E-Jurnal UIN (Universitas Islam Negeri) Alauddin Makassar
Not a member yet
19582 research outputs found
Sort by
Penetapan Kadar Flavanoid Ekstrak Etanol Kulit Buah Jeruk Nipis ( Citrus aurantifolia) Menggunakan Spektrofotometri UV-Vis
Pendahuluan: Senyawa fenol pada kopi memiliki aktivitas sebagai antioksidan yang baik untuk mengatasi kulit wajah yang kusam dan mencerahkan. Masker peel off merupakan sediaan yang berbentuk gel. Tujuan: dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah biji kopi robusta (Coffea Canephora) dapat dibuat dalam bentuk masker wajah peel off. Metode: Dalam penelitian menggunakan ekstrak biji kopi robusta. Dengan 3 konsentrasi yaitu 0%, 1,5% dan 2,5% kemudian dilakukan uji organoleptik, homogenitas, pH, daya sebar daya kering. Hasil: penelitian ini yaitu pada formula 1 dengan konsentrasi 0% dengan uji organoleptik menunjukkan bentuk sediaan kental, merekat, bau olium citrus, berwarna putih, homogen, memiliki pH 7, daya sebar 6,5 cm dan daya kering 25 menit, formula 2 dengan konsentrasi 1,5% uji organoleptik menunjukkan bentuk sediaan kental, merekat, bau khas ekstrak biji kopi robusta bercampur olium citrus, berwarna coklat kehitaman, homogen, memiliki pH 6, daya sebar 6 cm dan daya kering 25 menit. Formula 3 dengan konsentrasi 2,5% uji organoleptik menunjukkan sediaan kental, merekat, bau khas ekstrak biji kopi robusta, berwarna coklat kehitaman, homogen, memiliki pH 7, daya sebar 7 cm dan daya kering 20 menit. Kesimpulan: Masker peel off dari ekstrak biji kopi robusta (coffea canephora) dapat diformulasikan dengan konsentrasi 1,5%.
Kata Kunci : Ekstrak biji kopi robusta (coffea canephora), Masker Peel Off.Kulit buah jeruk nipis (Citrus aurantifolia) merupakan tanaman yang memiliki kandungan senyawa fenolik seperti fenol, flavonoid, dan tanin. Dengan kandungan tersebut ekstrak kulit buah jeruk nipis berpotensi sebagai tabir surya dan memiliki aktivitas antioksidan penelitian ini bertujuan untuk mengukur kadar Flavonoid pada kulit buah jeruk nipis (Citrus aurantifolia) dengan menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Sampel yang digunakan adalah kulit buah jeruk nipis. Metode ekstraksi yang digunakan adalah metode maserasi. Penetapan kadar Flavanoid 10 g sampel ekstrak kulit buah jeruk nipis dilakukan dengan menggunakan Spektrofotometri UV-Vis pada rentang gelombang 200-500 nm. Penentuan kurva kalibrasi ditetapkan dari nilai absorban larutan standar kuarsetin pada konsentrasi 10 ppm, 20 ppm, 30 ppm, 40 ppm dan 50 ppm dan dibuat larutan induk 100 ppm. Hasil penelitian di peroleh Panjang gelombang maksimum larutan standar 438,15 nm dan absorban Sampel 173,25. Dari penelitian yang telah kita lakukan kesimpulan yang dapat kita tarik adalah hasil penetapan kadar Flavanoid ekstrak etanol kulit buah jeruk nipis (Citrus Aurantifolia) yaitu mencapai 0.01732% hasil ini merupakan kadar Flavanoid yang tinggi menurut jurnal penetapan kadar pada penelitian asmianti 2020, dijelaskan bahwa jika kadar Flavanoid diatas 0,05% maka kadar Flavanoidnya terbilang tinggi
Kendala Penerapan BIM dalam Praktik Perancangan: Tinjauan Sistematis di Negara Berkembang
Despite the progress made with BIM integration into the construction industries of many developed countries, its adoption remains limited in most developing countries. This study systematically reviews 56 articles using the TOE framework to identify and analyse critical barriers that impede BIM implementation within architectural design contexts. Following the PRISMA guidelines, the review categorizes these barriers into three primary dimensions: technological, organizational and environmental. The results revealed that critical technological barriers, such as the high cost of hardware and software, compatibility issues with design tools, and technical complexities in using the technology, hinder architectural innovation and visualization capabilities. Organizational barriers, including insufficient BIM-trained professionals, lack of awareness of BIM capabilities, resistance within design teams and lack of management support, significantly delay BIM integration in design studio workflows. Environmental barriers such as insufficient regulatory frameworks, lack of client demand for BIM-based project design, and weak collaboration across multidisciplinary consultants slow the adoption of digital design practices. The study underscores the interrelated characteristics of these critical barriers, which form a perpetuating cycle that limits the evolution of design practices in developing countries. Addressing these interrelated barriers is crucial for improving design creativity and integrating BIM into studio practices. Future research should examine regional variances and pedagogical strategies for overcoming the BIM adoption challenges in architectural contexts.Meskipun ada kemajuan yang dibuat dengan integrasi BIM ke dalam industri konstruksi di banyak negara maju, adopsinya masih terbatas di sebagian besar negara berkembang. Studi ini secara sistematis meninjau 56 artikel menggunakan kerangka kerja TOE untuk mengidentifikasi dan menganalisis hambatan kritis yang menghalangi implementasi BIM dalam konteks desain arsitektur. Mengikuti pedoman PRISMA, tinjauan tersebut mengkategorikan hambatan ini menjadi tiga dimensi utama: teknologi, organisasi, dan lingkungan. Hasilnya mengungkapkan bahwa hambatan teknologi yang kritis, seperti tingginya biaya perangkat keras dan perangkat lunak, masalah kompatibilitas dengan alat desain, dan kompleksitas teknis dalam menggunakan teknologi, menghambat inovasi arsitektur dan kemampuan visualisasi. Hambatan organisasi, termasuk profesional terlatih BIM yang tidak memadai, kurangnya kesadaran akan kemampuan BIM, resistensi dalam tim desain dan kurangnya dukungan manajemen, secara signifikan menunda integrasi BIM dalam alur kerja studio desain. Hambatan lingkungan seperti kerangka kerja peraturan yang tidak memadai, kurangnya permintaan klien untuk desain proyek berbasis BIM, dan kolaborasi yang lemah di seluruh konsultan multidisiplin memperlambat adopsi praktik desain digital. Studi ini menggarisbawahi karakteristik yang saling terkait dari hambatan kritis ini, yang membentuk siklus berkelanjutan yang membatasi evolusi praktik desain di negara-negara berkembang. Mengatasi hambatan yang saling terkait ini sangat penting untuk meningkatkan kreativitas desain dan mengintegrasikan BIM ke dalam praktik studio. Penelitian di masa mendatang harus memeriksa varian regional dan strategi pedagogis untuk mengatasi tantangan adopsi BIM dalam konteks arsitektur
INTEGRASI SOSIO-KULTURAL MASYARAKAT PESISIR DI KELURAHAN BAURUNG KECAMATAN BANGGAE TIMUR KABUPATEN MAJENE
This paper discusses the socio-cultural integration of coastal communities in Baurung Village, East Banggae District, Majene Regency. This paper aims to analyze the forms of socio-cultural integration of coastal communities in Baurung Village, East Banggae District, Majene Regency. In this paper, the author has the main focus of his study on social interaction, local cultural values and socio-cultural integration and adaptation between ethnic groups that live side by side in the area. This paper uses a qualitative approach using descriptive methods, data obtained through field observations conducted by researchers in the Baurung Village area. Then conducting in-depth interviews with the Baurung Village community and conducting documentation. The results of this study indicate that socio-cultural integration in Baurung Village can be seen from the existence of events or traditions such as the celebration of the fisherman's party (Mappasso), mutual cooperation (Sirondo-rondoi), social services, buying and selling activities and so on. From several of these activities, the involvement of several individual actors who interact with each other in a structured manner has a match with the structural functionalism theory put forward by Talcott Parson. The factors that drive socio-cultural integration are the adaptation of existing values that are still believed in by the community, tolerance between coastal community groups, and collective participation in social, cultural and religious activities.This paper discusses the socio-cultural integration of coastal communities in Baurung Village, East Banggae District, Majene Regency. This paper aims to analyze the forms of socio-cultural integration of coastal communities in Baurung Village, East Banggae District, Majene Regency. In this paper, the author has the main focus of his study on social interaction, local cultural values and socio-cultural integration and adaptation between ethnic groups that live side by side in the area. This paper uses a qualitative approach using descriptive methods, data obtained through field observations conducted by researchers in the Baurung Village area. Then conducting in-depth interviews with the Baurung Village community and conducting documentation. The results of this study indicate that socio-cultural integration in Baurung Village can be seen from the existence of events or traditions such as the celebration of the fisherman's party (Mappasso), mutual cooperation (Sirondo-rondoi), social services, buying and selling activities and so on. From several of these activities, the involvement of several individual actors who interact with each other in a structured manner has a match with the structural functionalism theory put forward by Talcott Parson. The factors that drive socio-cultural integration are the adaptation of existing values that are still believed in by the community, tolerance between coastal community groups, and collective participation in social, cultural and religious activities
Dari Kekerasan ke Kasih Sayang: Transformasi Pemahaman Hadis Pendidikan Anak dalam Perspektif Kontekstual
Artikel ini membahas transformasi pemahaman hadis Nabi yang memerintahkan orang tua untuk memerintahkan anak-anak mereka salat pada usia tujuh tahun dan memukul mereka pada usia sepuluh tahun jika mereka lalai. Penafsiran literal hadis ini seringkali mengarah pada pembenaran hukuman fisik dalam pendidikan anak. Melalui pendekatan kontekstual-sosiologis, artikel ini berargumen bahwa perintah "memukul" dalam hadis tersebut harus dipahami dalam kerangka budaya Arab klasik, yang menekankan disiplin ketat dan tidak memiliki sistem pendidikan formal modern. Dalam konteks pendidikan kontemporer, pendekatan kasih sayang (rahmah) dianggap lebih relevan dan selaras dengan prinsip-prinsip perkembangan anak serta nilai-nilai universal Islam sebagai agama rahmat. Melalui pendekatan ini, terjadi transformasi nilai—dari ta'dib otoriter menjadi model pendidikan yang lebih empatik dan humanis. Artikel ini menawarkan reinterpretasi ilmiah dan teologis atas hadis-hadis yang bermasalah, sekaligus mendorong pengembangan sistem pendidikan Islam yang adil, beradab, dan berfokus pada pembentukan karakter anak secara holistik.Artikel ini membahas transformasi pemahaman terhadap hadis Nabi yang memerintahkan orang tua untuk menyuruh anak salat pada usia tujuh tahun dan memukulnya pada usia sepuluh tahun jika meninggalkannya. Pemahaman tekstual terhadap hadis ini kerap melahirkan pembenaran terhadap kekerasan fisik dalam pendidikan anak. Melalui pendekatan kontekstual-sosiologis, artikel ini menunjukkan bahwa perintah “memukul” dalam hadis tersebut lebih tepat dipahami dalam kerangka budaya Arab klasik yang tekanan kedisiplinan keras dan belum mengenal sistem pendidikan formal modern. Dalam konteks pendidikan kontemporer, pendekatan kasih sayang (rahmah) dinilai lebih relevan dan sesuai dengan prinsip-prinsip perkembangan anak serta nilai-nilai universal Islam sebagai agama rahmat. Dengan pendekatan ini, terjadi transformasi nilai dari ta'dib yang bersifat otoriter menuju pendidikan yang lebih empatik dan manusiawi. Artikel ini menawarkan reinterpretasi terhadap hadis-hadis problematis secara ilmiah dan teologis, sekaligus mendorong lahirnya sistem pendidikan Islam yang adil, beradab, dan berorientasi pada pembentukan karakter anak yang utuh
PENILAIAN RISIKO MEDIS, MEDICAL ERROR DAN TANGGUNG JAWAB HUKUM
Healthcare services are inherently complex and challenging activities, particularly in terms of medical risks and the potential for medical errors or malpractice. Medical risks, medical errors, and malpractice in healthcare are interconnected concepts that are interesting to examine together, as all three can have negative consequences for the patient's body. Therefore, it is essential to explore them further to distinguish between them clearly. This research aims to examine the legal aspects of the relationship between medical risk, medical error, and malpractice, as well as the potential legal liabilities that may arise in medical practice. The approach used is normative juridical, with primary sources including legislation, legal principles, and relevant scholarly literature. The findings suggest that medical risks are inherent consequences of any medical action, which cannot always be avoided, and do not imply negligence if performed in accordance with professional standards, ethics, and operational procedures. In contrast, medical errors refer to unintentional mistakes in the implementation or planning of medical actions, which still need to be evaluated to prevent recurring adverse impacts. Medical malpractice occurs when there is an element of negligence and a violation of professional standards that results in harm to the patient, potentially leading to both criminal and civil legal liability. By clearly distinguishing between medical risk, medical error, and malpractice, this research highlights the importance of therapeutic communication, the application of informed consent principles, and the need for balanced legal protection that balances both patient safety and medical personnel protection.
Keywords: Medical risk, Medical error, Malpractice, Legal liability, Healthcare services.Sengketa dalam pelayanan medis sering menjadi hal yang sulit untuk diselesaikan karena melibatkan berbagai aspek yang kompleks, baik secara hukum, etika, dan dalam pembuktiannya. Pelayanan kesehatan banyak terjadi hal-hal yang diluar dari kehendak kita semua salah satunya karena risiko medis dan hal tersebut seolah-olah diakibatkan kesalahan dokter. Risiko medis, medical error dan malpraktik dalam melaksanakan profesinya adalah bentuk pola pikir yang teratur untuk diulas secara bersamaan dikarenakan risiko medis, medical error dan malpraktik sama-sama dapat berakibat negatife terhadap tubuh pasien sehingga penting untuk digali lebih lanjut untuk membedakan penyebab tersebut. Tujuan dalam penelitian ini penilaian risiko medis, medical error dengan malpraktik dan tanggung jawab hukumnya. Metode penelitian ini menggunakan yuridis normative dengan spesifikasi diskripsi analisis. Hasil penelitian menunjukan bahawa risiko medis bagian dalam pelayanan kesehatan yang dapat terhindarkan atau tidak dapat terhindarkan, sehingga dalam penindakan tentunya tidak dapat disamakan dengan malprkatik. Risiko medis berbeda dengan kelalaian medis, karena risiko medis tidak mengandung unsur kelalaian. Medical error dan malpraktik memiliki perbedaan mendasar namun sering kali sulit dibedakan, terutama dalam konteks hukum. Medical error merupakan bentuk kesalahan yang tidak disengaja dalam pelayanan medis, sedangkan malpraktik mengandung unsur kelalaian yang disengaja atau pengabaian terhadap standar profesi.
Kata Kunci: Risiko Medis, Medical Error, Malprakti
Factors Related to Farmers' Health Seeking Behaviours Following Snake Bite
A huge number of mortalities and morbidities of snake-bite is mostly reported from tropical countries in agriculture occupants. The purpose of this study was to determine the factors related of farmers' health seeking behavior following snakebite. The research design used quantitative method with correlational descriptive research with a cross-sectional approach. The type of sampling technique used probability sampling using the cluster sampling method with a total sample of 100 respondents. Data were collected using 6 questionnaires to measure factors related to the behavior of seeking health assistance due to snakebites including knowledge level, perception of illness, attitude, income level, and accessibility of health services. We used Chi square test and Fisher exact test to analyze the data. The result showed that there was a relationship between the level of knowledge (p 0.000), perception of sickness (p 0.003), health service accessibility (p 0.005), income levels (p 0.001), and attitudes (p 0.021) to farmers' health seeking behaviors of snakebite. Based on these findings, it is urgently needed to give health education to farmers related to appropriate health seeking behaviours of snakebite.
Keywords: farmers, health-seeking behaviours, snakebite
ANALISIS DETEKSI DINI PENYAKIT JANTUNG DENGAN METODE ENSEMBLE LEARNING PADA DATA PASIEN
Heart disease is one of the leading causes of death, requiring early detection for prompt and accurate treatment. This study aims to develop a heart disease prediction model using ensemble learning methods, specifically the Adaptive Boosting (AdaBoost) technique. This method combines several weak models to improve the accuracy of heart disease classification based on patient data. The results show that applying the ensemble learning technique with the AdaBoost method produces a highly accurate model, especially after adding demographic features such as gender and age. The model's accuracy increased from 93.75% to 100%, with precision, recall, and F1-score reaching a perfect score of 1.00 for both classes. With these excellent results, the AdaBoost method has proven to be effective in detecting heart disease at an early stage, providing opportunities for more timely and effective medical interventions. This research is expected to make a significant contribution to the development of early heart disease detection technology and improve patient quality of life through more accurate diagnoses.Penyakit jantung merupakan salah satu penyebab utama kematian yang memerlukan deteksi dini agar dapat dilakukan penanganan yang cepat dan tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model prediksi penyakit jantung menggunakan metode ensemble learning, khususnya teknik Adaptive Boosting (AdaBoost). Metode ini menggabungkan beberapa model lemah untuk meningkatkan akurasi klasifikasi penyakit jantung pada data pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan teknik ensemble learning dengan metode AdaBoost menghasilkan model dengan akurasi yang sangat tinggi, terutama setelah menambahkan fitur demografis seperti jenis kelamin dan usia. Akurasi model meningkat dari 93,75% menjadi 100% dengan precision, recall, dan f1-score mencapai nilai 1,00 untuk kedua kelas. Dengan hasil yang sangat baik ini, metode AdaBoost terbukti efektif dalam mendeteksi penyakit jantung pada tahap awal, memberikan peluang untuk tindakan medis yang lebih tepat waktu dan efektif. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi signifikan dalam pengembangan teknologi deteksi dini penyakit jantung serta meningkatkan kualitas hidup pasien melalui diagnosis yang lebih akurat
Agentic AI untuk Otomatisasi dan Personalisasi Layanan Akademik di Perguruan Tinggi
The transformation of higher education institutions from conventional Information Technology (IT)-based systems to Smart Universities requires a systemic and adaptive approach based on artificial intelligence. This study proposes and evaluates the design of an Agentic AI architecture to support academic management and services proactively and autonomously. Using a Design Science Research (DSR) approach, this study designs a multi-agent architecture-based system consisting of sub-agents such as Academic Planner, Advising Agent, and Evaluation Agent. The system was tested with a data sample based on academic service simulation using 500 student entries. The test results show an increase in academic service efficiency, characterized by an average response time of 880 ms, a KRS recommendation accuracy of 92.4%, and a user satisfaction level of 4.5 out of 5. A comparison of the baseline and state-of-the-art shows significant improvements in terms of interoperability, personalization, and operational efficiency. This study concludes that the Agentic AI architecture can be a strategic framework in accelerating the digitalization of academic services and supporting the transformation of higher education institutions towards AI-based Smart Universities.Transformasi perguruan tinggi dari sistem berbasis Teknologi Informasi (TI) konvensional menuju Smart University menuntut pendekatan sistemik dan adaptif berbasis kecerdasan buatan. Penelitian ini mengusulkan dan mengevaluasi rancangan arsitektur Agentic AI untuk mendukung manajemen dan layanan akademik secara proaktif dan otonom. Menggunakan pendekatan Design Science Research (DSR), penelitian ini merancang sistem berbasis multi-agent architecture yang terdiri dari sub-agent seperti Academic Planner, Advising Agent, dan Evaluation Agent. Sistem diuji dengan sample data berbasis simulasi layanan akademik menggunakan 500 entri mahasiswa. Hasil pengujian menunjukkan peningkatan efisiensi layanan akademik, ditandai dengan waktu respons rata-rata 880 ms, akurasi rekomendasi KRS sebesar 92.4%, dan tingkat kepuasan pengguna sebesar 4.5 dari 5. Perbandingan baseline dan state-of-the-art menunjukkan peningkatan signifikan dalam hal interoperabilitas, personalisasi, dan efisiensi operasional. Penelitian ini menyimpulkan bahwa arsitektur Agentic AI dapat menjadi kerangka kerja strategis dalam mempercepat digitalisasi layanan akademik dan mendukung transformasi institusi pendidikan tinggi menuju Smart University berbasis AI
Karakterisasi Sifat Fisik Bioplastik Berbasis Pati Kulit Pisang Goroho dengan Penambahan ZnO
An effective way to address the plastic waste problem is by minimizing the use of non-biodegradable plastics. One approach is to develop biodegradable plastic packaging that is environmentally friendly. This research used Goroho banana peel starch, this type of banana is used because it has good potential with a starch content of 80.89%. In this research, variations in ZnO concentration of 1%, 2%, 3%, 4%, and 5% w/w were conducted. This research aims to determine the characteristics of physical properties of bioplastics with the addition of ZnO. This research uses a laboratory experimental method through several processes, namely goroho banana peel starch extraction and bioplastic manufacturing. The results indicated that varying concentrations of ZnO significantly influenced the physical and biodegradation properties of the bioplastic products. The physical properties of the bioplastics produced have met the Indonesian National Standard (SNI) for water uptake of 21.5% and biodegradation of 60 days. FTIR results show that the functional groups of bioplastics are identical to the constituent functional groups, namely starch, so that their properties resemble the properties of their constituents, which are easily degraded. The most optimum bioplastic is BPZ 2 with the addition of ZnO at 2% w/w, which produces water uptake of 1.859% and degradation time of 12 days
A ANALISIS PERAN MUNAS TARJIH MUHAMMADIYAH KE-31 TERHADAP PENETAPAN WAKTU SALAT SUBUH DI MAKASSAR
This study examines the role of the 31st Muhammadiyah Tarjih National Conference on the determination of the dawn prayer time in Makassar, where there is no uniformity in the application of the dawn time, especially related to the adjustment of the time based on the decision of the 31st Muhammadiyah Tarjih National Conference. The focus of this study is to identify the public response and the method of determining the law used by the Tarjih National Conference in determining the criteria for the dawn prayer time. This study is a field research with a qualitative descriptive type and uses a sharia and historical approach. Data were collected through interviews, observations and literature studies, then analyzed using data reduction techniques, data presentation and drawing conclusions. The results of the study indicate that the determination of the initial time for the dawn prayer in Muhammadiyah mosques in Makassar follows the schedule of the Indonesian Ministry of Religion, but for dawn it refers to the decision of the 31st Muhammadiyah Tarjih National Conference with an additional 8 minutes. The public response, both from Muhammadiyah and NU, was generally positive as a form of caution. The implications of this study indicate that the lack of socialization about the change in the beginning of the dawn prayer time in society has resulted in differences among Islamic mass organizations. The community also needs to maintain unity, tolerance, and Islamic brotherhood in responding to differences in ijtihadiyah.Penelitian ini mengkaji tentang peran Munas Tarjih Muhammadiyah ke-31 terhadap penetapan waktu salat subuh di Makassar yang di mana belum adanya keseragaman dalam penerapan waktu subuh, khususnya terkait penyesuaian waktu berdasarkan keputusan Munas Tarjih Muhammadiyah ke-31. Fokus penelitian ini mengidentifikasi respon masyarakat serta metode penetapan hukum yang digunakan oleh Munas Tarjih dalam menentukan kriteria waktu salat subuh. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) dengan jenis kualitatif deskriptif dan menggunakan pendekatan syar’i dan historis. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi dan studi kepustakaan, lalu dianalisis dengan teknik reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Penentuan awal waktu salat subuh di masjid-masjid Muhammadiyah Makassar mengikuti jadwal Kemenag RI, namun untuk subuh mengacu pada keputusan Munas Tarjih Muhammadiyah ke-31 dengan penambahan 8 menit. Respon masyarakat, baik dari Muhammadiyah maupun NU, umumnya positif sebagai bentuk kehati-hatian. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa kurangnya sosialisasi tentang perubahan awal waktu subuh di masyarakat sehingga terjadi perbedaan di kalangan ormas Islam. Masyarakat juga perlu menjaga persatuan, toleransi, dan ukhuwah Islamiyah dalam menyikapi perbedaan ijtihadiyah