Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri (University of Brawijaya)
Not a member yet
256 research outputs found
Sort by
Analisis Potensi dan Kelayakan Finansial pada Agroindustri Biogas Menggunakan Covered Lagoon Anaerobic Reactor Termodifikasi
Abstrak PT Juang Jaya Abdi Alam (JJAA) Kabupaten Lampung Selatan adalah perusahaan peternakan sapi yang menghasilkan limbah kotoran sapi yang cukup besar (sekitar 198.000 kg per hari). Limbah kotoran sapi berpotensi untuk menghasilkan biogas yang memiliki nilai ekonomi. Salah satu reaktor biogas yang cocok digunakan di daerah tropis adalah Covered Lagoon Anaerobic Reactor (CoLAR). Model ini hanya berupa kolam yang diberi penutup kedap gas yang diberi pipa dan pompa. Penelitian dilakukan untuk menganalisis potensi dan kelayakan finansial agroindustri biogas limbah kotoran sapi di PT Juang Jaya Abdi Alam (JJAA) Kabupaten Lampung Selatan. Penelitian menggunakan metode telaah pustaka, pengamatan, analisis kuantitatif, dan diskusi dengan para pakar yang terkait agroindustri biogas limbah kotoran sapi. Hasil analisis menunjukkan bahwa PT JJAA memiliki potensi yang tinggi yaitu dari 9000 sapi mampu menghasilkan energi listrik untuk 203 pelanggan dengan daya listrik terpasang 1300 VA. Berdasarkan studi kelayakan secara finansial, agroindustri biogas layak dijalankan karena memenuhi kriteria kelayakan usaha, yaitu: Net Present Value (NPV) sebesar Rp77.353.897.714,- ; Internal Rate of Return (IRR) sebesar 42,52 %, nilai Net Benefit/Cost Ratio (Net B/C) sebesar 4,51 dan Payback Period selama 2,22 tahun. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa kenaikan harga input sampai 23% menyebabkan proyek menjadi tidak layak.Kata kunci: agroindustri, biogas, studi kelayakan AbstractPT Juang Jaya Abdi Alam (JJAA) at South Lampung Regency, is a cattle-breeding company that produces a large amount of cow manure (around 198,000 kg per day). Cow manure has the potential to produce biogas that has economic value. Covered Lagoon Anaerobic Reactor (CoLAR) is a biogas reactor that suitable for tropics climate. This model is quite simple; only a pond that is given a gas-tight cover, pipe, and pump. The study was conducted to analyze the potential and the financial feasibility of cow manure waste-based biogas agroindustry in PT JJAA. The study methods used are literature studies, observations, surveys, and interviews with experts correlated to the development of biogas agroindustry for cow manure. The results of the analysis show that PT JJAA has a high potential of 9000 cows capable of producing electrical energy for 203 customers with installed electric power of 1300 VA. Based on a financial feasibility study, biogas agroindustry is feasible to run because it meets the business feasibility criteria, namely: NPV of Rp. 77,353,897,714; IRR of 42.52%, Net B/C ratio value of 4.51 and payback period of 2.22 years. The results of the sensitivity analysis show that an increase in input prices of up to 23% has caused the project to be unfeasible.Keywords: agroindustry, biogas, feasibility stud
Desain Alat Pemotong Lembaran Karet pada Proses Sortasi PTPN XII Banjarsari, Kabupaten Jember, Jawa Timur
AbstrakKondisi lingkungan kerja diantaranya kenyamanan, keamanan dan kesehatan kerja merupakan komponen yang dapat memengaruhi kinerja karyawan. Salah satu tahap yang termasuk ke dalam proses sortasi di PTPN XII Banjarsari Jember yaitu tahap pemotongan lembaran karet. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui bagian tubuh karyawan yang mengalami rasa nyeri, melakukan redesain terhadap meja pemotong lembaran karet, serta mengetahui perbedaan setelah dilakukan redesain meja pemotong lembaran karet baik dari keluhan nyeri yang dialami karyawan maupun dari segi produktivitas karyawan tahap sortasi. Metode yang digunakan yaitu kuesioner untuk mengetahui data keluhan yang dialami, pengukuran data antropometri karyawan, kemudian membandingkan produktivitas sebelum dan sesudah redesain meja pemotong. Hasil penelitian menunjukkan keluhan pekerja berkurang setelah dilakukan redesain meja pemotong lembaran karet yang lebih ergonomis. Keluhan pekerja yang paling banyak berkurang adalah keluhan pada bagian tangan dan kaki. Perbaikan desain tinggi meja berpengaruh terhadap tinggi tumpukan karet, jangkauan bahan baku dengan mesin pemotong serta jangkauan dengan tempat produk jadi. Alat potong lembaran karet yang semula menggunakan gunting digantikan menggunakan piringan logam yang bergerak menggunakan mesin juga berperan menurunkan keluhan pekerja terutama bagian tangan. Produktivitas dari bagian sortasi juga meningkat dari 2,250 ton/hari menjadi 3,222 ton/hari.Kata kunci: antropometri, ergonomi, lembaran karet, meja pemotong AbstractWorker environment conditions including comfort, safety and health are components that can affect employee performance. One of the stages included in the sorting process at PTPN XII Banjarsari Jember is the stage of cutting rubber sheets. This study aims to redesign the rubber sheet cutting table to make it more ergonomic so that it can minimize employee complaints and find out productivity improvements from the sorting process. The method used is a questionnaire to find out the complaints data experienced, measurement of employee anthropometric data, then compare productivity before and after the cutting table redesign. The result showed that after the redesigned, more ergonomic rubber sheet cutting table reduced workers complaints. The most reduced employee complaints are complaints on the hands and feet. Improved design of table height affects the height of the rubber pile, the range of raw materials with cutting machines and the range with the place of the finished product. The rubber sheet cutting tool that used to use scissors was replaced by using a metal plate that moves using the machine and also contributes to reducing workers' complaints, especially the hand parts. The productivity of the sorting section also increased from 2.250 tons/day to 3.222 tons/day.Keywords: anthropometry, ergonomics, production table, rubber shee
Rancang Bangun Alat Pengasin Telur Puyuh (Coturnix coturnix) Berbasis Dehidrasi Osmosis Bertekanan Statis
AbstrakPengasinan merupakan salah satu metode pengawetan telur puyuh yang membutuhkan waktu sekitar 14 hari jika dilakukan secara konvensional. Penelitian ini bertujuan merancang alat pengasin telur puyuh yang mampu mengurangi waktu pembuatan telur puyuh asin. Metode yang digunakan yaitu pembuatan rancang bangun alat pengasin telur puyuh berbasis dehidrasi osmosis bertekanan statis serta pengujian alat pengasin dan telur puyuh yang dihasilkan. Parameter alat yang diuji adalah kebocoran tekanan dan tekanan maksimum. Parameter telur puyuh hasil pengasinan yang diamati adalah kerusakan fisik, kandungan kadar air, kadar garam dan kadar lemaknya untuk mengetahui pengaruh pemberian larutan garam dan lama perendaman yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan alat pengasin telur puyuh berbasis dehidrasi osmosis bertekanan statis dibuat dengan diameter 22 cm dan tinggi 20 cm. Kapasitas tampung alat sebanyak 330 butir atau sekitar 3,5 kg telur puyuh. Terjadi kebocoran tekanan pada alat sebesar 0,05 bar setiap 15 menit dari total tekanan 1 bar yang digunakan dengan Maximum Allowable Working Pressure (MAWP) dari alat sebesar 5,56 bar. Alat pengasin telur mampu mengasinkan telur puyuh dengan waktu 30-90 menit dengan kadar garam terendah 1,63% dan kadar garam tertinggi 2,3%. Telur puyuh asin yang dihasilkan telah memenuhi SNI 01-4277-1996 mengenai standar telur asin yang mengharuskan telur asin memiliki kadar garam minimum sebesar 2,0%.Kata kunci: garam, pengawetan, pengujian, perancangan AbstractSalting is one method of preserving quail eggs that requires around 14 days of conventional process. This study aims to design a quail egg salting appliance that can make salted quail eggs faster. The method used is salted quail egg appliance design, based on static pressure osmosis dehydration and testing of the salting appliance and quail eggs produced. The parameters of the salting appliance are maximum pressure and pressure leaks. Parameters of quail egg salting results observed were physical damage, moisture content, salt content and fat content to determine the effect of giving salt solutions and different immersion times. The results showed that quail egg salting appliance based on static pressure osmosis dehydration was made with a diameter of 22 cm and a height of 20 cm. The capacity of the appliance is 330 quail eggs or about 3.5 kg of quail eggs. There is a pressure leak on the appliance of 0.05 bar every 15 minutes from the total pressure of 1 bar used with the Maximum Allowable Working Pressure (MAWP) of the tool at 5.56 bars. Egg salting appliance can marinate quail eggs with 30-90 minutes with the lowest salt content of 1.63% and 2.3% highest. Salted quail eggs produced have met SNI 01-4277-1996 regarding the standard of salted eggs which require salted eggs to have a minimum salinity of 2.0%.Keywords:design, preservation, salt, testin
Studi Eksploratif Manajemen Sampah Makanan pada Jaringan Toko Produk Pangan di Indonesia
AbstrakStudi ini bertujuan untuk mengungkap fenomena sampah makanan pada tingkat toko produk pangan di Indonesia. Wawancara semi-terstruktur dilakukan terhadap 12 responden mewakili toko produk pangan yang memiliki jaringan di seluruh Indonesia. Hasil transkrip wawancara selanjutnya dianalisis dengan metode grounded theory sehingga menghasilkan informasi valid sebagai dasar membangun narasi dan argumentasi. Volume sampah makanan pada tiap toko produk pangan diestimasi berada di kisaran 40-50 juta rupiah per bulan. Penyumbang sampah makanan terbesar adalah produk pangan segar dengan masa simpan yang relatif singkat seperti buah dan sayur. Tindakan pencegahan yang telah dilakukan oleh toko produk pangan yakni melalui kebijakan order, evaluasi order, hingga inspeksi yang ketat. Tindakan mitigasi juga dilakukan melalui diskon hingga 50%, pengolahan lebih lanjut untuk memperpanjang masa penjualan, dan penanganan produk sebaik mungkin. Tindakan pencegahan dan mitigasi tersebut semua hanya didasarkan pertimbangan dari aspek bisnis. Kesadaran dari responden dalam mengaitkan fenomena sampah makanan dengan isu lingkungan belum ada sehingga perlu dorongan melalui kebijakan pemerintah untuk meningkatkan kesadaran terhadap dampak lingkungan dari sampah makanan.Kata kunci: Indonesia, negara berkembang, sampah makanan, toko produk pangan AbstractThis study aims to reveal the phenomenon of food waste at the store-level in Indonesia. Twelve respondents representing the grocery store chains in Indonesia are interviewed by using a semi-structured interview. Grounded theory method is used to analyze the interview transcripts so it can produce valid information as the basis for building narratives and arguments. The volume of food waste in each store is estimated at IDR 40-50 million per month. The most significant food waste contributors are fresh food products with a relatively short shelf life, such as fruits and vegetables. The preventions that have been taken by the grocery stores are through order policies, order evaluation, and strict inspection. The mitigations are also carried out through discounting the price of products up to 50%, further processing to extend the sales period, and handling the product properly. However, the preventions and the mitigations are focused only on business aspect. Other findings indicate that there is still no awareness from respondents in relating the phenomenon of food waste to the environmental issue. Therefore, government policy is needed to increase awareness of the environmental impact of food waste.Keywords: developing country, food waste, grocery store, Indonesi
Formulasi Nanoemulsi Ekstrak Daun Kelor (Moringa oleifera Lamk)
AbstrakDaun Kelor (Moringa oleifera Lamk) diketahui memiliki aktivitas antioksidan karena mengandung flavonoid. Pembuatan dalam bentuk nanoemulsi ekstrak dapat mempercepat proses penyerapan dalam tubuh. Pemilihan Tween 80 sebagai surfaktan karena bersifat larut dalam air dan biasa digunakan dalam pembuatan emulsi dengan tipe W/O. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh konsentrasi ekstrak daun kelor terhadap karakteristik nanoemulsi yang dihasilkan. Penelitian ini diawali pembuatan ekstrak dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol, dilanjutkan dengan pembuatan nanoemulsi dengan metode homogenisasi. Konsentrasi ekstrak yang digunakan adalah 20% dan 30%. Nanoemulsi diperoleh menggunakan metode homogenisasi menggunakan homogenizer. Pengadukan fase minyak dan fase air selama 20 menit dengan kecepatan 30.000 rpm. Nanoemulsi dengan konsentrasi ekstrak daun kelor sebanyak 20% menghasilkan nanoemulsi yang lebih baik daripada konsentrasi 30% pada perlakuan kombinasi antara kecepatan 30.000 rpm, suhu ruang (27-30 oC) dan lama pengadukan 20 menit. Nanoemulsi yang dihasilkan memiliki rata-rata ukuran partikel 7,9 nm, viskositas 13,17 cP, pH 7,10, larut sempurna dalam etanol, metanol dan air.Kata kunci: daun kelor, homogenizer, nanoemulsi Abstract Moringa oleifera Lamk leaves are used as antioxidant plants that contain lots of flavonoids. Nanoemulsion can increase the absorption of active ingredients in the body. Tween 80 is used as a surfactant because it is commonly used for oil-in-water emulsions. This study aims to obtain the best conditions in making Moringa leaf extract nanoemulsion using the homogenization method based on the effect of extract concentration. This research method includes extraction by maceration with ethanol 96% then followed by making nanoemulsion. Nanoemulsion consists of extract as an oil phase with a concentration of 20% and 30% mixed with the water phase. Homogenizer with 30,000 rpm is used in this research. In combination treatment of 30,000 rpm speed, room temperature (27-30 oC), and stirring time of 20 minutes, nanoemulsion with 20% moringa leaf extract concentration produced nanoemulsion better than 30% concentration. The result showed that 20% moringa leaf extract concentration nanoemulsions had an average particle size of 7.9 nm, a viscosity of 13.17 cP, pH of 7.10,and completely dissolved in ethanol, methanol, and water.Keywords: homogenizer, Moringa oleifera Lamk, nanoemulsio
Evaluasi Kinerja pada Green Supply Chain Management Susu Pasteurisasi di Koperasi Agro Niaga Jabung
Abstrak Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi penerapan dalam tercapainya kinerja Green Supply Chain Management KAN Jabung. Perkembangan kompetitif pada agroindustri sangat penting untuk membuka peluang lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Agroindustri selalu terkait dengan pencemaran lingkungan dari serangkaian aktifitas produksinya. Evaluasi ini menggunakan pendekatan metode Green Supply Chain Management (GSCM) yang didukung dengan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dan metode Objective Matrix (OMAX) serta Traffic Light System (TLS). Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa 30 Key Perfomance Index (KPI) sudah valid. Berdasarkan scoring system dengan OMAX dan TLS diperoleh total KPI perusahaan sebesar 6,8026 yang menandakan bahwa kinerja GSCM KAN Jabung belum tercapai secara keseluruhan sehingga perlu adanya perbaikan dalam sistem pengawasan yang lebih integatif untuk memaksimalkan capaian kinerja. Hasil lainnya diperoleh 12 KPI berada di kategori hijau (sangat baik), 13 KPI berada dikategori kuning (cukup baik) dan 5 KPI berada di kategori merah (kurang baik) sehingga perlu adanya perbaikan.Kata kunci: green supply chain management, key perfomance index, kinerja rantai pasok, susu pasteurisasi Abstract The purpose of this research is to evaluating application in achieving performance Green supply chain management KAN Jabung. Competitive development in the agroindustry is critical to open up employment opportunities and increase income. Agroindustry also not independent of environmental pollution from production activities. The approach used in the research is Green Supply Chain Management (GSCM) supported by the Analytical Hierarchy Process (AHP), Objective Matrix (OMAX) and Traffic Light System (TLS). The results showed that the 30 Key Performance Index (KPI) were valid. Based on the scoring system with OMAX and TLS, the company's Total KPI was 6.8026 which indicates that GSCM KAN Jabung's performance had not been achieved so needs to be improvement in a more integrated monitoring system to maximize performance. Other results were obtained by 12 KPIs in the green category (very good), 13 KPIs in the yellow category (quite good) and 5 KPIs in the red category (not good) so that there was a need for improvement.Keywords : green supply chain management, key perfomance index, pasteurized milk, perfomance supply chain
Pengaruh Perlakuan Pendahuluan dan Perbedaan Tipe Ekstraksi terhadap Mutu Produk Minuman Sari Buah Manggis
AbstrakPenelitian ini mempelajari sifat fisikokimia minuman sari buah manggis dengan perlakuan pendahuluan dan tipe ekstraksi buah manggis, serta menentukan formulasi minuman sari buah manggis dengan kandungan sifat kimia yang terbaik. Terdapat tiga tahap aktivitas yang dilakukan, yaitu perlakuan pendahuluan, ekstraksi dan formulasi. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial 2x2 dan tiga pengulangan. Rancangan perlakuan terdiri dari dua faktor yaitu perlakuan pendahuluan (A) yang terdiri dari dua taraf (perendaman larutan gula (A1) dan dikukus (A2)), dan perlakuan jenis alat ekstraksi (B) yang terdiri dari dua taraf (slow juicer (B1) dan blender (B2)). Hasil penelitian menunjukan bahwa minuman sari buah manggis dengan variasi perlakuan ekstraksi dan perlakuan pendahuluan memberikan hasil yang berbeda nyata pada semua aspek pengujian kecuali kadar abu. Minuman sari buah manggis dengan perlakuan ekstraksi menggunakan blender dan perlakuan pendahuluan pengkukusan memberikan nilai terbaik berdasarkan hasil pembobotan penentuan perlakuan terpilih. Minuman sari buah manggis dengan perlakuan ekstraksi menggunakan blender dan perlakuan pendahuluan kukus menghasilkan produk dengan nilai pH 4,24, total padatan terlarut 7,54oBrix, vitamin A 117,67 µg/100 g, kadar air 92,14%, kadar abu 0,10%, karbohidrat 7,30%, protein 0,18%, serat pangan 2,21%, dan energi total sebesar 32,44 kkal.Keywords: perlakuan pendahuluan, sari buah manggis, tipe ekstraksi AbstractThe study was carried out to characterize the physicochemical of mangosteen fruits and to optimize the best formulation of mangosteen juice drink. There were three stages of activities carried out in this study, i.e. pre-treatment, extraction, and formulation. A pre-treatment was performed by steaming and soaking in a sugar solution, extraction was done by using slow juicer and blender, and juice drink formulation was determined by factorial Randomized Block Design (RBD) 2x2 methods with three repetitions. The design of treatment consisted of two factors, i.e., pre-treatment (A) and treatment of extraction tool types (B). Pre-treatment (A) consisted of immersion in sugar solution (A1) and steaming (A2), while extraction treatment consisted of the slow juicer (B1) and blender (B2). The results showed that a ready to drink of mangosteen juice of multiple extraction and pre-treatment gave significantly different results to all aspects of the test, except ash content. Based on the chosen treatment criteria, the mangosteen juice drink obtained by extraction treatment using blender and pre-treatment using steaming provided the best formula with the characteristics of 4.24 pH, 7.54 oBrix total dissolved solids, 117.67 µg/100 g vitamin A, 92.14% water content, 0.10% ash content, 7.30% carbohydrate, 0.18% protein, 2.21% dietary fiber, and 32.44 kcal energy.Keywords: extraction type, mangosteen juice, pre-treatmen
Optimasi Suhu dan Konsentrasi Maltodekstrin pada Proses Pembuatan Serbuk Lobak dengan Metode Foam Mat Drying
AbstrakLobak memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan. Pengolahan lebih lanjut akan memberikan nilai tambah terhadap lobak. Salah satu alternatif pengolahannya adalah dibuat menjadi serbuk lobak siap seduh sehingga dapat dikonsumsi dengan lebih efisien dan efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui suhu dan konsentrasi maltodekstrin yang tepat pada proses pembuatan serbuk lobak serta mengetahui total fenol maksimum dari serbuk lobak yang telah dibuat. Proses pembuatan serbuk lobak menggunakan metode foam mat drying. Metode optimasi yang digunakan adalah Response Surface Method (RSM) dengan rancangan komposit terpusat faktorial 22. Faktor yang digunakan adalah suhu (50, 60 dan 70 °C) dan konsentrasi maltodekstrin (6, 8 dan 10%). Respon yang dijadikan parameter adalah total fenol, aktivitas antoksidan, dan rendemen. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, telah didapatkan formulasi yang tepat dan pedoman design space dapat menggunakan model kuadratik. Komposisi formula terbaik yaitu suhu 58,49 °C dan konsentrasi maltodekstrin 7,31%. Formula optimal tersebut diprediksikan mendapatkan nilai total fenol sebesar 7,69389%, aktivitas antioksidan (IC50) sebesar 37,6631 mg/ml per 100 mg, dan rendemen sebesar 8,73042%. Total fenol yang didapatkan dari serbuk terbaik adalah 7,88%.Kata kunci: foam mat drying, response surface method, serbuk lobak AbstractRadish has great potential to be developed for further processing which will add value on it. An alternative of further processing of radish is ready-cooked radish powder which so that it can be consumed more efficiently and effectively. This study aims to determine the right temperature and concentration of maltodextrin in the process of radish powder production and find out the maximum total phenol from the radish powder. The process of radish powder production uses the Foam Mat Drying method. The optimization method used is Response Surface Method (RSM) with a factorial composite design 22. The factors used are temperature (50, 60, and 70 °C) and maltodextrin concentrations (6, 8, and 10%). The responses used as parameters are total phenol, antioxidant activity, and yield. The research result showed that the appropriate formulation and the design space guidelines can use a quadratic model. The best formula composition is temperature 58.49 °C and 7.31% maltodextrin concentration. The optimal formula is predicted to get a total phenol value of 7.69389%, antioxidant activity (IC50) of 37.66631 mg/ml per 100 mg, and a yield of 8.73042%. The total phenol obtained from the best formula radish powder is 7.88%.Keywords: foam mat drying, radish powde, response surface metho
Modifikasi Parameter Produksi untuk Meningkatkan Mutu Kimia Gula Kelapa Cetak di Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau
AbstrakGula kelapa di Kabupaten Indragiri Hilir merupakan produk yang sangat potensial untuk dikembangkan, namun mutu produk gula kelapa yang dihasilkan belum memenuhi SNI-01-3743 tahun 1995. Hal ini diduga terdapat ketidaksesuaian parameter produksi yang dilakukan sehingga perlu perbaikan atau modifikasi parameter produksi. Salah satu indikator mutu produk gula kelapa ditentukan oleh karakteristik kimianya yang meliputi kadar air, kadar abu, kadar sukrosa, dan gula reduksi. Rancangan percobaan menggunakan metode Taguchi dengan empat faktor, yakni komposisi bahan pengawet nira, bahan anti buih, lama waktu penyadapan, dan suhu akhir masak. Hasil terbaik/optimum didapatkan pada kombinasi faktor bahan pengawet nira berupa kulit manggis dan natrium metabisulfit, anti buih menggunakan santan, lama waktu penyadapan 8 jam sadap pagi + 16 jam, serta suhu akhir masak 135oC. Uji konfirmasi karakteristik mutu kimia (dalam interval kepercayaan) menunjukkan bahwa kadar air sebesar 6,87±0,57%, kadar abu sebesar 1,96±0,13%, kadar sukrosa sebesar 77,77±5,19%, gula reduksi sebesar 8,09±4,28%. Modifikasi parameter dapat meningkatkan mutu kimia kadar air sebesar 4,46%, kadar abu sebesar 43,84%, kadar sukrosa sebesar 11,30% dan kadar gula reduksi sebesar 45,78% lebih baik dari sebelumnya dan memenuhi SNI.Kata kunci: gula kelapa, modifikasi, mutu kimia, parameter produksi AbstractCoconut sugar in Indragiri Hilir Regency is a potential product to be developed, but the quality of the sugar is not compliant with SNI- 01-3743 of 1995 which may be caused by improper parameter in its production. The parameter of coconut sugar production should be modified for improvement. One indicator of the quality of coconut sugar determined by its chemical characteristics which include water content, ash content, sucrose content, and reducing sugar. The experimental design uses the Taguchi method with four factors, i.e. the composition of sap preservatives, defoaming agent, duration of sap tapping, and final temperature of sap cooking. The best/optimum results were obtained on the combination of mangosteen peel and sodium metabisulfite as sap preservatives, coconut milk as defoaming agent, 8 hours of sap tapping duration in the morning + 16 hours, and final sap cooking temperature of 135oC. The results of confirmation test of chemical quality characteristics (in confidence intervals) were water content of 6.87±0.57%, ash content of 1.96±0.13%, sucrose content of 77.77±5.19%, reducing sugar of 8.09±4.28%. Modification of parameters can improve the chemical quality of water content of 4.46%, the ash content of 43.84%, sucrose content of 11.30% and reducing sugar content of 45.78% which is better than previous quality and compliant with SNI.Keywords: chemical quality, coconut sugar, modification, production parameter