62 research outputs found
Etnobotani Tanaman Hias Dalam Kotamadya Bogor
Sejak semula Kebun Raya Bogor - LBN selalu aktif mendatangkan dan tnemperkenalkan jenis-jenis tanaman baru, baik dari luar negeri maupun dari hutan belantara Indonesia sendiri.Kegiatan ini telah mempengaruhi keanekaragaman jenis tanaman yang dipakai penduduk kota madya Bogor dalam menghias halaman dan pekarangan rumahnya,karena mereka mendapat kesempatan pertama untuk mencobakan hasil jerih payah Kebun Raya Bogor itu. Selain itu baik keadaan flsik maupun iklim kota Bogor (ketinggian 190 - 280 m dpi.,rata-rata suhu bulanan 24-26°C, kelembaban udara 76 - 86%,penyinaran matahari 62%,kecepatan angin 1.3 m/detik,curah hujan 4122 mm/ tahun) sangatlah ideal untuk pertumbuhan tanaman.Karenanya tidaklah mengherankan jika lebih dari 625 jenis tanaman telah,dipakai oleh warga kota Bogor sebagai tanaman hias (Widiawati & Rifai 1975).Ini menunjukkan suatu jumlah yang besar mengingat bahwa Bruggeman (1948) hanya mencatat lebih kurang 750 jenis tanaman hias untuk seluruh Indonesia
PEMBERIAN EDUKASI DAN PENDAMPINGAN PERSIAPAN LAKTASI PADA NY.Y G1P0A0 DI PRAKTIK MANDIRI BIDAN (PMB) WIDIAWATI KOTA BENGKULU
Air susu ibu (ASI) merupakan cairan hidup yang dinamis, memiliki kandungan gizi
yang beragam dan lengkap. ASI merupakan cairan terbaik dengan segala
kandungannya sesuai dengan keadaan bayi yang bersifat alami, bukan sintetik
sehingga aman, kandungan utama ASI sebanyak 88% adalah air, jumlah ini cukup
untuk memenuhi kebutuhan cairan pada bayi. ASI eksklusif adalah pemberian ASI
tanpa makanan dan minuman tambahan kecuali obat, vitamin, dan mineral sampai
bayi berusia 6 bulan. Studi kasus ini bertujuan untuk melakukan asuhan kebidanan
komprehensif pada Ny. Y G1P0A0 dengan pemberian edukasi dan manajemen
laktasi di Praktik Mandiri Bidan Widiawati Kota Bengkulu.
Hasil asuhan kebidanan secara komprehensif pada Ny. Y G1P0A0 dilakukan sesuai
dengan rencana kebidanan, pada masa kehamilan dilakukam edukasi tentang ASI
ekslusif, pemenuhan gizi seimbang, Perawatan payudara hamil dan perawatan
puting susu datar dengan teknik Hoffman. Asuhan persalinan berjalan secara
spontan, bayi lahir sehat dan dilakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) segera setelah
lahir. Asuhan pada masa nifas diberikan, perawatan payudara nifas, kebutuhan gizi
seimbang, teknik dan posisi menyusui yang benar, pijat oksitosin, konsling KB.
Pencapaian keberhasilannya adalah kolostrum ibu keluar, ASI lancar, ibu menyusui
dengan teknik yang benar, tidak ada masalah bendungan ASI setelah diberikan
asuhan dari masa hamil hingga 2 minggu masa nifas, payudara ibu tidak lecet, ibu
makan-makanan bergizi seimbang, ibu dibantu oleh suami melakukan pijat
oksitosin. Ny. Y memilih menggunakan alat kontrasepsi suntik 3 bulan setelah masa
nifas berakhir.
Kata Kunci :Pemberian Edukasi dan pendampingan persiapan Laktas
Synchronizing livestock metabolism with feeding schedules: Advancing sustainable animal husbandry practices
Circadian rhythms, orchestrated by the master clock in the suprachiasmatic nucleus (SCN) and peripheral clocks in metabolic tissues, regulate diverse physiological processes in livestock, including metabolism, nutrient absorption, and energy utilization. These biological rhythms align internal functions with external factors. In animal husbandry, attention is paid to nutrition quality, however, the effect of feeding schedules on circadian rhythms and overall livestock performance and health is not well explored. This study evaluates research on feeding schedules and their influence on livestock productivity, metabolism, and environmental impact. About 550 sources, including original articles, reviews, thesis, and books were reviewed, with 304 relevant studies analyzed. Keywords included "chronophysiology", "Chrono nutrition", "circadian rhythm", amongst others, and extending to rats, humans, and insects, where livestock data was limited. The results showed that feeding schedules act as key time cues (Zeitgebers) that influence metabolic and physiological processes. Misalignment with the central biological clock disrupted metabolism, reproductive efficiency, and animal welfare. Evening feeding improved nutrient digestibility, milk yield, and metabolic efficiency while reducing heat stress parameters in tropical climates. Additionally, chrono-nutrition strategies reduced methane emissions. Aligning feeding with natural biological rhythms enhanced reproductive performance, offspring growth, and milk composition. Feeding time is a promising tool for optimizing livestock productivity, welfare, and sustainability. Further research is needed to explore the influence of feeding schedules at a species-specific level, including how they affect the gut microbiota of each livestock species. Additionally, the impact of a gravid dam's feeding schedule on the performance of offspring during their productive years should be investigated. The quality of animal products resulting from such feeding regimes could also be evaluated
The effect of pineapple waste (Ananas comosus (L). Merr) subtitution on mixed basal diet of Elephant grass and calliandra on rumen ecosystem of sheep
The aim of this study was to evaluate the effect of pineapple waste substitution to mixed basal diet of Elephant grass and calliandra on rumen ecosystem. Pineapple waste was substituted to basal of Elephant grass and calliandra leaves (3:2) at the level of 0% (RA); 10% (RB); 20% (RC); 30% (RD); 40% (RE) and 50% (RF). In this experiment 24 Indonesian local male sheep (9-10 months old, 15.3 kg average body weight) were used, and were divided into 6 groups of dietary treatment (4 sheep each). Every group was offered one of the experimental diets (RA to RF) in a Completely Randomized Design. Pineapple waste was offered gradually for one month until the level of 50% (RF) was reached. The animals were adapted to experimental diets for about 14 days prior to the data collection period. Rumen fluids from each animal was taken (5 hours after morning feeding) for pH, ammonia concentration; bacteria and protozoa population analysis. The results showed that substitution of pineapple waste up to 30% had no effect on pH, but when the level was increased up to 40 and 50%, the pH (P0.01) decreased. Ammonia concentration was similar when 10% of the pineapple waste was included, then it decreased significantly when the waste was given up to 50% (P0.01). A decrease in bacteria population and an increase in protozoa population happened when the waste given was increased up to 50% but it wasn’t significant (P0.05). Increasing pineapple waste given increased population of amyllolytic bacteria but decreased the population of cellulolytic bacteria. On the Elephant grass and calliandra basal diet with the proportion of 3 : 2, the best substitution of pineapple waste was up to 20%. Key words: Pineapple Waste, Rumen, Bacteria, Protozoa, Ammoni
Effect of Combined Probiotics (Saccharomyces cerevisae + Candida utilis) and Herbs on Carcass Characteristics of Swamp Buffalo
A feedlot trial was conducted to study the effect of probiotics + herbs on carcass characteristics. Thirty male swamp buffaloes aged 2–2.5 years with the average body weight of 297 kg were used in this trial. They were fattened for 75 days to reach a slaughter weight of around 350–400 kg. They were divided into two groups of 15 animals in each group, and were placed in a shaded paddock. The groups were the control and the treated animals. The treated animals were given a supplementation containing combined yeasts (Saccharomyces cerevisae and Candida utilis), and herbs. All animals were fed basal diet of ammoniated rice straw and commercial concentrate with a ratio of 10: 90. There was no effect of probiotics+herbs on live weight gain, percentage of carcass, dressing, meat and by products, back fat thickness and eye muscle area. Addition of probiotics+herbs increased proportion of bone, reduced meat : bone ratio, body fat and proportion of offal. Although body fat content was reduced by the treatment, the compositions of fat were similar between the control and treated animals. (Animal Production 12(2): 69-73 (2010)Key Words: buffalo, feedlot, yeast, carcas
Emisi Gas Rumah Kaca dari Peternakan di Pulau Jawa yang Dihitung dengan Metode Tier-1 IPCC
Gas rumah kaca (GRK) yang dihasilkan dari sektor pertanian khususnya peternakan adalah gas metana (CH4) dan gas nitrous oxide (N2O). Emisi GRK dari setiap ternak berbeda. Profil emisi GRK dari setiap daerah ditentukan oleh populasi ternaknya. Penulisan makalah ini bertujuan untuk menampilkan gambaran emisi GRK dari setiap jenis ternak di setiap provinsi di Pulau Jawa yang diestimasi dengan menggunakan metode Tier-1 IPCC. Pada metode ini data yang diperlukan adalah populasi ternak dalam satu tahun dan nilai faktor emisi (FE) setiap gas GRK menurut buku panduan IPCC. Data populasi ternak diambil dari buku statistik, sedangkan nilai FE diambil dari buku IPCC. Hasil penghitungan menunjukkan bahwa total emisi GRK di Pulau Jawa sebesar 30.100,86 CO2-e Gg/tahun. Di Pulau Jawa, sapi potong memberikan emisi GRK tertinggi (11.684,4 GgCO2-e/tahun), sedangkan kuda merupakan penyumbang terendah (104,48 GgCO2-e/tahun). Jawa Timur merupakan provinsi dengan emisi GRK tertinggi di Pulau Jawa (11.181,64 GgCO2-e/tahun) sedangkan DKI Jakarta yang terendah (18,17 GgCO2-e/tahun). Gas CH4 dari enterik yang terbanyak dihasilkan dari sapi potong (6.696,22 GgCO2-e/tahun), diikuti domba (1.621,71 GgCO2-e/tahun) dan kambing (1,119,01 GgCO2-e/tahun). Kesimpulannya bahwa Provinsi Jawa Timur penyumbang emisi GRK yang terbesar yaitu sebanyak 37,15%, diikuti oleh Provinsi Jawa Barat sebesar 30,23% dan Provinsi Jawa Tengah sebanyak 25,18%. Di antara semua jenis ternak, sapi potong merupakan kontributor utama yaitu sebanyak 38,49%, diikuti oleh domba sebesar 26,90%
PENGARUH MOTIVASI DAN SUMBER BELAJAR TERHADAP KEMAMPUAN MAHASISWA PADA RANGKAIAN LISTRIK PC DENGAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK
Proses pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Konsepsi yang demikian menuntut peserta didik untuk aktif, responsif dan aktif dalam mencari, memilih dan menemukan, menganalisis, menyimpulkan dan melaporkan hasil belajarnya. Dengan tersedianya sumber-sumber belajar yang memadai menuntut juga peserta didik untuk memiliki motivasi yang tinggi, sehingga antara sumber belajar dan motivasi belajar memiliki keterkaitan yang erat dalam rangka mewujudkan tujuan pembelajaran yang diharapkan apalagi ditunjang dengan penggunaan model pembelajaran yang sesuai dengan bidang pendidikan. Di Politeknik TEDC Bandung pada mata kuliah Rangkaian Listrik Arus Searah (DC) proses pembelajarannya dilakukan dengan memberikan teori-teori yang cukup dan contoh-contoh pemecahan problem nyata, dimana karakter seperti ini ada pada model pembelajaran berbasis proyek. Berdasarkan pelaksanaan pada proses pembelajaran mata kuliah Rangkaian Listrik Arus Searah (DC) di Politeknik TEDC terdapat kecenderungan bahwa faktor motivasi dan sumber belajar memberikan pengaruh terhadap kemampuan mahasiswa pada Rangkaian Listrik DC dengan model PBL. Hal ini membuat penulis tertarik untuk mengadakan penelitian berjudul : “Pengaruh motivasi dan sumber belajar terhadap kemampuan mahasiswa pada Rangkaian Listrik DC dengan model pembelajaran berbasis proyek di Politeknik TEDC Bandung”. Penelitian bertujuan membuktikan pengaruh motivasi dan sumber belajar terhadap kemampuan mahasiswa pada Rangkaian Listrik DC model PBL dengan menggunakan metode penelitian deskriptif korelasional. Hasil penelitian ditunjukkan dengan persamaan Regresi dari variabel motivasi belajar (X1) sebesar Y = 31,2 + 0,37X1 dan dari variabel sumber belajar (X2) sebesar Y = 9,6 + 0,79X2. Adapun pengaruh variabel X1 dan variabel X2 terhadap variabel kemampuan mahasiswa (Y) pada mata kuliah Rangkaian Listrik DC dengan model Pembelajaran Berbasis Proyek sebesar Y = 26,04 + 0,28 X1+ 0,12 X2. Dengan demikian terdapat pengaruh antara variabel X1 terhadap variabel Y dengan koefisien korelasi sebesar 0,37 (rendah) dengan artian variabel X1 memberikan pengaruh sebesar 13,56 % terhadap variabel Y. Antara variabel X2 terhadap variabel Y juga terdapat korelasi yang signifikan sebesar 0,79 (kuat) dengan artian variabel X2 memberikan pengaruh sebesar 62,95 % terhadap variabel Y. Serta antara variabel X1 dan X2 terhadap Y terdapat korelasi sebesar 0,82 (sangat kuat) dengan artian variabel X1 dan X2 memberikan pengaruh sebesar 68,14 % terhadap variabel Y. Maka semakin besar pengaruh antara variabel X1 dan variabel X2 maka akan diiringi meningkatnya variabel Y. Jadi untuk hasil pembelajaran yang lebih baik perlu adanya upaya peningkatan motivasi bagi mahasiswa dengan melakukan pemberian model pembelajaran di kelas yang lebih kreatif, inovatif dan menarik dan memaksimalkan pemanfaatan sumber belajar oleh mahasiswa yang lebih banyak lagi
Comparison fermentation kinetics (in vitro) of grass and shrub legume leaves: The pattern of VFA concentration, estimated CH4 and microbial biomass production
In the process of fermentation, rumen microbes normally convert major fractions of carbohydrates and proteins in a feed to useful end-products (i.e. VFA, microbial protein and B-vitamins) and some waste products (i.e. CH4 and CO2). The pattern of these end-products depend largely on the fraction contained in the feed eaten by the animal. Two types of feeds, namely grass and shrub legume, leucaena have different fraction proportions. Grass contains more fibre but less protein compared to shrub legumes. Thus in the rumen they might be fermented to produce different pattern of end products. The experiment was conducted in order to examine the pattern of VFA, CH4 and microbial protein products of the two types of feeds when fermented in the rumen. In vitro method was used to determine the pattern of these end products. Results showed that the grass produced more total VFA/mg organic matter degraded (0.0229 mM/mg vs 0.0075 mM/mg) and CH4 gas (0.20 mole/mg vs 0.09 mole/mg) but less propionate in partial and less microbial protein (2646 g vs 2656 g ) compared to the legume. Approximately 32% less CH4 (per mg OM degraded) would be produced from leucaena compared to that produced from grass, which mean that there will be less energy loss as CH4 thus more energy for animal production. Key Words: Grass, Shrub Legume, Volatile Fatty Acids, CH4, Microbial Protei
Mitigation of Enteric Methane Emission through Feed Modification and Rumen Manipulation
The major of gas emission in the livestock sector are in the form of methane produced by microbial activity in the rumen. The emission of methane cause global warming and is predicted to keep increasing. Feed modification and rumen manipulation are important ways that can be used to mitigate methane emission. Based on this condition, this paper aims to describe several ways to mitigate methane emission using feed and rumen modification for smallholder farmers. Feed modification can be done using high Non-Fiber Carbohydrate (NFC) content in feed and also using balance nutrient feed. Meanwhile, rumen modification can be done through inlcusion of feed additive, microbial products, and oils. Providing feed contains high NFC as much as 21.8-53%DM would decrease methane emission by 3.03-28.33%. While providing feed contains balance nutrients would potentially decrease 21.87% of methane emission. Feed additive addition as much as 0.0011-12%DM decreased 0.59-78% of methane emission. Bacterial inclusion as much as 0.7x108 – 3,6x1011CFU decreased 0- 18.57% of methane emission. Oil or fat inclusion as much as 6%DM decreased 6.02-24.53% of methane emission. A combination of methods can be used to optimize methane mitigation and it can be applicable for farmers to raise their livestock in friendly environment
Estimasi Emisi Gas Rumah Kaca dari Sapi Potong di Bangka Belitung
Di Provinsi Bangka Belitung, populasi sapi potong meningkat sebesar 15% pertahunnya. Salah satu dampak sampingnya adalah peningkatan emisi gas rumah kaca (GRK) dari sapi potong. Untuk mengetahui kebijakan dan langkah yang dapat diambil untuk mengurangi dampak samping ini, maka perlu dilakukan inventory emisi GRK. Study ini bertujuan untuk melakukan inventory GRK dari sapi potong guna mengetahui sumbangan emisi GRK dari sapi potong. Hasil ini dapat digunakan sebagai dasar untuk mengambil langkah selanjutnya dalam upaya mitigasi GRK dari sektor peternakan. Dalam proses inventory GRK ini digunakan data primer berupa bobot badan, temperature, sistem pengelolaan kotoran dan konsumsi pakan, sedangkan data sekunder berupa populasi sapi potong. Penghitungan dilakukan dengan menggunakan metode Tier 2 IPCC 2006 dengan bantuan software ALU Tool, selanjutnya hasil penghitungan disajikan dalam bentuk deskriptif. Hasil menunjukkan bahwa CH4 dari fermentasi enterik merupakan penyumbang terbesar GRK dari sapi potong yaitu sebesar 8,675 Gg CO2-e/tahun, sedangkan CH4 dari kotoran ternak menyumbang sebesar 0,303 Gg CO2-e/tahun. Emisi N2O yang hanya dikeluarkan dari proses pengelolaan kotoran ternak menyumbang sebesar 0,092 Gg CO2-e/tahun. Diantara sub kategori sapi potong, maka sapi dewasa (umur >4 tahun) merupakan penyumbang CH4 enterik terbesar, sedangkan N2O lebih banyak dihasilkan dari sapi potong yang digemukkan (fattening). Disimpulkan bahwa emisi GRK terbesar dari ternak sapi potong adalah dari fermentasi enterik (95,69%), dimana sub kategori sapi dewasa menyumbang sebesar 38,68%. Emisi N2O dari pengelolaan kotoran terbesar yaitu 66,30% disumbang dari kotoran sapi impor atau yang digemukkan (fattening)
- …
