Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri (University of Brawijaya)
Not a member yet
    256 research outputs found

    Shelf-Life Prediction of Shallot Powder Using Accelerated Shelf-Life Testing (ASLT) Method by the Arrhenius Equation Approach

    Full text link
    AbstractThe storage process of shallot powder can cause a quality decrease. This study aims to estimate shelf-life of shallot powder at various storage temperatures and determine quality changes during storage. This study used a Completely Randomized Design with two factors to determine quality changes of shallot powder, i.e. the coating and storage temperature. The statistical analysis results showed that the coating, storage temperature, and interaction between the two factors affected Volatile Reducing Substances (VRS) levels. The two factors and their interaction do not influence the water content. Shelf-life estimation was performed using the Arrhenius method. Coated shallot powder has a longer shelf-life than uncoated shallot powder. Shelf-life determination was performed based on water content parameters. The shelf-life of uncoated shallot powder was 337 days at 30 °C, 322 days at 40 °C, and 309 days at 50 °C. The shelf-life of coated shallot powder was 353 days at 30 °C, 340 days at 40 °C, and 328 days at 50 °C. The coating process can extend the shelf-life of shallot powder.Keywords: Accelerate Shelf-Life Testing (ASLT), Arrhenius, coating, shallot powder AbstrakProses penyimpanan dapat menyebabkan penurunan mutu bawang merah bubuk. Penelitian ini bertujuan untuk menduga umur simpan produk bawang merah bubuk pada berbagai suhu penyimpanan dan mengetahui perubahan mutunya selama penyimpanan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan dua faktor untuk mengetahui perubahan mutu bawang merah bubuk, yaitu penggunaan penyalut dan suhu penyimpanan. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa penyalutan, suhu penyimpanan, dan interaksi antara kedua faktor memengaruhi kadar Volatile Reducing Substance (VRS). Kadar air tidak dipengaruhi oleh kedua faktor dan interaksi antara kedua faktor tersebut. Pendugaan umur simpan dilakukan menggunakan metode Arrhenius. Bubuk bawang merah dengan proses penyalutan memiliki umur simpan yang lebih lama dibandingkan bubuk bawang merah tanpa proses penyalutan. Penentuan umur simpan dilakukan berdasarkan parameter kadar air, Umur simpan bawang merah bubuk tanpa penyalutan adalah 337 hari pada suhu 30 °C, 322 hari pada suhu 40 °C, dan 309 hari pada 50 °C. Umur simpan bawang merah bubuk dengan penyalutan adalah 353 hari pada suhu 30 °C, 340 hari pada suhu 40 °C, dan 328 hari pada suhu 50 °C. Proses penyalutan mampu memperpanjang umur simpan bawang merah bubuk.Kata kunci: Accelerate Shelf-Life Testing (ASLT), Arrhenius, bawang merah bubuk, penyalutan

    Energy Sufficiency of Biomass and Wastewater in Closed Process of Sago Starch Production

    Full text link
    AbstractSago grows in lowland and peat swamp regions that are relatively isolated due to limited basic infrastructures, including energy supply, especially electricity. These limitations constraining the development of sago starch production and industry. The sago starch production process generates by-products such as sago bark waste, pith waste, and wastewater which are potentially used as an energy source. This paper discusses a closed system model of an energy-independent sago starch production process from the utilization of by-products and wastewater. A mass balance model was developed to calculate the energy potency of by-products and waste to construct a closed system for the sago starch production process. The model's output showed that the by-product from processing 1,000 tons of sago stems per day with an optimal yield of 14% potentially generates 90,562 kWh of energy. This energy potency can meet the 26,070 kWh energy needed for sago starch production, making it possible to develop into a closed production system. Further research is needed to determine the site-specific aspects that affect energy sufficiency.Keywords: closed system, energy sufficiency, sago starch AbstrakKawasan hutan sagu berada di dataran rendah dan rawa-rawa yang relatif terisolasi karena keterbatasan infrastruktur dasar, termasuk pasokan energi, terutama listrik. Keterbatasan tersebut menyebabkan produksi dan industri pati sagu sulit berkembang. Proses produksi pati sagu mempunyai hasil samping berupa kulit, ampas, dan limbah cair yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi. Artikel ini membahas model sistem tertutup proses produksi pati sagu yang mandiri energi dari pemanfaatan hasil samping dan limbah cair. Model kesetimbangan massa dikembangkan untuk menghitung potensi energi dari hasil samping dan limbah untuk membangun sistem tertutup proses produksi pati sagu. Luaran model menunjukkan bahwa hasil samping dari pengolahan 1.000 ton batang sagu per hari dengan rendemen optimal 14% berpotensi membentuk energi sebanyak 90.562 kWh. Potensi energi ini dapat memenuhi kebutuhan energi yang diperlukan dalam pengolahan sebanyak 26.070 kWh, sehingga produksi pati sagu dapat dikembangkan menjadi sistem produksi tertutup. Penelitian lanjutan perlu dilakukan untuk mengetahui aspek spesifik lokasi terhadap kecukupan energi.Kata kunci: kecukupan energi, pati sagu, sistem tertutup

    FRONT MATTER

    No full text

    Micrococcus yunnanensis and Psychrobacter sp. as Potential Producers of Polymers from Hot Spring

    Full text link
    AbstractPolyhydroxyalkanoates (PHAs) and exopolysaccharides (EPSs) are biopolymers bacteria under nutrient-limiting conditions. In this study, bacterial strains were isolated from hot springs. Soil samples were collected from Tatta Pani, Azad Kashmir, Pakistan. Bacterial strains AJ2 and AJ3 were selected due to their ability to produce PHAs and EPSs. Phylogenetic analysis showed that strain AJ2 was Micrococcus yunnanensis and AJ3 was Psychrobacter sp. Three carbon sources (glucose, glycerol, and molasses) were used for polymer production. The effect of high pH (8) and high temperature (55 °C) was checked on PHAs and EPSs production. The highest yield of PHAs was given by strain AJ3 (89.43%) with molasses. When grown at 55 °C for 24 hours, strain AJ3 showed the highest PHAs accumulation, 79% with glucose. At alkaline pH 8, strain AJ3 gave 34% PHAs with molasses. The highest EPSs production was observed for strain AJ3. AJ3 gave 70g/L of EPSs with both glucose and glycerol. The amplification of the phaC gene was done to confirm the genetic basis of PHAs production. FTIR analysis showed clear bands at 1722 cm-1 and 2925 cm-1 representing the carbonyl and alkyl groups of PHAs, respectively.Keywords: exopolysaccharides, Kashmir, Micrococcus yunnanensis, polyhydroxyalkanoates, Psychrobacter sp. AbstrakPolihidroksialkanoat (PHA) dan eksopolisakarida (EPS) adalah biopolimer yang diproduksi oleh bakteri yang hidup pada kondisi nutrisi yang terbatas. Dalam penelitian ini, strain bakteri diisolasi dari sumber air panas. Sampel tanah dikumpulkan dari Tatta Pani, Azad Kashmir, Pakistan. Strain bakteri AJ2 dan AJ3 dipilih karena kemampuannya menghasilkan PHA dan EPS. Analisis filogenetik menunjukkan bahwa strain AJ2 adalah Micrococcus yunnanensis dan AJ3 adalah Psychrobacter sp. Tiga sumber karbon (glukosa, gliserol, dan molase) digunakan untuk produksi polimer. pH tinggi (8) dan suhu tinggi (55 °C) diperiksa pengaruhnya terhadap produksi PHA dan EPS. Hasil tertinggi PHA diberikan oleh strain AJ3 (89,43%) dengan tetes tebu. Saat ditumbuhkan pada suhu 55 °C selama 24 jam, strain AJ3 menunjukkan akumulasi PHA tertinggi, 79% dengan glukosa. Pada pH basa 8, strain AJ3 memberikan 34% PHA dengan molase. Produksi EPS tertinggi diamati untuk strain AJ3. AJ3 menghasilkan 70g/L EPS dengan glukosa dan gliserol. Amplifikasi gen phaC dilakukan untuk mengkonfirmasi dasar genetik produksi PHA. Analisis FTIR menunjukkan pita yang jelas pada 1722 cm-1 dan 2925 cm-1 masing-masing mewakili gugus karbonil dan alkil PHA.Kata kunci: eksopolisakarida, Kashmir, Micrococcus yunnanensis, polihidroksialkanoat, Psychrobacter sp

    Management Strategy of Muara Baru Modern Fish Market

    Full text link
    AbstractTo compete in the present and future, the newly constructed Muara Baru modern fish market, called Pasar Ikan Modern Muara Baru (PIM Muara Baru), requires an effective management approach. This research aims to examine different management techniques for PIM Muara Baru utilizing a Strength, Weakness, Opportunity, and Threat (SWOT) analysis. The findings indicate that an aggressive strategy is required. Alternative management strategies include improving facilities and adding products sold at the food court, assigning special employees to promote and implement more intensive and innovative promotional activities on social media, collaborating with the government in optimizing Gemarikan (a national program to popularize eating fish), cooperating with online business partners and increasing merchants' capacity to transact online, adding facilities and improving the service quality. The outcomes of the alternative techniques are offered for PIM Muara Baru management to consider.Keywords: management strategy, Muara Baru modern fish market, SWOT Analysis AbstrakPasar ikan modern (PIM) Muara Baru yang baru dibangun memerlukan strategi pengelolaan yang tepat sehingga mampu bersaing di masa sekarang dan masa yang akan datang. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis alternatif strategi pengelolaan PIM Muara Baru menggunakan analisis Strength, Weakness, Opportunity, Threat (SWOT). Hasil penelitian menunjukan bahwa strategi yang diperlukan adalah aggressive strategy. Alternatif strategi pengelolaan antara lain: memperbaiki fasilitas dan menambah produk yang dijual di foodcourt; menyediakan Sumber Daya Manusia (SDM) khusus untuk melakukan promosi dan menerapkan kegiatan promosi yang lebih intensif dan inovatif di media sosial, bekerja sama dengan pemerintah dalam mengoptimalkan gemarikan (gerakan memasyarakatkan makan ikan), bekerja sama dengan mitra bisnis online dan meningkatkan kapasitas pedagang untuk bertransaksi secara daring, menambah fasilitas dan meningkatkan kualitas pelayanan pada konsumen. Alternatif srategi pada hasil penelitian ini disarankan sebagai bahan pertimbangan untuk diterapkan dalam pengelolaan PIM Muara Baru.Kata Kunci: analisis SWOT, Pasar Ikan Modern Muara Baru, strategi pengelolaa

    Analysis of Storage and Packaging Conditions on Physicochemical Characteristics of Eggplant (Solanum melongena L.)

    Full text link
    AbstractEggplant (Solanum melongena L.) is a horticultural product widely distributed in Indonesia and is an easily damaged commodity during storage. Suitable storage conditions are needed to increase the eggplant's shelf-life. This study aims to determine the differences and the best conditions of packaging type, storage temperature, and shelf-life to maintain and improve the eggplant's quality. This research was conducted using a Nested Design with three replications. The analysis used includes weight loss, moisture content, ash content, pH, firmness level, protein content, fat content, and carbohydrates content. The results indicate that storage at cold temperatures (±8 °C) can inhibit metabolic processes, so there is a decrease in protein and carbohydrate content due to lower respiration processes than eggplant stored at room temperature (±27 °C). The type of polyethylene (PE) plastic packaging can reduce the potential for damage to eggplant during storage and increase the eggplant's shelf-life compared to brown kraft paper bag packaging and without packaging, which is characterized by better weight loss, protein, carbohydrates, and texture. Storage treatment for five days at cold temperatures (±8 °C) with PE plastic packaging was the best treatment in this study.Keywords: eggplant, packaging, storage, temperature Abstrak Terung (Solanum melongena L.) merupakan produk tanaman hortikultura yang sudah banyak tersebar di Indonesia dan merupakan komoditas yang mudah mengalami kerusakan selama penyimpanan. Kondisi penyimpanan yang sesuai dibutuhkan untuk meningkatkan umur simpan terung. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan dan kondisi terbaik penggunaan jenis kemasan, suhu penyimpanan, dan umur penyimpanan untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas terung. Penelitian ini dilakukan menggunakan Rancangan Nested dengan tiga kali ulangan. Analisa yang digunakan dalam penelitian ini meliputi analisa susut bobot, kadar air, kadar abu, pH, kekerasan, protein, lemak, dan karbohidrat. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penyimpanan pada suhu dingin (±8 °C) dapat menghambat proses metabolisme sehingga terjadi penurunan kandungan protein dan karbohidrat yang disebabkan proses respirasi lebih rendah dibandingkan terung yang disimpan pada suhu ruang (±27 °C). Jenis kemasan plastik polyethylene (PE) mampu menurunkan potensi kerusakan terung selama penyimpanan dan meningkatkan umur simpan terung dibandingkan kemasan kraft paper bag cokelat dan tanpa kemasan yang ditandai hasil susut bobot, protein, karbohidrat, dan tekstur yang lebih baik. Perlakuan penyimpanan lima hari pada suhu dingin (±8 °C) dengan kemasan plastik PE merupakan perlakuan terbaik pada penelitian ini.Kata kunci: pengemasan, penyimpanan, suhu, terung

    BACK MATTER

    No full text

    The Root Causes Analysis of Indonesia's Fishery Products Rejection in the United States of America and European Countries during 2010 – 2020

    Full text link
    AbstractThis study aimed to determine the number of cases, causes, and main rejection factors of Indonesia's fishery products by the USA and European markets. Data were obtained from the websites of USFDA (USA) and RASFF (Europe) from 2010 to 2020. Pareto analysis and fishbone diagram were used for analyzing data that informants validated from selected exporters and experts. Within the observed period, there were 2,318 cases of rejection in the USA and 79 in Europe. The highest case was in 2011 in the USA and 2012 in European markets. Based on Pareto analysis of rejection cases, the main factors that accounted for more than 80% of rejections in the USA were filthy and Salmonella; meanwhile, in Europe, were mercury, poor temperature control, Salmonella, histamine, and cadmium. The fishbone diagram result with validation from fishery product exporter shows that human factor, such as the lack of coordination and communication between business actors, especially at the supplier level when selecting raw materials, was considered the cause of rejection (filthy). Establishing well-managed cooperation among business actors within an integrated fish supply chain management is essential to ensure the quality of fishery products.Keywords: Europe, fishery product, rejection, root causes, United States of America AbstrakPenelitian bertujuan untuk mengetahui jumlah kasus, penyebab dan faktor utama penyebab penolakan produk perikanan Indonesia di Pasar Eropa dan Amerika. Data diperoleh dari website USFDA (Amerika) dan RASFF (Eropa) dalam kurung waktu 2010 – 2020. Analisis data yang digunakan yaitu analisis pareto dan diagram tulang ikan, yang divalidasi oleh informan dari eksportir terpilih dan ahli. Hasil penelitian menunjukkan penolakan produk ekspor perikanan Indonesia di pasar Amerika berjumlah 2.318 kasus dan 79 kasus di Eropa dalam kurun waktu penelitian. Penolakan tertinggi terjadi pada tahun 2011 di pasar Amerika dan pada tahun 2012 di Eropa. Hasil analisis data dengan diagram pareto menunjukkan bahwa produk kotor dan Salmonella menyumbang 80% penolakan produk perikanan di Amerika, sedangkan mercury, pengendalian suhu yang tidak bagus, Salmonella, histamine, dan cadmium di pasar Eropa. Hasil analisis diagram tulang ikan dan validasi dengan eksportir menunjukkan bahwa penyebab penolakan untuk pasar Amerika Serikat (yaitu produk kotor) adalah faktor manusia, seperti kurang koordinasi dan komunikasi antar pelaku usaha, khususnya di tingkat supplier. Kerjasama antar pelaku usaha dalam pengelolaan rantai pasok ikan terintegrasi dapat menjamin kualitas produk perikanan yang sesuai standar yang dipersyaratkan.Kata kunci: akar masalah, Amerika Serikat, Eropa, penolakan, produk perikana

    Trade Consequences of the Farm Production Regulation: The Glyphosate Ban in the Sri Lankan Tea Industry

    Full text link
    Abstract Tea manufacturing is an important industry for the Sri Lankan economy because it generates foreign income, which adds to gross domestic product of the country and creates employment opportunities. Tea has been exported to several countries from Sri Lanka for over a century, and Sri Lanka remains a leading tea exporter to date. Recently, the Sri Lankan government issues a policy which disadvantages the tea industry in the country. The government banned the use of glyphosate in the agricultural sector from 2015 to 2018 which directly or indirectly affects the tea industry. The policy brought a consequence where the farmers used illegal substances and other weedicides to control the weed. These consequences placed the Sri Lankan tea industry at risk since their final product is contains high amount of residual weedicide which exceeds the Maximum Residue Limit (MRL). In this paper, we use The Equilibrium Displacement Model to study the economic impact of rejections of tea consignments by Japan due to the excess use of 2-methyl-4-chlorophenoxyacetic acid (MCPA) in 2018. The demand of Sri Lankan bulk black tea by Japan has declined by 6.5% between 2017 and 2018. The estimated of the Sri Lankan tea industry from reduced demand for bulk black tea was Rs339 million.Keywords: tea industry, glyphosate ban, Sri Lanka AbstrakTeh adalah industri penting bagi perekonomian Sri Lanka karena menghasilkan devisa yang menambah produksi domestik bruto dan menciptakan lapangan kerja. Teh telah diekspor dari Sri Lanka selama lebih dari satu abad ke berbagai negara dan Sri Lanka tetap menjadi eksportir utama. Kebijakan pemerintah baru-baru ini yang memengaruhi sektor pertanian tidak menguntungkan bagi industri teh. Pelarangan penggunaan glifosat dari tahun 2015 hingga 2018 merupakan salah satu kebijakan yang berdampak signifikan terhadap industri teh, baik secara langsung maupun tidak langsung. Konsekuensi penggunaan formulasi pengendali gulma ilegal dan herbisida alternatif menempatkan industri teh pada keadaan yang beresiko melalui konsekuensi tidak disengaja dari kehilangan akses ke pasar ekspor teh karena insiden mengenai kelebihan Batas Maksimum Residu. Dalam tulisan ini, dampak ekonomi dari penolakan pengiriman teh dari Jepang karena penggunaan 2-methyl-4-chlorophenoxyacetic acid (MCPA) yang berlebihan pada tahun 2018 diselidiki dengan menggunakan Equilibrium Displacement Model pada industri teh. Permintaan ekspor Jepang untuk teh hitam curah turun 6,5% antara 2017 dan 2018. Perkiraan kerugian surplus ekonomi industri teh Sri Lanka dari penurunan permintaan teh hitam curah adalah Rs339 juta.Kata kunci: industri teh, larangan penggunaan glifosat, Sri Lank

    BACK MATTER

    No full text

    196

    full texts

    256

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri (University of Brawijaya)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇