19 research outputs found
Perbedaan Terapi Pijat Effleurage Dan Terapi Kompres Terhadap Penurunan Afterpain Pada Ibu Postpartum Di RS. Dewi Sartika Kota Kendari Sulawesi Tenggara
Ringkasan: Latar Belakang: Involusio uterus pada masa postpartum menimbulkan kontraksi otot-otot uterus yang menyebabkan ketidaknyamanan atau nyeri afterpain selama 3-4 hari postpartum. Tindakan non-farmakologis seperti terapi pijat effleurage dan terapi kompres hangat diperlukan untuk meredakan nyeri. Tujuan: Mengidentifikasi perbedaan terapi pijat effleurage dengan terapi kompres hangat dalam menurunkan afterpain pada ibu postpartum. Metode: Penelitian kuantitatif dengan rancangan eksperimen two group pretest posttest pada 50 ibu postpartum normal hari ke-1 di RS Dewi Sartika Kendari. Sampel dibagi menjadi dua kelompok menggunakan consecutive sampling. Nyeri dinilai dengan Numerical Rating Scale (NRS) dan dianalisis menggunakan uji Wilcoxon dan Mann-Whitney. Hasil: Kedua terapi efektif menurunkan afterpain dengan nilai p=0,000. Uji perbandingan menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan (p=0,750) antara terapi pijat effleurage dan kompres hangat. Simpulan: Terapi pijat effleurage dan terapi kompres hangat sama-sama efektif menurunkan nyeri afterpain ibu postpartum. Saran: Kedua terapi dapat menjadi pilihan intervensi keperawatan untuk mengatasi afterpain dan memberikan kenyamanan ibu postpartum.Periode postpartum, juga dikenal sebagai "trimester keempat kehamilan", adalah waktu antara kelahiran bayi baru lahir dan kembalinya fungsi rahim seperti sebelum hamil. Pada masa postpartum terjadi perubahan baik secara fisiologis maupun psikis. Perubahan fisik yang terjadi selama periode postpartum termasuk yang terkait secara spesifik dengan sistem reproduksi serta perubahan sistemik lainnya. Salah satu perubahan fisiologis pada ibu postpartum adalah terjadi involusio uterus yang menyebabkan terjadinya kontraksi otot-otot uterus sehingga menimbulkan ketidaknyamanan atau rasa nyeri yang di sebut afterpain. Tindakan non farmakologis yang bisa di berikan untuk meredakan nyeri pada ibu diantaranya memberikan terapi pijat effleurage dan terapi kompres hangat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi perbedaan terapi masage effleurage dengan terapi kompres hangat dalam menurunkan afterpain pada ibu postpartum. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan rancangan eksperimen two group pretess posttest yaitu rancangan eksperimen yang dilakukan pada kedua kelompok yang berbeda yang mendapatkan intervensi yang berbeda. Hasil uji beda berpasangan wilcoxon didapatkan hasil pada terapi masage effleurage dan terapi kompres hangat p value = 0,000 yang bermakna ada pengaruh kedua terapi terhadap penurunan afterpain pada ibu postpartum. Sedangkan pada uji beda tidak berpasangan uji mann whitney antara terapi massage effleurage dan terapi kompres air hangat tidak signifikan dengan nilai p value = 0,750, tidak ada perbedaan pada kedua terapi tersebut dengan demikian terapi masage eflleurage dan terapi kompres hangat sama-sama efektif dalam menurunkan nyeri afterpain ibu postpartum
Perbedaan Terapi Pijat Effleurage Dan Terapi Kompres Terhadap Penurunan Afterpain Pada Ibu Postpartum Di RS. Dewi Sartika Kota Kendari Sulawesi Tenggara
Ringkasan: Latar Belakang: Involusio uterus pada masa postpartum menimbulkan kontraksi otot-otot uterus yang menyebabkan ketidaknyamanan atau nyeri afterpain selama 3-4 hari postpartum. Tindakan non-farmakologis seperti terapi pijat effleurage dan terapi kompres hangat diperlukan untuk meredakan nyeri. Tujuan: Mengidentifikasi perbedaan terapi pijat effleurage dengan terapi kompres hangat dalam menurunkan afterpain pada ibu postpartum. Metode: Penelitian kuantitatif dengan rancangan eksperimen two group pretest posttest pada 50 ibu postpartum normal hari ke-1 di RS Dewi Sartika Kendari. Sampel dibagi menjadi dua kelompok menggunakan consecutive sampling. Nyeri dinilai dengan Numerical Rating Scale (NRS) dan dianalisis menggunakan uji Wilcoxon dan Mann-Whitney. Hasil: Kedua terapi efektif menurunkan afterpain dengan nilai p=0,000. Uji perbandingan menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan (p=0,750) antara terapi pijat effleurage dan kompres hangat. Simpulan: Terapi pijat effleurage dan terapi kompres hangat sama-sama efektif menurunkan nyeri afterpain ibu postpartum. Saran: Kedua terapi dapat menjadi pilihan intervensi keperawatan untuk mengatasi afterpain dan memberikan kenyamanan ibu postpartum.Periode postpartum, juga dikenal sebagai "trimester keempat kehamilan", adalah waktu antara kelahiran bayi baru lahir dan kembalinya fungsi rahim seperti sebelum hamil. Pada masa postpartum terjadi perubahan baik secara fisiologis maupun psikis. Perubahan fisik yang terjadi selama periode postpartum termasuk yang terkait secara spesifik dengan sistem reproduksi serta perubahan sistemik lainnya. Salah satu perubahan fisiologis pada ibu postpartum adalah terjadi involusio uterus yang menyebabkan terjadinya kontraksi otot-otot uterus sehingga menimbulkan ketidaknyamanan atau rasa nyeri yang di sebut afterpain. Tindakan non farmakologis yang bisa di berikan untuk meredakan nyeri pada ibu diantaranya memberikan terapi pijat effleurage dan terapi kompres hangat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi perbedaan terapi masage effleurage dengan terapi kompres hangat dalam menurunkan afterpain pada ibu postpartum. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan rancangan eksperimen two group pretess posttest yaitu rancangan eksperimen yang dilakukan pada kedua kelompok yang berbeda yang mendapatkan intervensi yang berbeda. Hasil uji beda berpasangan wilcoxon didapatkan hasil pada terapi masage effleurage dan terapi kompres hangat p value = 0,000 yang bermakna ada pengaruh kedua terapi terhadap penurunan afterpain pada ibu postpartum. Sedangkan pada uji beda tidak berpasangan uji mann whitney antara terapi massage effleurage dan terapi kompres air hangat tidak signifikan dengan nilai p value = 0,750, tidak ada perbedaan pada kedua terapi tersebut dengan demikian terapi masage eflleurage dan terapi kompres hangat sama-sama efektif dalam menurunkan nyeri afterpain ibu postpartum
Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Jantung Koroner (PJK) melalui Upaya Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan Kader
ABSTRAK Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan salah satu penyebab kesakitan dan kematian di dunia dan di Indonesia. Upaya pencegahan dan pengendalian PJK merupakan upaya prioritas yang salah satunya dapat dilakukan dengan meningkatkan pengetahuan masyarakat melalui peran serta kader. Tujuan kegiatan pengabmas adalah mengingkatkan pengetahuan dan keterampilan kader kesehatan tentang upaya pencegahan dan pengendalian PJK sehingga dapat meningkatkan pemberdayaan kader di Desa Mekar, Kec. Soropia. Sasaran kegiatan adalah 15 orang kader kesehatan Desa Mekar, Kecamatan Soropia. Pada kegiatan ini dilakukan metode penyuluhan untuk meningkatkan pengetahuan dan pelatihan untuk meningkatkan keterampilan kader. Untuk menilai pengetahuan kader, digunakan kuesioner yang berisi pengertian, penyebab, tanda dan gejala PJK, faktor risiko serta upaya pencegahan dan pengendalian PJK. Penilaian keterampilan tentang faktor risiko PJK seperti pemeriksaan fisik sederhana yang meliputi teknik pengukuran tinggi badan dan berat badan untuk menentukan Indeks Massa Tubuh (IMT), cara melakukan pengukuran lingkar perut dan teknik memeriksa tekanan darah, glukosa dan lipid darah dengan alat sederhana. Hasil kegiatan menunjukkan terjadi peningkatan pengetahuan kader tentang tentang upaya pencegahan dan pengendalian PJK yaitu pengetahuan baik dari 20% menjadi 86,7%. Keterampilan kader juga meningkat yaitu kategori baik dari 0% menjadi 73,3%. Meningkatnya pemberdayaan kader kesehatan diharapkan dapat terjadi dan upaya peningkatan pengetahuan serta keterampilan kader tentang PJK terus dilaksanakan secara berkesinambungan. Kata Kunci: Pencegahan dan Pengendalian PJK, Pengetahuan, Keterampilan, Kader ABSTRACT Coronary heart disease (CHD) is one of the leading cause of morbidity and mortality in the world and in Indonesia. Efforts to prevention and control of CHD is a priority effort, one of which can be done by increasing community knowledge through the participation of cadres. The purpose of community service activities is to improve knowledge and skills of cadres about efforts to prevent and control of CHD so as to increase cadre empowerment in Mekar Village, Soropia sub-district. The targets of the activity were 15 cadres of Mekar Village, Soropia District. In this activity, counseling methods were used to increase knowledge and training to improve cadres' skills. To assess cadre knowledge, a questionnaire containing the definition, causes, signs and symptoms of CHD, risk factors and efforts to prevent and control CHD. Assessment of skills on CHD risk factors such as simple physical examination which including height and weight measurement techniques to determine Body Mass Index (BMI), abdominal circumference measurements and techniques for checking blood pressure, glucose and blood lipids with simple tools. Activity results showed an increase in cadres' knowledge about prevention and control of CHD, namely good knowledge from 20% to 86.7%. The skills of cadres also increased, the good category from 0% to 73.3%. Increased empowerment of cadres is expected to occur and efforts to increase knowledge and skills of cadres about CHD continue to be implemented on an ongoing basis continuously. Keywords: Prevention and Control of Coronary Heart Disease, Knowledge, Skills, Cadre
Tingkat Pemahaman Aseptor KB tentang Penggunaan Alat Kontrasepsi Hormonal
The results of interviews conducted on mothers of hormonal contraceptive users in Lapulu Village working area of Abeli Care Center that they do not know what hormonal contraceptives are and do not know about the contraceptive methods they use in terms of Hormonal Contraceptives, Hormonal Contraceptive Advantages and Disadvantages, Indications and Contraindications of hormonal contraceptives. All they know is just how to delay pregnancy so that the distance of pregnancy is not too close to the low cost. This goal is to obtain a general overview of Family Planning Acceptance Knowledge about the use of hormonal contraceptives in Lapulu Village, Abeli Health Centre, Kendari. This type of research is a descriptive study with a sample of 49 people. The results of this study obtained respondents knowledge about the benefits of hormonal contraceptives obtained results as many as 23 people (46.94%) knowledge while knowledge is less than 26 people (53.06%) while respondents' knowledge of hormonal contraceptive side effects was 16 people (32.65%) knowledge is good while knowledge is less than 33 people (67.35%).Hasil wawancara yang dilakukan pada ibu pengguna alat kontrasepsi hormonal di Kelurahan Lapulu wilayah kerja Puskesmas Perawatan Abeli bahwa mereka tidak mengetahui apa itu kontrasepsi hormonal dan kurang mengetahui tentang metode kontrasepsi yang mereka gunakan dari segi Cara penggunaan Alat Kontrasepsi Hormonal, Keuntungan dan Kerugian Kontrasepsi Hormonal, Indikasi dan Kontraindikasi kontrasepsi hormonal. Yang mereka ketahui adalah hanya bagaimana cara menunda kehamilan agar jarak kehamilan tidak terlalu dekat dengan biaya yang murah. Tujuan ini yaitu memperoleh gambaran secara umum tentang. Pengetahuan Akseptor Keluarga Berencana Tentang Penggunaan Alat Kontrasepsi Hormonal di Kelurahan Lapulu Wilayah Kerja Puskesmas Abeli kota Kendari. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan sampel sebanyak 49 orang. Hasil penelitian ini diperoleh Pengetahuan reponden tentang manfaat kontrasepsi hormonal diperoleh hasil sebanyak 23 orang (46.94%) yang pengetahuannya baik sedangkan pengetahuan kurang sebanyak 26 orang (53.06%) sedangkan Pengetahuan responden tentang efek samping kontrasepsi hormonal yaitu sebanyak 16 orang (32.65%) pengetahuanya baik sedangkan pengetahuan kurang 33 orang (67.35%)
Studi penerapan komunikasi terapeutik oleh perawat hubungannya dengan kemampuan kontrol halusinasi pada pasien isolasi menarik diri di ruang rawat inap rumah sakit jiwa Kendari tahun 2012
Studi penerapan komunikasi terapeutik oleh perawat hubungannya dengan kemampuan kontrol halusinasi pada pasien isolasi menarik diri di ruang rawat inap rumah sakit jiwa Kendari tahun 201
Kajian Teoritis Hubungan antara Depresi dengan Sistem Neuroimun
Depression is an affective, physiologic, cognitive and behavioral disorder that affects regular behaviors and reactions. Depression is an inflammation. Psychoneuroimmunology is a discipline that explores the relationships between the nervous system and immunity and behavior and wellbeing. The emphasis is primarily on the immunological and psychological stress response. The reciprocal direction of contact between nerve, endocrine, and immune systems is suggested by psychoneuroimmunologic studies. In mental illnesses, the immune system is active. Cytokines can develop into depressive disorders in susceptible patients. In infancy trauma as a depression vulnerability. In certain regions of the brain, including the hippocampo, there is an increase in glucocorticoids that is more likely to cause damage in the presence of disturbances in the control of neuro endo cratic responses of patients with depressed HPA axis hyperactivity triggered by hypersecretion of the hypothalamic hormone peptide corticotropin (CRH). The complex relationship between stress, immune and neuroendocrine has been shown by inflammation and the cytokines, which play an important role in controlling the association between stress and depression. The pro-inflammatory cytokines that respond to stress and answers in patients are increased by psychological stress.Depresi merupakan suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang secara afektif, fisiologis, kognitif dan perilaku sehingga mengubah pola dan respon yang biasa dilakukan. Psikoneuroimunologi adalah bidang yang mempelajari interaksi antara sistem saraf dan imunitas, dan hubungan antara perilaku dan kesehatan. Fokus utama adalah respon imunologi dan psikologis terhadap stres. Kajian psikoneuroimunologi menunjukkan adanya jalur komunikasi timbal balik antara sistem saraf, endokrin dan sistem munitas. Adanya keterlibatan dari sistem imunitas dalam gangguan kejiwaan. Induksi sitokin pada pasien yang rentan dapat berkembang menjadi gangguan depresi. Trauma pada masa kecil sebagai faktor kerentanan penyebab depresi. Adanya kelainan regulasi respon neuroendokrin pada pasien depresi dengan hiperaktivitas sumbu HPA yang didorong oleh hipersekresi hormon hipotalamus peptida corticotropine (CRH) daerah tertentu dari otak, termasuk hippocampus, lebih mudah terjadi kerusakan jika terdapat peningkatan glukokortikoid. Peradangan dan sitokin yang berperan penting untuk mengatur hubungan antara stres dan perkembangan depresi menunjukkan hubungan yang kompleks antara stres, sistem imun dan neuroendokrin. Stres psikologis meningkatkan sitokin pro-inflamasi yang merespon reaksi stres dan kecemasan pada pasien
Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM) Pada Kelompok Nelayan melalui Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan Kader PTM
ABSTRAK Penyakit tidak menular (PTM) adalah penyakit yang tidak dapat ditularkan dari seorang ke orang lain, dan terjadi dalam rentang waktu yang lama (kronis). Beberapa penyakit yang tergolong PTM diantaranya adalah hipertensi, diabetes melitus (DM), stroke, penyakit jantung, asma, kanker dan penyakit gagal ginjal. Data kejadian PTM menunjukkan jumlah yang meningkat tiap tahunnya. Peningkatan pengetahuan serta keterampilan masyarakat penting untuk dilakukan dalam mendukung upaya pencegahan dan pengendalian PTM. Desa Ulu Sawa merupakan salah satu desa yang yang terletak dikawasan pesisir serta merupakan salah satu desa binaan Poltekkes Kemenkes Kendari. Salah satu mata pencaharian penduduk desa ini adalah sebagai nelayan. Pola konsumsi makanan yang rendah serat dan tinggi natrium pada nelayan dan keluarganya merupakan faktor risiko terjadinya PTM. Keterlibatan kader dalam mendukung pencegahan dan pengendalian PTM merupakan aspek yang penting sehingga peningkatan pengetahuan dan keterampilan kader perlu ditingkatkan. Tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader dalam pencegahan dan pengendalian PTM pada nelayan. Sasaran kegiatan ini adalah kader PTM sebanyak 20 orang. Hasil kegiatan ini menunjukkan peningkatan pengetahuan kader dengan kategori baik yaitu dari 45% menjadi 95%. Keterampilan kader juga meningkat pada ketergori baik dari 35% menjadi 90%. Kesimpulan kegiatan penyuluhan dan demonstrasi ini berperan dalam peningkatan pengetahuan dan keterampilan kader dalam pencegahan dan pengendalian PTM. Kata Kunci: Pengetahuan, Keterampilan, Kader, Penyakit Tidak Menular ABSTRACT Non-communicable diseases (NCDs) are diseases that cannot be transmitted from one person to another, and occur over a long period of time (chronic). Some diseases that are classified as NCDs include hypertension, diabetes mellitus (DM), stroke, heart disease, asthma, cancer and kidney failure. Data on the incidence of PTM shows that the number is increasing every year. Increasing community knowledge and skills is important to support efforts to prevent and control NCDs. Ulu Sawa Village is one of the villages located in the coastal area and is one of the villages assisted by the Kendari Ministry of Health's Health Polytechnic. One of the livelihoods of the residents of this village is as fishermen. The consumption pattern of food that is low in fiber and high in sodium among fishermen and their families is a risk factor for NCDs. The involvement of cadres in supporting the prevention and control of NCDs is an important aspect so that cadres' knowledge and skills need to be increased. The aim of this activity is to increase the knowledge and skills of cadres in preventing and controlling NCDs in fishermen. The target of this activity is 20 PTM cadres. The results of this activity show an increase in cadre knowledge in the good category, namely from 45% to 95%. Cadre skills also increased in the good category from 35% to 90%. In conclusion, this outreach and improvement activity plays a role in increasing cadres' knowledge and skills in preventing and controlling NCDs. Keywords :Knowledge, Skills, Cadres, Non-Communicable Diseas
Faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi sanitasi lingkungan hubungannya dengan kejadian penyakit malaria di kelurahan Anggoeya kecamatan Poasia Kota Kendari 2011
Faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi sanitasi lingkungan hubungannya dengan kejadian penyakit malaria di kelurahan Anggoeya kecamatan Poasia Kota Kendari 201
Gangguan Depresi Mayor: Mini Review
Depression is a condition of a person feeling sad, disappointed when experiencing a change, loss, failure and becoming pathological when unable to adapt. Depression is a condition that affects a person affectively, physiologically, cognitively and behaviorally thus changing the usual patterns and responses. Major Depressive Disorder is a heterogeneous disease characterized by feelings of depression, anhedonia, changes in cognitive function, changes in sleep, changes in appetite, guilt that occur over two weeks, described with a loss of interest or pleasure in the usual activity and is a disease with neurobiological consequences involving structural, functional and molecular changes in some areas of the brain. Maladaptive neural responses, social, psychological, and physiological rejections interact with each other with other susceptibility factors, such as a history of depression, life stress levels, genetic factors, will increase a person's susceptibility to depression.Depresi adalah suatu kondisi seseorang merasa sedih, kecewa saat mengalami suatu perubahan, kehilangan, kegagalan dan menjadi patologis ketika tidak mampu beradaptasi. Depresi merupakan suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang secara afektif, fisiologis, kognitif dan perilaku sehingga mengubah pola dan respon yang biasa dilakukan. Major Depressive Disorder merupakan penyakit heterogen ditandai dengan perasaan depresi, anhedonia, perubahan fungsi kognitif, perubahan tidur, perubahan nafsu makan, rasa bersalah yang terjadi selama dua minggu, digambarkan dengan hilangnya ketertarikan atau kesenangan akan aktivitas yang biasa dilakukan dan merupakan penyakit dengan konsekuensi neurobiologis yang melibatkan perubahan struktural, fungsional dan molekuler di beberapa daerah otak. Maladaptif respon saraf, penolakan sosial, psikologis, dan tingkat fisiologis berinteraksi satu sama lain dengan faktor kerentanan lainnya, seperti riwayat depresi, tingkat stres kehidupan, faktor genetik, akan meningkatkan kerentanan seseorang terhadap depresi
Studi penerapan komunikasi terapeutik oleh perawat hubungannya dengan kemampuan kontrol halusinasi pada pasien isolasi menarik diri di ruang rawat inap rumah sakit jiwa Kendari tahun 2012
Studi penerapan komunikasi terapeutik oleh perawat hubungannya dengan kemampuan kontrol halusinasi pada pasien isolasi menarik diri di ruang rawat inap rumah sakit jiwa Kendari tahun 201
