56 research outputs found

    Me-Liyan-kan Perempuan dalam Filsafat Relasionalitas Armada Riyanto dan Ata Pe’ang dalam Budaya Manggarai

    No full text
    Focus this paper is comparing the concept of othering women in Armada's Relational Philosophy and the concept of ata pe'ang (outsider) in Manggarai culture. The method used is a critical analysis with a comparative approach between the concept of othering women in Armada's Relational Philosophy and the concept of ata pe'ang in Manggarai culture. The author finds that the label of ata pe'ang has shackled women, thus viewing them as the other. This shackling is rooted in a misunderstanding of the concept of ata pe'ang as intended by the Manggarai ancestors. Relational Philosophy can serve as a critical lens for this reality. Relational philosophy provides a new contribution, namely that ata pe'ang must be viewed as relational subjects, and it critiques the marginalization of women in Manggarai culture. Furthermore, Armada's philosophical concept helps reconstruct unequal cultural practices and affirms that women, as ata pe'ang, can be agents of change in communal life.AbstrakFokus tulisan ini adalah membuat komparasi konsep me-liyan-kan perempuan dalam filsafat Relasionalitas Armada dan konsep ata pe’ang (orang luar) dalam budaya Manggarai. Metode yang digunakan ialah analisis kritis dengan pendekatan komparatif antara konsep me-liyan-kan perempuan filsafat Relasionlitas Armada dan konsep ata pe’ang dalam budaya Manggarai. Penulis menemukan bahwa pelabelan ata pe’ang telah membelenggu kaum perempuan sehingga perempuan dipandang sebagai liyan. Keterbelengguan tersebut berakar pada kesalahpahaman terhadap konsep ata pe’ang sebagaimana dimaksudkan oleh para leluhur orang Manggarai. Filsafat Relasionalitas dapat menjadi lensa kritik terhadap realitas tersebut. Filsafat relasionlitas memberikan sumbangan baru bahwa Ata pe’ang harus dipandang sebagai subjek relasional, filsafat relasionlitas memberikan kritik marginalisasi perempuan dalam budaya Manggarai. Selain itu, konsep filosofis Armada membantu untuk merekonstruksikan kembali praktik budaya yang timpang serta memberikan penegasan bahwa perempuan sebagai ata pe’ang dapat menjadi agen perubahan dalam kehidupan bersama.

    Alat Koreksi Lembar Jawaban Ujian

    No full text
    Kualitas pendidikan yang baik adalah kunci kemajuan suatu negara. Kualitas pendidikan dipengaruhi oleh beberapa faktor . Indikasi kualitas pendidikan yang baik biasanya ditandai dengan kemampuan akademik dari para siswa yang bagus. Untuk mengetahui kemampuan akademik tersebut biasanya diadakan ujian

    Constructing Palm Oil Justice Movements in Indonesia: Citizenship and Collective Identity

    No full text
    The author would like to thank Agustinus Moruk Taek and Putu Agung Nara Indra Prima Satya for their extensive contributions during data collection

    Perancangan Chassis Rail Transfer Trolley dengan Kapasitas 970 kg

    No full text
    Perubahan tata letak material secara manual dengan bantuan peralatan transpotasi rail tranfer traolley dalam industri manufaktur menciptakan pengurangan biaya produksi. Hal ini terjadi pada salah satu industri manufaktur di mana muncul kebutuhan kelancaran proses suplai komponen menuju robot welding station baru. Komponen yang harus disuplai bermassa sekitar 970 kg dengan dimensi berkisar 3440 mm × 955 mm × 180 mm. Jarak asal komponen menuju station hanya sekitar 18 m. Massa yang berat menjadi penghambat jika ditangani tenaga manusia sehingga  perlu dilakukan perancangan alat rail transfer trolley. Penelitian terdahulu sudah melakukan perhitungan elemen mesin rail transfer trolley namun belum ada yang mengkaji sasisnya secara mendalam. Peneletian ini merancang chassis rail transfer trolley dengan analisis perbandingan variasi bentuk penampang material SS400 menggunakan finite element analysis. Dengan berbagai bentuk penampang profil seperti hannel, I-section dan hollow rectangular. Analisis yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui faktor keamanan dan penampang chassis yang paling kuat. Hasil penelitian menunjukkan ketiga variasi penampang chassis memenuhi safety factor minimum 4. Chassis berpenampang I-section memiliki nilai von mises stress terendah yaitu 24,61 MPa dengan nilai safety factor tertinggi yaitu 9,96. Data yang diperoleh dapat digunakan sebagai referensi dalam menentukan material untuk chassis rail transfer trolley.Perubahan tata letak material secara manual dengan bantuan peralatan transpotasi rail tranfer traolley dalam industri manufaktur menciptakan pengurangan biaya produksi. Hal ini terjadi pada salah satu industri manufaktur di mana muncul kebutuhan kelancaran proses suplai komponen menuju robot welding station baru. Komponen yang harus disuplai bermassa sekitar 970 kg dengan dimensi berkisar 3440 mm × 955 mm × 180 mm. Jarak asal komponen menuju station hanya sekitar 18 m. Massa yang berat menjadi penghambat jika ditangani tenaga manusia sehingga  perlu dilakukan perancangan alat rail transfer trolley. Penelitian terdahulu sudah melakukan perhitungan elemen mesin rail transfer trolley namun belum ada yang mengkaji sasisnya secara mendalam. Peneletian ini merancang chassis rail transfer trolley dengan analisis perbandingan variasi bentuk penampang material SS400 menggunakan finite element analysis. Dengan berbagai bentuk penampang profil seperti hannel, I-section dan hollow rectangular. Analisis yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui faktor keamanan dan penampang chassis yang paling kuat. Hasil penelitian menunjukkan ketiga variasi penampang chassis memenuhi safety factor minimum 4. Chassis berpenampang I-section memiliki nilai von mises stress terendah yaitu 24,61 MPa dengan nilai safety factor tertinggi yaitu 9,96. Data yang diperoleh dapat digunakan sebagai referensi dalam menentukan material untuk chassis rail transfer trolley

    Analisis Kekuatan Struktur Pada Desain Traction Rod Lokomotif Kereta Api Dengan Metode Finite Element Analysis (FEA)

    No full text
    The structural strength of locomotive bogies is crucial for bearing operational loads and absorbing engine vibrations to efficiently transmit torque to the train wheels. The traction rod, a critical component in this system, plays a key role in transferring power from the main engine to the locomotive wheels. With the CC300 locomotive engine producing 2.200 hp, the traction rod experiences significant loads, necessitating regular maintenance. Given that this component is currently imported, the company is striving to redesign the traction rod to ensure strong structural integrity for local production, reducing dependency on imports and optimizing maintenance costs. The redesign involves adding structures to the existing design to even out stress distribution and enhance safety factors. Finite Element Analysis (FEA) is utilized to compare the structural strength between the original and redesigned designs, resulting in significant improvements in load-bearing capacity and deformation reduction. Simulation results show variations in stress, deformation, and safety factors among the original design, the redesign by the company, and the redesign by the researchers. The original design exhibits a stress of 194,64 MPa, deformation of 4,2817 mm, and a safety factor of 1,2844. The company\u27s redesign achieves a stress of 438,37 MPa, deformation of 3.4356 mm, with a safety factor of 0,5703. Meanwhile, the researchers\u27 redesign shows a stress of 154,05 MPa, deformation of 4,4812 mm, and a safety factor of 1,6288

    Perancangan Shaking Rig Simulator Irregularities Sarana dan Prasarana Kereta Api

    No full text
    The train is one of the main modes of transportation used in various countries in the world, including Indonesia. The existence of an efficient railway network can support the mobility of people and goods. The safety and comfort of train travel is highly dependent on the condition of the railway facilities and infrastructure. The condition of facilities and infrastructure that meet standards will make the journey smoother and reduce the risk of accidents. With human mobility, the development of public transportation using trains in Indonesia also continues to increase. Damage to train tracks can cause disruption to comfort and endanger safety caused by excessive vibration during train travel, so regular maintenance and repair of the rails is required using a system called the Intelligent Railway Vibration Monitoring System (IRV-MS). The IRV-MS system still needs to be tested because the resulting vibration readings still require validation. The design of this shaking rig simulator is expected to be a solution in terms of vibration testing. This shaking rig can move in a vertical or horizontal linear direction with a linear motor as a driver and produce oscillatory movements. The design of this shaking rig simulator tool uses Solidworks software with 500 mm x 423 mm x 380 mm of dimension and later vibration animation will be simulated in the motion study feature in the software with input parameters of 3-10 Hz with a maximum stroke of 20 mm

    Linear Motion Error Evaluation of Open-Loop CNC Milling Using a Laser Interferometer

    No full text
    The usage of computerised numerical control (CNC) machines requires accuracy verification to ensure the high accuracy of the processed products. This paper introduces an accuracy verification method of an open-loop CNC milling machine using a fringe counting of He-Ne laser interferometry to evaluate the best possible accuracy and functionality. The linear motion accuracy of open-loop CNC milling was evaluated based on the number of pulses from the controller against the actual displacement measured by the He-Ne fringe-counting method. Interval distances between two pulses are also precisely measured using the He-Ne interferometry. The linear motion error and controller error can be simultaneously evaluated in sub-micro accuracy. The linear positioning error due to the micro-stepping driver accuracy of the mini-CNC milling machine was measured with the expanded uncertainty of measurement and was estimated at 240 nm. The experimental results show that linear motion error of the open-loop CNC milling can reach up to 50 μm for 200 mm translation length

    Perancangan Chassis Rail Transfer Trolley dengan Kapasitas 970 kg

    No full text
    Perubahan tata letak material secara manual dengan bantuan peralatan transpotasi rail tranfer traolley dalam industri manufaktur menciptakan pengurangan biaya produksi. Hal ini terjadi pada salah satu industri manufaktur di mana muncul kebutuhan kelancaran proses suplai komponen menuju robot welding station baru. Komponen yang harus disuplai bermassa sekitar 970 kg dengan dimensi berkisar 3440 mm × 955 mm × 180 mm. Jarak asal komponen menuju station hanya sekitar 18 m. Massa yang berat menjadi penghambat jika ditangani tenaga manusia sehingga  perlu dilakukan perancangan alat rail transfer trolley. Penelitian terdahulu sudah melakukan perhitungan elemen mesin rail transfer trolley namun belum ada yang mengkaji sasisnya secara mendalam. Peneletian ini merancang chassis rail transfer trolley dengan analisis perbandingan variasi bentuk penampang material SS400 menggunakan finite element analysis. Dengan berbagai bentuk penampang profil seperti hannel, I-section dan hollow rectangular. Analisis yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui faktor keamanan dan penampang chassis yang paling kuat. Hasil penelitian menunjukkan ketiga variasi penampang chassis memenuhi safety factor minimum 4. Chassis berpenampang I-section memiliki nilai von mises stress terendah yaitu 24,61 MPa dengan nilai safety factor tertinggi yaitu 9,96. Data yang diperoleh dapat digunakan sebagai referensi dalam menentukan material untuk chassis rail transfer trolley.Perubahan tata letak material secara manual dengan bantuan peralatan transpotasi rail tranfer traolley dalam industri manufaktur menciptakan pengurangan biaya produksi. Hal ini terjadi pada salah satu industri manufaktur di mana muncul kebutuhan kelancaran proses suplai komponen menuju robot welding station baru. Komponen yang harus disuplai bermassa sekitar 970 kg dengan dimensi berkisar 3440 mm × 955 mm × 180 mm. Jarak asal komponen menuju station hanya sekitar 18 m. Massa yang berat menjadi penghambat jika ditangani tenaga manusia sehingga  perlu dilakukan perancangan alat rail transfer trolley. Penelitian terdahulu sudah melakukan perhitungan elemen mesin rail transfer trolley namun belum ada yang mengkaji sasisnya secara mendalam. Peneletian ini merancang chassis rail transfer trolley dengan analisis perbandingan variasi bentuk penampang material SS400 menggunakan finite element analysis. Dengan berbagai bentuk penampang profil seperti hannel, I-section dan hollow rectangular. Analisis yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui faktor keamanan dan penampang chassis yang paling kuat. Hasil penelitian menunjukkan ketiga variasi penampang chassis memenuhi safety factor minimum 4. Chassis berpenampang I-section memiliki nilai von mises stress terendah yaitu 24,61 MPa dengan nilai safety factor tertinggi yaitu 9,96. Data yang diperoleh dapat digunakan sebagai referensi dalam menentukan material untuk chassis rail transfer trolley
    corecore