1,720,971 research outputs found
تعليم مادّة المحادثة باستخدام الطريقة السمعيّة الشفويّة للصفّ الحادى عشر بمدرسة روضة الشّبّان الثّانويّة الإسلاميّة (MA) سونجي لولوت منطقة بنجر
نورسيدا، 2013 م. تعليم مادّة المحادثة باستخدام الطريقة السمعيّة الشفويّة للصفّ الحادى عشر بمدرسة روضة الشّبّان الثانويّة الإسلاميّة (MA) سونجي لولوت منطقة بنجر. الرسالة العلمية، قسم تعليم اللغة العربية، كلية التربية والتعليم. المشرفة: الدكتورنداه مارياني الماجستير.
الكلمات الرئيسية: تعليم مادّة المحادثة، الطريقة السمعيّة الشفويّة.
المحادثة تعبر الفكر و الرأي و الشعور و الخبرة و الإخبار من خلال نشاطة قصة و المحاورة المناسبة بالموضوع و تركيب الكلمة أو الجملة المثبت في معيار الأهلية أو أهلية الأساسية. ليوصّل مادة المحادثة استخدمت المدرسة الطريقة السمعيّة الشفويّة. من أهم أسس هذه الطريقة هي عرض اللغة الأجنبية على الطلاب مشافهة في البداية.
أما الأهداف التى سيصل إليها البحث هي معرفة واضحة عن تعليم مادّة المحادثة باستخدام الطريقة السمعيّة الشفويّة للصفّ الحادى عشر بمدرسة روضة الشّبّان، والعوامل المؤثرة عليه.
ذاتى البحث فى هذا البحث مدرّسة اللغة العربية وجميع الطلبة للصف الحادى عشر بمدرسة روضة الشّبّان، عددهم 29.
أما الأدوات المستخدمة لجمع البيانات هي ملاحظة و مقابلة و استبانة، و توثيق. والطريقة معالجة البيانات تكسب بالتحرير ثم تقسيم البيانات، ثم جدوله، ثم تفسيره. أما تحليل البيانات يكسب بمنهج التصوير الوصفى.
نتائج البحث هي أن تعليم مادّة المحادثة باستخدام الطريقة السمعيّة الشفويّة بجيد، لأن استخدمت الطريقة السمعيّة الشفويّة، ولكن قدرة المدرسة غير مناسبة بخطوات في إطار النظري. أما العوامل المؤثرة فهي: (1) عوامل الطلبة: لهم الرغبة بممتاز، لهم الإهتمام براسب، لهم الإستعداد بجيد (2) عوامل المدرسة: خلفية دراسة المدرسة بجيد، نشاطة المدرسة لإعطاء الدرس بجيد جدا، الطريقة المستخدمة بناقص المناسب، سهلة لفهم مادة المحادثة بجيد (3) عوامل البيئة: الدوافع من والدي بمقبول، المكان الساكن للتعليم بجيد (4) عوامل الأجهزة المدرسية ( كاملة الكتب) تعتبر غير كامل
Teaching Vocabulary through Mini-Debate at Second Grade of Senior High School 6 Takalar
There was an instrument in this research, it was vocabulary test. Instrument testwasused in pre-test and post-test. Both of the result of the data indicated that there was a significant difference between students’ post-test in experimental class and controlled class.The mean score of post-test (73.2) in experimental class was greaterthanthe mean score of post-test (56.56) in controlled class. From t-test, the researcher found that the value of t-test (1.70) was greater than t-table (1.67).Therefore, the researcher suggested that MiniDebate was
effective
in
teaching
vocabulary
Perbandingan Strategi Pembelajaran Aktif Tipe Topical Review dan Tipe Jeopardy Review terhadap Pemahaman Konsep Matematika Siswa Kelas X SMAN 16 Makassar
Berdasarkan hasil analisis deskriptif diperoleh rata-rata dari kedua kelompok tersebut, yaitu kelas eksperimen I sebelum menggunakan strategi pembelajaran aktif tipe Topical Review (pretest) sebesar 62,62 dan setelah menggunakan strategi pembelajaran aktif tipe Topical Review (postest) sebesar 77,74. Pada kelas eksperimen II dengan menggunakan strategi pembelajaran aktif tipe Jeopardy Review rata-rata pretest diperoleh 62,71 dan rata-rata posttest sebesar 76,71. Sedangkan berdasarkan hasil analisis inferensial diperoleh nilai sig. sebesar 0,614 yang lebih besar dari pada α sebesar 0,05 (sig. > α) dengan demikian dapat disimpulkan bahwa H0 diterima. Jadi, tidak terdapat perbedaan pemahaman konsep matematika siswa yang diajar dengan strategi pembelajaran aktif tipe Topical Review dan yang diajar dengan strategi pembelajaran aktif tipe Jeopardy Review di kelas X SMAN 16 Makassar
ANALISIS KOMPARASI BENTUK PENYAJIAN TARI LINDA PADA UPACARA ADAT KAMBOTO DAN UPACARA ADAT KA’OMBO DI DESA BIWINAPADA KECAMATAN SIOMPU KABUPATEN BUTON SELATAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1). Latar belakang hadirnya tari
Linda pada upacara adat Kamboto dan upacara adat Ka’ombo di Desa Biwinapada
Kecamatan Siompu Kabupaten Buton Selatan 2). Bentuk penyajian tari Linda
pada upacara adat Kamboto dan upacara adat Ka’ombo di Desa Biwinapada
Kecamatan Siompu Kabupaten Buton Selatan. Pendekatan penelitian yang
digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dan Teknik
pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi.
Hasil penelitian yakni 1). Tari Linda diperkenalkan kepada masyarakat Siompu
oleh orang wolio yang bernama Buluwambona. Tari Linda ditampilkan pada
upacara adat Kamboto dan upacara adat Ka’ombo. 2) Bentuk penyajian tari Linda
pada upacara adat Kamboto dan upacara adat Ka’ombo yaitu: a) Tari Linda pada
upacara adat Kamboto dibawakan oleh pria dan wanita baik dari tokoh adat
hingga masyarakat umum dan pada upacara adat Ka’ombo tari Linda dibawakan
oleh pria dan wanita yang berasal dari tuan rumah pelaksana, anak perempuan
yang dipingit hingga masyarakat umum. b) Gerak Tari Linda pria terdiri dari
empat ragam yaitu doala samba, somba, dopaliao samba, dan deboke salenda,
sedangkan ragam gerak Linda wanita terdiri dari dua ragam gerak yaitu ragam
dopaliao salenda, dan deboke salenda, c) Iringan atau musik pengiring tari Linda
pada kedua upacara adat tersebut sama yaitu terdiri dari gong dan katagoba, serta
diiringi syair, d) Properti yang digunakan adalah samba dan handuk untuk penari
pria, selendang (salenda) untuk penari wanita, Kostum penari pria pada upacara
adat Kamboto menggunakan pakaian sara’, pakaian bebas asal sopan, dan untuk
penari wanita menggunakan baju kodhai, wilidhu, atau kebaya dan sarung ledha
atau batik, sedangkan pada upacara ada Ka’ombo penari pria menggunakan
pakaian bebas asal sopan, dan penari wanita menggunakan kostum adat khas
Buton yaitu baju kombo, baju kodhai, wilidhu, dan sarung ledha, e) Riasan yang
digunakan yaitu riasan tipis dan para penari umumnya tidak menggunakan riasan,
berbeda dengan upacara adat Ka’ombo yang menggunakan riasan cantik untuk
perempuan, f) Tempat pertunjukkan tari Linda pada upacara adat Kamboto yaitu
di atas Baruga (dibagian kanan baruga), sedangkan upacara adat Ka’ombo
dilaksanakan pada sore dan malam hari di Kaumpu.
Kata Kunci: Komparasi, Kamboto, Ka’ombo, tari Lind
PENGARUH BEBERAPA KONSENTRASI GARAM PADA BEBERAPA VARIETAS PADI LOKAL PASANG SURUT DI KABUPATEN INDRAGIRI HILIR
Abstract
Research to determine the effect of several salt concentrations on several tidal local rice varieties in Indragiri Regency. The research was conducted in the wire house of the Faculty of Agriculture from March to June 2020. This research used a completely randomized factorial design with 2 treatment factors, namely variety and salt concentration. The variety factor consisted of the Frog, Lemongrass, Karya, Arum and Super varieties. The salt concentration factor consisted of 0 nM, 100 nM, 200 nM and 300 nM. IR 64 which is salt sensitive is used as a control variety. All varieties of rice were sown in tarpaulins with mud as the medium. Rice seeds that are 14 days old are transferred to polybags. Rice is watered with tap water twice per day for two weeks. After two weeks of watering, the rice was then flushed with NaCl according to the treatment twice per day. Salt watering was stopped when one of the lines died (salt sensitive lines) then continued with watering with tap water twice per day for two weeks. The influence of the salt concentration given to the Serai variety showed that leaf width, number of tillers and root length were quite tolerant at concentrations of 100 – 300 nM, while the Super variety produced smaller number of tillers, leaf width and root length compared to other treatments, especially at a salt concentration of 300 nM
PERSEPSI PELAKU USAHA TERHADAP BUDIDAYA SAYURAN HIDROPONIK DI KECAMATAN SANGATTA UTARA KABUPATEN KUTAI TIMUR
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi pelaku usaha terhadap budidaya sayuran hidroponik di kecamatan Sangatta Utara, Kabupaten Kutai Timur berdasarkan aspek ketersediaan input, budidaya dan pemasaran serta mengetahui korelasi antara luas lahan dan persepsi pelaku usaha. Penelitian dilaksanakan pada tahun 2022 di Kecamatan Sangatta Utara. Sampel yang digunakan dalam penelitian adalah pelaku usaha yang membudidayakan sayuran dengan teknik hidroponik. Data dianalisis menggunakan deskriptif kualitatif menggunakan skala likert 4 butir yaitu sangat setuju (SS), setuju(S), kurang setuju (KS) dan tidak setuju (TS), kemudian hasil penelitian diinterpretasikan menggunakan interval kelas. Analisis korelasi secara parsial menggunakan rumus Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi pelaku usaha terhadap budidaya sayuran hidroponik pada aspek ketersediaan input, aspek budidaya dan aspek pemasaran berada pada kategori setuju dengan instrumen-instrumen yang diteliti dengan total nilai 328. Terdapat korelasi positif yang kuat dan signifikan antara luas lahan dengan persepsi pelaku usaha dengan nilai koefisien korelasi Rank Spearman sebesar 0,685 dan taraf signifikasi sebesar 0,042 dimana nilai ini < 0,0
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN LEARNING CYCLE TERHADAP MOTIVASI BELAJAR BIOLOGI PADA SISWA KELAS XI IPA POKOK BAHASAN SEL SMA NEGERI 2 PAREPARE
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui motivasi belajar siswa kelas XI.IPA4 SMA Negeri 2 Parepare sebelum dan sesudah penggunaan model pembelajaran learning cycle pada pokok bahasan sel dan perbedaan yang signifikan motivasi belajar siswa kelas XI.IPA4 SMA Negeri 2 Parepare sebelum dan setelah penggunaan model pembelajaran learning cycle pada pokok bahasan sel. Jenis penelitian yang digunakan yaitu pre-eksperimen one-grup pretest-posttest design. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI.IPA4 SMA Negeri 2 Parepare semester gazal tahun pelajaran 2017/2018 dengan teknik pengambilan sampel yaitu cluster random sampling diambil satu kelas secara acak untuk diberi perlakuan dan kelas yang terpilih adalah kelas XI.IPA4 yang berjumlah 34 orang. Metode pengumpulan data yang digunakan observasi aktivitas siswa, dilakukan dengan menggunakan lembar observasi dan angket motivasi belajar biologi dikumpulkan dengan menggunakan lembar angket. Penelitian dilaksanakan dengan melalui tahapan persiapan dan pelaksanaan. Teknik analisis data digunakan dua jenis analisis yaitu analisis statistik deskriptif dan analisis statistik inferensial. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, model pembelajaran learning cycle berpengaruh dalam pembelajaran biologi pokok bahasan sel pada siswa kelas XI.IPA4 SMA Negeri 2 Parepare. Hal ini ditunjukkan oleh: (1) Motivasi belajar biologi siswa kelas sebelum penggunaan model pembelajaran learning cycle diperoleh rata-rata angket awal adalah 56,38 dengan kategori “Cukup”. (2) Motivasi belajar biologi siswa setelah penggunaan model pembelajaran learning cycle diperoleh rata-rata angket akhir adalah 72,06 dengan kategori “Baik”. (3) Terdapat perbedaan motivasi belajar biologi siswa kelas XI.IPA4 SMA Negeri 2 Parepare sebelum dan sesudah penggunaan model pembelajaran learning cycle pada pokok bahasan sel dengan nilai Sig < α (0,000 < 0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima. Berarti dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran learning cycle berpengaruh terhadap motivasi belajar biologi
PENERAPAN MARKETING MIX DALAM PEMASARAN TELUR AYAM RAS DI KECAMATAN SANGATTA SELATAN (STUDI KASUS PADA PETERNAKAN PHILIPINES FARM)
Sangatta Selatan Sub-District, East Kutai District was one of the potential areas for the development of laying hens. The local farm that cultivates laying hens in this sub-district is Philipines Farm. The sustainability of a business requires the ability to face the market. Therefore, every businessman needs to implement the marketing mix. This study aims to determine the application of the marketing mix on marketing eggs of laying hens at the Philipines Farm in the South Sangatta Sub-District. This research was carried out in 2021 at the Philipines Farm by using a case study method. The results showed that the application of the marketing mix in marketing eggs of laying hens at the Philippines farm was good level with a value of 30. The application of the marketing mix in the aspect of place and price was a very good level, with scores of each 8 and 10. Based on these results, businessmen were expected to maintain the performance of instruments of place and price. Meanwhile, the implementation of product and promotion aspects was good enough level with scores of 7 and 5. The strategy could be used by improving the performance of the instrument in product and promotion aspects
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
- …
