Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri (University of Brawijaya)
Not a member yet
256 research outputs found
Sort by
Optimasi Formula Mi Kering Berbasis Ampok Jagung Terfermentasi sebagai Makanan Tambahan bagi Ibu Hamil
AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk membuat mi kering berbasis ampok jagung yang difortifikasi dengan tepung tempe dan tepung daun kelor yang dapat memenuhi kebutuhan ibu hamil. Penelitian ini dibagi menjadi 2 tahap utama yaitu optimasi formula dan analisis produk akhir. Tahap optimasi formula dimulai dengan menentukan titik maksimum substitusi dari masing-masing tepung. Pembuatan mi kering substitusi tepung daun kelor dilakukan dengan level substutisi 10% hingga 35%, sedangkan untuk tepung tempe dari 15% hingga 40%. Tahap optimasi formula dilakukan dengan bantuan piranti lunak Design Expert 7.0 dengan metode rancangan campuran D-optimal. Analisis respon akan menghasilkan model persamaan. Model untuk respon warna dan cita rasa adalah linier, zat besi dan tekstur adalah kuadratik, sedangkan model untuk respon protein dan kalsium adalah kubik. Semua model tergolong signifikan sehingga dapat memberikan prediksi hasil yang baik. Solusi formula yang paling optimal, yaitu formula mi kering dengan 17,129% tepung daun kelor dan 32,871% tepung tempe. Tahap verifikasi memberikan hasil yang mendukung prediksi formula optimal tersebut. Hasil analisis menunjukan mi kering mengandung kadar air sebesar 7,45%, kadar abu sebesar 3,4%, kadar protein sebesar 28,85%, kadar lemak sebesar 6,73%, kadar kalsium sebesar 309,61 mg/100 gram, kadar zat besi sebesar 34,05 mg/100 gram, cooking loss 2,2% dan cooking time 275 detik.Kata kunci: ampok jagung, ibu hamil, makanan tambahan, mi kering, optimasi AbstractThis study aim was to make dried noodles based on fermented corn fortified with tempeh flour and moringa leaf flour that can meet the needs of pregnant women. This research was divided into two main stages, namely formula optimization and final product analysis. The formula optimization stage begins by determining the maximum substitution point of each flour. For moringa leaf flour, it was made to make dry noodles with a substitution level of 10% to 35%, while for tempeh flour from 15% to 40%. The formula optimization stage was carried out with the help of Design Expert 7.0 software with the D-optimal mixture design method. Response analysis produced an equation model. Models for color and flavor responses are linear, iron and texture are quadratic, while models for protein and calcium responses are cubic. All models are classified as significant so that they can predict good results. The most optimal formula solution was dry noodle formula with 17.129% Moringa leaf flour and 32.871% tempeh flour. The verification phase provides results that support the optimal formula prediction. The results of the analysis showed that dried noodles contained a moisture content of 7.45%, ash content of 3.4%, protein content of 28.85%, fat content of 6.73%, calcium content of 309.61 mg/100 gram, substance content iron at 34.05 mg/100 gram, cooking loss 2.2% and cooking time 275 seconds.Keywords: dry noodles, fermented corn, optimization, pregnant women, supplementary foo
Pepaya sebagai Bahan Pengisi pada Produksi Pasta Tomat
Abstrak Pada umumnya, pasta tomat diproduksi menggunakan bahan dasar tomat yang ditambahkan dengan bahan pengisi, seperti carboxymethyl cellulose (CMC). Salah satu alternatif pengganti penggunaan CMC sebagai bahan pengisi adalah bahan pengisi alami seperti pepaya. Pepaya dapat dipakai sebagai bahan pencampur pembuatan pasta tomat karena kandungan total padatannya relatif hampir sama dengan total padatan tomat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasta tomat dengan penambahan pepaya sebagai bahan pengisinya. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan perlakuan komposisi tomat dan pepaya (perbandingan tomat dan pepaya sebanyak 1:0 (kontrol), 1:1, 2:1, 4:1, dan 6:1). Setiap perlakuan diulang sebanyak lima kali. Variabel pengamatan pada penelitian adalah rendemen, total padatan terlarut, pH, total asam, vitamin C, dan uji organoleptik. Data yang diperoleh diolah menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA) yang dilanjutkan dengan uji lanjut Duncan pada taraf nyata 5% (α = 0,05) menggunakan paket program SPSS 21.0 Statistic Software. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pepaya dapat digunakan sebagai bahan pengisi pada pasta tomat. Penambahan buah pepaya dapat meningkatkan rendemen, total padatan terlarut, total asam, dan kandungan vitamin C pada pasta tomat. Penambahan buah pepaya sampai dengan 50% (komposisi tomat:pepaya sebanyak 2:1) menghasilkan pasta tomat yang stabil dan dapat diterima oleh konsumen.Kata kunci: karakteristik, pasta, pengisi, pepaya, tomat AbstractGenerally, tomato paste is produced using tomato as raw material ingredients added with fillers, such as carboxymethyl cellulose (CMC). Another alternative to change CMC as filler is the use of natural fillers, such as papaya. Papaya could be used as a mixing material of tomato paste production because the total soluble solid of papaya is relatively almost the same as the total soluble solid of tomato. This study aimed to determine the characteristics of tomato paste with the addition of papaya as filler. The experiment was set up in completely randomized design with the treatment of the composition of tomatoes and papaya (the ratio of tomato and papaya as much as 1:0 (control),1:1, 2:1, 4:1, and 6:1). Each treatment repeated five times. The observation variables in the study were yield, total soluble solid, pH, total acid, vitamin C, and organoleptic test. Data obtained was processed using variance analysis (ANOVA) followed by Duncan’s advanced test at 5% (α = 0,05) using the SPSS 21,0 program statistical package. The results showed that papaya can be used as filler in tomato paste. The addition of papaya could increase yield, total soluble solid, total acid, and vitamin C content in tomato paste. Added papaya fruit up to 50% (tomato and papaya composition is 2:1) produced tomato paste which is stable and acceptable to consumers.Keywords: characteristics, filler, papaya, paste, tomat
Pembuatan Virgin Coconut Oil (VCO) Kajian Suhu Inkubasi dan Konsentrasi Enzim Papain Kasar
oai:industria.ub.ac.id:article/405AbstrakVirgin Coconut Oil (VCO) adalah produk olahan kelapa yang memiliki manfaat dan nilai jual yang tinggi. Enzimatis adalah salah satu metode pembuatan VCO. Konsentrasi enzim serta suhu yang digunakan sangat berpengaruh terhadap proses pembuatan dan hasil VCO. Tujuan penelitian adalah mengetahui perlakuan terbaik suhu inkubasi dan konsentrasi enzim papain kasar untuk menghasilkan VCO ditinjau dari rendemen, organoleptik (warna, aroma, rasa), dan uji kimia (kadar air, bilangan peroksida, dan indeks bias) yang mendekati SNI 7381:2008. Penelitian dirancang menggunakan Rancangan Faktorial dengan pola Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 faktor, yaitu suhu inkubasi (40 oC, 45 oC, dan 50 oC) dan konsentrasi enzim papain kasar (1,00%, 1,50%, dan 2,00%) dari krim santan sebesar 150,00 gram dan diulang 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik yaitu perlakuan suhu inkubasi 40 °C dan konsentrasi enzim papain kasar 1,50% dengan rendemen 18,80%, warna 5,00 (tidak berwarna), aroma 4,00 (tidak tengik), rasa 4,00 (cukup berasa khas minyak), kadar air 0,13%, dan indeks bias 1,46. Hasil ini sudah memenuhi standar kualitas menurut SNI 7381:2008 kecuali bilangan peroksida sebesar 3,86 meg ek/kg yang lebih tinggi dari standar.Kata kunci: papain, rendemen, suhu inkubasi, virgin coconut oil AbstractVirgin Coconut Oil (VCO) is a processed coconut product that has high benefit and selling price. Enzymatic is a method of VCO production. The concentration of enzymes and the temperature used are very influential in the manufacturing process of VCO and its products The purpose of this study was to determine the best treatment of incubation temperature and crude papain enzyme concentration to produce VCO by considering the yield, organoleptic (color, aroma, taste), and chemical test (moisture content, peroxide number, and refractive index) based on SNI 7381: 2008. The study was designed using a Randomized Block Design (RBD) with two factors, namely the incubation temperature (40 oC, 45 oC, and 50 oC) and the concentration of crude papain enzymes (1.00%, 1.50%, and 2.00%) of coconut milk cream for 150.00 grams and replicated three times. The results showed that the best treatment was incubation temperature of 40 °C and crude papain enzyme concentration of 1.50% with yield of 18.80%, color of 5.00 (colorless), aroma of 4.00 (not rancid), taste of 4.00 (quite typical of oil), water content of 0.13%, and refractive index of 1.46. This result has met the quality standard according to SNI 7381: 2008, but the peroxide number of 3.86 meg eg/kg higher from the standard.Keywords: incubation temperature, papain, virgin coconut oil, yield
Analisis Peluang Laba Agroindustri Perikanan di Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat
AbstrakAgroindustri merupakan kegiatan untuk meningkatkan nilai tambah pada produk-produk pertanian, termasuk sektor perikanan/hasil laut. Melalui nilai tambah ini, diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan para pelakunya, dikarenakan nilai tambah atau peluang laba terbesar terletak pada sub sektor agroindustrinya. Penelitian ini bertujuan menganalisis peluang laba pada agroindustri perikanan di Kecamatan Gebang Kabupaten Cirebon. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dan teknik pengumpulan data berdasarkan survei. Populasinya adalah pengolah ikan laut basah menjadi ikan laut kering yang berjumlah 18 orang dan teknik pengambilan sampel melalui sensus. Analisis data menggunakan regresi linier sederhana, kaidah laba maksimum dan elastisitas. Hasil penelitian mendapatkan persamaan regresi yaitu TC = 4.806,63 + 16.192,184Q sehingga nilai MC = 16.192,184 dan TR = 38.360,576 + 22.783,789Q sehingga nilai MR = 22.783,789. MC < MR maka peluang labanya masih terbuka hingga mencapai laba maksimum (MC=MR). Berdasarkan analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa peluang laba pada agroindustri perikanan ini masih terbuka, artinya setiap upaya menambah output (Q) maka akan menambah pula labanya.Kata kunci: agroindustri, laba, perikanan AbstractAgro-industry is an activity that adds value to agricultural products in a broad sense, including marine/fishery products. Through this added value, is expected to improve its welfare. The value added or the largest profit opportunity lies in the sub-sector of agro-industry. This study aims to analyze the profit opportunities in fishery agro-industry in Gebang Sub-district of Cirebon Regency. The location of the study was determined purposively and implemented during May 2018. The research method is quantitative and data collection techniques based on the survey. The population is wet sea fish processor into dried sea fish, amounting to 18 people and sampling technique through a census. Data analysis using simple linear regression, max profit rules, and elasticity. The results showed that the regression equation obtained: TC = 4.806,63 + 16.192,184Q so that the value of MC = 16.192,184 and TR = 38.360,576 + 22.783,789Q so that the value of MR = 22.783,789. MC < MR then the profit opportunity is still open until it reaches maximum profit (MC = MR). It can be concluded that the profit opportunity in this fishery agro-industry is still open, meaning every effort to increase the output (Q) then it will also increase profit.Keywords: agro-industry, fishery, profi
Perluasan Kesempatan Kerja dengan Pengembangan Agroindustri di Daerah Kantong Tenaga Kerja Indonesia (TKI)
AbstrakMoratorium pembatasan pengiriman TKI sektor informal terutama ke negara-negara di Kawasan Timur Tengah dilakukan sejak tahun 2011 dengan alasan perlindungan yang sangat sulit dilakukan. Hal ini menimbulkan permasalahan baru bagi calon-calon TKI yang tidak bisa lagi mencari kerja di luar negeri dan sulit mendapatkan pekerjaan di dalam negeri. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peluang pengembangan Agroindustri di daerah-daerah Kantong TKI. Penelitian ini menggunakan analisis kuantitatif terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan Kesempatan Kerja di Kabupaten dengan menggunakan metode Location Quotient (LQ) untuk menentukan sektor basis. Kesimpulan dari penelitian diperoleh bahwa kesempatan kerja di sektor pertanian memiliki kecenderungan terus menurun dan digantikan oleh sektor industri. Pengembangan agroindustri merupakan salah satu pemecahan masalah yang dapat dilakukan oleh pemerintah untuk menyediakan lapangan kerja di dalam negeri khususnya bagi masyarakat yang berpendidikan rendah sehingga dapat mengurangi minat masyarakat untuk bekerja di luar negeri di sektor yang tidak berbadan hukum. Pemanfaatan komoditi unggulan, pemberdayaan dan peningkatan pendidikan/keterampilan masyarakat merupakan solusi untuk pengembangan agroindustri di daerah Kantong TKI dalam rangka perluasan kesempatan kerja.Kata Kunci: agroindustri, pemberdayaan, tenaga kerja Indonesia AbstractThere has been a moratorium on restrictions on the delivery of Indonesian migrant workers since 2011, especially to countries in the Middle East Region with the reason of the difficulties in safety protection. This moratorium raises new problems for prospective labor migrants who can no longer seek employment abroad and difficult to find work in the country. This study aims to examine the opportunities for Agro-industry development in the areas of the Indonesian Migrant Workers. The study uses quantitative analysis of Gross Regional Domestic Product (GRDP) and Employment Opportunities in the District by using the LQ method to determine the base sector. The conclusion of the research shows that employment opportunities in the agricultural sector tend to decline. It is replaced by the industrial sector. Agro-industry development is one of the solutions that can be offered by the government to provide jobs in the country specifically for low-educated people, so as can reduce the interest of the community to work abroad in the informal sector. Utilization of superior commodities, empowerment, and improvement of education/community skills are solutions for the development of agro-industries in the area of Indonesian migrant workers in the framework of expanding employment opportunities.Keywords: agroindustry, empowerment, Indonesian migrant worker
Akurasi Estimasi Kadar Sukrosa pada Penentuan Tingkat Kematangan Pepaya Menggunakan Nilai RGB Berbasis Aplikasi Mobile
Abstrak Tingkat kematangan pepaya selama ini diidentifikasi secara visual dengan perubahan warna pada kulit buah pepaya. Proses identifikasi ini memiliki beberapa kekurangan di antaranya melelahkan, tidak konsisten, dan memakan waktu. Tujuan penelitian ini adalah membangun sebuah aplikasi pengolahan citra untuk mengidentifikasi tingkat kematangan pada buah pepaya berbasis mobile agar lebih efektif. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah regresi linier berganda. Metode ini digunakan untuk mencari korelasi antara nilai red, green, blue (RGB) dan Brix pada buah pepaya. Pembuatan aplikasi ini menggunakan metode K-Nearest Neighbour (KNN) menggunakan 90 buah papaya dengan tingkat kematangan yang berbeda, yaitu tingkat kematangan mentah, mengkal, dan matang. KNN digunakan sebagai metode untuk kuantifikasi warna sehingga mendekati warna yang sesungguhnya. Hasil pengujian sistem menunjukkan bahwa penerapan aplikasi identifikasi tingkat kematangan buah pepaya memiliki tingkat akurasi sebesar 66,67%. Aplikasi ini butuh untuk dikembangkan lebih lanjut karena masih memiliki tingkat akurasi yang rendah, tetapi aplikasi ini sudah dapat digunakan sebagai alat bantu sortasi pepaya.Kata kunci: pengolahan citra, pepaya, RGB, Brix AbstractThe degree of ripeness of papaya has been evaluated manually based on its skin color parameters. This identification process has several disadvantages, such as exhausting, inconsistent, and taking time. This research is set to build an application of image processing for identifying a papaya maturity level based on the mobile application. The method used in this research is multiple linear regression to find the correlation between red, green, blue (RGB) and Brix values in papaya. The mobile application is developed by using K-Nearest Neighbour (KNN) method for 90 papayas with different levels of maturity; unripe, moderate, and ripe. KNN is used to estimate the color of papaya skin quantitatively. The result showed that the use of the mobile application for determination of the degree of papaya ripeness has an accuracy level of 66.67%. The mobile application can be used as a supporting tool for papaya sorting process, although it should be improved to increase its accuracy.Keywords: image processing, papaya, RGB, Bri