156 research outputs found
Physiological activities of cocoa trees induced by soil and foliar applications of boron fertilizer
This study investigates the impact of boron fertilizer on physiological activities of cocoa trees, specifically focusing on boron content, nitrogen content, nitrate reductase activity, chlorophyll content, and photosynthesis rate in cocoa plant leaves. This research was arranged in a randomized complete block design with two treatment factors, which were the type of boron fertilizer application (soil and foliar fertilizer), and the dose of boron fertilizer (1.5, 3, 4.5, and 6 g plant−1 with 0 g plant−1 as a control). Data were then analyzed for variance differences (ANOVA) with α = 5%, followed by the Tukey test, and contrast orthogonal for comparing treated and control plants. The results showed that the dose of boron fertilizer and the type of fertilizer application used have a significant effect on the physiological activity of the cocoa plant. The dose of boron with soil application affects physiological activity in a linear pattern where each additional dose of boron will increase the activity of nitrate reductase, chlorophyll content, and photosynthetic rate. The dose of boron with foliar application affects physiological activity in a quadratic pattern, where the dose of boron in the range of 3 g plant−1 is the optimum dose that gives maximum results on nitrate reductase activity, chlorophyll content, and photosynthetic rate in the cocoa leaves. Therefore, it is considered that the application of boron fertilizer at a dose of 3 g plants−1 with the foliar application is more efficient in increasing physiological activity compared to the dose of boron with soil application
Growth, Yield and Seed Quality of Corn (Zea Mays L.) And Soybean (Glycine Max L. Merr.) As Affected by Population Density in Row Intercropping.
Suatu penehtian dengan percobaan lapangan, dilanjutkan dengan pengamatan laboratorium telah dilakukan untuk mengetahui pengaruh variasi populasi tanaman pada tumpang sari larikan jagung dengan kedelai terhadap pertumbuhan, hasil dan kualitas benihnya. Juga untuk dapat menentukan proporsi masing-masing tanaman dalam tumpangsari larikan yang terbaik, yang memberikan hasil dan kualitas benih yang memenuhi standar sertifikasi benih. Diharapkan cara ini dapat dipakai sebagai alternatif cara memproduksi benih, utamanya jagung dan kedelai.
Percobaan ini menerapkan rancangan acak lengkap berblok, dengan enam perlakuan, tiga ulangan, luas petak masing-masing 6 x 11 m2.
Cara bertanam dengan tumpangsari larikan, ternyata mempengaruhi pertumbuhan tanaman kedelai dan hasilnya, namun tidak pada kualitasnya. Lebih sedikit populasi tanaman kedelai, menghasilkan tanaman lebih tinggi, umur panjang, hasil per tanaman lebih rendah dan sebaliknya. Benih kedelai berukuran besar, cenderung mempunyai kandungan protein lebih tinggi.
Pert umbuhan, pembungaan dan umur tanaman jagung, juga dipengaruhi sistem Mi. Populasi tanaman yang lebih rendah, menghasilkaritanaman lebih pendek, umur lebih panjang, hasil per tanaman lebih tinggi, dan sebaliknya. Benih jagung berukuran besar cenderung mempunyai kandungan protein lebih tinggi. Proporsi benih besar, lebih tinggi pada populasi tanaman yang rendah.
Tumpang sari larikan dengan: satu larik jagung + empat larik kedelaidua larik jagung tiga larik kedelai, memberikan land equivalent ratio (LER) lebih dari 1.00. Kedua perlakuan di atas, merupakan dua yang terbaik di antara enam perlakuan yang ada dan diharapkan dapat sebagai alternatif cara memproduksi benih seba
Tea shoot production in relation to rainfall, solar radiation and temperature in Pagilaran tea estate, Batang=Produksi pucuk teh, hubungannya dengan curah hujan, panjang penyinaran sinar matahari dan suhu di kebun teh...
Tea shoot production pattern in PT Pagilaran tea estate, Batang is studied in relation to rainfall, solar radiation and temperature. pagilaran tea estate is located at 700-1,500 m above the sea level, with temperature of 15-30 degrees C and ranging from 4,500 mm to 7000 mm per year. However the area is also characterized by up to three dry month for every three years.
key words: shoot production fluctuation, rainfall, solar radiation, temperatur
Perkembangan teknologi dan pengelolaan perbenihan di Indonesia serta perannya dalam percepatan peningkatan produksi pertanian
Kajian Karater Fisiologis dan Agronomls padl Efislen Air (> 50%), Produktivitas Tinggi (> 8 t/hal) dengan Sistem Genangan Dalam Parit dl Tanah Regosol Berpengalran Teknis
Tea Shoot Production In Relation to Rainfall, Solar Radiation and Temperature in Pagilaran tea estate,
Perbenihan tanaman : dasar ilmu, teknologi dan pengelolaan
Benih dalam bahasa asing (inggris)umumnya disebut sweeds memiliki banyak definisi, tergantung dari sudut pandang yang kenyebutnya. Seorang ahli ilmu fisiologi tumbuhan menyebut benih sebagi ovula yang masak, yang memiliki embrio, endosperm dan dilindungi oleh kulit biji. Ahli biolgi menyatakan biji adalah maniatur tanaman atau sebagai vehicle (kendaraan)pembawa gen untuk menuju generasi berikutnya.
Seeds juga memiliki arti bagian tanaman yang bukan saja berupa biji rimpang, tuber, stek (propagules). Beih yang berupa bagian tanaman tersebut seeds sedang yang berupa biji biasa disebut true seeds. Sebagai contoh, pada berupa biji tanaman kentang (popatoes) atau bawang merah (shallots) adalah true seeds, semntara yang berupa umbi (tuber) disebut seeds)
Seorang ahli budidaya tanaman mengatakan bahwa benih merupakan biji terpilih untuk tanam atau bahan penelitian, yang lain mengatakan bahwa benih adalah tanaman atau bagian tanaman (misalnya:daun, ranting,cabang,batang,akar,biji) yang dipergukanan untuk perbanyakan dan atau bahan penelitian. Meski dalam dialek daerah dikenal kata bibit(tanaman muda dan bagian dari tanaman bukan biji ) yang akan dipergunkan untuk bahan tanam
IMPLEMENTASI PROGRAM PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT YANG TEPAT DAN RELEVAN DENGAN POTENSI SUMBER DAYA LOKAL MASYARAKAT
- …
