6,973 research outputs found
Identitas wong Banyumas
iskursus ihwal identitas tidak pernah tuntas dari pertarungan perebutan batas makna waktu dan ruang studi budaya. Identitias dalam konteks budaya menjadi demikian penting. Ia menjadi penanda seberapa besar seseorang merasa sebagai bagian dari sebuah entitas budaya atau etnis tertentu dan bagaimana identitas ini memengaruhi perasaan, persepsi dan perilakunya. Identitas budaya tidak pernah lepas dari faktor psikologis pribadi terhadap kelompoknya.Kontestasi tentang batas pemaknaan identitas ini selalu menarik, lantaran identitas bukan sesuatu yang tetap, ia selalu berubah. Konstruksi identitas dibangun melalui proses yang panjang. Batas identitas selalu memunculkan titik perbedaan, ia terus bergerak selaras dengan perkembangan peradaban. Identitas dalam konstruksi budaya selalu mengalami pergeseran, perubahan, lentur, bahkan luntur. Jika kebudayaan yang dianut sekelompok orang mulai luntur, maka luntur pula identitas anggota kelompok tersebut. Di sinilah pentingnya konservasi nilai-nilai budaya guna meneguhkan konstruksi identitas dan jati diri bangsa.Anasir budaya sebagai konstruksi jadi diri dapat digali dari khasanah teks sastra, sebab sastra tidak pernah lahir dalam situasi yang kosong budaya. Karya sastra acap kali lahir sebagai respon sastrawan terhadap situasi sosial budaya yang melingkupinya. Sastra dapat lahir sebagai resistensi terhadap dominasi, pada saat yang sama ia hadir sebagai wujud penerimaan kondisi budaya. Karya sastra secara simultan merefleksikan jati diri penulisnya sekaligus merepresentasikan identitas kultural masyarakat di sekitarnya.Buku ini berupaya mendokumentasikan identitas kultural wong Banyumas asli yang terepresetasi dalam teks sastra. Buku ini hadir sebagai rujukan budaya tentang identitas yang genuin wong Banyumas, yang saat ini telah mengalami pergeseran. Pada sisi yang lain, buku ini ditulis sebagai sebuah upaya konservasi teks kearifan lokal Banyumas
Danza y Co-creatividad kinestésica Humano-IA
Human-machine interaction in dance is not a new phenomenon, however, the evolution of Artificial Intelligence (AI) in recent years allows new scenarios where novel methods of creative collaboration between human and artificial intelligence are proposed. From an interdisciplinary approach, this article provides an analysis of different software for choreographic creation and synthesises the findings from the creative collaboration between the author and an AI dancer, which were presented at the Leverhulme Centre for the Future of Intelligence at the University of Cambridge (UK). The author concludes that in order to co-create dance with an AI, it is not enough to simply use it, but it must enable an experience in which the human and machine can be exposed to a mutual influence that is not limited to logical reasoning, but is based on kinaesthetic intuition.La interacción humano-maquina en la danza no es un fenómeno nuevo, sin embargo, la evolución de la Inteligencia Artificial (IA) en los últimos años permite nuevos escenarios donde se plantean novedosos métodos de colaboración creativa entre la inteligencia humana y la artificial. Desde un enfoque interdisciplinario, este artículo provee un análisis de distintos softwares para la creación coreográfica y sintetiza los hallazgos provenientes de la colaboración creativa entre el autor y un bailarín de IA, los cuales fueron presentados en el Leverhulme Centre for the Future of Intelligence en la Universidad de Cambridge (Reino Unido). El autor concluye que para co-crear danza con una IA no basta con utilizarla, sino que es fundamental propiciar una experiencia donde el humano y la maquina puedan exponerse a una influencia mutua que no se limite al razonamiento lógico, sino que se base en la intuición kinestésica
Report on professional attachment with Wong Mun Piaw & Co.
The purpose of this report is to review the professional attachment at Wong Mun Piaw & Co, an audit firm. This report gives an insight of the variable experience gained and the knowledge acquired during the 2 months of attachment
Report on industrial attachment with Goodrich Aerospace Pte Ltd
This IA report serves as an account on the experience earned during the author’s 6 month work in Goodrich Control Systems Singapore as an industrial attachment student. During the attachment period, the author was given to chance to be exposed in various areas in the company. Some areas that he was exposed are engineering and continuous improvement in the company. He is also been exposed to the daily operations of a typical aerospace maintenance, repair and overhaul (MRO) company. One of the main projects that the author did was the new capability project. The new capability project exposes the author the importance of gaining new capabilities for a MRO company. It also exposes the author the importance of planning beforehand and obtaining data for adding the new capability into the company. But due to time constraints, this report will not be able to describe the completion of adding this new capability in the company
First in the Nation in Education : Final Report,1984.
This report is one step in an ongoing process of change and is a plea for commitment for high standards in education in Iowa. Contains the final reports of the six subcommittees as adopted by the Excellence in Education Task Force, and the five recommendations made by the Task Force
KREATIVITAS AGUS WASIS DALAM MENCIPTA LAGU POP JAWA WONG CILIK
Skripsi yang berjudul “Kreativitas Agus Wasis dalam Mencipta Lagu Pop Jawa Wong Cilik” ini bertujuan untuk mengetahui kreativitas Agus Wasis sebagai pencipta lagu pop Jawa di Surakarta. Agus Wasis sudah banyak berkarya melalui lagu-lagu yang diciptakannya. Ia adalah seorang pencipta lagu yang berasal dari kampung Nirbitan, Surakarta. Selain sebagai pencipta lagu, Agus Wasis juga menjadi seorang penyanyi pop Jawa dan keroncong di kota Surakarta. Karya- karya yang diciptakan Agus Wasis mampu menembus industri musik, salah satu lagu ciptaannya yang booming adalah lagu yang berjudul Wong Cilik. Lagu ini dapat menggambarkan kehidupan yang terjadi pada masa itu karena berhasil memerangi kehidupan politik dengan cara yang lain melalui isi yang terkandung dan sindirian kepada wakil rakyat yang ada dalam lagu Wong Cilik.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yaitu dengan pendekatan secara deduktif dan induktif, dalam penelitian ini dirumuskan melalui tiga rumusan masalah yaitu: (1) mengungkap alasan Agus Wasis mencipta lagu wong cilik (2) mendiskripsikan bentuk dan struktur lagu wong cilik dan (3) mendiskripsikan proses kreatif Agus Wasis dalam menciptakan lagu Wong Cilik. Konsep yang digunakan dalam penelitian ini adalah kreativitas empat “P” milik Rhodes dalam Utami Munandar pada bukunya yang berjudul Kreativitas dan Keberbakatan. Kreativitas Agus Wasis dalam mencipta lagu dianalisis melalui empat aspek yaitu: (1) Person, (2) Procces, (3) Press, (4) Product. Selain itu dalam penelitian ini juga menggunakan konsep garap milik Rahayu Supanggah yaitu: (1) Ide Garap, (2) Proses Garap, (3) Tujuan Garap dan (4) Hasil Garap. Hasil penelitian ini akhirnya dapat membuktikan bahwa Agus Wasis merupakan pribadi yang kreatif melalui karya lagunya yang berjudul Wong Cilik. Selain mengetahui Agus Wasis sebagai pribadi yang kreatif penelitian ini membuktikan bahwa lagu Wong Cilik merupakan sebuah cerita di balik kelamnya kehidupan kaum tertindas dan juga sebagai sindiran kepada para pejabat
Lari Dari Kenyataan: Raj, Priyayi, Dan Wong Cilik Biasa Di Kasunanan Surakarta, 1900-1915
Raja, priyayi, dan wong cilik biasa di Kasunanan Surakarta (Solo), 1900- 1915, terperangkap dalam sistem simbol. Sebenarnya mereka sama saja seperti orang lain yang tidak hanya hidup dalam kenyataan, tetapi juga dalam sistem simbol. Perbedaannya ialah sistem simbol mereka bertentangan dengan kenyataan. Pertentangan itu menyebabkan adanya patologi sosial di semua tingkat masyarakat, meskipun dengan kadar yang berbeda-beda. Perbedaan itu disebabkan oleh kedudukan dalam hierarki, berturut-turut mereka adalah raja, bangsawan, priyayi, wong cilik saudagar, dan wong cilik biasa. Kali ini akan kita bicarakan tentang raja, priyayi, dan wong cilik biasa. Raja kita bicarakan karena ia berada di puncak hierarki, sedangkan priyayi karena mereka berada di tengah-tengah hierarki dan hidup sehari-hari di antara wong cilik, saudagar dan biasa. Mereka melihat para saudagar mengalami mobilitas sosial, sedangkan nasib mereka tidak berubah dan itulah kenyataan yang pedih bagi mereka. Sementara itu, wong cilik biasa kita bicarakan karena mereka berada di ujung yang sangat lemah dari hierarki dan kenyataan bagi mereka lebih berupa budaya kota yang sedang tumbuh daripada hierarki kekuasaan. Bangsawan tidak kita bicarakan karena mereka hanya merupakan lapisan yang tipis dari hierarki dan hidup terasing di purinya sendiri. Wong cilik saudagar tidak kita bicarakan, karena meskipun mereka dalam hierarki berada di ujung bersama wong cilik biasa, tetapi dengan kenyataan mereka bisa menghindar dari hierarki dan bisa mengkonsumsi budaya kota. Tidak pula kita bicarakan di sini orang asing, bangsawan "pikiran" (priyayi terpelajar), dan priyayi gupernemen karena mereka terbebas dari hierarki tradisional
Application of the IS-MP-IA model to the German economy and policy implications
Extending the IS-MP-IA model developed by Romer (2000) and applying the GARCH (Engle, 1982, 2001) methodology, the author finds that equilibrium GDP in Germany is positively affected by stock market performance and real exchange rate appreciation, and negatively influenced by the expected inflation rate, the government deficit/GDP ratio, and the U.S. federal funds rate. The relatively low deficit/GDP ratio of 1.83% in 2003 indicates that its fiscal condition was healthy. However, some other EU members may need to exercise fiscal discipline. Because real appreciation has a positive impact on output, a stronger euro may not be a concern for Germany but may be worried by those EU member nations which depend upon exports to stimulate their economies.
PEMBENTUKAN KARAKTER MELALUI PEMERANAN TOKOH SEMAR DALAM WAYANG WONG DI SRIWEDARI
Wayang wong tidak saja merupakan salah satu sumber pencarian nilai-nilai
yang amat diperlukan bagi kelangsungan hidup bangsa, tetapi wayang wong juga
merupakan salah satu alternatif wahana atau alat pendidikan watak. Tujuan dalam
penelitian ini adalah memahami proses pendalaman karakter tokoh Semar pada
informan, memahami proses pembentukan karakter informan melalui pemeranan
tokoh Semar dan memahami dampak pembentukan karakter tokoh Semar dalam
kehidupan sehari–hari informan. Metode pengumpulan data pada penelitian ini
menggunakan wawancara dan observasi. Informan dalam penelitian ini adalah 3
orang yang berprofesi sebagai pemain wayang wong di Gedung Wayang Orang
Sriwedari dan telah memerankan tokoh Semar minimal selama 3 tahun.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Proses pendalaman karakter tokoh
Semar informan melakukan beberapa hal yaitu dengan membaca buku-buku
mengenai tokoh Semar, mempelajari di perkuliahan ilmu pedalangan, mencari
informasi dari teman-teman senior informan dan berlatih sendiri atau otodidak.
Informan membangun karakter dengan cara berdoa, merenung, meniru orang yang
pernah memainkan tokoh Semar, menjiwai karakter tokoh Semar, dan mengetahui
alur cerita yang akan disuguhkan diatas panggung. Setelah informan membangun
karakter tokoh Semar informan merasa bahwa ia sudah bukan dirinya lagi
melainkan sudah seperti menjadi Semar.
Dampak pembentukan karakter setelah informan memainkan tokoh Semar
dalam pementasan wayang wong, informan menginternalisasi karakter Semar
seperti, tata bicara tokoh Semar, pembawaan yang karismatik, bijaksana, wibawa
dan sikap sabar. Setelah informan menginternalisasi, informan
mengimplementasikan di kehidupan sehari-hari informan seperti, setiap informan
menasehati cucunya, ia selalu menggunakan tata bahasa dan tata bicara tokoh
Semar, kemudian selalu berhati-hati dalam setiap langkah karena informan selalu
dituakan oleh teman-teman dilingkungannya, dan informan selalu bersikap sabar
dalam mendidik keluarganya
SIKAP DAN PEMIKIRAN WONG CILIK TENTANG "KELAS SOSIAL" DALAM NOVEL LORONG TANPA CAHAYA KARYA NGARTO FEBRUANA
Lorong Tanpa Cahaya (LTC) merupakan novel Ngarto Februana yang diterbitkan oleh media Pressindo pada Juni 1999. Teks LTC menghadirkan tokoh Karti, yang menjadi objek cerita dan mewakili pemikiran wong cWk, pada fenomena sosial kehidupan sehari-hari pada masyarakat Jawa. Tokoh Karti terdeskripsi secara kongkret dalam situasi masyarakat Y ogyakarta pada zaman Orba. Ia merupakan korban ketidakadilan petugas ketertiban wnum dan polisi (Pemerintah). Peristiwa lainnya, di dalam teks LTC, membahas mengenai peristiwa penggusuran tanah yang menimbulkan sengketa antara kelompok kapital melawan kelompok marginal yaitu antara wong gede yang berlaku dumeh berhadapan dengan wong cilik yang bersikap pesimis. Dalam hal ini, peneliti membahas unsur-unsur yang membangun struktur teks LTC, sikap dan pemikiran wong cilik tentang kelas sosial, dan tindakan bijaksana yang diputuskan untuk mengikuti ants perkembangan zaman. Tujuan penelitian 1111 untuk mengungkapkan unsur-unsur yang membangun struktur teks LTC, mengetahui dan memahami sikap dan pemikiran wong cilik tentang kelas sosial yang berkaitan dengan kehidupan di masyarakat, dan mengetahui tindakan yang dilakukan wong cilik dalam kebijaksanaan hidup orang Jawa. Penelitian ini juga untuk menambah pengetahuan sastra, khususnya novel, memberikan swnbangan pemikiran dan wawasan bagi pembaca sastra.
Teori yang digunakan untuk menganalisis penelitian ini adalah teori stmktural dan psikologi sosial. Teori struktural membahas Imsur-lmsur yang membangun teks LTC dan teori psikologi sosial menjelaskan bagaimana proses sosialisasi dan interaksi mentransformasikan kesadaran menjadi realitas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan studi kepustakaan. Dalam menganalisis teks, peneliti mencoba memahami teks serta mengkongkretkannya dengan realitas yang ada di luar teks, dilanjutkan dengan menginterpretasikan dengan gaya interaksi interpretasi. Hasil interaksi ini dihubungkan dengan realitas dan konteks sosial masyarakat.
T okoh Karti mempunyai sikap yang cenderung pesimis dan memiliki pemikiran nrimo. sumeleh karena terpersuasi oleh ketidakadanya kepercayaan diri. Wong cWk, seperti Karti, terbiasa dilemahkan oleh fenomena sosial yang sering kali menindasnya. Hal ini biasa teIjadi di masyarakat. Adanya intimidasi, kesewenang-wenangan wong gede merupakan latar belakang munculnya rasa takut, kebimbangan, kecemasan yang pada akhirnya melahirkan sikap dan pemikiran yang peSlmlS jika berhadapan dengan wong gede (penguasalpemerintah). Hal ini merupakan perilaku terbumk yang melemahkan kehidupan berbangsa dan bemegara. Sebagai tindakan yang paling bijaksana, wong cilik harus menghilangkah kebodohan, dengan beJajar dan bekeIja keras, sehingga kesewenang-wenangan wong gede bisa terimbangi, serta menerapkan kebijaksanaan hidup orang Jawa opo dumeh dalam kehidupan bermasyarakat
- …
