853 research outputs found
Mahkota dewa : budi daya dan pemanfaatannya untuk obat/ Winarto
viii, 88 hal.: ill.; 20 cm
Respons Pembentukan Tunas Aksiler Dan Adventif Pada Kultur Anthurium Secara in Vitro
. Winarto, B. 2007. Response of Axillary and Adventitious Shoot Formation of In Vitro Anthurium Culture. Planting material propagation is one of important problems in anthurium cultivation for commercial purposes. Conventionally, the plant is generally propagated by seed and shoot, however those technique were time consuming. The objective of this experiment was to know response of axillary and adventitious shoot formation of in vitro anthurium culture. The experiment was conducted at Tissue Culture Laboratory, Indonesian Ornamental Crops Research Institute from July 2004 to February 2005. Variation of explant such as first and second node was used for induction of axillary shoot formation, while young root, hypocotyl, and leaf were used for stimulating adventitious shoot regeneration. The explants harvested from several cultivars and accessions of anthurium. Media of M2, M4, and modified-M4 using150 ml/l coconut water, 2.5 mg/l 2,4-D, 2 g/l pantothenic acid, and 50 ppm cefotaxim were used in this experiment. Results of the study indicated that the success of anthurium tissue culture was affected by cultivars, explant type and condition, and growth medium. Each explant and cultivar had its compatibility to different growth media. Adventitious shoot formation was potential and suitable technique to be developed than axillary shoot proliferation. M4 was the appropriate and suitable basic medium that could be developed for in vitro propagation of anthurium. Results of this research could be expected as one of important consideration points in developing and applying tissue culture technique on anthurium propagation
A Library Reseach on Teacher-Students Positive Interaction to Improve Students Motivation to Learn English as a Foreign Language
ABSTRACT Agung Budi Winarto. K2211005, 2016. A Library Research on Teacher-Students Positive Interaction to Improve Students Motivation to Learn English as a Foreign Language. Thesis Supervisor 1: Prof. Dr. Joko Nurkamto, M.Pd, Supervisor 2: Hefy Sulistyawati, S.S., M.Pd. A Thesis. English Education Department, Undergraduate School of Teacher Training and Education Faculty of Sebelas Maret University, Surakarta. The objective of this library research is to identify the way the teachers-students positive interaction in the classroom improves students’ motivation in learning English as foreign language. The method used in this research is library research method. The researcher collected the theories of every variable, teacher-students positive interaction and foreign language learning motivation from several books, journals, articles and web sites. The theories were then critically analyzed by explaining them on the second and third chapter. As the conclusion, the researcher made synthesis from those theories and answered the research problem. The result of the research is that teacher-students positive interaction can improve students’ motivation to learn English as foreign language. The interaction works through intrinsic and extrinsic motivation that is shown on the researcher’s foreign language learning motivation framework. The framework is made by modifying Gardner’s socio-educational model with other theories to make the theory able to be applied in the classroom. In intrinsic motivation, teacher-students interaction works by satisfying deficiency needs introduced by Maslow, and in extrinsic motivation, the interaction works by applying several theories such as expectancy theory, goal theory, and achievement theory to Gardner’s socio-educational model. Considering the results of the research, it can be concluded that the issue of improving students’ motivation is not only about how to initiate it but also how it can be developed and maintained. Those initiation, development, and maintenance can be done through teacher-students positive interaction in the classroom. Keywords: teacher-students positive interaction, students’ motivation, library research
Mahkota dewa : budi daya dan pemanfaatannya untuk obat/ Winarto
viii, 88 hal.: ill.; 20 cm
STUDI KASUS PENANGANAN SISWA TEMPERAMENTAL DAN GEMAR MELAKUKAN KEKERASAN FISIK DENGAN PENDEKATANBEHAVIORISTIK PADASISWA KELAS X SMAN 1 JEKULO KUDUS TAHUN 2012/2013
Budi Winarto. 2013. “Studi Kasus Penanganan Siswa Temperamental dan Gemar Melakukan Kekerasan Fisik dengan Pendekatan Behavioristik Pada Siswa Kelas X SMAN 1 Jekulo Kudus Tahun 2012/2013”.Skripsi Program Studi Bimbingan Dan Konseling Universitas Muria Kudus, Dosen Pembimbing I Drs. Masturi, MM, Dosen Pembimbing II Dr. Sukiman, M.Pd.
Kata Kunci:Konseling Behavior, Melakukan Kekerasan Fisik
Berdasarkan wawancara peneliti dengan guru BK dan siswa kelas X SMA 1 Jekulo pada tanggal 15-17 April 2013 bertempat di ruang BK, diketahui ada sebagian siswa SMA 1 Jekulo Kudus tahun pelajaran 2012/213 yang bersikap temperamental dan gemar melakukan kekerasan fisik dengan gejala-gejala mudah emosi, jengkel, kesal dan temperamental serta gemar melakukan kekerasan fisik. Hal ini disebabkan karena factor lingkungan seperti pola asuh otoriter dan permisif, pergaulan dengan teman sebaya, dan media cetak dan elektronik yang menampilkan kekerasan. Rumusan masalah: “Apakah melalui penerapan konseling behavioristik dapat mengatasi sikap temperamental dan gemar melakukan kekerasan fisik?”. Tujuan penelitian: 1. Menggali fakta-fakta yang menyebabkan sikap temperamental dan gemar melakukan kekerasan fisik. 2. Teratasinya sikap temperamental dan gemar melakukan kekerasan melalui layanan behavioristik.Kegunaan penelitian: 1. Kegunaan Teoritis: Menambah khasanah perpustakaan. 2. Kegunaan Praktis: a. Bagi Kepala Sekolah, sebagai pertimbangan untuk menentukan kebijakan dalam mendukung pelaksanaan program bimbingan dan konseling di sekolah. b. Bagi Konselor, sebagai acuan dalam pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling. c. Bagi Siswa, Membantu mengatasi sikap temperamental dan gemar melakukan kekerasan fisik sehingga dapat bersikap lebih baik lagi.
Jenis penelitian adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studikasus. Teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis data induktif system Bacon, yaitu peneliti mengumpulkan faktor-faktor tentang kondisi konseli, kemudian baru dapat ditarik kesimpulan tertentu atau pemecahan masalah.Subyek penelitian AB, MF, dan JS.
Hasil penelitian: Klien I (AB) bersikap temperamental dan gemar melakukan kekerasan fisik karena ekonomi orang tua kurang mampu dan pola asuh orang tua yang mendidik anak secara bebas. Melalui teknik desensitisasi sistematissikapklien menjadi lebih baik bertutur kata sopan, tidak lagi mengejek teman maupun melakukan kekerasan.Klien II (MF) bersikap temperamental dan melakukan kekerasan fisik karena pola asuh orang tua yang otoriter memaksakan kehendaknya terhadap anak. Melalui konseling behavioristik teknik aversi perilaku klien menjadi lebih baik emosi klien terkontrol dan bersikap sabar. Klien III (JS) berperilaku temperamental dangemar melakukan kekerasan fisik karena orang tua memanjakan klien. Melalui konseling behavioristik teknik sosial modeling perilaku klien menjadi lebih baik emosinya terkontrol dan lebih sabar.
Melalui tiga kali pertemuan maka dapat dilakukan pembahasan pada klien I (AB) melalui teknik desensitisasi sistematis klien memiliki ketegangan-ketegangan yang timbul dari keadaan fisik maupun psikisnya sehingga diperlukan kegiatan yang menyenangkan dan menenangkan klien untuk rileks. Klien II (MF) melalui teknik aversi klien diberikan stimulus reward untuk perbuatan klien yang terpuji dan punishmet ketika klien melakukan kekerasan fisik. Hukuman yang diberikan akan membuat klien jera, sedangkan pemberian penghargaan membuat klien merasa dihargai.Klien III (JS) melalui teknik sosial modeling klien dapat belajar melalui pengalaman langsung dengan mengamati contoh model.
Simpulan faktor internal daneksternal yang mempengaruhi sikap temperamental klien I (AB) frustrasi karena kondisi ekonomi keluraga yang kurang mampu dan pola asuh permisif. Klien II (MF) perasaan tertekan dan pola asuh otoriter. Klien III (JS) sifat individu alistis dan dimanja orang tua. Disarankan kepada; 1. Sekolah, memperhatikan siswa yang menunjukkan gejala sikap temperamental dan gemar melakukan kekekaran fisik dengan cara memberikan layanan konseling behavioristik secara terprogram. 2.Siswa hendaknya bersikap terbuka dan kooperatif terhadap permasalahan yang dihadapi untuk mencari pemecahan masalahnya. 3. Guru BK, untuk memberikan pendampingan terhadap siswa yang bermasalah. 5. Peneliti selanjutnya dapat lebih memperbaiki teknik konseling behavioristik untuk mengentaskan sikap tempera mental dan gemar melakukan kekerasan fisik
Peningkatan Pertumbuhan dan Regenerasi Eksplan Hasil Kultur Anther Anthurium Melalui Perbaikan Media Kultur
ABSTRAK. Regenerasi kalus merupakan bagian yang paling sulit dalam kultur anther anthurium (Anthuriumandraeanum), karena respons pembentukan tunas yang lambat. Studi pertumbuhan dan regenerasi eksplan hasil kulturanther anthurium pada media regenerasi yang berbeda dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Balai PenelitianTanaman Hias dari bulan Januari sampai Desember 2008. Penelitian bertujuan mengetahui respons pertumbuhandan regenerasi variasi eksplan hasil kultur anther anthurium pada media regenerasi yang berbeda. Penelitian inimenggunakan kalus tumbuh lambat, kalus haploid, daun, dan petiol muda tanaman haploid sebagai eksplan. MediumWinarto (MW) dan Winarto-Rachmawati (MWR) merupakan media dasar yang digunakan dalam penelitian ini.Penelitian terdiri atas tiga percobaan untuk mempelajari pertumbuhan dan regenerasi, yaitu (1) kalus tumbuh lambat,(2) kalus haploid pada media regenerasi yang berbeda (MR-1 s/d MR-6), dan (3) daun dan petiol muda dari tanamanhaploid menggunakan medium regenerasi terseleksi. Percobaan pertama dan kedua disusun menggunakan rancanganacak lengkap (RAL), sementara percobaan ketiga disusun menggunakan RAL pola faktorial masing-masing denganempat ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan dan kemampuan regenerasi eksplan hasil kulturanther anthurium berhasil ditingkatkan melalui perbaikan media kultur. Pertumbuhan kalus terbaik dari eksplan kalustumbuh lambat ditemukan pada MR-4, sedang kalus haploid pada MR-1. Jumlah bakal tunas per eksplan mencapaisekitar 20 bakal tunas, tetapi pembentukan tunas tertinggi yaitu 4,8 tunas per eksplan ditemukan pada MR-6. Daunmuda tanaman haploid no. 400 merupakan jenis eksplan dan tanaman haploid dengan respons pembentukan tunastertinggi yang mencapai 6,0 tunas per eksplan dibandingkan eksplan dan tanaman haploid yang lain. Media terseleksihasil penelitian dapat diaplikasikan untuk menyelesaikan masalah regenerasi eksplan pada kultur in vitro anthuriumyang lain.ABSTRACT. Winarto, B. 2010. Increase of Growth and Explants Regeneration Derived from Anther Cultureof Anthurium via the Improvement of Culture Medium. Callus regeneration was an important problem in antherculture of anthurium due to slow response in shoot regeneration. A study of growth and regeneration of explantsderived from anther culture of anthurium in different regeneration media were conducted at Tissue Culture Laboratoryof Indonesian Ornamental Crops Research Institute from January to December 2008. The objective of the researchwas to determine the growth and regeneration of explants on different regeneration media. Slow growth, haploidcallus, young leaf, and petiole of different haploid plants were used in the study, while media of MW and MWRwere two basic media applied in the experiment. There were three experiments in the research i.e. to study thegrowth and regeneration of (1) slow growth, (2) haploid callus on different regeneration media, and (3) young leafand petiole of different haploid plants on selected regeneration medium. The experiment I and II were arranged witha completely randomized design (CRD) and the experiment III used factorial CRD with four replications. Resultsof the studies indicated that growth and regeneration capacity of explants derived from anther culture of anthuriumwere successfully increased via culture medium improvement. The best growth response of slow growth callus wasdetermined on MR-4, while haploid callus was on MR-1. Initial shoots produced per explant were up to ± 20 initialshoots, but the highest shoot number up to 4.8 shoots produced per explant was established on MR-6. Young leavesof haploid plant no. 400 were the appropriate explant and the donor plant in obtaining the highest callus formation,growth and regeneration with 6.0 shoots per explant. The selected media established in the study can be applied toovercome explant regeneration problems in in vitro culture of other anthuriums
Studi Penyiapan Akar Berkualitas Untuk Uji Kromosom Dan Penggandaan Kromosom Planlet Hasil Kultur Anter Anthurium
Pengakaran berkualitas yang sesuai untuk uji kromosom dan penggandaan kromosom merupakan masalah kritikal dalam pengembangan teknologi kultur anter Anthurium. Penelitian bertujuan untuk mengetahui (1) pengaruh media dan arang aktif dalam mempersiapkan akar berkualitas yang sesuai untuk uji kromosom dan (2) pengaruh konsentrasi dan waktu aplikasi kolkisin terhadap keberhasilan penggandaan kromosom. Studi penyiapan akar berualitas dan penggandaan kromosom planlet hasil kultur anter Anthurium telah dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan dan Rumah Kaca, Balai Penelitian Tanaman Hias Segunung dari Bulan Februari sampai September 2009. Pembentukan akar berkualitas yang sesuai untuk uji kromosom dipengaruhi oleh media pengakaran dan penambahan arang aktif. MP-7 [medium Winarto-Teixeira (WT) tanpa hormon yang ditambah 1% arang aktif] merupakan medium induksi pembentukan jumlah dan kualitas akar terbaik dengan 4,5 akar per tunas dan 83% nya ialah akar yang sesuai untuk uji kromosom. MPH-1 [Murashige dan Skoog (MS) yang ditambah 0,2 mg/l N6-benzylaminopurin (BAP) dan 0,02 mg/l asam asetat naftalen (NAA)] merupakan medium pengakaran tunas haploid yang sesuai untuk induksi pembentukan akar hingga 2,5 akar per tunas. Konsentrasi kolkisin 0,25% dengan 7 hari waktu aplikasi dan 0,05% dengan 10 hari periode aplikasi merupakan perlakuan yang sesuai untuk mendapatkan tanaman haploid ganda dengan persentase yang tinggi yaitu 80 dan 76,5% secara berurutan. Ini berarti 19–20 tanaman haploid ganda diperoleh dengan perlakuan tersebut. Hasil penelitian ini sangat bermanfaat terutama dalam mempersiapkan akar berkualitas yang sesuai untuk uji kromosom dan mendapatkan tanaman haploid ganda yang optimal melalui perlakuan kolkisin
KULTUR ANTERA ANTHURIUM: PENGARUH SUKROSA DAN GLUKOSA TERHADAP KEBERHASILAN INDUKSI PEMBENTUKAN KALUS DAN REGENERASINYA
Effect of sucrose and glucose on callus induction and formation, growth and its regeneration was studied in tissue culture laboratory of Indonesian Ornamental Crops Research Institution from January to November 2009. Objective of this study was to know different combination-concentration of sucrose and glucose on callus induction and formation, growth and its regeneration in anther culture of anthurium. Anthers harvested from spadix with 50% of their pistil in optimal receptive, callus derived from them, Winarto and Rachmawati medium containing 1.5 mg/l TDZ, 0.75 mg/l BAP and 0.02 mg/l NAA were used in the study. Sucrose concentrations were (1) 20 g/l, (2) 40 g/l, (3) 60 g/l dan (4) 80 g/l. While glucose concentrations were (1) 0 g/l, (2) 10 g/l, (3) 30 g/l dan (4) 60 g/l. Variation of the concentrations was applied in callus induction, growth and its regeneration studies. Factorial experiment was arranged by completely randomized design with four replications. Results of this research indicate that existence of sucrose in Winarto and Rachmawati medium gave high effect on successful in antera culture of anthurium and its callus regeneration compared to glucose. Increasing sucrose concentration from 30 g/l to 60 g/l had high impact in callus formation, growth and its regeneration. Sucrose of 60 g/l in combination with 30 g/l glucose was the most suitable combination treatment for callus induction and formation with potential growth of antera up to 92%, 67% antera regeneration and 4.0 calluses formed per replication. The sucrose concentration was also to be the best concentration callus growth and its regeneration with 332 mm3 per callus and 3.2 shoots per explant.</jats:p
- …
