1,720,981 research outputs found

    TENUN SONGKET PANDAI SIKEK DALAM BUDAYA MASYARAKAT MINANGKABAU

    No full text
    The art of songket woven handicraft Pandai Sikek is a cultural product of collective creation and traditional heritage Pandai Sikek. Songket first created to meet human needs for traditional ceremonies such as wedding ceremony of Minangkabau. The symbolic meanings in the art of songket are constantly evolving in accordance with the change of time. The art of songket weave Pandai Sikek is one of the traditional handicrafts, which is used for wedding ceremony. In traditional wedding, the groom wears songket for ‘saluak’, ‘sisampiang’, and ‘cawek’, all of them accessories for the traditional costume, while the bride wears gloves, scarves, and tingkuluak, accessories for female constume. The use of songket is customary responsibility and each of the songket patterns contains symbolic meanings. Various decorative patterns of Minangkabau songket are inspired from the concept of "alam takambang jadi guru" (learning from nature). The beauty of songket can be seen visually from the decorative patterns as well as the functions, styles, and structures. Songket handicrafts are able to survive and compete with factory-made textile products. The succes can not ignore the socio-cultural factors that the existence of this woven fabric remained in the middle of the supporting community.Key words: songket, woven handicraft, traditional wedding ceremony</jats:p

    TENUN SONGKET PANDAI SIKEK DALAM BUDAYA MASYARAKAT MINANGKABAU

    No full text
    Artikel berjudul Tenun Songket Pandai Sikek Dalam Budaya MAsyarakat Minangkabau ini memuat tentang perihal penggunaan Kain Songket sebagai Produk budaya dalam pakaian adat pengantin budaya Minangkabau.Artikel berjudul Tenun Songket Pandai Sikek Dalam Budaya MAsyarakat Minangkabau ini memuat tentang perihal penggunaan Kain Songket sebagai Produk budaya dalam pakaian adat pengantin budaya Minangkabau

    ANALISIS CITRA MEREK DAN TINGKAT LOYALITAS MEREK BISKUIT "GERY" PT. GARUDAFOOD PUTRA PUTRI JAYA

    Full text link
    ANALISIS CITRA MEREK DAN TINGKAT LOYALITAS MEREK BISKUIT "GERY" PT. GARUDAFOOD PUTRA PUTRI JAY

    TENUN SONGKET PANDAI SIKEK DALAM BUDAYA MASYARAKAT MINANGKABAU

    Full text link
    The art of songket woven handicraft Pandai Sikek is a cultural product of collective creation and traditional heritage Pandai Sikek. Songket first created to meet human needs for traditional ceremonies such as wedding ceremony of Minangkabau. The symbolic meanings in the art of songket are constantly evolving in accordance with the change of time. The art of songket weave Pandai Sikek is one of the traditional handicrafts, which is used for wedding ceremony. In traditional wedding, the groom wears songket for ‘saluak’, ‘sisampiang’, and ‘cawek’, all of them accessories for the traditional costume, while the bride wears gloves, scarves, and tingkuluak, accessories for female constume. The use of songket is customary responsibility and each of the songket patterns contains symbolic meanings. Various decorative patterns of Minangkabau songket are inspired from the concept of "alam takambang jadi guru" (learning from nature). The beauty of songket can be seen visually from the decorative patterns as well as the functions, styles, and structures. Songket handicrafts are able to survive and compete with factory-made textile products. The succes can not ignore the socio-cultural factors that the existence of this woven fabric remained in the middle of the supporting community. Key words: songket, woven handicraft, traditional wedding ceremon

    PELAKSANAAN SUPERVISI AKADEMIK OLEH KEPALA SEKOLAH UNTUK MENINGKATAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU DALAM PENYUSUNAN PERENCANAAN PEMBELAJARAN

    Full text link
    ABSTRACT: &nbsp; This study aims to help improve the pedagogical competence of teachers at SMP Negeri 7 Tanah Sepenggal in preparing lesson plans that are in accordance with the competency standards of each lesson so that they can become a reference in the learning process. This research was conducted in three stages, namely preparation, implementation and evaluation and reflection, and was carried out in at least two cycles. In the preparation stage, scenarios of activities, time schedules, places, and other supporting facilities are made, such as observation sheets and questionnaires. This study was aimed at all 5 subject teachers, namely Social Sciences, ICT, Science, Civics, and Physical Education subject teachers. This research was conducted in three stages, namely preparation, implementation and evaluation and reflection, and was carried out in at least two cycles. In the preparation stage, scenarios of activities, time schedules, places, and other supporting facilities are made, such as observation sheets and questionnaires The results showed that in the component of the formulation of the learning objectives indicators, there was an increase from 40% in the initial ability, to 60% in cycle 1 and increased to 70% at the end of the activity. The component of strategy selection and learning methods, which includes learning steps and determining the time allocation used, shows a significant increase from 40% to 60% in cycle 1 and again to 75% after cycle 2. Keywords: supervision, pedagogy, lesson planningAbstrak Penelitian ini bertujuan untuk membantu meningkatkan kompetensi pedagogik guru-guru di SMP Negeri 7 Tanah Sepenggal dalam menyusun rencana pembelajaran yang sesuai dengan standar kompetensi masing- masing pelajaran agar dapat menjadi acuan dalam proses pembelajaran. Penelitian ini dilakukan dalam tiga tahapan, yaitu persiapan, pelaksanaan dan evaluasi dan refleksi, dan dilakukan minimal dalam dua siklus. Pada tahap persiapan dibuat dibuat skenario kegiatan, jadwal waktu , tempat serta sarana pendukung lainnya seperti lembar observasi, serta angket. Penelitian ini ditujukan kepada guru guru semua mata pelajaran&nbsp; yang berjumlah 5 orang yaituguru mata pelajaran IPS, TIK, IPA, PKn,dan Penjas. Penelitian ini dilakukan dalam tiga tahapan, yaitu persiapan, pelaksanaan dan evaluasi dan refleksi, dan dilakukan minimal dalam dua siklus. Pada tahap persiapan dibuat dibuat skenario kegiatan, jadwal waktu , tempat serta sarana pendukung lainnya seperti lembar observasi, serta angket Hasil penelitian menunjukan bahwa pada komponen perumusan indikator tujuan pembelajaran, terlihat peningkatan dari 40 % pada kemampuan awal, menjadi 60% pada siklus 1 dan meningkat menjadi 70% pada akhir kegiatan. Komponen Pemilihan Strategi dan metoda pembelajaran, yang didalamnya memuat langkah-langkah pembelajaran dan penentuan alokasi waktu yang digunakan, terlihat adanya peningkatan yang signifikan dari yang semula hanya 40% menjadi 60% pada siklus 1 dan meningkat lagi menjadi 75% setelah siklus 2. &nbsp; &nbsp; Kata Kunci : supervisi, pedagogik, perencanaan pembelajara

    INDUSTRI KREATIF BATOK KELAPA SEBAGAI PENUNJANG EKOMONI MASYARAKAT

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan mendeskripsikan sumber daya alam sebagai bahan baku penciptaan produk kerajinan ramah lingkungan (ramah lingkungan). Potensi alam di lingkungan Lubuk Malako, Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat, merupakan sumber daya alam dari pohon kelapa yang tumbuh subur di daerah tersebut. Sumber daya alam ini merupakan modal dasar untuk pembukaan dan pengembangan industri kreatif, khususnya usaha kerajinan rakyat. Masyarakat di kawasan tersebut mengolah batok kelapa dengan teknik kolase dan akar kayu menjadikan produk kerajinan sebagai sumber ekonomi. Ketersediaan alam yang melimpah sumberdaya berpotensi menjadi industri kerajinan kreatif yang berkelanjutan karena pemanfaatannya bahan yang mudah ditemukan dan terbarukan. Produk yang dihasilkan bersifat fungsional dan barang-barang dekoratif dan produk souvenir untuk mendukung pariwisata di kabupaten Solok Selatan, yaitu terkenal dengan kawasan Seribu Rumah Gadang dan Rumah Gadang Panjang. Memanfaatkan alam potensi yang dimiliki dapat meningkatkan kemampuan warga untuk menciptakan ekonomi kreatif yang mampu menyediakan manfaat langsung bagi kehidupan masyarakat di bidang sosial dan ekonomi. Kata kunci: Ekonomi, Industri Kreatif, Pohon Kelapa This study aims to examine and describe the utilization of natural resources as raw materials for creating environmentally friendly craft products. The research focuses on the natural potential of Lubuk Malako, a district in Solok Selatan, West Sumatra. The area is blessed with abundant coconut trees, which serve as a valuable natural resource for opening and developing creative industries, particularly in the field of craft businesses. The local community in this region employs the collage technique using coconut shells and wood roots to produce handicraft products, which serve as an economic resource. The availability of these natural resources in large quantities has the potential to foster a sustainable creative craft industry due to the ease of sourcing materials and their renewable nature. The resulting products range from functional and decorative items to souvenir products, supporting tourism in Solok Selatan district. This region is renowned for its Seribu Rumah Gadang and Rumah Gadang Panjang, adding to the significance of these craft products. By harnessing the natural potential of the area, the study aims to enhance the citizens' ability to foster a creative economy, thereby bringing direct social and economic benefits to their lives

    ARBY SAMAH PELOPOR SENI PATUNG ABSTRAK INDONESIA: TANTANGAN DAN HARAPAN PERKEMBANGAN SENI PATUNG MODERN SUMATERA BARAT

    Full text link
    Arby Samah has been regarded as a pioneer in the history of abstract sculpture in Indonesia since he studied at ASRI Yogyakarta in 1957. In this period, Arby Samah created non-figurative sculptures whose style was new and unusual compared with his contemporaries in Yogyakarta. Abstract shape is believed to be confusing to many since it seems to have little relation to real life. Arby Samah took a long and complex path to produce an abstract sculpture. To him, finding a new form is a historical finding in the development of sculptural art. Arby Samah’s journey in the art of sculpture is not consistent to the fame that he has received. It has a correlation with his desire to develop fine arts, especially sculpture in West Sumatera, where the art is rather poorly developed due to the influences of custom and religion. Arby Samah wants his artworks to give an understanding to the public regarding arts, and to eliminate the public perception of sculpture as a form of idolatry. The West Sumatra people’s perception of sculpture as a form of idolatry will be discussed from the beginning of such notion, the coming of Islam to West Sumatra, until the reception of sculptural art by West Sumatra peopleKeywords: Arby Samah, Abstract Sculptural Arts________________________________________________________________Arby Samah mulai dikenal sebagai pelopor karya seni patung abstrak Indonesia semenjak Arby Samah kuliah di ASRI Yogyakarta tahun 1957. Pada masa itu Arbi Samah menciptakan karya seni patung non figuratif, yang pada waktu itu merupakan hal baru dan tidak biasa apabila dibandingkan karya-karya para pematung di Yogyakarta. Bentuk abstrak dianggap membingungkan banyak orang, seolah karya abstrak tidak bertalian dengan dunia yang realita. Arby Samah menempuh jalan yang panjang dan berliku dalam menciptakan sebuah karya patung abstrak. Bagi Arby Samah menemukan bentuk baru merupakan sebuah temuan sangat bersejarah dalam perkembangan seni patung. Perjalanan Arby Samah dalam berkarya seni patung memang tidak konsisten seiring dengan nama besar yang sudah diraihnya, ini sangat erat hubungannya dengan keinginan Arbi Samah untuk mengembangkan ilmu seni rupa khususnya seni patung di Sumatera Barat, di mana seni patung susah berkembang karena dipengaruhi oleh faktor adat dan agama. Arby Samah ingin karya yang dibuatnya bisa memberikan pemahaman pada masyarakat tentang karya seni dan menghilangkan anggapan masyarakat yang mengatakan patung sebagai benda untuk disembah. Anggapan masyarakat Sumatera Barat yang menganggap patung sebagai berhala akan dibahas dari awal munculnya anggapan tersebut dari masuknya agama Islam di Sumatera Barat sampai pada masyarakat menerima kehadiran seni patung.Kata Kunci: Arby Samah, Seni Patung Abstra

    Pemanfaatan Akun Belajar.Id Pada Pembelajaran Tatap Muka Terbatas di Sekolah Dasar Gugus Angso Duo Kota Jambi

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektivitas dan kendala dalam dalam pemanfaatan akun belajar.id dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah pada masa pendemi covid 19 serta untuk mengetahui solusi dalam pengoptimalan penggunaan akun belajar.id di sekolah. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan jenis studi kasus  yang rancangan penelitian deskriptif kualitatif termasuk sebuah pendekatan induktif untuk penyusunan pengetahuan yang menggunakan riset dan menekan subjektifitas juga arti pengalaman bagi individu. Sumber data dalam penelitian ini yaitu pengawas Pembina 1 orang, kepala sekolah 2 orang, guru kelas 5 berjumlah 2 orang guru kelas tiap sekolah diwakili satu guru, dan peserta didik kelas 5 yang berjumlah 20 orang masing-masing sekolah diwakili sebanyak 10 orang murid dipilih secara acak. Berdasarkan hasil wawancara menunjukkan bahwa guru yang mengajar di kelas 5  telah merancang pembelajaran tatap muka terbatasnya dengan memanfaatkan akun merdeka belajar. Karena platform yang difasilitasi oleh pemerintah ini memiliki banyak manfaat bagi guru dan siswa pada masa pandemi. Platfrom ini langsung terkoneksi pada dapodik sehingga semua guru dan murid secara otomatis langsung memiliki id platform ini asalkan sudah terinput data dari sekolah. Akan tetapi yang menjadi faktor penghambatnya yaitu keterbatasan siswa memahami IT dan masih ada siswa dan guru yang belum bisa mengaktivasi akun belajar.id. Hal ini memudahkan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dengan akses ke berbagai platform Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, memungkinkan penyimpanan dokumen secara online, dengan penyimpanan tak terbatas dan lebih aman dapat mengakses Chromebook dan menggunakannya sebagai jalur Informasi resmi dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains dan Teknologi. Kata Kunci: pembelajaran, akun belajar.id, tatap muk

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
    corecore