70 research outputs found
Tata kelola penyedia benih padi mendukung swasembada pangan (model produksi benih padi): Paporan Proyek perubahan
Padi, Produksi Benih - Swasembada Pangan - BBPPTP - Diklatpim III/4/2015iv,17p.:ills.;30 cm(+lampiran
PENGARUH PEMUPUKAN P TERHADAP PRODUKSI DAN SERAPAN P TANAMAN NILAM (Pogostemon cablin Benth.)
Penelitian bertujuan untuk mengetahui kebutuhan hara P dari pupuk fosfat maupun hayati untuk produksi tanaman nilam (Pogos-temon cablin Benth.) pada tanah Podsolik Jasinga. Penelitian dilaksanakan di Instalasi Rumah Kaca Cimanggu selama 6 bulan (di dalam polybag berukuran 20 kg). Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok, terdiri dari 2 faktor, diulang 3 kali. Faktor I adalah aplikasi fungi mikoriza arbuskula (FMA), yaitu tanpa FMA dan 500 spora FMA (Glomus sp.1, Glomus sp.2, Acaulospora sp)/tanaman. Faktor II adalah pupuk P/tanaman terdiri dari: a). kontrol, (b) 2 g P2O5, c). 4 g P2O5, d). 6 g P2O5, (e) 8 g P2O5. Sebagai pupuk dasar diberikan 1 kg pupuk kandang/tan., pada perlakuan pupuk P ditambahkan 7,5 g N + 16 g K2O/tan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi FMA nyata meningkatkan jumlah daun dan tinggi tanaman serta produksi nilam. Peningkatan bobot segar dan kering akar, batang, daun, bio-mas serta kadar minyak nilam sebesar 65,2 dan 73,8%; 109,5 dan 103,8%; 69,6 dan 73,4%; 88,5 dan 89,5% serta 0,6% dibandingkan tanpa FMA. Pemupukan 2-4 g P2O5/tan. Menghasil-kan produksi nilam dan total serapan hara P, N dan K yang lebih baik dibandingkan dosis pupuk P lainnya. Aplikasi FMA + 2 g P2O5/ tan.menghasilkan kadar minyak nilam tertinggi (3,38%).
Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Luas Lahan Garapan Usahatani Padi Sawah Di Provinsi Banten
Rice crop harvested area on 2014 year in Banten Province as wide as 367, 647 ha withproduction 1,959,596 tons unhusked paddy with productivity 5.33 tons/ha. The goal of this study are: 1) Knowing the pattern of land owner in Banten Province, 2) Assess the factors that influenced of land operating wide of wetland paddy in the Province of Banten.Study method use survey method with simple random sampling in farmer level, with the number of respondent amount of 121 famre person.. Methods of data analysis using qualitative and quantitative analysis. Qualitative analysis using descriptive tabulations. Quantitative analysis using multiple linear regression function. The results of this study are: 1) The land operating pattern: average of land operating wide is 0,89 ha/household with the operated own land 0,47 ha/household and operated not owned land 0.42 ha/household. 2) Factors significantly affecting the wide of operating land of wetland paddy on RS 2013/2014 significantly namely: The number of hand tractor rent, The number of labour rent, The number of household labour, The number of seed setificated, The price of land rent, and in Rainy Season 2013/2014 are: Number of Certified Seed Usage, and The farmer householdincome. It is recommended that the government keep to increase the productivity of wetland paddy in order to improve the farmer income.Keywords: farming, paddy, production factors, multiple linear regressio
FAKTOR-FAKTOR YANG MENDASARI KEPUTUSAN PETANI BERUSAHATANI TEBU TERHADAP PEMILIHAN SISTEM TANAM PADA WILAYAH KERJA PABRIK GULA TOELANGAN
PG Toelangan mempunyai produktivitas lahan sawah yang paling tinggi
diantara PG yang ada di Kabupaten Sidoarjo. PG yang ada di Sidoarjo
menerapkan sistem tanam kepras dan sistem tanam bongkar ratoon begitu juga
PG Toelangan. Sistem tanam keprasan dilakukan petani karena biaya yang
dikeluarkan petani sedikit karena sistem tanam kepras ini hanya menumbuhkan
kembali tanaman tebu dari tebu yang sudah di panen. Sedangkan sistem tanam
bongkar bongkar ratoon yaitu membongkar tanaman yang lama dan diganti
dengan bibit tanaman yang lebih unggul dari bibit tanaman sebelumnya. Bongkar
ratoon merupakan salah satu program dari pemerintah yaitu Akselerasi Gula
Nasional. Program Akselerasi Gula Nasional meliputi, bongkar ratoon, rawat
ratoon, pembangunan kebun bibit tebu serta usaha lainnya yang berbasis tebu.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mendasari keputusan
petani membudidayakan tanaman tebu dengan sistem tanam bongkar ratoon dan
kepras di wilayah kerja Pabrik Gula Toelangan, efisiensi biaya budidaya tebu
dengan sistem tanam bongkar ratoon dan kepras di wilayah kerja Pabrik Gula
Toelangan dan faktor-faktor apakah yang mempengaruhi pendapatan petani tebu
dalam penerapan sistem tanam bongkar ratoon dan kepras di wilayah kerja Pabrik
Gula Toelangan.
Alat analisis yang digunakan adalah analisa deskriptif, analisis efisiensi
biaya dan analisis regresi linier berganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa: (1)
Keputusan dalam menentukan sistem tanam terhadap tanaman tebu yang
dilakukan di pabrik gula Toelangan adalah modal, informasi, pendapatan, dan
kemudahan budidaya. (2) Kedua sistem tanam pada usahatani tebu dikategorikan
efisien karena nilai R/C ratio kepras 1,39 dan nilai R/C bongkar ratoon 1,48 lebih
besar dari satu dan antara kedua sistem tanam tersebut memiliki nilai efisiensi
yang berbeda nyata. (3) Variabel yang berpengaruh nyata terhadap pendapatan
usahatani tebu di wilayah Pabrik Gula Toelangan adalah biaya pestisida, teknik
tanam, dan varietas sedangkan variabel yang tidak berpengaruh nyata adalah
harga gula, biaya pupuk, biaya tenaga kerja, biaya sewa lahan, dan luas lahan
FAKTOR-FAKTOR YANG MENDASARI KEPUTUSAN PETANI BERUSAHATANI TEBU TERHADAP PEMILIHAN SISTEM TANAM PADA WILAYAH KERJA PABRIK GULA TOELANGAN
PG Toelangan mempunyai produktivitas lahan sawah yang paling tinggi
diantara PG yang ada di Kabupaten Sidoarjo. PG yang ada di Sidoarjo
menerapkan sistem tanam kepras dan sistem tanam bongkar ratoon begitu juga
PG Toelangan. Sistem tanam keprasan dilakukan petani karena biaya yang
dikeluarkan petani sedikit karena sistem tanam kepras ini hanya menumbuhkan
kembali tanaman tebu dari tebu yang sudah di panen. Sedangkan sistem tanam
bongkar bongkar ratoon yaitu membongkar tanaman yang lama dan diganti
dengan bibit tanaman yang lebih unggul dari bibit tanaman sebelumnya. Bongkar
ratoon merupakan salah satu program dari pemerintah yaitu Akselerasi Gula
Nasional. Program Akselerasi Gula Nasional meliputi, bongkar ratoon, rawat
ratoon, pembangunan kebun bibit tebu serta usaha lainnya yang berbasis tebu.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mendasari keputusan
petani membudidayakan tanaman tebu dengan sistem tanam bongkar ratoon dan
kepras di wilayah kerja Pabrik Gula Toelangan, efisiensi biaya budidaya tebu
dengan sistem tanam bongkar ratoon dan kepras di wilayah kerja Pabrik Gula
Toelangan dan faktor-faktor apakah yang mempengaruhi pendapatan petani tebu
dalam penerapan sistem tanam bongkar ratoon dan kepras di wilayah kerja Pabrik
Gula Toelangan.
Alat analisis yang digunakan adalah analisa deskriptif, analisis efisiensi
biaya dan analisis regresi linier berganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa: (1)
Keputusan dalam menentukan sistem tanam terhadap tanaman tebu yang
dilakukan di pabrik gula Toelangan adalah modal, informasi, pendapatan, dan
kemudahan budidaya. (2) Kedua sistem tanam pada usahatani tebu dikategorikan
efisien karena nilai R/C ratio kepras 1,39 dan nilai R/C bongkar ratoon 1,48 lebih
besar dari satu dan antara kedua sistem tanam tersebut memiliki nilai efisiensi
yang berbeda nyata. (3) Variabel yang berpengaruh nyata terhadap pendapatan
usahatani tebu di wilayah Pabrik Gula Toelangan adalah biaya pestisida, teknik
tanam, dan varietas sedangkan variabel yang tidak berpengaruh nyata adalah
harga gula, biaya pupuk, biaya tenaga kerja, biaya sewa lahan, dan luas lahan
Faktor-Faktor Yang Mendasari Keputusan Petani Berusahatani Tebu Terhadap Pemilihan Sistem Tanam Pada Wilayah Kerja Pabrik Gula Toelangan
PG Toelangan mempunyai produktivitas lahan sawah yang paling tinggi
diantara PG yang ada di Kabupaten Sidoarjo. PG yang ada di Sidoarjo
menerapkan sistem tanam kepras dan sistem tanam bongkar ratoon begitu juga
PG Toelangan. Sistem tanam keprasan dilakukan petani karena biaya yang
dikeluarkan petani sedikit karena sistem tanam kepras ini hanya menumbuhkan
kembali tanaman tebu dari tebu yang sudah di panen. Sedangkan sistem tanam
bongkar bongkar ratoon yaitu membongkar tanaman yang lama dan diganti
dengan bibit tanaman yang lebih unggul dari bibit tanaman sebelumnya. Bongkar
ratoon merupakan salah satu program dari pemerintah yaitu Akselerasi Gula
Nasional. Program Akselerasi Gula Nasional meliputi, bongkar ratoon, rawat
ratoon, pembangunan kebun bibit tebu serta usaha lainnya yang berbasis tebu.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mendasari keputusan
petani membudidayakan tanaman tebu dengan sistem tanam bongkar ratoon dan
kepras di wilayah kerja Pabrik Gula Toelangan, efisiensi biaya budidaya tebu
dengan sistem tanam bongkar ratoon dan kepras di wilayah kerja Pabrik Gula
Toelangan dan faktor-faktor apakah yang mempengaruhi pendapatan petani tebu
dalam penerapan sistem tanam bongkar ratoon dan kepras di wilayah kerja Pabrik
Gula Toelangan.
Alat analisis yang digunakan adalah analisa deskriptif, analisis efisiensi
biaya dan analisis regresi linier berganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa: (1)
Keputusan dalam menentukan sistem tanam terhadap tanaman tebu yang
dilakukan di pabrik gula Toelangan adalah modal, informasi, pendapatan, dan
kemudahan budidaya. (2) Kedua sistem tanam pada usahatani tebu dikategorikan
efisien karena nilai R/C ratio kepras 1,39 dan nilai R/C bongkar ratoon 1,48 lebih
besar dari satu dan antara kedua sistem tanam tersebut memiliki nilai efisiensi
yang berbeda nyata. (3) Variabel yang berpengaruh nyata terhadap pendapatan
usahatani tebu di wilayah Pabrik Gula Toelangan adalah biaya pestisida, teknik
tanam, dan varietas sedangkan variabel yang tidak berpengaruh nyata adalah
harga gula, biaya pupuk, biaya tenaga kerja, biaya sewa lahan, dan luas lahan
Energy Analysis of Rice Production in Banten Province, Indonesia
ABSTRACT
Rice is the most important food crop for Indonesian people. Rice production process need the amount of energy intensively. The purpose of this study is to analyze the energy requirement of rice production under different farm levels. Data were collected from 133 farmers using structural questioner. The research result showed that rice production consumed a total energy of 18525 MJha-1 which chemical fertilizer energy using was 61.99% followed by pesticide (19.87%), human labour (7.71%), fuel energy (3.10%), and machinery (4.96%), respectively. The share of direct, indirect, renewable and non-renewable energies was 10.81%, 89.19%, 10.08%, and 89.92%, respectively. The energy use efficiency and energy productivity were found at 4.13 and 0.28 kg/MJ, respectively. The farm (>5 ha) show had better energy use than a small farm (<5 ha)
PRODUKSI DAN KANDUNGAN SELENIUM BEBERAPA GALUR TANAMAN TEMU-TEMUAN DI LAHAN PASANG SURUT, SUMATERA SELATAN
Lahan pasang surut merupakan lahan potensial untuk pertanian. Saat ini sebagian lahan pasang surut di Sumatera Selatan telah direklamasi dan dimanfaatkan untuk lahan pertanian, terutama untuk budidaya padi. Salah satu kelebihan lahan pasang surut adalah kandungan mineral Fe, Cu, dan Se yang cukup tinggi. Kelebihan tersebut dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan produk pertanian dengan kandungan Se (selenium) tinggi bermanfaat sebagai antioxidan. Salah satu komoditas potensial untuk lahan pasang surut adalah tanaman temu-temuan. Penelitian penanaman temu-temuan di lahan pasang surut bertujuan untuk mengetahui produksi dan kandungan unsur mikro Se pada rimpang tanaman temu-temuan di lahan pasang surut. Penelitian lapang dilakukan di Desa Karang Agung, Kecamatan Sungai Lilin, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Tiga jenis tanaman temu-temuan, yakni jahe emprit, kunyit, dan temulawak di-tanam dengan menerapkan standar prosedur operasional budidaya tanaman temu-temuan yang disesuaikan dengan kondisi lahan pasang surut, termasuk pengapuran dan pengaturan sistem drainase. Parameter yang diamati adalah produksi rimpang segar, mutu simplisia, dan kandungan Se pada rimpang temu-temuan. Sebagai pembanding ketiga jenis tanaman temu-temuan juga ditanam di tanah mineral di Sukamulia, Sukabumi dan dilakukan analisis Se pada rimpang temu-temuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata produksi rim-pang segar untuk jahe emprit, kunyit, dan temulawak masing-masing adalah 4,52; 12,90; dan 20,40 ton/ha. Mutu simplisia memenuhi standar MMI, dimana kadar sari larut alkohol adalah 13,13-14,77%; 12,79-16,54%, dan 5,98-7,12%. Kandungan Se pada rimpang jahe, kunyit, dan temulawak berturut-turut 1,78; 1,98; dan 2,08 ppm, sedangkan kandungan Se pada rimpang temu-temuan yang ditanam di Sukamulia, Sukabumi tidak terukur
Determination of robotic trajectory best distance using simple additive weighting method
NEW MODEL FOR LOCAL POST DISASTER TOURISM GOVERNANCE: Evidence from Indonesia’s Merapi Volcano
This article examines the dynamics of local post-disaster tourism governance in areas on the foothills of Merapi Volcano in Yogyakarta, Indonesia, which is one of the world’s most intensively active volcanoes. In this research, the author invites the readers to discuss the success achieved in local collaboration through transforming disaster life into a profitable tourism site. They face difficult situations amid government limitations in handling this post-disaster development. Using qualitative descriptive analysis, this study offers a new local-based collaboration model, especially for the post-disaster tourism governance in developing countries. Result of the study showed that local collaboration cannot be achieved in an instant, rather involves a process that is influenced by local wisdom. This article makes positive contribution to public policy literature and is essential for policymakers at the lower level and concerned about local-based development and empowermen
- …
