E-Jurnal UIN (Universitas Islam Negeri) Alauddin Makassar
Not a member yet
19582 research outputs found
Sort by
ANALISIS TEORI PERMINTAAN DAN PENAWARAN DALAM EKONOMI ISLAM: STUDI PUSTAKA TENTANG PRINSIP SYARIAH DAN MEKANISME PASAR
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis teori permintaan dan penawaran dalam ekonomi Islam dengan pendekatan studi pustaka. Latar belakang penelitian ini adalah adanya kesenjangan antara praktik pasar kapitalistik yang bebas nilai dengan prinsip syariah yang mengedepankan keadilan, transparansi, dan larangan terhadap riba, gharar, dan maysir. Permasalahan utama yang dikaji adalah sejauh mana teori permintaan dan penawaran dalam ekonomi Islam dapat diimplementasikan dalam sistem pasar modern. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan menganalisis literatur klasik dan kontemporer. Hasil kajian menunjukkan bahwa teori permintaan dan penawaran dalam Islam mengutamakan kebutuhan (needs) bukan keinginan (wants), serta mengharuskan adanya pengawasan negara melalui lembaga hisbah. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan nilai-nilai syariah dalam mekanisme pasar membutuhkan sinergi antara regulasi, literasi masyarakat, dan peran institusional. Saran yang diajukan meliputi penguatan lembaga pengawas, redistribusi kekayaan melalui zakat, dan formulasi kebijakan ekonomi berbasis maqashid al-shariah.
Kata Kunci: Ekonomi Islam, hisbah, keadilan pasar, mekanisme pasar, permintaan dan penawaran
Abstract
This study aims to analyze the theory of demand and supply in Islamic economics through a literature review approach. The background of this research is the gap between value-neutral capitalist market practices and sharia principles that emphasize justice, transparency, and the prohibition of riba, gharar, and maysir. The main issue addressed is the extent to which Islamic economic theories of demand and supply can be implemented in the modern market system. This study applies a qualitative-descriptive method by analyzing classical and contemporary literature. The findings show that Islamic demand and supply emphasize needs (not wants) and require state supervision through the hisbah institution. The conclusion reveals that applying sharia values in market mechanisms requires synergy between regulation, public literacy, and institutional roles. Recommendations include strengthening supervisory bodies, wealth redistribution through zakat, and policy formulation based on maqashid al-shariah.
Keywords: demand and supply, hisbah, Islamic economics, market justice, market mechanismPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis teori permintaan dan penawaran dalam ekonomi Islam dengan pendekatan studi pustaka. Latar belakang penelitian ini adalah adanya kesenjangan antara praktik pasar kapitalistik yang bebas nilai dengan prinsip syariah yang mengedepankan keadilan, transparansi, dan larangan terhadap riba, gharar, dan maysir. Permasalahan utama yang dikaji adalah sejauh mana teori permintaan dan penawaran dalam ekonomi Islam dapat diimplementasikan dalam sistem pasar modern. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan menganalisis literatur klasik dan kontemporer. Hasil kajian menunjukkan bahwa teori permintaan dan penawaran dalam Islam mengutamakan kebutuhan (needs) bukan keinginan (wants), serta mengharuskan adanya pengawasan negara melalui lembaga hisbah. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan nilai-nilai syariah dalam mekanisme pasar membutuhkan sinergi antara regulasi, literasi masyarakat, dan peran institusional. Saran yang diajukan meliputi penguatan lembaga pengawas, redistribusi kekayaan melalui zakat, dan formulasi kebijakan ekonomi berbasis maqashid al-shariah
Ritual Perkawinan Adat dan Penalaran Hukum Islam: Analisis 'Urf tentang Tradisi Nipa'bajikang di kalangan Komunitas Muslim di Kabupaten Gowa
This article discusses the traditional Nipa'bajikang wedding ritual practiced by the Je'ne Madingin Muslim community in Gowa Regency, Indonesia, within the framework of Islamic law reasoning based on the concept of 'urf. The main problem of this research is how the position of the Nipa'bajikang tradition in Islamic law and the extent to which the practice of the ritual can be classified as 'urf sahih or 'urf fasid. This research aims to analyze the form and meaning of the implementation of the Nipa'bajikang ritual, examine the views of religious leaders on the tradition, and assess its conformity with the principles of Islamic sharia through the 'urf approach. The research method used is qualitative with a descriptive-analytical approach. Data was obtained through field observations, in-depth interviews with traditional leaders, religious leaders, and communities, and documentation studies. The analysis was carried out by examining ritual practices against the principles of monotheism, prayer orientation, and benefit as the main parameters in the theory of 'urf. The results of the study show that the Nipa'bajikang ritual is understood and carried out as a medium of prayer and plea for blessings to Allah SWT., without belief in the supernatural power in the symbolic elements used. In addition, this ritual serves to strengthen ukhuwah, ta'awun, and social solidarity in the local Muslim community. Based on the criteria of 'urf, the tradition of Nipa'bajikang is categorized as 'urf sahih because it fulfills the elements of social enforcement, utility, and conformity with the principles of Islamic law. The implications of this study confirm the relevance of the concept of 'urf as a socio-legal framework in assessing local cultural practices and supporting the development of contextual Islamic legal reasoning in Indonesian Muslim society.Artikel ini membahas ritual pernikahan adat Nipa’bajikang yang dipraktikkan oleh komunitas Muslim Je’ne Madingin di Kabupaten Gowa, Indonesia, dalam kerangka penalaran hukum Islam berbasis konsep ‘urf. Pokok permasalahan penelitian ini adalah bagaimana kedudukan tradisi Nipa’bajikang dalam hukum Islam serta sejauh mana praktik ritual tersebut dapat diklasifikasikan sebagai ‘urf shahih atau ‘urf fasid. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk dan makna pelaksanaan ritual Nipa’bajikang, mengkaji pandangan tokoh agama terhadap tradisi tersebut, serta menilai kesesuaiannya dengan prinsip-prinsip syariat Islam melalui pendekatan ‘urf. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis. Data diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat, serta studi dokumentasi. Analisis dilakukan dengan menguji praktik ritual terhadap prinsip tauhid, orientasi doa, dan kemaslahatan sebagai parameter utama dalam teori ‘urf. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual Nipa’bajikang dipahami dan dijalankan sebagai media doa serta permohonan keberkahan kepada Allah Swt., tanpa keyakinan terhadap kekuatan gaib pada unsur-unsur simbolik yang digunakan. Selain itu, ritual ini berfungsi memperkuat ukhuwah, ta’awun, dan solidaritas sosial dalam komunitas Muslim setempat. Berdasarkan kriteria ‘urf, tradisi Nipa’bajikang dikategorikan sebagai ‘urf shahih karena memenuhi unsur keberlakuan sosial, kemanfaatan, dan kesesuaian dengan prinsip syariat Islam. Implikasi penelitian ini menegaskan relevansi konsep ‘urf sebagai kerangka sosio-legal dalam menilai praktik budaya lokal serta mendukung pengembangan penalaran hukum Islam yang kontekstual di masyarakat Muslim Indonesia
Naberui Nikkana sebagai Tradisi Pembaruan Akad Nikah dalam Hukum Islam: Studi Sosiologis pada Masyarakat Kabupaten Gowa
This study examines the Naberui Nikkana tradition that has developed in Pattapang Village, Tinggimoncong District, Gowa Regency, as a practice of renewing marriage vows carried out by married couples without going through a formal divorce process. This study aims to understand the meaning and form of this tradition, the social and cultural factors behind it, and its position in the perspective of Islamic law. This study uses a qualitative approach with a case study method. Data were obtained through in-depth interviews with ten married couples who had undergone Naberui Nikkana, as well as religious leaders and family members who were directly involved in its implementation. Data analysis was conducted descriptively and analytically through the stages of data reduction, narrative and interpretive presentation of findings, and normative testing based on Islamic legal sources and the views of scholars in fiqh munakahat. The results of the study show that Naberui Nikkana is generally carried out after domestic conflicts, such as economic problems, family pressures, domestic violence, or doubts about the validity of the previous marriage contract. This practice factually fulfills the pillars and requirements of a valid marriage contract in Islam, including the presence of the bride and groom, guardian, witnesses, ijab kabul, and dowry agreed upon by both parties. The implementation is similar to the first marriage contract, but with an emphasis on caution and strengthening the intention to maintain the integrity of the household. From an Islamic legal perspective, the renewal of the marriage contract through this tradition can be understood as an effort to bring about benefits, particularly in maintaining family stability and preventing marital breakdown. Therefore, Naberui Nikkana can be categorized as a valid custom because it does not conflict with the provisions of Sharia law and is in line with the basic objectives of Islamic law in protecting the institution of the family.Penelitian ini mengkaji tradisi Naberui Nikkana yang berkembang di Kelurahan Pattapang, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, sebagai praktik pembaruan akad nikah yang dilakukan oleh pasangan suami istri tanpa melalui proses perceraian formal. Kajian ini bertujuan untuk memahami makna dan bentuk pelaksanaan tradisi tersebut, faktor sosial dan kultural yang melatarbelakanginya, serta kedudukannya dalam perspektif hukum Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap sepuluh pasangan suami istri yang telah menjalani Naberui Nikkana, serta tokoh agama dan anggota keluarga yang terlibat langsung dalam pelaksanaannya. Analisis data dilakukan secara deskriptif-analitis melalui tahapan reduksi data, penyajian temuan secara naratif dan interpretatif, serta pengujian normatif berdasarkan sumber-sumber hukum Islam dan pandangan ulama dalam fiqh munakahat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Naberui Nikkana umumnya dilaksanakan setelah terjadinya konflik rumah tangga, seperti persoalan ekonomi, tekanan keluarga, kekerasan dalam rumah tangga, maupun munculnya keraguan terhadap keabsahan akad nikah sebelumnya. Praktik ini secara faktual memenuhi rukun dan syarat sah akad nikah dalam Islam, meliputi keberadaan calon mempelai, wali, saksi, ijab kabul, serta mahar yang disepakati oleh kedua belah pihak. Pelaksanaannya menyerupai akad nikah pertama, namun dilakukan dengan penekanan pada kehati-hatian dan penguatan niat untuk menjaga keutuhan rumah tangga. Dalam perspektif hukum Islam, pembaruan akad nikah melalui tradisi ini dapat dipahami sebagai upaya menghadirkan kemaslahatan, khususnya dalam menjaga stabilitas keluarga dan mencegah keretakan rumah tangga. Oleh karena itu, Naberui Nikkana dapat dikategorikan sebagai kebiasaan yang sah karena tidak bertentangan dengan ketentuan syariat dan sejalan dengan tujuan dasar hukum Islam dalam melindungi institusi keluarga
Integrasi Fikih dan Kesehatan Masyarakat dalam Perlindungan Kesehatan Ibu dan Anak: Perspektif Maqāṣid al-Syarī‘ah
Maternal and child health is a strategic indicator in public health development because it is directly related to the quality of human resources and generational sustainability. From an Islamic perspective, efforts to maintain maternal and child health are not only of social and medical value, but also represent the implementation of the objectives of Sharia (maqāṣid al-syarī‘ah), particularly the protection of life (ḥifẓ al-nafs), offspring (ḥifẓ al-nasl), and reason (ḥifẓ al-‘aql). This study aims to analyze the role of fiqh in supporting maternal and child health programs through the maqāṣid al-syarī‘ah approach in the context of public health. This study uses a qualitative method with a normative-theological approach, through a review of classical and contemporary fiqh literature and an analysis of public health policies related to maternal and child health. The results of the study show that the principles of maqāṣid al-syarī‘ah are substantively consistent with promotive and preventive strategies in public health, such as pregnancy planning, regular pregnancy check-ups, safe childbirth, and exclusive breastfeeding. In addition, fiqh provides an ethical and normative framework for medical decision-making involving mothers and children, including the use of contraception, cesarean section, and neonatal care. These findings confirm that the integration of maqāṣid al-syarī‘ah into public health policies and practices can strengthen a holistic, equitable approach to health care that is in harmony with spiritual values and universal health principles.Kesehatan ibu dan anak merupakan indikator strategis dalam pembangunan kesehatan masyarakat karena berkaitan langsung dengan kualitas sumber daya manusia dan keberlanjutan generasi. Dalam perspektif Islam, upaya menjaga kesehatan ibu dan anak tidak hanya bernilai sosial dan medis, tetapi juga merepresentasikan implementasi tujuan syariat (maqāṣid al-syarī‘ah), khususnya perlindungan terhadap jiwa (ḥifẓ al-nafs), keturunan (ḥifẓ al-nasl), dan akal (ḥifẓ al-‘aql). Penelitian ini bertujuan menganalisis peran fikih dalam mendukung program kesehatan ibu dan anak melalui pendekatan maqāṣid al-syarī‘ah dalam konteks kesehatan masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan normatif-teologis, melalui kajian terhadap literatur fikih klasik dan kontemporer serta analisis kebijakan kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan kesehatan ibu dan anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip-prinsip maqāṣid al-syarī‘ah memiliki kesesuaian substantif dengan strategi promotif dan preventif dalam kesehatan masyarakat, seperti perencanaan kehamilan, pemeriksaan kehamilan secara berkala, persalinan yang aman, serta pemberian ASI eksklusif. Selain itu, fikih menyediakan kerangka etis dan normatif dalam pengambilan keputusan medis yang melibatkan ibu dan anak, termasuk penggunaan kontrasepsi, tindakan operasi caesar, dan perawatan neonatal. Temuan ini menegaskan bahwa integrasi maqāṣid al-syarī‘ah ke dalam kebijakan dan praktik kesehatan masyarakat dapat memperkuat pendekatan pelayanan kesehatan yang holistik, berkeadilan, dan selaras dengan nilai-nilai spiritual serta prinsip kesehatan universal
Efektivitas Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka dalam Pengembangan Rasa Percaya Diri Mahasiswa Pendidikan Fisika
This study aims to determine the effectiveness of the Indonesian Student Exchange Program (PMM) in enhancing the self-confidence of Physics Education students at Tadulako University and to identify the challenges faced during their participation in the program. This research employs a descriptive qualitative method with participants consisting of Physics Education students who have taken part in PMM. Data were collected through questionnaires and in-depth interviews. The questionnaire, consisting of 18 items, showed that the majority of respondents gave positive assessments regarding their self-confidence improvement after participating in PMM, with an overall average score of 89.73%, indicating a very effective category. The interview analysis supports these findings, informants reported an increase in public speaking confidence, adaptability in new environments, and expansion of social networks. Challenges encountered included cross-cultural communication barriers and differences in learning systems, which were managed through effective adaptation strategies. Overall, PMM provided new insights and fostered students’ academic and social self development.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) dalam pengembangan rasa percaya diri mahasiswa Pendidikan Fisika di Universitas Tadulako serta mengidentifikasi tantangan yang dihadapi selama mengikuti program tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan subjek penelitian mahasiswa Pendidikan Fisika yang telah mengikuti PMM. Teknik pengumpulan data meliputi penyebaran angket dan wawancara mendalam. Hasil angket yang terdiri dari 18 pernyataan menunjukkan bahwa mayoritas responden memberikan penilaian positif terhadap peningkatan rasa percaya diri mereka setelah mengikuti PMM, dengan skor rata-rata keseluruhan sebesar 89,73% yang menunjukkan efektivitas program dalam kategori sangat efektif. Analisis wawancara mendukung temuan ini, para informan menyatakan adanya peningkatan keberanian berbicara di depan umum, kemampuan adaptasi di lingkungan baru, serta perluasan jaringan sosial. Adapun tantangan yang dihadapi mencakup hambatan komunikasi lintas budaya dan perbedaan sistem pembelajaran, namun dapat diatasi melalui strategi adaptasi yang efektif. Secara keseluruhan, PMM memberikan wawasan, dan mengembangkan potensi diri mahasiswa secara akademik maupun sosial
Pendampingan Pembelajaran Bahasa Arab dalam Rangka Meningkatkan Penguasaan Kosakata Bahasa Arab dan Penggunaannya di Pesantren DDI Mattoangin, Bantaeng
The majority of Indonesian society adheres to Islam, with the Qur’an and the Sunnah serving as the main sources of guidance in daily life. Understanding these two sources requires proficiency in the Arabic language. However, not all Islamic educational institutions have an active Arabic-speaking environment. This community service program was conducted at Pesantren DDI Mattoangin Bantaeng and involved 30 participants consisting of male and female students. The program aimed to support Arabic language learning in order to improve students’ vocabulary mastery and their ability to use Arabic in daily communication. The activities were implemented through a direct mentoring approach packaged in the form of an Arabic Language Village, a learning model that had never been applied in the pesantren before. The results indicate significant improvements in daily vocabulary acquisition, pronunciation fluency, and speaking confidence, as reflected in increased student participation in dialogues, competitions, group conversations, and the use of Arabic within the dormitory environment. The program also had a positive impact on students’ motivation and attitudes toward learning Arabic. Therefore, this Arabic language mentoring program proved effective in creating an active and communicative language environment and is worthy of being developed sustainably to support the improvement of students’ Arabic language competence in the future.Mayoritas masyarakat Indonesia beragama Islam dengan al-Qur’an dan sunnah sebagai pedoman hidup. Pemahaman terhadap kedua sumber ajaran tersebut memerlukan penguasaan ilmu bahasa Arab. Namun, tidak semua lembaga pendidikan Islam memiliki lingkungan berbahasa Arab yang aktif. Pengabdian ini dilaksanakan di Pesantren DDI Mattoangin Bantaeng dengan melibatkan 30 partisipan yang terdiri dari santri dan santriwati sebagai peserta program, dengan tujuan mendampingi proses pembelajaran bahasa Arab agar mereka dapat meningkatkan penguasaan kosakata serta menggunakannya dalam komunikasi sehari-hari. Kegiatan ini dilaksanakan melalui metode pendampingan langsung yang dikemas dalam bentuk perkampungan bahasa Arab, suatu model pembelajaran yang sebelumnya belum pernah diterapkan di pesantren tersebut. Hasil pelaksanaan menunjukkan adanya peningkatan penguasaan kosakata harian, kelancaran pelafalan, serta keberanian berbicara dalam bahasa Arab, yang ditandai dengan meningkatnya partisipasi santri dalam dialog, lomba-lomba yang diadakan, percakapan kelompok, dan penggunaan bahasa Arab di lingkungan asrama. Program ini juga berdampak pada meningkatnya motivasi dan sikap positif santri terhadap pembelajaran bahasa Arab. Dengan demikian, program pendampingan pembelajaran bahasa Arab terbukti efektif dalam menciptakan lingkungan berbahasa yang aktif dan komunikatif serta layak dikembangkan secara berkelanjutan untuk mendukung peningkatan kompetensi kebahasaan santri di masa mendatang
Peran Agama Sebagai Moral Publik Terhadap Gerakan Anti-Rokok di Bone-Bone Enrekang: (Kajian Antropologi Agama)
This study employs a descriptive qualitative approach based on field research to gain an in-depth understanding of the social, cultural, and religious contexts underlying the formation and implementation of the Smoke-Free Area (SFA) policy in Bone-Bone Village, Baraka District, Enrekang Regency, South Sulawesi. Bone-Bone Village exhibits unique and inspiring characteristics, as it has successfully implemented a collective smoking ban without formal legal coercion from the government, relying instead on local cultural approaches and the internalization of Islamic values. Data were collected through in-depth interviews, participant observation, and documentation, involving religious leaders, village officials, youth representatives, educators, and members of the general community. Data analysis was conducted using both inductive and deductive approaches to examine how religious values and local cultural norms are understood, internalized, and translated into collective behaviors that support social change. The findings indicate that the success of the smoke-free initiative in Bone-Bone is strongly influenced by the strategic roles of religious and community leaders. Islamic da‘wah messages emphasizing the prohibition of actions that cause harm, combined with educational and public health values, serve as a moral foundation that strengthens the legitimacy of the anti-smoking policy. Furthermore, strong social norms, community solidarity, and collective pride in maintaining a healthy village identity contribute significantly to the sustainability of the policy. The SFA initiative in Bone-Bone represents a form of community-based social innovation and underscores the role of religion as a tangible and sustainable agent of social transformation.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif berbasis studi lapangan untuk memahami secara mendalam konteks sosial, budaya, dan keagamaan dalam pembentukan serta pelaksanaan kebijakan Kawasan Bebas Asap Rokok (KBAR) di Desa Bone-Bone, Kecamatan Baraka, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Desa Bone-Bone memiliki karakteristik unik dan inspiratif karena berhasil menerapkan larangan merokok secara kolektif tanpa paksaan hukum formal dari pemerintah, melainkan melalui pendekatan budaya lokal dan internalisasi nilai-nilai Islam. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi dengan melibatkan tokoh agama, aparat desa, pemuda, tenaga pendidik, serta masyarakat umum. Analisis data dilakukan secara induktif dan deduktif untuk menelaah bagaimana nilai keagamaan dan budaya lokal dipahami, diinternalisasi, dan diwujudkan dalam perilaku kolektif masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan KBAR di Bone-Bone sangat dipengaruhi oleh peran strategis tokoh agama dan tokoh masyarakat. Pesan dakwah Islam tentang larangan perbuatan yang membawa kemudaratan, dipadukan dengan nilai pendidikan dan kesehatan, menjadi dasar moral yang memperkuat legitimasi kebijakan antirokok. Selain itu, norma sosial yang kuat, solidaritas komunitas, dan kebanggaan kolektif terhadap identitas desa sehat menopang keberlanjutan kebijakan ini. Inisiatif KBAR di Bone-Bone mencerminkan inovasi sosial berbasis komunitas serta menegaskan peran agama sebagai agen transformasi sosial yang berkelanjutan.
 
ANALISIS STRATEGI PENGEMBANGAN INFRASTRUKTUR WISATA ALAM SUNGAI WAI TIDDO DI KABUPATEN LUWU
Wisata alam Sungai Wai Tiddo memiliki potensi besar sebagai penggerak ekonomi di Desa Bukit Harapan, namun pengembangannya masih terkendala keterbatasan infrastruktur dan tata kelola. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kondisi eksisting sarana prasarana serta merumuskan strategi pengembangannya menggunakan metode deskriptif kualitatif dan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sarana pokok (gazebo, rumah makan, villa) dan prasarana umum (listrik, air bersih, jalan) telah tersedia namun belum optimal dan belum sepenuhnya memenuhi standar Kemenparekraf. Analisis SWOT mengkategorikan pengelolaan saat ini sebagai "cukup baik" dengan nilai persentase 48%. Strategi pengembangan difokuskan pada penambahan fasilitas pendukung, standardisasi informasi wisata, serta diversifikasi atraksi seperti camping ground dan wisata edukasi. 
Influence of Health Education on the Negative Impact of Smoking on Increasing Student Knowledge at SD Inpres Peo
Exposure of school-age children to information and environmental influences that may encourage smoking behavior remains a critical concern, particularlybecause their understanding of the dangers of smoking is generally still limited. This article presents the results of a study aimed at measuring the effect ofcounseling on the dangers of smoking on the knowledge of students at SD Inpres Peo. The research employed a quantitative method using a one-group pre-experimental design, specifically the One-Group Pre-Test and Post- Test model. The study population consisted of all fourth-, fifth-, and sixth-gradestudents at SD Inpres Peo, with a total sample of 62 students. The findings indicate a significant improvement in students’ knowledge after the counseling intervention. During the pre-test, most students demonstrated a low level of knowledge (58%), whereas after the intervention, the majority showed anadequate level of knowledge (67.8%). Results from the Paired Sample T-Test revealed that the mean knowledge score increased from 7.97 to 9.11 following the intervention (p = 0.000). The educational program on the dangers of smoking had a positive impact on increasing students’ knowledge, particularly among fifth-grade students. Support from teachers and the school principal plays an essential role in ensuring the sustainability of the program through thematic learning activities and other school initiatives. The program is expected to foster early behavioral protection and strengthen social norms within the schoolenvironment. Despite these positive outcomes, several challenges remain, including student motivation, program sustainability, and the need for long-term evaluation to ensure behavioral change. The expected outcomes of the program extend beyond improved knowledge scores, encompassing the development of collective awareness and the reinforcement of preventive values
A Qualitative Case Study on Overcrowding And Recidivism in The Banyuasin Regency Correctional Institution
This study contributes to analyze the strategies for the rehabilitation of prisoners implemented at the Banyuasin District Correctional Facility, with a primary focus on the issues of overcrowding and high recidivism rates. The rehabilitation process at the Banyuasin Correctional Facility faces significant challenges, such as overcrowding, which limits prisoners' access to optimal rehabilitation programs. Additionally, the high recidivism rate remains a serious concern, with approximately 30% of released prisoners re-offending. This research uses a qualitative approach with a case study conducted at the Banyuasin Correctional Facility. Data was collected through interviews with prisoners, correctional staff, and direct observations in the field. The findings indicate that despite efforts to improve the quality of rehabilitation, overcrowding and limited facilities continue to be major obstacles. Furthermore, the implemented educational and vocational training programs have proven effective in helping prisoners acquire life skills that can be used after their release. However, there are still challenges related to the lack of instructors and adequate facilities. The study also identifies that personality development programs, through religious activities and psychological counseling, play a crucial role in reducing recidivism. However, there is a need for stronger post-release support and collaboration with the private sector and educational institutions to enrich the curriculum and enhance the relevance of rehabilitation programs to the labor market. The results of this study are expected to contribute to formulating more effective rehabilitation policies at the Banyuasin Correctional Facility and provide insights for other correctional institutions in Indonesia in addressing overcrowding and recidivism issues