13 research outputs found
Studi Pasir Sungai Sebagai Agregat Halus Pada Laston Permukaan (Asphaltic Concretewearing Course, Ac-wc)
Konstruksi perkerasan jalan lentur Laston permukaan (Asphaltic Concrete-WearingCourse, AC-WC) harus memiliki sifat-sifat, kuat memikul beban lalu lintas, keawetan tinggi,kedap air, permukaan rata tahan aus dan kekesatan yang cukup. Bahan campuran Lastonpermukaan (AC-WC) terdiri dari fraksi agregat kasar, medium, halus, filler dan bahanpengikat menggunakan aspal. Agregat fraksi halus terdiri dari kombinasi batu pecah danpasir sungai. Deposit pasir sungai cukup banyak. Pasir sungai mempunyai kualitas baik,didapat gradasi dan berat jenis yang bervariasi. Batu pecah dari quary Gunung Martadahdan pasir sungai dari Sungai Awang Bangkal, Sungai Rantau, Sungai Pengaron dan SungaiBarito.Penelitian menggunakan material batu pecah quary Gunung Martadah B denganproporsi fraksi agregat kasar 18%, fraksi agregat medium 40%, fraksi agregat halus 30%,pasir sungai10%, filler menggunakan semen portland 2%. Proporsi pasir sungai disamakansebesar 10%, (Sungai Awang Bangkal atau Sungai Rantau atau Sungai Pengaron atauSungai Barito). Gradasi agregat gabungan mendekati kurva Fuller, persen lolos saringanNo.100 dan No.200 mendekati batas bawah spesifikasi untuk Laston Permukaan (AC-WC)gradasi kasar.Dengan berat jenis semakin besar nilai kepadatan campuran makin besar padagradasi, kadar aspal dan enerji pemadatan yang sama. Nilai kepadatan dipengaruhi olehgradasi, kadar aspal, berat jenis agregat dan enerji untuk memadatkan. Semakin tinggikepadatan (density) maka nilai VIM, VMA lebih rendah dan sebaliknya VFB tinggi didapatstabilitas dan durabilitas tinggi.Pengujian Marshall dengan perendaman selama 24 jam dan60°C untuk material batu pecah Gunung Martadah B dan pasir sungai (Sungai AwangBangkal atau Sungai Rantau atau Sungai Pengaron atau Sungai Barito) pada campuranLaston permukaan (AC-WC) diperoleh niliai stabilitas Marshall sisa lebih besar dari 90persen sehingga dinyatakan memenuhi persyaratan.Kata kunci: Laston permukaan (AC-WC), batu pecah, pasir sungai, karakteristik Marshal
Perencanaan Struktur Perkerasan Landas Pacu Bandar Udara Syamsudin Noor – Banjarmasin
Bandar Udara Syamsudin Noor – Banjarmasin merupakan salah satu bandar udara yang dikelola PT. (Persero) Angkasa Pura I dan memiliki permintaan angkutan udara untuk penumpang dan kargo yang cukup potensial. Bandara Syamsudin Noor memiliki panjang landas pacu sebesar 2.500 x 45 m dengan arah azimuth 10 – 28.Metode perencanaan perkerasan struktural pada landas pacu bandar udara yang umum digunakan adalah metode CBR, metode FAA, metode LCN dari Inggris, metode Asphalt Institute dan metode Canadian Departement Of Transportation. Adapun tujuan dari penulisan tugas akhir ini adalah untuk merencanakan tebal perkerasan lentur pada landas pacu Bandar Udara Syamsudin Noor – Banjarmasin sepanjang 2500 m untuk pesawat rencana B 737-900ER dengan menggunakan metode CBR (US. Army Corps Of Engineers Design Method), metode FAA (Federal Aviation Administration) dan metode LCN (Load Classification Number), serta menganalisa kelebihan dan kekurangan masing-masing metode yang digunakan.Berdasarkan hasil perencanaan dari metode-metode perencanaan struktur perkerasan lentur yang digunakan diperoleh bahwa metode CBR (US. Army Corps Of Engineers Design Method) dan FAA (Federal Aviation Administration) memiliki tebal yang sama besar, yaitu sebesar 27 inchi atau 69cm, sedangkan untuk metode LCN (Load Classification Number) memiliki tebal paling besar, yaitu sebesar 38 inchi atau 97 cm. Hasil perencanaan tebal perkerasan dengan menggunakan metode CBR dan FAA sama dengan hasil perencanaan PT. (Persero) Angkasa Pura I dengan jenis lapis keras lentur (flexible pavement) sebesar 690 mm atau sama dengan 69 cm. Adapun material yang digunakan dalam perencanaan perkerasan lentur runway tersebut adalah : untuk lapisan surface digunakan Asphalt Concrete (AC), untuk base course digunakan material batu pecah, dan untuk subbase course digunakan material agregat alam
Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Ruas Jalan Paringin-muara Pitap Kabupaten Balangan
Jalan raya merupakan prasarana transportasi yang sangat diperlukan, hal ini dikarenakan jalan merupakan penunjang berbagai sektor pembangunan, sarana aktifitas penduduk, dan untuk mempermudah hubungan dari suatu daerah kedaerah lain. Bertambahnya penduduk di Kabupaten Balangan membuat pertumbuhan lalulintas di daerah tersebut meningkat, namun pada pada kawasan antar Desa Batu Piring saat ini prasarana transportasi belum memadai satu sama lain, khususnya untuk prasarana jalan. Oleh karena itu, perlu direncanakannya jalan yang menghubungkan antara daerah Paringin-Muara Pitap, demi memudahkan arus lalulintas di daerah tersebut. Perencanaan perkerasan jalan ini adalah untuk mendapatkan tebal struktur perkerasan lentur dengan menggunakan metode Pt T-01-2002-B yang mengacu pada AASHTO 1993. Pada perencanaan tebal struktur perkerasan lentur ini didapat tebal D1 = 5,00 cm (AC-WC; a1 = 0,4); D1‟ = 6,00 cm (AC-Base; a1 = 0,4); D2 = 16,00 cm (Batu pecah kelas A, CBR 100%; a2 = 0,14 ); D3 = 11,00 cm ( Batu pecah kelas B, CBR 50%; a3 = 0,12)
LIMBAH BATUBARA SEBAGAI BAHAN CAMPURAN PERBAIKAN LAPISAN TANAH DASAR DI KALIMANTAN SELATAN
The coal waste that is generated from the steam power plant (PLTU) process can cause environmental pollution. The coal waste is then investigated to be used as a mixture to stabilize the subgrade of road construction for the South Kalimantan area. The purpose of this study was to determine the characteristic value of each combination of fly ash, bottom ash, and cement as a mixture of subgrade layer. The 5 combinations of fly ash, bottom ash, cement, and soil were used as a mixture of subgrade layer. This research used an experimental method through laboratory testing which included the Atterberg limit testing, specific gravity, sieve analysis, compaction and california bearing ratio. Furthermore, it was obtained the composition of fly ash, bottom ash, cement and soil that can be used for common and selected embankments in highway construction for soft soils in South Kalimantan.
Keywords: coal waste, subgrade, selected embankment, common embankment
English Proficiency And Computer Literacy Of Malaysian Polytechnic Civil Engineering Students
The purpose of this study was to investigate the English proficiency and computer literacy of Malaysian polytechnic civil engineering students. A questionnaire, modeled after the Programme for International Student Assessment (PISA) approach was developed and administered to 480 civil engineering students from six polytechnics. These students had completed a mandatory one-semester industrial training programme with various organizations. This post industrial training survey, through the use of a self-report questionnaire called the Malaysian Polytechnic Employability Skills Questionnaire (MPESQ) provided an important opportunity to capture crucial data from students such as their acquired (actual) and required skills in both the English language and computer-related subjects
STABILIZATION OF LIANG ANGGANG SAND WITH FLY ASH AND CEMENT AS SUBGRADE IMPROVEMENT MATERIALS
The more coal production is produced, the more waste is coming from the combustion process which leads to the environmental pollution. Waste from burning coal in the form of fly ash can be used as a mixture of subgrade stability in highway construction. The purpose of this study is to determine the characteristic value of each combination of fly ash, Liang Anggang sand and cement as a mixture of subgrade layer materials. The test objects consist of 10 combinations of fly ash, Liang Anggang sand and cement. Some tests were conducted such as Atterberg Limits, Specific Gravity, Sieve Analysis, Compaction and CBR test, respectively. From all combinations of the test objects, the best combination that suits the characteristic values of a subgrade layer mixture is a combination of minimum 6% of CBR specification and a maximum of 6% of Plasticity Index (PI). The recommended economical combination for landfill soil is a combination of test objects with a composition of 75% fly ash, 20% Liang Anggang sand and 5% cements
FLY ASH UTILIZATION ANALYSIS AS A SUBSTITUTE OF CEMENT IN CEMENT TREATED BASE (CTB)
Cement Treated Base (CTB) is a pavement layer located between the sub-base and surface layers. This pavement layer uses fine aggregate (sand) and cement as a binder. Fly ash is coal burning waste that can be used as an added material for road pavement. This study aimed to analyze the use of fly ash in the cement treated base pavement mixture. Fly ash was used as a substitute of cement. The composition used consists of fine aggregate (sand), cement, fly ash and water. The compressive strength test was carried out on variations in the composition of the test object. The requirements for CTB specifications were to have compressive strength test results ranging between 45 kg/cm2 – 55 kg/cm2 at the age of the test object for 7 days. After being tested, it was found that the composition of 70% fine aggregate (sand), 5% Portland cement, and 25% fly ash had an average compressive strength of 49.823 kg/cm2
Pengaruh Harga terhadap Volume Penjualan Pupuk Urea Bersubsidi pada PT Pertani (Persero) Cabang Banten
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh harga terhadap volume penjualan pupuk urea bersubsidi pada PT Pertani (Persero) Cabang Banten. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaruh harga pupuk urea bersubsidi PT Pertani (Persero) Cabang Banten, bagaimana volume penjualan pupuk urea bersubsidi di PT Pertani (Persero) Cabang Banten, dan seberapa besar pengaruh harga terhadap volume penjualan pupuk urea bersubsidi di PT Pertani (Persero) Cabang Cabang Banten, dan seberapa besar pengaruh harga terhadap volume penjualan pupuk urea bersubsidi pada PT Pertani (Persero) Cabang Banten. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan tipe asosiatif. Kemudian dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel harga berpengaruh signifikan terhadap volume penjualan. Berdasarkan hasil uji t diperoleh nilai t hitung sebesar -6,348 dan nilai t tabel sebesar 1,71387. Dengan demikian nilai t hitung lebih besar dari t tabel (-6,348>1,71387), maka Ho ditolak dan Ha diterima. Disimpulkan bahwa variabel harga bertanda negatif
Students' Entrepreneurial Inclination at a Malaysian Polytechnic: A Preliminary Investigation
ANALISIS PENGGUNAAN BAHAN LOKAL SEBAGAI LAPIS PONDASI AGREGAT SEMEN (CTB) KELAS B UNTUK PERKERASAN JALAN
Lapis Pondasi Agregat Semen (CTB) Kelas B adalah lapis pondasi bawah perkerasan jalan raya yang terletak di antara tanah dasar dan lapis pondasi. Lapis pondasi bawah memiliki fungsi sebagai pendukung lapisan perkerasan serta menyebarkan beban yang terjadi akibat roda kendaraan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kekuatan tekan Lapis Pondasi Agregat Semen (CTB) Kelas B menggunakan bahan lokal sebagai alternatif material untuk perkerasan jalan raya. Penelitian ini mengeksplorasi tiga jenis pasir lokal dari Kalimantan, yakni Pasir Barito, Pasir Palangka Raya, dan Pasir Liang Anggang, yang masing-masing memiliki gradasi berbeda yaitu agak halus, agak kasar, dan kasar. Metodologi penelitian mencakup pengujian karakteristik fisik pasir dan uji tekan CTB dengan berbagai proporsi campuran agregat halus dan kasar, untuk menentukan komposisi yang menghasilkan kekuatan optimal. Pengujian yang dilakukan yaitu uji kuat tekan dengan ketentuan nilai kuat tekan yang dihasilkan berkisar diantara 35 kg/cm2 – 45 kg/cm2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gradasi kasar memberikan kekuatan tekan tertinggi, dengan Pasir Liang Anggang mencapai nilai kuat tekan optimal pada komposisi agregat halus sebesar 45%. Kekuatan tekan CTB yang menggunakan pasir bergradasi kasar ini memenuhi spesifikasi CTB Kelas B dan Kelas A, menjadikannya material yang ekonomis dan efektif untuk konstruksi jalan. Temuan ini mengindikasikan bahwa pasir lokal bergradasi kasar memiliki daya ikat yang kuat dalam campuran semen, sehingga dapat meningkatkan stabilitas dan durabilitas pondasi jalan
