Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri (University of Brawijaya)
Not a member yet
    256 research outputs found

    Perancangan Sistem Database Stock Location untuk Optimalisasi Stock Accuracy pada Gudang Pengemasan Suatu Perusahaan Minuman

    Full text link
    AbstrakPT Suntory Garuda Beverage merupakan perusahaan Joint Venture antara perusahaan manufaktur Indonesia dengan perusahaan minuman dari Jepang. Perusahaan ini telah menjadikan gudang sebagai faktor penggerak untuk memperlancar kegiatan produksi, terutama gudang material. Nilai stock accuracy gudang pada saat ini belum optimal dengan standar KPI adalah 99,95%. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan akar penyebab masalah sehingga stock accuracy packaging material menjadi lebih optimal serta memberikan upaya perbaikan yang dapat digunakan untuk meningkatkan nilai stock accuracy gudang packaging material. Jenis penelitian yang dikembangkan adalah penelitian ex-post facto yaitu pengumpulan data dilakukan melalui wawancara serta observasi langsung untuk mengamati proses yang tidak sesuai dengan SOP terkait alur dan proses pergudangan. Hasil penelitian menggunakan fishbone diagram menunjukkan penyebab utama adalah kurang pengontrolan pergerakkan material pada saat berada di ruang penyimpanan melalui stock opname harian karena jumlah tenaga operasional gudang yang berkurang. Rekomendasi perbaikan berupa sistem database stock location menggunakan Microsoft Access 2007 yang dapat digunakan sebagai pusat monitoring harian. Database ini merupakan rancangan dalam upaya meningkatkan akurasi stok gudang pengemasan. Uji coba bersama berbagai pihak yang telah direncanakan di gudang pengemasan PT Suntory Garuda Beverage perlu dilakukan untuk mengetahui apakah database ini dapat meningkatkan akurasi stok gudang.Kata Kunci: database lokasi stok, diagram tulang-ikan, keakuratan stok AbstractPT Suntory Garuda Beverage is a joint venture between an Indonesian manufacturing company and a beverage company from Japan. This company has made warehouses as a driving factor to facilitate production activities, especially warehouse material. The accuracy of the warehouse stock is still not optimal with the KPI standard is 99.95%. This study aims to find the root cause of the problem so that stock accuracy packaging material becomes more optimal and provides improvement that can be used to increase the stock accuracy of packaging materials warehouse. The type of this research is ex-post facto research where data collection is done through interviews and direct observation for any installation process that is not in accordance with the SOP regarding the flow and warehousing process. The results of the study using fishbone diagram show that the main cause is less control of material moving in the warehouse using daily stock record due to the lack of operational worker. Recommendations for improving the stock accuracy database system using Microsoft Access 2007, which can be used as a daily monitoring center. This database is a design to increase stock accuracy of packaging material warehouse. Verification by stakeholders should be carried out at the PT Suntory Garuda Beverage packaging material warehouse to verified the improvement of stock accuracy. Keywords: fishbone diagram, stock accuracy, stock location database

    BACK MATTER

    No full text

    Analisis dan Desain Sistem Sertifikasi Padi Digital sebagai Sarana Pemasaran serta Peningkatan Adopsi Benih

    Full text link
    AbstrakPenggunaan varietas padi unggul adalah inovasi teknologi yang mudah diadopsi untuk peningkatan produktivitas padi. Tanpa program benih bersubsidi, banyak petani tidak menggunakan benih padi berkualitas/bersertifikat karena tidak tersedianya bibit berkualitas ketika dibutuhkan. Keberadaan sistem sertifikasi padi digital diperlukan untuk mendukung sistem benih yang ideal dengan menyediakan informasi tentang ketersediaan benih, permintaan benih, dan fasilitas komunikasi stakeholder perbenihan. Tujuan penelitian untuk menganalisis kebutuhan sistem, mengembangkan sistem sertifikasi digital sebagai sarana perdagangan dan memperoleh faktor kunci dalam proses sertifikasi sehingga pengambilan keputusan lebih cepat. Input data oleh BPSB pada setiap pengajuan sertifikasi, rencana subsidi di input Dinas Pertanian dan ketersediaan benih di gudang diupdate oleh lembaga perbenihan. Sistem ini didasarkan pada bahasa pemodelan terpadu (unified modeling language - UML). Metode RELIEF algorithm dilakukan untuk mendapatkan faktor penting dalam tahap sertifikasi terutama roguing dan uji laboratorium. Hasilnya menunjukkan faktor-faktor penting hingga tahap uji laboratorium adalah persentase serangan penyakit dalam tahap roguing III dan viabilitas benih dalam uji laboratorium.Kata kunci: adopsi, benih, digital, sertifikasi, unified modeling language AbstractThe most easily adopt new technology and increasing productivity is the use of high yielding rice varieties. Without the subsidized seed program, many farmers do not use quality/certified rice seeds due to the unavailability of quality seeds when they needed. The existence of a digital rice certification system is necessary to support an ideal seed system by providing information on the availability of seeds, seed demands, and communication facility of seedling stakeholders. The objective of the study was to identify system requirement, to develop digital certification systems as breeder marketplace and to formulate key factors in the certification process so that the decision-making faster. Data will input by BPSB in a certification application, Quantity of seed subsidized will input by the Agriculture Department, and the availability of seeds in the warehouse is updated by the seeding institution. The method was based on a unified modeling language (UML). RELIEF algorithm method was performed to obtain important factor in the certification stage especially roguing and laboratory test. The result indicated the important factors in the certification process were the percentage of disease attack in roguing III and the viability of the seeds in the lab test.Keywords: adopt, certification, digital, seed, unified modeling languag

    Aplikasi Asap Cair Batang Tembakau (Nicotiana Tabacum L.) untuk Memperpanjang Umur Simpan Daging Ikan Gurami Segar

    Full text link
    AbstrakAsap cair limbah batang tembakau mengandung senyawa keton, asam dan beberapa senyawa aromatik. Gurami (Osphronemus gouramy) merupakan jenis ikan air tawar bernilai ekonomi tinggi dan digemari masyarakat sebagai ikan konsumsi. Daging gurami sebagaimana daging pada umumnya, mudah mengalami proses pembusukan, sehingga perlu dilakukan upaya dalam mempertahankan kesegaran daging ikan, salah satunya dengan menggunakan asap cair sebagai pengawet. Adapun faktor yang memengaruhi efektivitas pengawetan menggunakan asap cair adalah konsentrasi dan lama perendaman. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh konsentrasi asap cair batang tembakau dan lama perendaman terhadap karakteristik daging ikan gurami serta umur simpan daging ikan gurami di suhu ruang. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dengan dua faktor yaitu konsentrasi asap cair; 2%, 4%, dan 6% serta lama perendaman; 10 menit, 20 menit, dan 30 menit. Parameter penelitian meliputi uji kekerasan (hardness), uji kenampakan warna dan aroma, uji total bakteri, serta penentuan umur simpan daging ikan gurami. Hasil penelitian menunjukkan lama perendaman dan konsentrasi asap cair batang tembakau berpengaruh signifikan terhadap aroma dan total bakteri daging ikan gurami selama penyimpanan 14 jam. Umur simpan tertinggi daging ikan gurami segar berdasarkan parameter mikrobiologis bakteri adalah perlakuan lama perendaman 30 menit dengan konsentrasi asap cair batang tembakau sebanyak 6% yaitu selama 7 jam 45 menit.Kata kunci: asap cair, batang tembakau, ikan gurami, umur simpanAbstract Liquid smoke tobacco stems contain ketones, acids, and some aromatic compounds. Gourami (Osphronemus gouramy) is a freshwater fish that is popular and easily undergoes decay, so efforts need to be made to maintain the freshness of fish meat. The purpose of this study was to determine the effect of the concentration of tobacco smoke liquid stems and soaking time on the characteristics of gourami meat and the shelf life of gourami meat stored at room temperature. The study design used factorial completely randomized design (RALF) with two factors: liquid smoke concentration 2%, 4%, and 6% and soaking time 10 minutes, 20 minutes, and 30 minutes. Research parameters include hardness test, color and aroma appearance test, total bacterial test, and determination of the shelf life of gourami meat. The results showed that the concentration of liquid smoke from tobacco stems and soaking time significantly affected the aroma and total bacteria of gourami meat for 14 hours of storage. The longest shelf life of fresh gourami meat based on microbiological parameters is treatment with the addition of 6% of liquid smoke from tobacco stems and 30 minutes of soaking time (k3p3) which is 7 hours 45 minutes compared to other treatments.Keywords: gourami, liquid smoke, shelf life, tobacco stem

    Identifikasi Proses dan Strategi Bisnis pada Kadatuan Koffie Menggunakan Analisis SWOT

    Full text link
    AbstrakPenelitian ini menyajikan analisis SWOT pada sebuah perusahaan agroindustri kopi yaitu Kadatuan Koffie yang melakukan proses bisnis agroindustri kopi dari hulu hingga hilir, untuk mengidentifikasi proses bisnis dan menentukan strategi perusahan agar dapat bersaing di pasar yang semakin ketat. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan observasi pada proses bisnis Kadatuan Koffie dari hulu hingga hilir dan melakukan wawancara untuk mendapatkan faktor-faktor internal dan eksternal perusahaan. Analisis SWOT kuantitatif dilakukan dengan melakukan pembobotan dan pemeringkatan terhadap faktor-faktor tersebut oleh responden yang berjumlah 6 orang dari internal dan eksternal perusahaan. Hasil penelitian ini menunjukkan Kadatuan Koffie berada di kuadran II pada diagram SWOT dimana perusahaan berada pada kondisi yang didominasi oleh faktor kekuatan (strength) internal dan tantangan (threat) eksternal. Strategi yang sesuai untuk kondisi perusahaan di kuadran II adalah Diversifikasi Strategi dengan dua pilihan strategi yang dapat diambil yaitu alternatif strategi ST yaitu “mengutamakan kualitas produk sebagai daya saing” atau “menjaga stabilitas harga jual produk”.Kata kunci: agroindustri kopi, analisis SWOT, manajemen agroindustri AbstractThis research presents the SWOT analysis on an agro-industry coffee company that is Kadatuan Koffie which are doing the business process of coffee from upstream until downstream level, to identification the business process and determine the strategy of the company to compete in the market that is increasingly tight. This research was conducted by doing an observation on the business process of Kadatuan Koffie from upstream until the downstream and conducting interviews to get internal and external factors of the company. The SWOT analysis is done by performing quantitative weighting and ranking against these factors by six respondents from internal and external of the companies. The results of this research indicate that Kadatuan Koffie is in quadrant II SWOT diagram where the company is in a condition that is dominated by factors of a strength of the internal and threat of the external. Strategies for companies in the quadrant II is Diversification Strategy which the strategies are "give priority to product quality as competitiveness" or "Keep the stability of the selling price of the product" from ST alternative strategy.Keywords: coffee, management agroindustry, SWOT analysis

    Karakteristik Tepung Pisang dari Bahan Baku Pisang Lokal Bengkulu

    Full text link
     AbstrakTanaman pisang jantan (Musa paradisiaca var paradisiaca), pisang merah (Acuminata Red Dacca) dan pisang raja nangka (Musa sp.) merupakan jenis pisang yang banyak tumbuh di Provinsi Bengkulu. Salah satu alternatif pengolahan buah pisang adalah tepung pisang. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan karakteristik tepung pisang yang dihasilkan dari tiga jenis pisang lokal Bengkulu, yaitu pisang jantan, pisang merah dan pisang raja nangka. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap non faktorial, dengan faktor perlakuan adalah jenis pisang. Masing-masing perlakuan dilakukan lima kali ulangan. Variabel pengamatan pada penelitian ini adalah rendemen, sifat fisik (kadar air dan densitas kamba), ukuran granula, dan sifat kimia (karbohidrat, protein, lemak, kadar abu, serat kasar dan vitamin C). Hasil penelitian menunjukan bahwa masing-masing jenis pisang menghasilkan karakteristik yang berbeda-beda. Rendemen tepung pisang tertinggi diperoleh dari bahan baku pisang jantan (20,42%) dan pisang raja nangka (20,01%). Kadar air tertinggi adalah tepung pisang raja nangka (10,04%). Sifat kimia dari ketiga jenis pisang memberikan hasil yang tidak berbeda nyata pada semua variabel yang diamati, kecuali pada variabel pengamatan vitamin C. Hasil pengukuran vitamin C diketahui bahwa  kandungan vitamin C tertinggi diperoleh pada tepung pisang dengan bahan baku pisang merah (24,64 mg/100 g sampel).Kata kunci: karakteristik, pisang jantan, pisang merah, pisang raja nangka, tepung pisang AbstractThe variety of banana plant which is found in Bengkulu Province is “pisang jantan’ (Musa paradisiaca var paradisiaca), “pisang merah/pisang udang” (Acuminata Red Dacca) and “pisang raja nangka” (Musa sp.). Banana flour is one of banana product. The research aims to describe the characteristics of banana flour produced from a local Bengkulu banana (pisang jantan, pisang merah/pisang udang, pisang raja nangka) as the raw material. The research design was used as a non-factorial completely randomized design, with the treatment factor being the type of banana. Each treatment was carried out five times. Observation variables in this study were yield, physical properties (water content and kamba density), granule size, and chemical properties (carbohydrate, protein, fat, ash content, crude fiber, and vitamin C). The result showed that each banana flour has different characteristics. The highest banana flour yield was made from pisang jantan (20.42%) and pisang raja nangka (20.01%). The highest water content banana flour was made from pisang raja nangka (10.04%). While for the chemical properties of the three types of bananas, the results were not significantly different for all variables observed, except for the observation variable vitamin C. The result of vitamin C measurements revealed that the highest vitamin C content was obtained banana flour was made from pisang merah (24.64 mg / 100 g sample).Keywords: banana flour, characteristic, pisang jantan, pisang merah, pisang raja nangka

    Antosianin Ekstrak Ubi Jalar Ungu Kering untuk Donor Elektron Sel Surya Pewarna Tersensitisasi (SSPT)

    Full text link
    AbstrakUbi jalar ungu (Ipomoea batatas L., Poir) memiliki kandungan antosianin tinggi, bersifat alami sehingga menjadikan antosianin aman digunakan dan dapat diperbarui. Antosianin dapat digunakan sebagai dye dalam rangkaian sel surya pewarna tersensitisasi (SSPT). Antosianin diperoleh dari sel tanaman dengan maserasi dan pelarut etanol yang diasamkan dengan asam asetat. Tujuan penelitian untuk mengetahui tingkat keasaman pelarut dalam menghasilkan antosianin tertinggi, panjang gelombang serapan dan kemampuan dye sebagai donor elektron pada SSPT. Penelitian rancangan acak lengkap satu faktor dengan empat level keasaman (pH 4,00; 4,25; 4,50 dan 4,75), diulang 2 kali digunakan dalam penelitian ini. Pembuatan SSPT dengan cara perakitan elektroda kerja, elektroda lawan, elektrolit, dan dye antosianin. SSPT diuji di bawah sinar matahari selama 60 menit setiap hari untuk mengetahui kemampuan dalam menghasilkan tegangan dan arus listrik.  Nilai absorbansi tertinggi sebesar 0,0485±0,20 dan kandungan antosianin terbaik sebesar 224,97±0,02 mg/100 g diperoleh pada perlakuan pH 4,00 dan panjang gelombang antosianin 520-700 nm. Dye antosianin sebagai donor elektron SSPT mampu menghasilkan tegangan listrik selama 15 hari dan arus listrik selama 10 hari. Tegangan listrik dan arus listrik tertinggi sebesar 0,25 volt dan 0,12 ampere.Kata kunci: antosianin, maserasi, sel surya pewarna tersensitisasi (SSPT), ubi jalar ungu  AbstractPurple sweet potato (Ipomoea batatas L. Poir) is a variety which has high anthocyanin. One of the benefits of anthocyanin extract obtained will be made as an electron donor dye in a series of dye-sensitized solar cells (DSSC). Anthocyanins can be extracted by a maceration method which utilizes acidified solvent of ethanol using acetic acid. The purpose of this research is to find out the acidity of the solvent extraction the highest anthocyanin, the wavelength of anthocyanin uptake and the ability of an anthocyanin dye as an electron donor. The research was designed by a completely randomized design one factor with four levels namely acidity (pH 4.00; 4.25; 4.50 and 4.75) and twice repeated. Then it is made to make DSSC by assembling working electrodes, opposing electrodes, electrolytes, and anthocyanin dye. DSSC is tested under sunlight for 60 minutes per days to determine the ability to produce voltage and electric current. The best anthocyanin content was obtained at 224.97±0.02 mg /100 g and absorbancy value 0.0485±0.20 in solvents with a pH of 4.00. The wavelength of anthocyanins ranged from 520-700 nm. Dye anthocyanin as an electron donor in DSSC can produce electricity for 15 days and electric current for ten days, the highest electricity voltage and electric current is 0.25 volts and 0.12 amperes respectively.Keywords: anthocyanin, dye-sensitized solar cells, maceration, purple sweet potato

    Beban Kerja Fisik Pekerja Pengolah Emping Jagung di UKM Sofia Kota Malang

    Full text link
    AbstrakSeluruh proses produksi pada UKM Sofia melibatkan kinerja manual manusia sehingga memiliki risiko cidera kerja tinggi. Tingkat beban kerja fisik yang dialami pekerja belum diketahui. Tujuan penelitian ini adalah menentukan tingkat beban kerja fisik pekerja pada UKM Sofia. Metode yang digunakan adalah pengukuran faktor fisiologis pekerja berupa denyut jantung (%HRR) dan konsumsi oksigen. Selain itu pengamatan terhadap suhu tubuh pekerja juga dilakukan untuk melihat pengaruh kegiatan bekerja pekerja terhadap suhu tubuh. Denyut jantung pekerja diukur menggunakan finger pulse oxymeter dan suhu tubuh diukur menggunakan termometer telinga, dilakukan sebelum, selama, dan sesudah pekerja bekerja. Tujuh pekerja pada UKM Sofia dijadikan objek penelitian untuk mengukur beban kerja tersebut. Hasil penelitian menunjukkan tingkat beban kerja fisik berdasarkan nilai %HRR dan konsumsi oksigen (liter/menit) adalah perebusan 23% (tidak terjadi kelelahan) 0,9 (berat), pencucian 1 31% (perlu perbaikan) 1,1 (berat), pencucian 2 31% (perlu perbaikan) 1,1 (berat), pengukusan 21% (tidak terjadi kelelahan) 1,1 (berat), pendinginan 10% (tidak terjadi kelelahan) 1,1 (berat), pemipihan dan penjemuran 15% (tidak terjadi kelelahan) 0,9 (sedang), pengayakan 9% (tidak terjadi kelelahan) 0,8 (sedang), dan penggorengan 16% (tidak terjadi kelelahan) 0,9 (sedang). Perbaikan sebaiknya dilakukan pada proses pencucian 1 dan 2 dikarenakan memiliki tingkat beban kerja fisik tertinggi.Kata kunci: beban kerja fisik, %HRR, kelelahan kerja, konsumsi oksigen, perbaikan kerja AbstractAll production process in UKM (SME) Sofia involving manual work, so it has a high risk of physical injury. Physical workload level endured by the workers has not identified yet. The method conducted was by measuring physiological factors of heart rate (%HRR) and oxygen consumption. Workers’ body temperature was also measured to analyze the work effect to body temperature. Heart rate measurement was done using finger pulse oximeter while body temperature using an ear thermometer, measured before, during, and after work. Seven workers at UKM Sofia were all involved to be these research respondents to measure the physical workload. Research results showed that physical workload based on %HRR and oxygen consumption (litre/minute) for boiling process 23% (low workload) and 0.9 (high), 1st washing process 31% (need improvement) and 1.1 (high), 2nd washing process 31% (need improvement) and 1.1 (high), steaming process 21% (low workload) and 1.1 (high), cooling process 10% (low workload) and 1.1 (high), drying process 15% (low workload) and 0.9 (medium), sieving process 9% (low workload) and 0.8 (medium), frying process 16% (low workload) 0.9 (medium). Improvements have to be done in the first and second washing process as they have the highest physical workload level.Keywords: %HRR, oxygen consumption, physical workload, work fatigue, work improvemen

    Analisis Nilai Tambah Produk Olahan Tanaman Rimpang

    Full text link
    Abstrak Tren back to nature mendorong masyarakat untuk mengubah pola konsumsinya untuk lebih memperhatikan kandungan gizi dan manfaatnya untuk kesehatan. Hal ini mengakibatkan konsumsi minuman herbal meningkat. Pengolahan dari bahan segar menjadi produk instan perlu dilakukan untuk meningkatkan umur simpan produk herbal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis usaha berdasarkan biaya total, penerimaan, dan keuntungan, sertamenganalis nilai tambah produk olahan tanaman rimpang sebagai minuman herbal. Produk olahan tanaman rimpang yang dianalisis adalah minuman herbal kopi laos dan kunyit putih. Metode analisis usaha yang digunakan meliputi analisis biaya, penerimaan, keuntungan dan R/C ratio. Analisis nilai tambah menggunakan metode Hayami. Hasil analisis menunjukkan bahwa usaha pengolahan kopi laos dan kunyit putih menguntungkan karena setiap Rp1 biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi kopi laos akan memberikan penerimaan sebesar Rp1,37 sehingga keuntungan yang diperoleh sebesar Rp0,37, sedangkan setiap Rp1 biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi kunyit putih akan memberikan penerimaan sebesar Rp1,50 dengan keuntungan Rp0,50. Hasil analisis nilai tambah menunjukkan bahwa produk kopi laos memberikan nilai tambah sebesar Rp86.650/kg dimana setiap Rp100 nilai produk kopi laos mengandung nilai tambah sebesar Rp51,99. Nilai tambah produk kunyit putih adalah Rp134.800/kg dimana setiap Rp100 nilai produk kunyit putih mengandung nilai tambah sebesar Rp67,40.Kata kunci: kopi laos, kopi kunyit putih, nilai tambah Abstract The trend of back to nature change the consumption pattern in society became health and nutrient contents consumption. This situation makes herbal drink consumption increase. Fresh ingredients need to process as instant products to expand herbal drink shelf life. This study aims to analyze the business based on total cost, revenue, profit, and value added of processed products of rhizome plants as herbal drinks. This research examined galangal and white turmeric coffee. Business analysis methods used include cost analysis, revenue, profit and R / C ratio. Hayami method used as value-added analysis. The results show that the business of galangal and white turmeric processing is profitable. Every 1 IDR cost incurred to produce galangal coffee will give an income of 1.37 IDR so that the profit earned is 0.37 IDR, whereas every 1 IDR cost incurred to produce white turmeric will provide acceptance of 1.50 IDR with benefit 0.50 IDR. Added value analysis shows that galangal coffee products provide added-value of 86.650 IDR/kg where each 100 IDR value of galangal coffee products contains added-value of 51.99 IDR. The added benefit of white turmeric products is 134.800 IDR/kg where each 100 IDR value of white turmeric products includes added value of 67.40 IDR.Keywords: galangan coffee, white turmeric coffe, added value

    Penentuan Isolat Bakteri Asetogenik yang Mampu Menghasilkan Total Asam Tertinggi pada Pengolahan Limbah Cair Tahu secara Anaerob

    Full text link
    AbstrakTujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh dari persentase inokulum dan waktu inkubasi terhadap kemampuan isolat bakteri asetogenik untuk memproduksi total asam tertinggi serta mengetahui karakteristik dari isolat bakteri tersebut. Rancangan Acak Kelompok (RAK) disusun secara faktorial dengan dua faktor yaitu persentase inokulum (I) (10%, 15%, 20%) serta faktor waktu inkubasi (W) (24 jam, 48 jam, 72 jam). Kombinasi perlakuan terbaik pada isolat bakteri asetogenik dalam menghasilkan asam adalah I1W1, yakni persentase inokulum 10% dan waktu inkubasi 24 jam. Pada perlakuan ini kadar asam asetat yang dihasilkan adalah 3,853%, pH 5,544, total bakteri 7,7 x 107 CFU/ml, dengan kadar glukosa 2,5237%. Karakteristik dari isolat bakteri asetogenik terpilih secara morfologi koloni yaitu memiliki kenampakan warna putih, bentuk tidak beraturan, permukaan (elevasi) datar, dan tepi yang bergelombang. Berdasarkan morfologi sel, isolat bakteri merupakan bakteri Gram negatif bentuk batang. Berdasarkan identifikasi secara biokimia, isolat bakteri ini adalah Acinetobacter sp dengan probabilitas 51,25%.Kata kunci: asam asetat, bakteri asetogenik, isolasi, persentase inokulum, waktu inkubasi AbstractThe purpose of this research was to understand the effect of inoculum percentage and incubation time of acetogenic bacteria to produce total acid and to understand the characteristics of acetogenic bacteria that could produce the highest total acid. The experimental design used was Randomized Block Design that arranged in factorial with two factors: percentage of inoculum (I) (10%, 15%, 20%) and the factor Incubation time (W) (24 hours, 48 hours, 72 hours). The best treatment combination on isolated acetogenic bacteria to produce total acid was I1W1 (10% inoculum percentage and 24 hours incubation time ). This treatment produced 3.853% acetic acid levels, 5.544 pH, 7.7 x 107 CFU / ml total bacteria and 2.5237% glucose levels. The characteristics of isolated acetogenic bacteria based on colony morphology was white, irregular shape, surface (elevation) flat, and wavy edges. Based on cell morphology, the isolated bacteria were Gram-negative rod shape. Based on the biochemical identification, the isolated bacteria is an Acinetobacter sp with 51.25% probability.Keywords: acetic acid, acetogenic bacteria, isolation, percentage of inoculum, incubation time

    196

    full texts

    256

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri (University of Brawijaya)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇