesy (0.937), caring (0.936), reliability (0.930), equity (0.867), competence (0.866), and communication (0.771). The findings suggest that a more compact version of the dimensions of Hollis seems relevant in the private hospital setting, with the principles of Ubuntu contributing to better service quality. The findings of this study could help improve the current level of the internal service quality that hospital pharmacies provide to ward staff by focusing on the dimensions identified and drawing on Ubuntu principles. It can also provide management with focus areas for improving internal service quality
Epidemiological insights into HIV-related discrimination in Indonesia and Myanmar: Evidence from DHS Phase 7
Despite expanded HIV awareness efforts, comparable evidence on the determinants of discriminatory attitudes in Southeast Asia remains limited. This study explored the key factors contributing to stigma and discriminatory attitudes toward people living with HIV (PLWH) in Indonesia and Myanmar, utilizing data from the Demographic and Health Survey (DHS) Phase 7. A total of 57,409 individuals participated in the analysis—41,592 from Indonesia and 15,817 from Myanmar. Attitudes were assessed based on responses to statements about school participation and buying food from PLWH. The dataset was weighted to ensure national representation. Statistical analysis involved chi-square tests followed by multivariate logistic regression. In Indonesia, variables such as age, sex, residence, and HIV-related knowledge were significantly associated with discriminatory attitudes. Women and individuals in rural areas were more likely to express stigma. In both countries, higher knowledge about HIV was linked to lower discrimination. Gender emerged as the strongest predictor in Indonesia, while geographic location was more influential in Myanmar. These results underscore the importance of tailored strategies, including gender-responsive education, awareness initiatives focused on rural populations, and policy reforms aimed at reducing stigma and fostering greater acceptance of PLWH
PENDEKATAN FAMILY GROUP CONFERENCE DALAM MENANGANI KASUS PERADILAN ANAK: STUDI PERBANDINGAN ANTARA INDONESIA DAN NEW ZEALAND
Abstrak
Penelitian ini menganalisis efektivitas pelaksanaan diversi dalam Sistem Peradilan Pidana Anak di Indonesia serta mengevaluasi relevansi model Family Group Conference (FGC) di New Zealand sebagai acuan reformasi. Meskipun UU SPPA dan PERMA Diversi telah memberikan dasar normatif yang komprehensif, implementasi diversi di Indonesia menunjukkan tingkat keberhasilan yang sangat rendah. Hambatan utama terletak pada kapasitas Balai Pemasyarakatan (Bapas) yang terbatas, tingginya beban kerja Pembimbing Kemasyarakatan, minimnya keterlibatan korban, inkonsistensi koordinasi antar-penegak hukum, serta lemahnya pemantauan pasca-kesepakatan. Sebaliknya, FGC di New Zealand terbukti mampu menerapkan prinsip keadilan restoratif secara substantif melalui konferensi multipihak yang melibatkan keluarga, korban, komunitas, dan pekerja sosial dalam merumuskan rencana pemulihan yang mengikat dan terstruktur. Model ini juga berhasil mengurangi penggunaan penahanan, menurunkan residivisme, serta mencegah kelebihan kapasitas lembaga pemasyarakatan. Dengan melakukan perbandingan substantif, penelitian ini menemukan bahwa sejumlah elemen Family Group Conference seperti fasilitator independen, legitimasi keluarga dalam pengambilan keputusan, partisipasi korban, dan mekanisme pemantauan berkelanjutan—dapat diadaptasi secara selektif tanpa mengubah struktur hukum Indonesia secara fundamental. Studi ini merekomendasikan reformasi diversi menuju model yang lebih restoratif, partisipatif, dan responsif terhadap kepentingan terbaik bagi anak.
Kata Kunci: Diversi, Keadilan Restoratif, Family Group Conference , Peradilan Anak, Bapas.
Abstract
This study analyzes the effectiveness of diversion in the Juvenile Criminal Justice System in Indonesia and evaluates the relevance of the Family Group Conference (FGC) model in New Zealand as a reference for reform. Although the SPPA Law and PERMA Diversion have provided a comprehensive normative basis, the implementation of diversion in Indonesia shows a very low success rate. The main obstacles lie in the limited capacity of the Correctional Center (Bapas), the high workload of Community Counselors, the lack of victim involvement, inconsistent coordination between law enforcement agencies, and weak post-agreement monitoring. In contrast, FGC in New Zealand has proven capable of substantively applying the principles of Restorative Justice through multi-party conferences involving families, victims, communities, and social workers in formulating binding and structured recovery plans. This model has also succeeded in reducing the use of detention, lowering recidivism, and preventing overcrowding in correctional institutions. By conducting a substantive comparison, this study found that a number of elements of the Family Group Conference , such as independent facilitators, family legitimacy in decision-making, victim participation, and continuous monitoring mechanisms, can be selectively adapted without fundamentally changing the structure of Indonesian law. This study recommends reforming diversion toward a model that is more restorative, participatory, and responsive to the best interests of the child.
Keywords: Diversion, Restorative Justice, Family Group Conference , Juvenile Justice, Bapas
Pandangan Tokoh Masyarakat Terhadap Nikah Hamil Di Desa Seuneubok Teungoh Dalam Perspektif Kesetaraan Gender
The phenomenon of pregnant women marrying outside of wedlock remains prevalent and draws significant attention in Indonesian society, including in Seuneubok Teungoh village. Ideally, the process leading to marriage should follow customary stages and religious recommendations. However, this is often bypassed as marriages are conducted abruptly without preparation from both parties, primarily to conceal disgrace, preserve family reputation, and uphold village dignity. This study aims to analyze community leaders' perspectives on marriages resulting from premarital pregnancy from a gender equality perspective. Employing empirical research with a phenomenological approach, data were collected through in-depth interviews, field observations, and simple documentation. The findings indicate that most community leaders view marriage as the sole solution to cover shame. However, women are more frequently discriminated against, face social stigma, and receive dowries deemed inadequate compared to customary practices, rendering them seemingly devalued for a mistake committed by both parties. It can be concluded that marriages conducted to conceal the shame of premarital pregnancy reinforce gender inequality. Therefore, a paradigm shift and societal system changes are necessary to address similar cases.Fenomena pernikahan wanita hamil di luar nikah masih sering terjadi dan menyita perhatian masyarakat Indonesia, salah satunya ialah desa Seuneubok Teungoh. Proses menuju pernikahan yang baik seharusnya melalui beberapa tahapan adat dan anjuran dalam agama, tetapi justru tak terlaksanakan karena pernikahan dilakukan secara tiba-tiba dan tanpa persiapan dari kedua pihak dengan tujuan untuk menutup aib dan menjaga nama baik keluarga serta martabat desa. Adapun penelitian ini bermaksud untuk menganalisis pandangan tokoh masyarakat terhadap peristiwa pernikahan akibat hamil di luar nikah dalam perspektif kesetaraan gender. Penelitian ini menerapkan jenis penelitian empiris dengan pendekatan fenomenologis, yang teknik pengumpulan datanya dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan dokumentasi sederhana. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan menunjukkan hasil bahwa mayoritas tokoh masyarakat beranggapan jika pernikahan sebagai satu-satunya solusi untuk menutup aib, tetapi dalam hal ini perempuan yang lebih sering didiskriminasi, mendapatkan stigma sosial, serta menerima pemberian mahar yang kurang layak dari kebiasaan masyarakat adat, sehingga perempuan terlihat tak lagi bernilai atas kesalahan yang dilakukan oleh dua orang. Dapat disimpulkan bahwasanya pernikahan yang dilakukan atas dasar menutup aib kehamilan di luar pernikahan sah justru memperkuat ketimpangan gender. Oleh karena itu, diperlukan perubahan paradigma dan sistem masyarakat dalam menyelesaikan peristiwa serupa
ACTANT GREIMAS STRUCTURE NARRATIVE ON THE COLOR PURPLE BY ALICE WALKER
This study examines the narrative structure of Alice Walker's “The Color Purple” through the lens of Greimas' actant model. Therefore, the purpose of this study is to apply the narrative structure with Greimas' actant model to enable a comprehensive analysis of how the main character, Celie, experiences a journey of transformation from oppression to personal freedom using Greimas' actant theory. With this, the focus of the problems that arise in this study are: (1) what are the actant schemes that can be found in the novel “The Color Purple?” (2) How does the actant Greimas describe the journey of transformation of the main character in the novel “The Color Purple?” By using descriptive qualitative research method. Data collection in this study focuses on the novel “The Color Purple” by Alice Walker as the main data source. For data analysis, qualitative analysis is used, the process of which is carried out through the stages of data analysis, data presentation, and conclusion drawing. The dynamic interaction between actants reflects the systemic nature of trauma and how liberation is built through family relationships, faith, and love. By mapping Celie's journey through Greimas' actant model, the novel “The Color Purple” is not only a personal narrative, but also a structurally complex story of transformation. Each actant role develops along with Celie, reflecting how freedom and identity are achieved not through isolation, but through enduring relationships, personal growth, and ultimately overcoming oppression.Penelitian ini mengkaji struktur naratif dari novel The Color Purple karya Alice Walker melalui sudut pandang model aktan Greimas. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengaplikasikan struktur naratif dengan model aktan Greimas untuk memungkinkan analisis yang komprehensif mengenai bagaimana karakter utama, Celie, mengalami perjalanan transformasi dari penindasan menuju kebebasan pribadi dengan menggunakan teori aktan Greimas. Dengan ini, fokus permasalahan yang muncul dalam penelitian ini adalah: (1) apa saja skema aktan yang dapat ditemukan dalam novel The Color Purple, (2) bagaimana aktan Greimas menggambarkan perjalanan transformasi tokoh utama dalam novel The Color Purple? Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dalam penelitian ini berfokus pada novel The Color Purple karya Alice Walker sebagai sumber data utama. Untuk analisis data, digunakan analisis kualitatif yang prosesnya dilakukan melalui tahapan analisis data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Interaksi dinamis antara para pelaku mencerminkan sifat sistemik dari trauma dan bagaimana pembebasan dibangun melalui hubungan keluarga, iman, dan cinta. Dengan memetakan perjalanan Celie melalui model aktan Greimas, novel “The Color Purple” tidak hanya menjadi sebuah narasi personal, tetapi juga kisah transformasi yang kompleks secara struktural. Setiap peran aktan berkembang bersama Celie, mencerminkan bagaimana kebebasan dan identitas dicapai bukan melalui isolasi, tetapi melalui hubungan yang langgeng, pertumbuhan pribadi, dan pada akhirnya mengatasi penindasan