9 research outputs found
Pembelajaran Menulis Teks Cerpen Untuk Siswa Kelas XI SMKN 3 Malang
RINGKASAN Hayuningtyas, Dina. 2018. Pembelajaran Menulis Teks Cerpen Untuk Siswa Kelas XI SMKN 3 Malang.Skripsi, Program StudiPendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, Jurusan Sastra Indonesia, FakultasSastra. Universitas Negeri Malang.Pembimbing: Dr. Nita Widiati, M.Pd. Kata Kunci : PembelajaranMenulis, Menulis, TeksCerpen, Pembelajaranmenulistekscerpen di SMK Negeri 3 Malang dilakukandengantahapan-tahapanmenulis yang dilakukanoleh guru dansiswa.Terdapatlimatahapandalammenulis, yaitutahappratulis, tahappembuatan, tahaprevisi, tahappenyuntingan, dantahappublikasi. Penelitianinibertujuanuntukmendeskripsikan proses danhasilpembelajaranmenulistekscerpen di SMK Negeri 3 Malang. Hal yang didiskusikanmeliputiperencanaanpembelajaran, pelaksanaanpembelajaran, danpenilaianpembelajaranmenulistekscerpendenganmenggunakanketerampilanproses. Pendekatanpenelitian yang digunakanadalahpendekatankualitatifdenganjenispenelitiandeskriptif.Penelitiberkedudukansebagaiinstrumenkunci.Penelitianinidilaksanakan di SMK Negeri 3 Malang dengan data yang dibedakanberdasarkantiapfokuspenelitian.Ketigafokuspenelitiantersebut, yaitu (1) perencanaanberupa RPP guru, (2) pelaksanaan, berupakegiatanpelaksanaanpembelajaran, dan (3) penilaian, berupahasilmenulissiswa. Teknikpengumpulan data dalampenelitianiniadalahteknikdokumen, observasi, danwawancara.Instrumen yang digunakandalampenelitianmeliputi (1) pedomantelaahdokumen, (2) pedomanobservasi, dan (3) pedomanwawancara.Teknikanalisis data dalampenelitianinidengancarareduksi, penyajian data, danpenyimpulan. Tahap-tahappenelitian yang dilakukanadatigalangkahyaitu (1) persiapan, (2) pelaksanaan, dan (3) pelaporan. Hasilpenelitianmenunjukkanbahwapembelajaranmenulistekscerpenterbagimenjaditiga, yaituperencanaan, pelaksanaan, danpenilaianpembelajaran.Pertama, guru membuatperencanaanpembelajaranberupa RPP. RPP yang dirancang guru terdiriatas 10 komponen, yaitu (1) identitas RPP, meliputisatuanpendidikan, matapelajarankelas/semester, materipokok, alokasiwaktudanketeranganperetemuan, (2) kompotensiinti, (3) kompetensidasardanindikatorpencapaiankompetensi, (4) tujuanpembelajaran, (5) materipembelajaran, (6) metodepembalajaran, (7) langkah-langkahkegiatanpembelajaran, (8) penilaian, (9) media, alat/bahanpembelajaran, dan (10) sumberbelajar. Kedua, pelaksanaanpembelajarandilakukandalamtigakegiatan, yaitukegiatanpendahuluan, inti, danpenutup.Padakegiatanpendahuluan, guru tidakterlalumenyiapkanpesertadidiksecarapsikisdanfisikuntuk proses pembelajaran. Padapelaksanaankegiataninti, guru menekankanpentingnyamenulisbagisiswa, melatihsiswa agar terbiasamenulis, serta guru mengevaluasihasilakhirtulisansiswa.Tetapi, tahapan guru dalampembelajaranmenulistidaksesuai.Ada beberapahal yang tidakterlaksanadenganbaik.Selanjutnya, padapelaksanankegiatanpenutupadalangkah-langkah yang tidaksesuaidengan RPP guru.Ketiga, penilaianpembelajaran.Penilaianpembelajaranmeliputi (1) penilaiansikap, (2) penilaianpengetahuan, (3) penilaianketerampilan, serta (4) karyasiswa.Ada beberapakaryasiswa yang tidakmemenuhistrukturdanusurpembanguntekscerpen.Hal ituterjadikarena guru tidakmelaksanakantahapanmenulisdenganbaik. Untukmeningkatkanhasilmenulissiswa, guru disarankanuntuklebihmemperhatikanperencanaankegiatandalam RPP denganbaikdanmelaksanakanlangkah-langkahdalampembelajaranmenulis agar tujuanpembelajarandapattercapaisesuaidengan yang diharapkan.Penelitiselanjutnyadiharapkandapatmengembangakanpenelitianinidenganmetode yang berbeda. Hayuningtyas, Dina. 2018. Learning to Write Short Story Texts of Eleventh grade Students of SMK N 3 Malang. Thesis, Indonesian Language and Regional Education Study Program, Indonesian Literature Department, Faculty of Letters.State University of Malang. Advisor: Dr. Nita Widiati, M. Pd Keywords: Writing Learning, Writing, Short-Story Text Learning to write short story texts at SMK Negeri 3 Malang is done by the stages of writing conducted by teachers and students. There are five stages in writing, namely the writing stage, the manufacturing stage, the revision stage, the editing stage, and the publication stage. This study aims to describe the process and results of learning to write short story texts at SMK Negeri 3 Malang. Things discussed include learning planning, implementing learning, and evaluating learning to write short text texts using process skills. The research approach used is a qualitative approach with a type of descriptive research. The researcher is a key instrument. This research was conducted at SMK Negeri 3 Malang with data that was differentiated based on each research focus. The three focus of the research, namely (1) planning in the form of teacher RPP, (2) implementation, in the form of learning activities, and (3) assessment, in the form of student writing results. Data collection techniques in this study are document techniques, observations, and interviews. The instruments used in the study include (1) document review guidelines, (2) observation guidelines, and (3) interview guidelines. The data analysis technique in this study is by reducing, presenting data, and concluding. The stages of research carried out are three steps, namely (1) preparation, (2) implementation, and (3) reporting. The results showed that learning to write short story texts was divided into three, namely planning, implementation, and discussion of learning. First, the teacher makes learning plans into lesson plans. The RPP designed by the teacher consists of 10 components, namely (1) RPP identity, education unit license, class / semester subject matter, subject matter, time allocation and statement of meeting, (2) core competency, (3) basic competency and relationship indicators, (4) learning objectives, (5) learning material, (6) learning methods, (7) steps of learning activities, (8) learning, (9) media, learning tools / materials, and (10) learning resources. Second, the implementation of learning is carried out in three activities, namely the introduction, core, and closing activities. In the preliminary activity, the teacher does not prepare students psychologically and physically for the learning process. In carrying out the core activities, the teacher emphasizes the importance of writing for students, trains students to get used to writing, and the teacher evaluates the final results of student writing. However, the stages of the teacher in writing learning are not appropriate. There are a number of things that don't work well. Furthermore, in carrying out the closing activities there are steps that are not in accordance with the teacher's lesson plan. Third, assessment of learning. Learning assessments include (1) attitude assessment, (2) knowledge assessment, (3) skills assessment, and (4) student work. There are a number of student works that do not fulfill the structure and development of short story texts. This happens because the teacher does not carry out the stages of writing well. To improve the results of writing students, teachers are advised to pay more attention to planning activities in the RPP properly and implement the steps in writing learning so that the learning objectives can be achieved as expected. Future researchers are expected to develop this research with different methods
PEMBELAJARAN MENULIS TEKS CERPEN DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN PROSES UNTUK SISWA KELAS XI SMKN 3 MALANG
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses dan hasil pembelajaran menulis teks cerpen di SMK Negeri 3 Malang. Dalam hal ini meliputi: perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajran, dan penilaian pembelajaran menulis teks cerpen dengan menggunakan pendekatan proses. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Peneliti berkedudukan sebagai instrumen kunci. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah teknik dokumen, observasi, dan wawancara.isntrumen yang digunakan dalam penelitian meliputi (1) pedoman telaah dokumen, (2) pedoman observasi, dan (3) pedoman wawancara. Teknik analisis data dalam penelitian ini dengan cara reduksi, penyajian data, dan penyimpulan. Tahap-tahap penelitian yang dilakukan ada tiga langkahm yaitu (1) persiapan, (2) pelaksanaan, dan (3) pelaporan. Dari analisis data diketahui bahwa pembelajaran menulis teks cerpen menggunakan pendekatan proses ada tiga komponen, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran. Kata Kunci: Pembelajaran Menulis, Teks Cerpen, Pendekatan Proses
Implementation of a new homeownership program in Jakarta: The case of zero down-payment housing program
Governments worldwide deal with the question of how to elevate their low-income household (LIH) into a higher standard of living. The main view of scholars on housing is that homeownership usually is the first step into improving the lives of people with a low income. The Province of Jakarta struggled with the same question. To address the housing challenge in Jakarta, they created the Zero Down-Payment Housing Program (ZDPHP) in 2017. This program's main purpose is to provide financing facilities to meet the basic need for adequate housing, targeting the LIH. However, the adaptation of this program has been slow, begging the question of what could be done to attract more beneficiaries. This article is intended to help improve the ZDPHP in Jakarta and give a perspective for other places thinking about implementing the same program. It explores the current eligibility criteria from the perspective of two out of five elements of the "5 As of Adequate Housing", Affordability and Accessibility, to understand the underlying housing challenge. Indicators of those two elements were collected from the data associated with the project. These data sources were supported and further explained using empirical data from policies analysis, interviews, FGDs, surveys and other existing databases. The most important findings were found as follows. Firstly, the best proportion of housing expenses to household income is to look at the actual comparison between household income and what a household pays for housing and transportation in its respective city. Secondly, to further strengthen the housing planning in Jakarta, an education program should be enforced alongside the ZDPHP. Lastly, with the recent launch of regulation regarding government land use permits, it is hoped that this will be a key solution to overcome land limitations and reduce house prices to become more accessible and affordable.Architecture, Urbanism and Building Sciences | Management in the Built Environmen
Pencabulan Oleh Ayah Kandung (studi Kasus Polsek Mandau)
This study discusses the sexual abusecommitted by biological fathers on minors in Duri, Mandau District. This study wanted to find out the factors of sexual abuse by biological father can occur. The research method used by the author is qualitative which describes the actual incident. The main data in this study were obtained through interviews and conducting research in the field. Can be concluded that sexual abuse occurs because of the motivation of the perpetrators that caused by anger, the existence of targets targeted by the perpetrators to become victims, and the absence of guardian even though the protection was supposed to be given by the perpetrator as biological father. If there is no target and motivation, then sexual abuse can not occur. Sexual abusewas due to anger, and wanted to show power. The factors that trigger the abuse occur motivation, the existence of appropriate targets, and the absence of guardian
PERANCANGAN ULANG TATA LETAK FASILITAS DENGAN MENGGUNAKAN ALGORITMA CRAFT DAN ALGORITMA CORELAP UNTUK MEMINIMASI PENGGUNAAN MATERIAL HANDLING
Jika membutuhkan abstrak atau isi jurnal silahkan menghubungi author melalui email [email protected], [email protected], [email protected] Terima kasi
Capitalism\u27s Contribution to Environmental Damage in The Novel the Cry of The Truck Pudu Musa Ismail\u27s Work: Ecocritical Study
This study discusses literary works that present issues of nature and the social environment exploited through the oil palm plantation system. This study aims to describe the contribution and impact of capitalism with the depiction of ecological problems in the novel Pudu\u27s Cries. The method used is descriptive qualitative with an ecocritic approach. The data in this study are in the form of quotes from story units, author narration quotes, and character dialogue that describes the character\u27s relationship with nature related to the problem studied. The analysis of the novel is carried out with a discourse approach and an approach reality. Data collection techniques used in this study are reading, and writing techniques note. In this study, the stages of data analysis were carried out interactively, namely data reduction, presentation of data, and conclusions. The results of the study, namely the contribution of capitalism to the environmental damage in the form of cunning, greedy, and selfish attitudes to exploit nature, are the main character of capitalism and have an impact on forest destruction, pollution of rivers, and the safety of the Sakai people
Marketing Strategy for OEMAH ETNIK Fashion Brand in New Wave Marketing Concept
OEMAH ETNIK was born in 2013 when fashion industry with traditional fabrics is being developed in Indonesia. OEMAH ETNIK products have modern designs that will suit within local and international markets. OEMAH ETNIK is running business-to-consumer that are aligned with their vision and mission, which is to popularize the Indonesian cultural heritage to youth Indonesian people in particular. By analyzing the internal and external factors, and marketing methods that are being undertaken by OEMAH ETNIK, it appears that the main challenges and root of problems lies in the lack of marketing strategy that leads OEMAH ETNIK facing difficulties in developing their business and competing in a very competitive fashion market that is growing rapidly in Indonesia. Marketing strategy is one of important elements in improving company performance business. By doing a good marketing, OEMAH ETNIK can build brand awareness and increase the number of customers. As the development of technology, business challenges require changes in both pattern and behavior of products from the standpoint of Technology, Socio-Cultural, Economic, Political and Market. The global market anticipates this transformation by transitioning from legacy to new wave marketing era. New wave marketing brought a horizontal approach concept to its customers. Customers are treated as equals and given the opportunity to actively participate, and demand company to develop marketing system to have more personal approach, building character, bond & collaborate closer with customer in order to form a marketing system that is more personal. According to this concept, produce a change in marketing strategy and improvements on OEMAH ETNIK Business Model which also included the implementation of 12 elements in new wave marketing, directs them to a new business model to synergize between the recommendation and marketing method designed by the author as a solution. Keywords: Fashion, Indonesia Traditional Textile, New Wave Marketing, OEMAH ETNIK, Marketing Strateg
ANALISIS KOMPARATIF : MENGEKSPLORASI DAMPAK AKUISISI TERHADAP KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN: Akuisisi, Kinerja Keuangan, Rasio Keuangan
The increasingly fierce competition in the business world requires all companies to survive in every condition and be able to compete with other companies. One of the ways that needs to be done is by making acquisitions. The purpose of this research is to determine the impact of acquisitions on financial performance. In this study using descriptive analysis techniques, namely analysis techniques by collecting data, explaining and analyzing so as to provide information according to the problems faced. The results of the study show that only the current ratio and debt to equity ratio provide changes in the company's financial performance after the acquisition. while the ratio of return on assets and total asset turnover does not change the company's financial performance after the acquisitionPersaingan yang semakin ketat dalam dunia usaha mengharuskan semua perusahan untuk tetap bertahan pada setiap kondisi dan mampu bersaing dengan perusahaan yang lain. Salah satu cara yang perlu di lakukan yaitu dengan melakukan akuisisi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak dari akuisisi terhadap kinerja keuangan. Dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif yaitu teknik analisis dengan cara mengumpulkan data, menjelaskan dan menganalisis sehingga memberikan informasi sesuai dengan masalah yang di hadapi. Hasil penelitian menunjukan bahwa hanya Current Ratio dan Debt to Equity Ratio yang memberikan perubahan pada inerja keuangan perusahaan setelah akuisisi sedangkan Return on Asset dan Total Asset Turn Over tidak memberikan perubahan pada kinerja keuangan perusahan sesudah akuisisi. Penelitian ini dapat dijadikan pertimbangan bagi perusahaan dalam mengambil keputusan akuisis
“Resepsi Khalayak Mengenai Imitasi Pada Tayangan Boyband dan Girlband Indonesia di Media Televisi”
ABSTRAKSI
Nama : Amalia Dessy Witari
NIM : D2C008007
Judul : “Resepsi Khalayak Mengenai Imitasi Pada Tayangan Boyband dan Girlband Indonesia di Media Televisi”
Penelitian ini membahas tentang penerimaan pemirsa mengenai tayangan Boyband dan Girlband Indonesia di media televisi, khsususnya mengenai peniruan yang dilakukan Boyband dan Girlband Indonesia. Tujuan tayangan ini sebenarnya untuk memberi hiburan pada pemirsa dan menonjolkan kekreatifan sebagai aspek penting dalam dunia musik, namun peniruan dan penggunaan suara palsu yang dilakukan Boyband dan Girlband Indonesia menuai baik opini pro maupun kontra dari masyarakat.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana penerimaan masyarakat terhadap tayangan Boyband dan Girlband Indonesia. Teori yang digunakan adalah Teori Perbedaan Individual (Melvin D. Defleur, 1970), Teori Belajar Sosial (Albert Bandura, 1977) dan Budaya Populer (Storey, 2007). Penulis menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis resepsi untuk meneliti bagaimana interpretasi pemirsa mengenai tayangan Boyband dan Girlband Indonesia di media televisi. Analisis resepsi dipilih karena memiliki cara pandang khusus tentang audiens atau dalam hal ini adalah pemirsa yang menonton tayangan Boyband dan Girlband Indonesia dimana pemirsa dipandang bukan hanya sebagai konsumen dari isi media tetapi juga sebagai producer of meaning.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa sebagai bagian dari interpretive communities, perbedaan pemaknaan antara masing-masing informan penelitian turut dipengaruhi oleh faktor psikologis seperti selera dan kebiasaan menonton televisi. Namun latar belakang sosial serta tingkat pendidikan mereka juga menentukan pandangan dan argumen yang mendukung opini mereka. Pembacaan informan dalam memaknai tayangan Boyband dan Girlband Indonesia bervariasi. Informan yang menganggap bahwa tayangan Boyband dan Girlband Indonesia masih dalam batas wajar, memaknai tayangan Boyband dan Girlband Indonesia dengan media memiliki hubungan simbiosis mutualisme (dominant reading). Informan juga ada yang menganggap memilih bersikap negosiatif (negotiated reading). Informan menerima teks tayangan Boyband dan Girlband Indonesia yang ditawarkan tapi juga mengkritisi sesuai dengan kerangka pikir mereka. Namun sebagian informan cenderung berada dalam posisi radikal (oppositional reading). Informan memaknai tayangan Boyband dan Girlband mengandung unsur imitasi dan terdapat pembodohan publik karena dalam tayangannya menggunakan suara palsu atau lypsinc. Implikasi teoritis pada penelitian ini adalah informan terbagi menjadi tiga tipe pemaknaan. Implikasi praktis menunjukan bahwa media harus membuat tayangan atas keasadaran bersama untuk membangun masyarakat yang lebih bermoral dengan penyiaran hiburan yang sehat. Sedangkan implikasi sosial diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi para pemirsa untuk dapat melihat sedikit lebih dalam lagi nilai-nilai apa yang dilekatkan oleh media dalam tayangan Boyband dan Girlband Indonesia.
ABSTRACT
Nama : Amalia Dessy Witari
NIM : D2C008007
Judul : “The Audience Reception Regarding to the Imitation of Indonesian
Boyband and Girlband Show in Television Media”
This study discussed the acceptance of audience impressions of the Indonesian Boyband and Girlband’show in television media, especially the impersonation done by the Indonesian Boyband and Girlband. The purposed of the show was actually to provide entertainment to the audience and highlight creativity as an important aspect in the world of music, but the impersonation and the vocal used by the Indonesian Boyband and Girlband arose both pros and cons opinions of the community.
The purposed of the research is to find out how the public acceptance of the impressions of the Indonesian Boyband and Girlband. The author used Individual Differences Theory (Melvin D. Defleur, 1970), Social Learning Theory (Albert Bandura, 1977), and Popular Culture (Storey, 2007). The author used a qualitative approach with the reception analysis method to study how was the audience’s interpretation about the show of the Indonesian Boyband and Girlband in television media. Reception analysis chosen because it had a special perspective on the audience or in this case the audience watching the Indonesian Boyband and Girlband viewed not only as consumers from media content but also as a producer of meaning.
The result of this study indicated that as part of the interpretive communities, the difference in meaning of each research informants was influenced by psychological factors such as taste and the habit of watching television. However, their social background and level education also determined the views and arguments that supported their opinions. Readings on the informants in interpreting the show of the Indonesian Boyband and Girlband varied. Informants who assumed that the show of the Indonesian Boyband and Girlband were still within a reasonable limit, interpreted that the Indonesian Boyband and Girlband with the media had a symbiotic relationship mutualism (dominant reading). Informants also assumed to be negosiatif (negotiated reading). Informants received a show text of the Indonesian Boyband and Girlband offered but also criticized according to their frameworks. However, some informants tended to be in a radical position (oppositional reading). Informants interpreted the show of Boyband and Girlband had an imitation and duping the public because they were using fake voice or lip sync. Theoretical implications of this research are divided into three types of informants meanings. Practical implications indicates that the media need to make impressions on mutual awareness to build a more moral society by broadcasting wholesome entertainment. While the social implications are expected to contribute for the viewers to be able to see a little deeper into what values attached by the media impressions of Indonesian Boyband and Girlband’s show.
Resepsi Khalayak Mengenai Imitasi Pada Tayangan Boyband dan Girlband Indonesia di Media Televisi
SUMMARY SKRIPSI
Penyusun
Nama : Amalia Dessy Witari
NIM : D2C008007
JURUSAN ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2012
Resepsi Khalayak Mengenai Imitasi Pada Tayangan Boyband dan Girlband Indonesia di Media Televisi
Latah di dunia hiburan, khususnya televisi sudah mendarah daging dan menjadi fenomena klasik yang tidak kunjung selesai. Budaya latah ini seakan-akan justru menjadi warisan yang diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya. Fenomena ini dapat diamati sejak mulai menjamurnya stasiun televisi swasta baru. Stasiun televisi swasta baru, baik yang bersifat lokal maupun nasional, di satu sisi mampu menghadirkan program tayangan beragam. Variasi ini bisa memberikan keleluasaan penonton untuk memilih program yang sesuai dengan keinginannya. Akan tetapi dilain pihak, tingkat persaingan untuk memperoleh rating dan perhatian penonton juga semakian meningkat. Dampak negatifnya adalah penurunan kualitas tayangan yang disajikan kepada penonton karena hanya berorientasi kepada profit semata. Acara dari sebuah stasiun televisi yang baru dan fenomenal akan disambut masyarakat dengan rasa ingin tahu dan antusiasme yang tinggi. Dengan segera, rating acara tersebut melonjak menduduki peringkat teratas dalam industri hiburan. Tanpa menunggu aba-aba, stasiun televisi lain mulai berlomba-lomba membuat tayangan serupa yang secara langsung mengadopsi tema dasar dari tayangan pendahulunya.
Fenomena terkini dari meledaknya populasi Boyband dan Girlband menjadi salah satu contoh nyata. Setelah sempat beberapa tahun media menyajikan hiburan musik dan menjadikan masyarakat demam akan band dan pop melayu, kini Boyband dan Girlband Indonesia hadir menyedot perhatian publik yang sudah mendominasi dan banyak bermunculan di industri musik dan pertelevisian Indonesia. Layaknya jamur yang tumbuh subur di musim hujan, Boyband dan Girlband pun tumbuh subur ditengah kejenuhan masyarakat akan musik melayu, dan seperti yang biasanya sudah terjadi, bila sesuatu tengah
melanda negeri ini, maka tidak sedikit pihak yang akan memanfaatkan fenomena tersebut untuk mengambil keuntungan. Demikian pula dengan fenomena Boyband dan Girlband yang tengah membanjiri Indonesia. Media berlomba-lomba untuk mengorbitkan Boyband dan Girlband baru dengan tujuan utama yang tidak lain adalah uang dengan mengesampingkan kualitas, bahkan salah satu stasiun televisi, SCTV membuat program acara pencarian bakat untuk membentuk Boyband dan Girlband baru secara instant, hal itu dibuat untuk memanfaatkan sifat masyarakat Indonesia yang seleranya gampang berubah. Tidak dapat dipungkiri, hubungan media dengan Boyband dan Girlband layaknya suami istri yang saling membutuhkan satu sama lain. Tak mungkin Boyband dan Girlband Indonesia bisa terkenal tanpa bantuan media.
Media memang sulit dipisahkan dalam setiap kali membahas persoalan komunikasi dalam masyarakat, yang sudah tentu dalam fenomena ini, terkait dengan media sebagai saluran untuk menyampaikan pesan kepada audiens (publik). Seperti yang dirumuskan Keith Tester, tujuan dari media itu dikembangkan untuk memenuhi suatu kebutuhan informatif, agen perubahan, dan yang tidak kalah penting adalah perubahan. Memang dapat dipahami bahwa media juga memiliki agenda setting yang beragam, tergantung target apa yang ingin dicapai dari agenda itu (Tester, 2003: 53). Seperti yang ditampilkan, media banyak menyuguhi tontonan Boyband dan Girlband, namun secara bersamaan pada sisi yang lain media juga menggelar debat dan kritik akan Boyband dan Girlband. Apa yang dapat dipetik dari tayangan itu adalah, sebenarnya ada semacam agenda yang tersembunyi yang sengaja ditawarkan oleh media kepada pemirsanya. Satu hal yang patut diingat, tingkat terpaan media di Indonesia masih diduduki oleh televisi. Diperkirakan 90% rumah tangga di Indonesia kini memiliki pesawat televisi (Iriantara, 2005: 70). Bayangkan apabila seluruh media menyajikan
tayangan Boyband dan Girlband secara terus menerus dan dilihat hampir seluruh rumah tangga di Indonesia.
Fenomena Boyband dan Girlband ini sangat menyedihkan sekali karena ini merupakan sebuah tanda bahwa masyarakat Indonesia sudah mulai kehabisan sosok berkualitas yang dapat dijadikan idola. Bayangkan, masyarakat kita sekarang ini lebih mengidolakan para Boyband dan Girlband tersebut, sedangkan rata-rata Boyband dan Girlband yang ada di Indonesia memiliki kualitas yang pas-pasan saja yang hanya mengandalkan ketampanan mereka. Berbeda dengan Indonesia, Boyband dan Girlband di Korea sebelum mereka semua diorbitkan, mereka dilatih dulu oleh perusahaan agensi yang merekrut mereka selama beberapa tahun. Mereka dilatih sejak mereka berumur masih belia, diseleksi dengan ketat. Jadi mereka tidak asal langsung menjadi artis, karena harus melewati waktu bertahun-tahun kemudian memulai debut menjadi artis. Menjamurnya Boyband dan Girlband Indonesia dalam sekali waktu ini merupakan manifestasi budaya latah. Bermodalkan wajah menarik, kemampuan menari yang bisa dilatih dan musikalitas yang pas-pasan, Boyband dan Girlband ternyata mampu menguasai panggung musik Indonesia. Fenomena Boyband dan Girlband ini terinspirasi oleh tren serupa yang sudah menunjukkan eksistensinya di negara tetangga, baik Jepang, Korea dan beberapa negara Asia lainnya. Kesuksesan Boyband dan Girlband di negara asalnya bukan terjadi dalam satu malam, namun melalui proses panjang untuk bisa menunjukkan karakter khas dari musik yang berkembang di negara tersebut. Pegiat musik Indonesia, melihat peluang ini sebagai ladang emas dan mencoba mengadaptasinya dengan menciptakan Boyband dan Girlband dadakan. Ketika Boyband pertama kali muncul di televisi, datang berbagai penilaian.
Penilaian yang ada bukan hanya pro melainkan juga kontra. Masyarakat yang mendukung adanya fenomena ini pun berkomentar positif dan ikut serta dalam acara-acara musik yang sedang naik daun ini. Terlebih banyak dari mereka yang mendukung mengikuti trend dan gaya dari para personel Boyband dan Girlband tersebut. Lain lagi dengan yang menolak, masyarakat mengecam dan banyak yang menghina Boyband dan Girlband Indonesia dan dianggap tidak pantas untuk tampil karena sebagian besar dari mereka merupakan imitasi dan juga plagiat. Masyarakat mulai menunjukkan sikapnya dengan membuat forum-forum di jejaring sosial. Bukan hanya forum pendukung Boyband dan Girlband namun juga forum anti Boyband dan Girlband Indonesia. Tayangan Boyband dan Girlband Indonesia mendatangkan permasalahan yang timbul seiring dengan kenyataan tentang dijadikannya tontonan ini sebagai bagian dari sebuah industri pertelevisian yang mendatangkan banyak keuntungan bagi stasiun televisi yang menyiarkan Boyband dan Girlband Indonesia. Pasalnya, Boyband dan Girlband yang banyak tampil di media televisi menunjukkan dengan kualitas mereka yang dianggap buruk. Artinya, mereka tampil dengan suara yang apa adanya, tak jarang mereka memilih lypsinc untuk tampil di depan panggung. Artinya media telah melakukan pembodohan kepada masyarakat yang harusnya mereka menyanyi Live melalui suara asli, justru ditutup dengan lypsinc. Stasiun televisi terkemuka seperti RCTI, SCTV, dan Trans TV setiap pagi hampir menampilkan acara musik Boyband dan Girlband Tanah Air. Tentunya media melakukan ini semua tanpa melakukan penyaringan Boyband dan Girlband yang berkualitas. Jadi perumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimanakah resepsi khalayak mengenai imitasi pada tayangan Boyband dan Girlband Indonesia di media televisi?
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui resepsi dari masyarakat mengenai imitasi terhadap tayangan Boyband dan Girlband Indonesia di media televisi. Teori yang dipakai adalah teori pembacaan khalayak dari Stuart Hall, teori budaya pop dari John Storey, dan teori pembelajaran sosial dari Albert Bandura. Penelitian ini menggunakan paradigm interpretif dengan pendekatan kualitatif. Adapun subjek penelitian ini adalah khalayak yang berumur 12-22 tahun yang pernah menonton tayangan Boyband dan Girlband Indonesia di media televisi. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis resepsi yang memiliki cara pandang khusus tentang audiens atau dalam hal ini adalah pemirsa televisi dimana analisis resepsi memandang pemirsa sebagai “producers of meaning”, bukan hanya sebagai konsumen media.
Teks yang disajikan dalam tayangan tersebut mengarahkan khalayak kearah pembacaan yang diinginkan. Namun adanya perbedaan latar belakang, tingkat pendidikan dan pekerjaan menyebabkan terjadinya perbedaan dalam pembacaan, maka muncul tiga tipe terhadap teks tayangan Boyband dan Girlband Indonesia:
1. Dominant Hegemonic reading, Informan mengambil makna yang mengandung arti dari tayangan televisi dan meng-decode-nya sesuai dengan makna yang dimaksud (preferred reading) yang ditawarkan teks media. Informan sudah mempunyai pemahaman yang sama, tidak akan ada pengulangan pesan, pandangan yang ditampilkan media dengan audiens sama, langsung menerima. Informan yang berada pada posisi ini adalah informan III. Dalam arti, informan ini akan menerima begitu saja teks media sehingga hasil interpretasinya terhadap tayangan Boyband dan Girlband Indonesia sama dengan yang dihadirkan ditelevisi, yaitu tayangan Boyband dan Girlband Indonesia merupakan tayangan yang menyajikan hiburan. Tayangan ini dijadikan alat untuk mendongkrak
popularitas para Boyband dan Girlband Indonesia yang sebelumnya tidak terkenal akan menjadi terkenal lewat tayangan ini. Jadi antara tayangan Boyband dan Girlband Indonesia dan televisi mempunyai hubungan simbiosis mutualisme. Tayangan Boyband dan Girlband Indonesia membutuhkan grup Boyband dan Girlband untuk mendapatkan sumber hiburan, begitu juga Boyband dan Girlband membutuhkan program musik sebagai tempat untuk menaikkan popularitasnya sehingga dikomersiilkan oleh media.
2. Negotiated reading, Informan yang masuk posisi ini, akan menginterpretasikan tayangan Boyband dan Girlband Indonesia yang ditontonnya dengan pemaknaan mereka sendiri. Makna yang dimunculkan bersifat negosiatif, dalam arti pemaknaan informan terhadap tayangan Boyband dan Girlband Indonesia tidak berbeda secara keseluruhan dengan makna dominan, tetapi juga tidak sama dengan preferred reading yang ada. Informan menanggapi Boyband dan Girlband Indonesia yang ada sekarang ini bisa dari hasil meniru ataupun tidak, yang menganggap meniru karena karena Boyband dan Girlband Indonesia selalu memberikan tampilan yang dianggap sama dengan Boyband dan Girlband Korea. Sedangkan yang menganggap tidak meniru karena Boyband dan Girlband Indonesia hanya mengambil sesuatu yang positif dari hasil yang sudah ada pada Boyband dan Girlband di Korea
3. Oppositional reding, Informan akan memaknai langsung berlawanan dengan preferred reading, informan memiliki pemaknaan yang berbeda sama sekali dengan makna dominan. Informan secara radikal memunculkan pemaknaan dari tayangan Boyband dan Girlband Indonesia berbeda dan bertentangan dengan preferred reading. Informan menganggap dengan adanya tayangan Boyband dan Girlband Indonesia yang terus menerus justru bukan membuat nama Boyband dan Girlband Indonesia dikenal. Karena
apa yang ditampilkan bukanlah suatu hiburan. Tapi suatu pembodohan dengan menyanyikan lagu mereka lewat lypsinc voice. Informan juga menganggap bahwa Boyband dan Girlband Indonesia telah melakukan banyak peniruan lewat tayangan Boyband dan Girlband yang sudah ada di Korea.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Mohammad dan Mohammad Asrori. (2008). Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: PT. Bumi Aksara Barker, Chris. 2009. Cultural Studies, Teori dan Praktek. Yogyakarta: Kreasi Wacana Bulman, Rabbi Shabsi. 2009. Yahudi Infotainment: Benarkah Media Indonesia telah terbuai dan dibeli?. Yogyakarta: Pustaka Solomon
Creswell, John W. 2007. Qualitative Inquiry & Research Design: Choosing Among Five Approaches 2nd Edition. Thousand Oaks: Sage Publications.
Denscombe, Martyn. 2007. The Good Research Guide for small-scale social research projects. Third Edition. New York-USA: McGraw-Hill Education.
Djoha. 2005. Psikologi Musik. Yogyakarta: Penerbit Buku Baik Yogyakarta
Downing, John, Ali Mohammadi, Annabelle Sreberny-Mohammadi. 1991. Questioning The Media: A Critical Introduction. California: SAGE Production
Effendy,Onong Uchjana. 2003. Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Eko A. Meinarno, Bambang Widianto, Rizka Halida. 2011. Manusia dalam Kebudayaan dan Masyarakat. Jakarta: Salemba Humanika Hall, Stuart. 1997. Representation: Cultural Representations and Signifing Practicies. California: SAGE Production Halim, Syaiful. 2010. Gado-Gado Sang Jurnalis. Jakarta: Gramatama Publishing Hayuningtyas, Jufenda Winursito. 2007. Infotainment dan Televisi Swasta Indonesia, Peiode 01-30 April 2006. Yogyakarta: Skripsi-Ilmu Komunikasi-FISIP-UGM. Hurley, S & Nick Charter. 2005. Perspectives on Imitation. Cambridge, MA: MIR Press.
Hurlock, E.B. 2006. Psikologi Perkembangan edisi keenam : Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta : Penerbit Erlangga
Iriantara, Yosal. 2005. Media Relations; Konsep, Pendekatan, dan Praktik. Bandung: Simbiosa Rekatama Media
Jensen, Klaus Bruhn, & Jankowski, Nicholas W (2003). A handbook of qualitative
methodologies for mass communication research. London EC4P 4EE : 11
New Fetter Lane
John, Fiske. 1990. Cultural & Communication Studies: Sebuah Pengantar Paling Komprehensif: Yogyakarta: Jalasutra
Junaedi, Fajar. 2007. Komunikasi Massa: Pengantar Teoritis. Yogyakarta: Penerbit Santusta
K. Denzin dan Yvonna S. Lincoln Terjemahan Dariyantno dkk. 1994. Handbook of Qualitative Research. Thousand Oaks, California: SAGE Publications
Kriyantono, Rahmat.2006. Teknik Praktis Komunikasi. Jakarta: Kencana Prenada Media Grup
Kuswarno, Engkus. 2009. Metode Penelitian Komunikasi Fenomenologi; Konsepsi, Pedoman dan Contoh Penelitiannya. Bandung: Widya Padjajaran
Littlejohn, Stephen W.,1999, Theories of Human Communication ed.6rd, California, Wadsworth..
Livingstone, Sonia M. 1991. “Audience Reception: The Role of The Viewer in Retelling
Romantic Drama” dalam Mass Media and Society. Edited by James Currran and
Michael Gurevitch. GBR: Rowland Photosetting Limited
Moleong, Lexy J. 2007. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya
Morissan. 2005. Media Penyiaran: Strategi Mengelola Radio dan Televisi. Tangerang : Ramdina Prakarsa.
Rakhmat, Jalaluddin. 2008. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya
Richard West & Lynn H. Turner. 2008. Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi. Jakarta: Penerbit Salemba Humanika
Ruben, B.D., & Lea P. Stewart. 1998. Communication and Human Behavior.
Needham Heights: A Viacom Company
Santrock, John, W. 2003. Adolescence: Perkembangan Remaja. Jakarta : Penerbit Erlangga
Setiawan, Errie. 2008. Short Music Service Refleksi Ekstramusikal Dunia Musik Indonesia” (Propethic Freedom, 2008). Bandung. Sobur, Alex. 2004. Semiotika Komunikasi cet ke-2. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Sumadiria, AS Haris. 2006. Jurnalistik Indonesia, Menulis Berita dan Feature,
cetakan Kedua. Bandung: PT Remaja Rodakarya Offse
Tester, Keith 2003. Media, Budaya dan Moralitas. Yogyakarta : Juxtapose dan Tiara Wacana
Yusuf, Syamsu, M.Pd., 2008. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: Rosyda Karya,
Tobs, Stewart L. & Sylvia Moss. 2005. Human Communication: Konteks-Konteks Komunikasi Buku Ke-2. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Vivian, John. 2008. Teori Komunikasi Massa Edisi Kedelapan. Jakarta: Kencana Winardi. 2003. Enterpreneur & Enterpreneurship. Bogor: Kencana Prenada Media Group
Sumber Internet:
http://www.kritikmusikindonesia.blogspot.com
http://www.tabloidbintang.com/extra/lensa/18747-dari-21-Boyband dan Girlband-a-girlband-indonesia-mana-yang-berpotensi-menand
