1,720,958 research outputs found

    Pemetaan Siteplan Kawasan Wisata Hutan Meranti KM.15 Balikpapan Sebagai Upaya Pengembangan Wisata Hutan Lindung Berbasis Alam

    Get PDF
    Bentuk pengabdian masyarkat yang dilakukan oleh tim pengabdian adalah melakukan kerjasama dan kolaborasi dengan pihak pengelola Kawasan wisata hutan lindung meranti km.15 dalam pembuatan siteplan kawasan. Berdasarkan RTRW Kota Balikpapan tahun 2012-2032, salah satu kebijakan penataan ruang di wilayah Kota adalah perwujudan kelestarian kawasan lindung, dimana untuk perwujudan kelestarian fungsi kawasan lindung adalah dengan melakukan integrasi fungsi kawasan lindung dengan fungsi wisata. Sejauh ini pembangunan destinasi wisata Meranti dimulai sejak bulan Juli 2021 lalu, dan untuk pembiayaan pembangunan saat ini masih mengandalkan swadaya dari anggota dan masyarakat. Berdasarkan hal tersebut, maka pemanfaatan kawasan hutan lindung sebagai wisata alam ini masih sangat baru sekali dan butuh pendampingan lebih lanjut terkait pemetaan Kawasan. Berdasarkan kondisi dilapangan, permasalahan yang dihadapi oleh mitra adalah aspek manajemen. Aspek manajemen adalah sebuah proses yang dilakukan untuk mewujudkan tujuan melalui rangkaian kegiatan berupa perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian baik itu sumber daya manusia maupun alam. Berdasarkan permasalahan tersebut maka tim pengabdian menawarkan bantuan pembuatan siteplan kawasan dengan berbasis partisipasi masyarakat. Hal ini sebagai upaya dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam standar minimal Kawasan pariwisata, memetakan  potensi lahan wisata, kebutuhan sarana prasarana, dan hasilnya dapat dijadikan input dalam penawaran proposal kerjasama untuk pemenuhan modal investasi pengembangan kawasan

    Indikator Pertambangan Batubara Yang Berkelanjutan Dan Alternatif Sektor Non Pertambangan Sebagai Strategi Pengembangan Wilayah Paska Tambang (Studi Kasus : Kabupaten Kutai Timur).

    Get PDF
    Kabupaten Kutai Timur yang memiliki potensi bahan galian berupa batubara. Hal ini dapat dilihat berdasarkan hasil produksi batubara di Kabupaten Kutai Timur selalu mengalami peningkatan, dimana antara tahun 2010-2011 terjadi peningkatan yang signifikan (Kutai Timur dalam Angka, 2013). Kegiatan pertambangan batubara pada Kabupaten Kutai Timur didukung pula dengan salah satu fungsi kegiatan Kota Sangatta (Ibu Kota Kabupaten Kutai Timur), yaitu sebagai pusat pengolahan hasil tambang batubara (Laporan akhir Tatrawil Provinsi Kalimantan Timur).Pada Kabupaten Kutai Timur, tepatnya di Kecamatan Sangatta Utara beroperasi sebuah perusahaan pertambangan batubara yang berskala internasional yaitu PT.KPC. Pada banyak kasus keberadaan tambang batubara dapat memberikan dampak negatif khususnya terhadap lingkungan. Kota Sangatta yang merupakan ibukota Kabupaten Kutai Timur adalah salah satu daerah yang terkena dampak lingkungan seperti pencemaran udara (debu) dari adanya kegiatan pertambangan batubara (kaltim.tribunnews.com). Pencemaran lingkungan juga terjadi pada Sungai Sangatta, dimana dengan adanya limbah batubara dikhawatirkan akan terjadi pendangkalan dan penyempitan sungai (www.antaranews.com).Dampak kegiatan pertambangan tidak hanya berupa dampak negatif, tetapi juga dampak positif terhadap pendapatan daerah dan perekonomian masyarakat (Sustainibility Report Laporan Keberlanjutan PT.KPC, 2012), namun tingkat ekonomi yang positif tersebut perlu untuk dioptimalkan dalam mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan, dalam hal ini yaitu perbaikan kualitas lingkungan, dimana saat ini terdapat 20 lubang galian tambang dan 3 diantara sedang dilakukan reklamasi, namun saat ini belum ditetapkan kegiatan yang akan dilakukan untuk mengisi kegiatan reklamasi pada lubang galian batubara paska tambang.Penelitian ditujukan untuk (1) Untuk menetapkan prioritas kegiatan pertambangan batubara yang berkelanjutan di Kabupaten Kutai Timur, dan (2) Menyeleksi sektor-sektor non pertambangan sebagai strategi pengembangan wilayah paska tambang batubara di Kabupaten Kutai Timur..Indikator pertambangan batubara yang berkelanjutan terdiri dari : (1) peningkatan kualitas lingkungan,(2)restorasi lansekap, (3) kofisien ruang hijau, (4)reboisasi, (5)daur ulang limbah, (6) pemanfaatan kembali lahan bekas tambang, (7) pendapatan bagi pemerintah, (8) pendapatan bagi masyarakat. Indikator tersebut akan dianalisis dengan metode AHP untuk menghasilkan nilai bobot sehingga dapat menentukan prioritas indikator.Sektor non pertambangan yang dianalisis terdiri dari : (1) Pertanian, (2) Pertambangan & Penggalian, (3) Industri Pengolahan, (4) Listrik, Gas & Air Bersih, (5) Bangunan, (6) Perdagangan, Hotel & Restoran, (7) Pengangkutan & Komunikasi, (8) Keuangan, Persewaan dn Jasa Perusahaan, (9) Jasa.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada variabel biaya, indikator yang diprioritaskan adalah peningkatan kualitas lingkungan dengan nilai 0,882. Pada variabel proteksi lingkungan indikator yang diprioritaskan adalah pemanfaatan kembali lahan bekas tambang dengan nilai 0,410, sedangkan pada variabel keuntungan indikator yang diprioritaskan adalah pendapatan bagi masyarakat dengan nilai sebesar 0,614.Berdasarkan penentuan prioritas indikator demi tercapainya pertambangan batubara yang berkelanjutan, namun tidak menutup kemungkinan bahwa suatu saat kegiatan pertambangan akan berhenti, oleh karena itu perlu dilakukan sektor non pertambangan yang berpotensi dikembangkan paska tambang. Berdasarkan hasil penelitian, sektor pertanian dengan sub sektor perkebunan dan petenakan memiliki potensi untuk dikembangkan di Kabupaten KutaiTimur.Pada sub sektor perkebunan, komoditi yang berpotensi untuk dikembangkan adalah kelapa sawit, sedangkan pada sub sektor peternakan yang berpotensi untuk dikembangkan adalah ternak sapi potong. Komoditas kelapa sawit jika menjadi alternatif sektor non pertambangan pada saat dilakukan reklamasi, dimana dijual dalam bentuk TBS, maka pendapatan bersih kelapa sawit sebesar 25,5% dari pendapatan bersih batubara, sedangkan jika lahan reklamasi digunakan untuk peternakan sapi potong, maka pendapatan kotornya sebesar 8,8% dari pendapatan bersih batubara

    Keterikatan Ruang Anggota Kelompok Sosial Masyarakat Terhadap Tempat Bermukim Pada Lokasi Plpbk Kelurahan Tulusrejo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang

    Get PDF
    Pada Kampung kota Tulusrejo, sosialisasi program dilakukan dengan pendekatan pada kelembagaan-kelembagaan yang terdapat pada wilayah tersebut, seperti PKK, pengajian, LKM, dan arisan bapak-bapak. Kondisi ini tidak hanya terjadi pada Kampung kota Tulusrejo, seringkali program-program dari pemerintah tersebut disosialisasikan melalui kelembagaankelembagaan yang terdapat pada masyarakat, dalam rangka pendekatan dengan masyarakat untuk memperkenalkan program yang ada (http://kalasankec.slemankab.go.id). Sosialisasi melalui media kelembagaan menjadi andalan bagi pemerintah agar program yang ada dapat terealisasikan dengan baik di masyarakat. Hanya saja selama ini kondisi sosial kelembagaan yang terdapat pada masyarakat belum diperhatikan sepenuhnya, padahal dengan diperhatikannya aspek sosial kelembagaan dapat mendukung keberlanjutan program yang ada. Salah satu pendukung keberhasilan program adalah adanya kesamaan persepsi diantara masyarakat, khususnya dalam penyaluran informasi-informasi penting agar tidak terdapat perbedaan pemahaman diantara masyarakat (Ariefiani, 2010). Oleh karena itu, maka penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah individu-individu yang tergabung di kelembagaan-kelembagaan yang terdapat pada RT 02 dan RT 03 Kelurahan Tulusrejo memiliki kesamaan persepsi terhadap ruang sebagai tempat bermukim. Mengingat bahwa kesamaan persepsi merupakan salah satu langkah awal untuk tercapainya keberhasilan suatu program yang berbasis masyarakat, dimana pada wilayah studi terdapat program PLPBK yang terkait dengan lingkungan hunian masyarakat. Dengan adanya persamaan persepsi diantara anggota kelembagaan, maka diharapkan tujuan program dapat tercapai dan informasi dapat tersebar dengan baik diantara masyarakat pada umumnya, mengingat kelembagaankelembagaan yang terdapat di masyarakat merupakan sebuah media yang berfungsi sebagai perpanjangan tangan dari pemerintah untuk menyampaikan sebuah program. Pada penelitian ini menggunakan analisis Social Network Analysis (Wasserman & Faust, 1994) untuk melihat modal sosial, yang kemudian akan dipetakan persepsi bermukim dari masing-masing individu yang tergabung pada masing-masing komunitas dengan menggunakan analisis Multidimensional Scaling (MDS). Kemudian akan dievaluasi kembali dengan analisis chi-square untuk melihat keterhubungan antara keikutsertaan individu di dalam sosial-kelembagaan terhadap terbentuknya persepsi bermuki

    Analisis Elemen Citra Kota yang Berpengaruh Terhadap Peningkatan Dimensi Smart Branding pada Penerapan Konsep Smart City di Kota Balikpapan

    No full text
    SmartCityyaitukonsepkotauntuk mengatasipermasalahanperkotaanmelalui penerapan teknologi dengan dimensi smart governance, smart economy, smartliving,smartsociety,smartenvironment,dansmartbranding.Konsepcitybranding sebagai salah satu upaya untuk membentuk daya saing kota dimana hal tersebut merupakan halyang diperlukan dalam pengembangan kota seperti pengembangan ekonomi dan daya saing daerah. Untuk dapat menerapkan citybranding,dapatdilakukanmelaluipenerapankonsepsmartcitymengingatterdapatdimensismartbranding yang bertujuan meningkatkan daya saing daerah melalui peningkatan brand value suatu kota.Kota Balikpapan sebagai salah satukotayanginginmewujudkan perekonomian kokoh berdasarkanarahanRPJMD Kota Balikpapan Tahun 2020-2024, perlu adanya peningkatanbrandvalue yang dapatditerapkan melalui penerapan konsep smart city melalui dimensi smart branding. Tujuan penelitian untuk mengetahui elemen citra kota yang berpotensi untuk meningkatkan smart branding Kota Balikpapan. Penelitian ini menggunakanpendekatanrasionalistikdenganmetodeskoringdan untukmengetahui variabel yang potensial untuk dikembangkan dalam smart branding. Analisis Delphiuntuk mengetahui variabel yang berpengaruh terhadap peningkatan smart branding di Kota Balikpapan.Hasil studi menemukan bahwa elemen citra kota yang paling berpotensi untuk meningkatkan smart branding Kota Balikpapan yaitu landmark,district, dan nodesSmartCityyaitukonsepkotauntuk mengatasipermasalahanperkotaanmelalui penerapan teknologi dengan dimensi smart governance, smart economy, smartliving,smartsociety,smartenvironment,dansmartbranding.Konsepcitybranding sebagai salah satu upaya untuk membentuk daya saing kota dimana hal tersebut merupakan halyang diperlukan dalam pengembangan kota seperti pengembangan ekonomi dan daya saing daerah. Untuk dapat menerapkan citybranding,dapatdilakukanmelaluipenerapankonsepsmartcitymengingatterdapatdimensismartbranding yang bertujuan meningkatkan daya saing daerah melalui peningkatan brand value suatu kota.Kota Balikpapan sebagai salah satukotayanginginmewujudkan perekonomian kokoh berdasarkanarahanRPJMD Kota Balikpapan Tahun 2020-2024, perlu adanya peningkatanbrandvalue yang dapatditerapkan melalui penerapan konsep smart city melalui dimensi smart branding. Tujuan penelitian untuk mengetahui elemen citra kota yang berpotensi untuk meningkatkan smart branding Kota Balikpapan. Penelitian ini menggunakanpendekatanrasionalistikdenganmetodeskoringdan untukmengetahui variabel yang potensial untuk dikembangkan dalam smart branding. Analisis Delphiuntuk mengetahui variabel yang berpengaruh terhadap peningkatan smart branding di Kota Balikpapan.Hasil studi menemukan bahwa elemen citra kota yang paling berpotensi untuk meningkatkan smart branding Kota Balikpapan yaitu landmark,district, dan node

    Penentuan Kecamatan Basis Komoditas Padi Menggunakan Analisis LQ Dan DLQ di Kabupaten Kutai Kartanegara

    Get PDF
    One of the directions for the development of Kutai Kartanegara Regency is the development of food based on local raw materials to increase competitiveness, then the direction for its development is through food crop agribusiness agriculture (Regional Long-Term Development Plan (RPJPD) of Kutai Kartanegara Regency 2005-2025, 2010). The rice commodity has a contribution percentage above 50% and is more stable than other commodities in the last 3 (three) years, 2016-2018 (Department of Agriculture and Animal Husbandry, Kutai Kartanegara Regency, 2020). However, there has been a decline in the production of rice commodities by 3% annually in five years, starting from 2013-2017 in Kutai Kartanegara Regency (Department of Agriculture and Animal Husbandry, Kutai Kartanegara Regency, 2020). So that the research aims to analyze the rice-producing sub-districts so that the government or the authorities can develop agricultural potential, especially rice commodities in Kutai Kartanegara Regency to the fullest. The method of analysis is to use LQ and DLQ analysis in each District in Kutai Kartanegara Regency. The result of the analysis is that rice commodity becomes a basic commodity in Loa Kulu, Sebulu, Tenggarong Seberang, Anggana, and Muara Kaman Districts.  Arah pembangunan Kabupaten Kutai Kartanegara salah satunya adalah pengembangan pangan berbasis bahan baku lokal untuk meningkatkan daya saing, kemudian arahan pengembangannya adalah dengan pertanian agribisnis tanaman pangan (Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Kutai Kartanegara Tahun 2005-2025, 2010). Komoditas padi memiliki presentase kontribusi diatas 50% dan lebih stabil dibandingkan komoditas lainnya dalam 3 (tiga) tahun terakhir, tahun 2016-2018 (Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kutai Kartanegara, 2020). Namun, terjadi penuruan produksi komoditas padi sebanyak 3% setiap tahunnya dalam lima tahun, terhitung tahun 2013-2017 di Kabupaten Kutai Kartanegara (Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kutai Kartanegara, 2020). Sehingga tujuan penelitian adalah menganalisis kecamatan basis penghasil padi agar pemerintah atau pihak yang berwenang dapat mengembangkan potensi pertanian, khususnya komoditas padi di Kabupaten Kutai Kartanegara secara maksimal. Metode analisis adalah dengan menggunakan analisis LQ dan DLQ pada masing- masing Kecamatan di Kabupaten Kutai Kartanegara. Hasil analisis adalah komoditas padi menjadi komoditas basis pada Kecamatan Loa Kulu, Sebulu, Tenggarong Seberang, Anggana dan Kecamatan Muara Kaman

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Get PDF
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Get PDF
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts

    Get PDF
    We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more sophisticated methods
    corecore