Jurnal Sains Teknologi Akuakultur
Not a member yet
44 research outputs found
Sort by
Pengaruh Suhu yang Berbeda terhadap Daya Tetas dan Perkembang Embrio Ikan Tawes (Barbonymus gonionotus)
Suhu berpengaruh signifikan terhadap daya tetas dan larva ikan. Suhu tinggi dapat mengganggu aktivitas enzim, suhu rendah dapat mempengaruhi metabolisme telur dan menghambat proses penetasan pada telur dan perkembangan larva. .Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap hasil daya tetas, perkembangan embrio dan lama waktu penetasan telur. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan(25 ℃, 26℃, 27 ℃ dan 28 ℃) dan tiga kali ulangan. Parameter yang diamati meliputi perkembangan embrio telur, daya tetas telur, dan lama waktu penetasan telur. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis sidik rgam dilanjutkan dengan uji lanjut BNT (Beda Nytaa Terkecil). Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap daya tetas telur, dan lama waktu penetasan telur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya tetas tertinggi dengan nilai 93% pada suhu 26℃ , kelangsungan dan lama waktu penetasan telur tercepat dengan nilai 12,93 jam pada suhu 26℃
Laju Pertumbuhan dan Efisiensi Pemanfaatan Pakan Ikan Nila Salin (Oreochromis niloticus) dengan Penambahan Tepung Alga Coklat (Sargassum cristaefolium) dalam Pakan
Sargassum cristaefolium merupakan salah satu dari jenis rumput laut yang dapat digunakan sebagai feed suplement dan memiliki zat imunostimulan yang dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh ikan sehingga meningkat pula pertumbuhannya. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui dosis penambahan tepung alga coklat (S. cristaefolium) dalam pakan yang menghasilkan laju pertumbuhan dan efisiensi pemanfaatan pakan terbaik untuk ikan nila salin (O. niloticus). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei-Juli 2017 di Laboratorium Pengembangan Wilayah Pantai (LPWP) Jepara. Ikan yang digunakan dalam penelitian adalah ikan nila salin dengan rerata bobot awal sebesar 6,6±0,23 g/ekor. Pakan uji yang digunakan yaitu pakan dengan penambahan tepung S. cristaefolium yang berbeda (0, 1, 2, dan 3%). Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Penelitian ini dilakuan selama 42 hari, data yang diperoleh meliputi total konsumsi pakan (TKP), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), rasio efisiensi protein (PER), laju pertumbuhan spesifik (SGR), dan kelulushidupan (SR). Perbedaan tingkat penambahan tepung S. cristaefolium pada pakan memberikan pengaruh nyata (P0,05) terhadap kelulushidupan. Kualitas air pada media pemeliharaan masih dalam kisaran yang layak untuk pemeliharaan ikan uji. Dosis terbaik penambahan S. Cristaefolium yang menghasilkan nilai tertinggi pada TKP (246,25 g), EPP (53,84%), PER (1,63%) dan SGR (2,01%/hari) adalah 2%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penambahan tepung S. cristaefolium pada dosis 2% merupakan dosis yang paling efektif menghasilkan nilai laju total konsumsi pakan (TKP), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), rasio efisiensi protein (PER) dan pertumbuhan spesifik (SGR) terbaik
Pengaruh Tepung Alga Coklat (Sargassum cristaefolium) dalam Pakan Buatan terhadap Efisiensi Pemanfaatan Pakan dan Pertumbuhan Ikan Kerapu (Epinephelus fuscoguttatus)
Sargassum cristaefolium merupakan salah satu dari jenis rumput laut yang dapat digunakan sebagai feed supplement dan memiliki material imunostimulant yang dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh ikan sehingga mampu memanfaatkan pakan dengan baik untuk pertumbuhan. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh penambahan tepung alga coklat (S. cristaefolium) dalam pakan terhadap pertumbuhan dan efisiensi pemanfaatan pakan ikan kerapu (Epinephelus fuscoguttatus). Variabel yang dikaji meliputi nilai total konsumsi pakan, efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), protein efisiensi rasio (PER), laju pertumbuhan spesifik (SGR), dan kelulushidupan (SR). Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dosis penambahan tepung S. cristaefolium yang berbeda dan 3 ulangan yaitu perlakuan A (dosis 0%), B (dosis 1%), C (dosis 2%) dan D (3%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung alga coklat (S. cristaefolium) dalam pakan memberikan pengaruh nyata (P0,05) terhadap SR. Perlakuan 2% memberikan nilai performa terbaik pada EPP sebesar 65,89% , PER sebesar 1,66%, dan SGR sebesar 2,27% /hari. Kondisi kualitas air selama penelitian berada dalam kisaran yang layak untuk kehidupan ikan kerapu (E. fuscoguttatus). Kesimpulan dari penelitian ini adalah penambahan konsentrasi 2% tepung alga coklat (S. cristaefolium) dalam pakan mampu meningkatkan nilai efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), protein efisiensi rasio (PER), dan laju pertumbuhan spesifik (SGR) ikan kerapu
Pengaruh Penambahan Tepung Daun Gamal (Gliricidia sepium) pada Pakan Buatan terhadap Sintasan dan Pertumbuhan Ikan Gurami (Osphronemus gouramy)
Ikan gurami menjadi salah satu ikan air tawar yang paling di minati masyarakat Indonesia. Harga pakan yang semakin meningkat mengakibatkan permasalahan dalam kegiatan budidaya ikan gurami, maka untuk menekan biaya pakan perlu dicari bahan baku pakan alternatif. Salah satunya dengan memanfaatkan daun gamal sebagai bahan baku pakan. Daun gamal memiliki komponen pakan yang berkontribusi terhadap penyediaan materi dan energi untuk pertumbuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung daun gamal (Gliricidia sepium) pada pakan buatan terhadap sintasan dan pertumbuhan ikan gurami (Osphronemus gouramy). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan yaitu A (0 %), B (5 %.), C (10 %) dan D (15 %). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji Anova. Pemberian pakan sebanyak dua kali sehari dengan feeding rate 5% selama 60 hari. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian pakan dengan penambahan tepung daun gamal (Gliricidia sepium) tidak memberikan hasil yang berbeda nyata terhadap sintasan dan pertumbuhan ikan Gurami (Oshpronemus gouramy) dengan sintasan terbaik pada perlakuan C yaitu sebesar 94,45 % dan dengan pertumbuhan terbaik pada perlakuan C yaitu sebesar 1,13 g.
Penggunaan Hormon Pertumbuhan Rekombinan (rGH) dalam Memacu Pertumbuhan Larva Ikan Black Ghost (Apteronotus albifrons)
Ikan blackghost adalah ikan hias air tawar yang bernilai ekonomis tinggi. Pertumbuhan ikan yang lambat menjadi kendala dalam memenuhi permintaan pasar sehingga dibutuhkan pemberian hormon pertumbuhan rekombinan (rGH) agar dapat meningkatkan pertumbuhan ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian hormon pertumbuhan rekombinan (rGH) dengan konsentrasi yang berbeda terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan larva ikan black ghost. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus-September 2017di Laboratorium Perikanan, Jurusan Perikanan dan Kelautan, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. Ikan yang digunakan memiliki panjang awal 0,5 cm dan berat awal 0,01 g dengan lama pemeliharan 35 hari di akuarium berukuran 15x15x25 cm sebanyak 8 ekor per akuarium. Penelitian menggunakan 4 perlakuan dengan 3 kali ulangan yaitu larva ikan blackghost tanpa perendaman rGH(A) dan larva ikan blackghost yang direndam hormon rGH sebanyak 1 mg/L, 3 mg/L, dan 5 mg/L (B, C, dan D). Parameter yang diamati yaitu pertumbuhan panjang, berat mutlak, kelangsungan hidup dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan pemberian hormon pertumbuhan rekombinan (rGH) pada setiap perlakuan berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan panjang dan berat mutlak, tetapi tidak berbeda nyata terhadap kelangsungan hidup larva ikan blackghost. Kesimpulan yang didapat, pemberian hormon pertumbuhan rekombinan (rGH) sebesar 5 mg/L merupakan dosis terbaik bagi pertumbuhan panjang dan berat larva ikan black ghost karena meningkatkan pertumbuhan larva secara signifikan
Efektifitas Ekstrak Ulva Reticulata Terhadap Infeksi Bakteri Patogen Vibrio alginolyticus dan Vibrio parahaemolyticus pada Ikan Kerapu Tikus (Cromileptes altivelis) Secara In – Vitro
Usaha pengendalian vibriosis pada kegiatan budidaya ikan kerapu masih mengandalkan penggunaan obat - obatan atau antibiotik sintetik. Namun penggunaan antibiotik dalam jangka waktu tertentu dapat menyebabkan timbulnya masalah yaitu resistensi bakteri patogen terhadap antibiotik tersebut pada tubuh ikan dan pencemaran lingkungan yang akhirnya dapat membunuh organisme bukan sasaran. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ekstrak rumput laut hijau Ulva reticulata dengan pelarut yang berbeda dalam menghambat atau membunuh pertumbuhan V. alginolyticus dan V. parahaemolyticus pada ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) serta mengetahui konsentrasi minimum ekstrak rumput laut hijau U. reticulata yang dapat menghambat dan membunuh V. Alginolyticus dan V. parahaemolyticus pada ikan kerapu tikus (C.altivelis). Penelitian ini dilakukan dengan tiga perlakuan dan kali ulangan yaitu pelarut metanol, metanol+H2O dan pelarut H2O. Uji difusi menggunakan konsentrasi ekstrak Ulva reticulata 2 mg/50 mL dan untuk uji Kosentrasi Hambat Minimum (KHM) menggunakan konsentrasi ekstrak Ulva reticulata 2000 ppm, 1000 ppm, 500 ppm, 250 ppm, 150 ppm, 125 ppm, 125 ppm, 62,5 ppm, 31,25 ppm, dan 15,625 ppm. Untuk melihat pengaruh ekstrak rumput laut hijau Ulva reticulata dengan pelarut polar terhadap bakteri V. alginolyticus dan V. parahaemolyticus maka dianalisis menggunakan One-way Anova. Jika terdapat pengaruh maka dilakukan uji Tukey untuk melihat perbedaan aktifitas antibakteri. Hasil penelitian menunjukan bahwa dari ketiga jenis ekstrak Ulva reticulata dengan pelarut yang berbeda yang memiliki aktivitas antibakteri tertinggi terhadap bakteri patogen V. alginolyticus dan V. parahaemolyticus adalah Ulva reticulata dengan pelarut metanol+H2O dengan masing-masing diameter zona hambat 26,33 mm (zona clear/jernih) dan 22,67 mm (zona halo/keruh). Pada pengujian konsentrasi hambat minimum (KHM) ekstrak Ulva reticulata dengan pelarut metanol+H2O terhadap bakteri patogen V. alginolyticus dan V. parahaemolyticus diperoleh KHM pada konsentrasi 31,25 ppm, karena pada konsentrasi 15,625 ppm ekstrak Ulva reticulata dengan pelarut metanol+H2O terhadap kedua bakteri tersebut sudah tidak memilik zona hambat sama sekali dan pengujian sitotoksisitas menunjukkan tidak ada efek toksik terhadap nauplius Artemia salina, karena masing-masing ekstrak menunjukkan LC50 >1000 ppm.
Pengaruh Media Pemeliharaan yang Berbeda dengan Pemberian Pakan Mengandung Enzim Papain terhadap Efisiensi Pemanfaatan Pakan dan Pertumbuhan Ikan Patin (Pangasius hypopthalmus)
Teknologi bioflok merupakan teknologi penggunaan bakteri, baik heterotrof maupun autotrof yang dapat mengonversi limbah organik secara intensif menjadi kumpulan mikroorganisme yang berbentuk sebuah flok yang dapat dimanfaatkan oleh ikan sebagai sumber makanan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji pertumbuhan spesifik dan efisiensi pemanfaatan pakan benih ikan patin (Pangasius hypopthalmus) yang dipelihara dalam media yang berbeda dengan pemberian pakan yang mengandung 0,25% enzim papain. Ikan yang digunakan dalam penelitian adalah benih ikan patin dengan bobot rata-rata sebesar 3,63±1,9 g/ekor. Ikan uji dipelihara dengan padat penebaran sebesar 1 ekor/L selama 42 hari. Pakan uji yang digunakan yaitu pakan dengan pemberian enzim papain 0,25%dan diberikan secara at satiation. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 ulangan,yaitu A (media pemeliharaan air tawar), B (media pemeliharaan bioflok C/N 18) dan C (media pemeliharaan probiotik 1 mL/L). Parameter yang diamati meliputi efisiensi pemanfatan pakan (EPP), protein efisiensi rasio (PER), jumlah konsumsi pakan (TKP), laju pertumbuhan spesifik (SGR) dan kelulushidupan (SR).Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemeliharaan dengan media bioflok dan media probiotik memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap EPP danPER, namun tidak berpengaruh nyata terhadap TKP, SGR, dan SR benih ikan patin. Berdasarkan hasil penelitian juga didapatkan bahwa pada pemeliharaan dengan media bioflok memberikan hasil terbaik pada TKP (109,86 g), EPP (75,94%), SGR (1,81%/hari), PER (2,50%), dan tingkat kelulushidupan (96,67%) sehingga dapat disimpulkan bahwa media bioflok dapat meningkatkan efisiensi pakan dan pertumbuhan benih ikan patin (P. Hypopthalmus)
Aplikasi Ekstrak Daun Ketapang (Terminalia catappa L.) terhadap Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) yang Terinfeksi Penyakit White Feces Disease (WFD)
Udang vaname merupakan komoditas unggulan di bidang perikanan memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Permasalahan yang timbul dari kegiatan budidaya udang yaitu serangan penyakit. Jenis penyakit yang sedang marak adalah adalah White Feces Disease (WFD). Secara umum udang yang terserang penyakit WFD mengalami pertumbuhan yang abnormal dan kematian. Timbulnya penyakit sering dikaitkan oleh keberadaan bakteri Vibrio spp. serta faktor lingkungan yang buruk. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk penanggulan penyakit ini yaitu penggunaan ekstrak daun ketapang (Terminalia catappa.L) dengan cara perendaman. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 5 perlakuan dan 3 ulangan yaitu kontrol negatif, kontrol positif, dan ekstrak daun ketapang dengan berbagai konsentrasi 10, 20, 30%. Tujuan penelitian ini mengkaji pengaruh pemberian ekstrak daun ketapang sebagai bahan alami yang mampu digunakan untuk penanggulangan penyakit WFD pada udang vaname. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun ketapang sebanyak 30% dengan metode perendaman mampu meningkatkan nilai SR (Suvival Rate), serta adanya penurunan total koloni bakteri Vibrio dibandingkan tanpa pemberian ekstrak daun ketapang
Penambahan Komposisi Enzim dalam Pakan Komersil terhadap Performa Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Ikan Baung (Mystus Nemurus) di Kolam Terpal
Ikan baung merupakan salah satu komoditas budidaya air tawar di Indonesia. Ketersediaan ikan baung sebagai bahan pangan masyarakat sebagian besar masih berasal dari hasil tangkapan di alam. Saat ini pakan buatan berupa pelet ikan sudah banyak digunakan oleh pembudidaya ikan baung, tetapi sejauh ini salah satu masalah yang belum dapat teratasi secara baik adalah kualitas pakan, ketersedian pakan, dan banyaknya pakan yang tidak dimanfaatkan oleh ikan. Penambahan komposisi enzim khususnya enzim pencernaan seperti enzim protease, lipase dan amilase mampu menghidrolisis protein menjadi unsur-unsur yang lebih sederhana yaitu peptida hingga asam amino sehingga meningkatkan pemanfaatan protein pakan oleh tubuh ikan baung. Penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai dengan Mei 2017 di bertempat di Laboratorium Budidaya Perikanan, Program Studi Budidaya Perairan Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan tiga ulangan yaitu A (tanpa penambahan 0%), B (penambahan eznim 0,5%), C (penambahan enzim 2,25%), dan D (penambahan enzim 4%). Data yang diperoleh dianalisis dengan uji ANOVA dan dilanjutkan dengan uji BNT/LSD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan komposisi enzim sebesar 2,25% memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan ikan baung dengan pertumbuhan mutlak 11,06 gram, pertumbuhan harian 0,28 gram/hari, serta rasio konversi pakan 1,79. serta tingkat kelangsungan hidup sebesar 100%
Efektivitas OmegaSqua dan Klorofil sebagai Feed Additive untuk Menigkatkan Fekuinditas, Daya Tetas dan Kelulushidupan Larva Ikan Lele Sangkuriang (Clarias sp.)
Ikan lele sangkuriang (Clarias sp.) merupakan salah satu jenis ikan ekonomis yang dimanfaatkan sebagai ikan konsumsi air tawar dengan produksi cukup tinggi dan digemari masyarakat. Permasalahan yang ada dalam budidaya ikan lele adalah Induk-induk lele sulit untuk cepat matang gonad, fekunditas, daya tetas, dan kelulushidupan menjadi rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan kombinasi omegasqua dan klorofil terhadap fekunditas, daya tetas, dan kelulushidupan larva ikan lele sangkuriang, serta untuk mengetahui rasio omegasqua dan klorofil yang paling tepat menghasilkan performansi reproduksi induk ikan lele. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode eksperimental menggunakan pola Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan lele sangkuriang yang dipelihara dengan penambahan pakan yang dicampur dengan omegasqua dan klorofil berpengaruh sangat nyata terhadap daya tetas telur (P<0,01), namun tidak berpengaruh nyata terhadap fekunditas dan kelulushidupan. Nilai fekunditas berkisar antara 51.515–59.714 butir/Kg. Nilai tertinggi dari daya tetas telur pada perlakuan B (2,5 mL omegasqua/kg pakan dan 2,5 mL klorofil/kg pakan) dengan nilai rerata 50,00±1,76%. Nilai kelulushidupan berkisar antara 66,33–73,20%