1,721,659 research outputs found
"Analisis Politik Majalah Partisan dan Non-Partisan Pada Periode Kabinet Wilopo, 1952-1953"
Sistem politik Kabinet Wilopo pada tahun 1952-1953 masih merujuk padademokrasi liberal. Terjadi beragam peristiwa politik yang mengiringipembentukan dan pelengseran kabinet. Pemberitaan politik tertuang padamedia partisan partai politik dan non-partisan. Penelitian ini berfokus padastudi kasus Madjalah Hikmah, Madjalah Bintang Merah, Star Weekly.Penelitian ini berupaya mengetahui upaya komunikasi politik editorialMadjalah Hikmah, Madjalah Bintang Merah, dan Star Weekly terhadapkondisi politik periode Wilopo tahun 1952-1953. Studi ini menggunakanpendekatan komunikasi dan teori content analysis (analisis isi) model Ole R.Holsti. Dalam aspek pemberitaan media, content analysis merupakan suatumetode analisis pesan dengan cara mengidentifikasi karakteristik pada pesan-pesan secara sistematis dan objektif. Teori ini dapat menjadi petunjuk dalammelihat dan menganalisis pesan-pesan tertentu. Studi menemukan bahwasejak pembentukan kabinet Wilopo, telah terjadi perbedaan sikap editorial dariketiga majalah. Terdapat lima topik politik yang menjadi konsentrasipemberitaan ketiga majalah tersebut, yaitu meliputi permasalahan penentuankabinet, politik perburuhan, polemik militer, pemilihan umum, dan penyebabkabinet jatuh. Pemberitaan politik Madjalah Hikmah menunjukan partisanMasjumi, Madjalah Bintang Merah partisan PKI, dan Star Weekly merupakannon-partisan
PROGRAM KERJA PEMERINTAHANKABINET WILOPO 1952-1953
Kabinet Wilopo merupakan Kabinet ketiga pada masa demokrasi parlementer di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk; Pertama, mengetahui latar Belakang kehidupan Wilopo, kedua mengetahui proses terbentuknya Kabinet Wilopo, ketiga mengetahui program kerja Kabinet Wilopo dan pelaksanaannya dan yang terakhir untuk mengetahui akhir pemerintahan Kabinet Wilopo.
Penelitian ini menggunakan metodologi penelitian sejarah yang terdiri dari lima tahapan. Tahapan pertama adalah penentuan topik. Berikutnya adalah pengumpulan sumber (heuristic) baik berupa sumber primer maupun sumber
sekunder. Ketiga adalah verifikasi, peneliti perlu melakukan kritik ekstern maupun intern terhadap sumber-sumber yang diperoleh. Selanjutnya adalah interpretasi, yaitu proses penafsiran terhadap fakta-fakta sejarah yang telah ditemukan. Tahapan terakhir adalah Historiografi atau penulisan sejarah, peneliti harus menyusun fakta-fakta sejarah yang diperoleh dan disajikan menjadi cerita
sejarah yang tersusun secara kronologis.
Hasil penelitian ini berisi tentang Wilopo lahir dan besar di Purworejo, Jawa Tengah. Ia dibesarkan oleh Prawirodiharjo yang ternyata bukan ayah kandungnya. Wilopo bekerja sebagai guru dan penulis juga aktif dalam beberapa organisasi pemuda, organisasi politik yang membawanya menjadi menteri dibeberapa kabinet sampai mengantarkannya ke kursi Perdana Menteri pada kabinetnya sendiri. Kabinet Wilopo terbentuk setelah jatuhnya Kabinet Soekiman yang tersandung kasus MSA. Kabinet Wilopo merupakan zaken kabinet, dimana kabinet ini tidak hanya terdiri dari anggota partai, namun juga para ahli yang tidak berpartai. Program kerja pemerintahan Kabinet Wilopo tidak jauh berbeda dengan program kerja kabinet-kabinet sebelumnya. Kabinet ini berusaha menstabilkan
keadaan sosial, politik dan ekonomi negara yang pada saat itu masih labil. Wilopo melakukan beberapa kebijakan pangan dan mendirikan BULOG, mengeluarkan RAPBN, dan membenahi perundang-undangan, Meskipun demikian keberhasilan program kerjanya masih jauh dari yang diharapkan. Kabinet ini akhirnya demisioner akibat peristiwa 17 Oktober 1952 dan peristiwa Tanjung Morawa.
Kata Kunci : Program Kerja, Kabinet Wilopo, 1952-1953
HUBUNGAN SIPIL MILITER PADA MASA KABINET WILOPO (1952-1953)
Betania Sitanggang, Hubungan Sipil Militer Pada Masa Kabinet Wilopo (1952-1953), Skripsi, Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Jakarta. 2024.
Penelitian ini membahas mengenai Hubungan Sipil Militer Pada Masa Kabinet Wilopo (1952-1953). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor dari ketegangan hubungan sipil-militer pada era kabinet Wilopo di Indonesia. Skripsi ini disusun berdasarkan metode penelitian sejarah mencakup lima tahapan yaitu: Pemilihan Topik, Heuristik, Verifikasi, Interpretasi, dan Historiografi. Hasil Penelitian menunjukan bahwa penyebab konflik sipil militer terjadi karena
perbedaan pandangan dalam Revolusi. Pihak sipil meminta perjuangan melalui diplomasi, sementara di pihak militer menginginkan jalur perang. Dengan ini maka terjadilah peristiwa yang membuat hubungan sipil dan militer semakin renggang, seperti kudeta 3 Juli hingga Agresi Militer II. Sampai mencapai puncaknya di periode kabinet Wilopo 1952-1953. Kabinet Wilopo dengan program kerjanya berusaha memperbaiki hubungan sipil dan militer dengan menunjuk Sultan Hamengku Buwono IX sebagai Menteri Pertahanan namun hal tersebut tidak terealisasikan. Kabinet ini malah menghadapi dua peristiwa besar yang melibatkan sipil dan militer yaitu Peristiwa 17 Oktober 1952 dan Peristiwa Tanjung Morawa. Kedua peristiwa ini lah yang membawa Kabinet Wilopo pada kejatuhan, Wilopo mengembalikan mandat kepada presiden tahun 1953.
Kata Kunci: Sipil-Militer, Kabinet Wilopo, Demokrasi Liberal, Konflik
Betania Sitanggang, Civil Military Relations during the Wilopo Cabinet (1952-1953), Undergraduate Thesis, History Education Study Program, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Jakarta. 2024.
This research discusses the Civil-Military Relations during the Wilopo Cabinet (1952-1953). The purpose of this research is to find out the factors of tense civil-military relations during the Wilopo cabinet era in Indonesia. This thesis is
compiled based on historical research methods including five stages, namely: Topic Selection, Heuristics, Verification, Interpretation, and Historiography. The results showed that the cause of civil-military conflict occurred due to differences in views on the Revolution. The civilian side asked for a struggle through diplomacy, while
the military wanted the path of war. With this, events occurred that made civil and military relations increasingly tenuous, such as the July 3 coup to Military Aggression II. It reached its peak in the Wilopo cabinet period 1952-1953. The Wilopo cabinet with its work program tried to improve civil and military relations by appointing Sultan Hamengku Buwono IX as Minister of Defense, but this was not realized. This cabinet instead faced two major events involving civilians and the military, namely the October 17, 1952 Incident and the Tanjung Morawa Incident. These two events brought the Wilopo Cabinet to its downfall, Wilopo
returned the mandate to the president in 1953.
Keywords: Civil-Military, Wilopo Cabinet, Liberal Democracy, Conflict
KEBIJAKAN-KEBIJAKAN PADA MASA PEMERINTAHAN KABINET WILOPO DI INDONESIA TAHUN 1952-1953
Skripsi ini berjudul “Kebijakan-kebijakan pada Masa Pemerintahan Kabinet Wilopo di Indonesia Tahun 1952-1953”. Kabinet Wilopo merupakan kabinet ketiga yang pernah berkuasa di Indonesia. Tujuan penulisan skripsi ini yaitu untuk mengidentifikasi kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan Kabinet Wilopo dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi negara Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah metode historis menurut Helius Sjamsuddin, meliputi pengumpulan sumber (heuristik), kritik sumber, dan historiografi. Ketertarikan penulis terhadap penelitian ini didasarkan pada masa Kabinet Wilopo terjadi peristiwa 17 Oktober 1952 yang merupakan puncak perselisihan antara Pimpinan Angkatan Darat dengan parlemen. Adapun temuan dalam penelitian ini, yaitu bahwa kebijakan Kabinet Wilopo di bidang perburuhan dan ekonomi dipengaruhi oleh latar belakang politik Wilopo yang pernah mengisi jabatan di dua kementerian tersebut. Pemogokan yang sering terjadi sebelumnya dapat diatasi dengan menyusun Undang-Undang Perburuhan yang tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan kaum buruh. Di bidang ekonomi, Kabinet Wilopo mengeluarkan kebijakan ekspor dan impor untuk meningkatkan produksi dan pemenuhan produksi nasional. Kebijakan politik luar negeri Kabinet Wilopo yaitu memperbaiki citra Indonesia yang sempat dianggap memihak ke salah satu kekuatan besar di dunia dengan melanjutkan prinsip politik luar negeri yang bebas aktif. Kemudian dalam mengatasi tuntutan dari aksi 17 Oktober 1952 yaitu diselengarakannya pemilu, maka Kabinet Wilopo menjamin terselesaikannya RUU Pemilu dalam waktu dekat. Berakhirnya Kabinet Wilopo disebabkan oleh penarikan dukungan dari PNI sebagai partai koalisi pemerintahan atas ketidakmampuan pemerintah dalam menyelesaikan persoalan pembebasan lahan di Tanjung Morawa. ;---This thesis entitled "The Policies during the reign of Wilopo Cabinet in Indonesia 1952-1953". Cabinet Wilopo is the third cabinet ever in power in Indonesia.The purpose is to identify the policies of the Cabinet of Wilopo in solved the state problems. The method is the historical method by Helius Sjamsuddin, includes the collection of sources (heuristics), source criticism, and historiography. The authors' interest was based on the incidents on October 17, 1952. The culmination of a dispute between the Army Chief and the parliament. The findings, that the policy of the Wilopo Cabinet on labor and the economy was influenced by Wilopo's politics. The frequent strikes can be overcome by the Labor Act to improve the welfare of the workers. In the economic field, the Wilopo Cabinet issues export and import policies to increase production and fulfill national production. Furthermore, by improving the image of foreign politics that was considered in favor of one of the great powers in the world by continuing the principle of active foreign policy. Then the domestic policy of politics to quickly conducted the general election by completing the Election Bill in the near future which became one of the demands of the action of 17 October 1952.The end of the Cabinet was caused by the withdrawal of support from the PNI as a coalition government party over the government's inability to resolve land acquisition issues in Tanjung Morawa
Pengaruh Lingkungan Kerja dan Budaya Organsasi Terhadap Kepuasan Kerja Karyawan PT Indotama Maju Mandiri (Wilopo Cargo)
Lingkungan kerja meruapakan tempat karyawan Melakukan pekerjaan yang meliputi segala atribut hingga jaringan antar-hubungan anggota di mana menarik untuk diteliti karena dapat memberikan kontribusi pada kepuasan kerja karyawan kemudian budaya organisasi merupakan nilai/ norma yang ditanamkan oleh perusahaan dan dianut bersama sehingga hal tersebut merupakan dua variabel penting untuk mempengaruhi kepuasan kerja yang berupa respon positif karyawan selama bekerja di perusahaan sehinggan tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh lingkungan kerja dan budaya orgganisasi terhadap kepuasan kerja karyawan. Kuesioner penelitian dibuat dengan google form dan disebar secara online terhadap 45 responden yang merupakan karyawan non-manajerial di PT Indotama Maju mandiri (Wilopo Cargo). Analisis data dilakukan dengan metode kuantitatif di mana terdapat dua hipotesis yang akan diuji dengan cara mengkalkulasi data berskala Likert menggunakan PLS-SEM. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik total sampling dimana seluruh populasi penelitian dijadikan sampel peneltian. Metode analisis data yang digunakan oleh peneliti adalah PLS-SEM yang dikalkulasi melalui software SmartPLS 3 dengan prosedur bootstrapping untuk mengukur tingkat sifnifikansinya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lingkungan kerja berpengaruh positif terhadap kepuasan kerja karyawan PT Indotama Maju Mandiri (Wilopo Cargo) dan budaya organisasi berpengaruh positif terhadap kepuasan kerja karyawan PT Indotama Maju mandiri (Wilopo Cargo).
Kata Kunci: Lingkungan kerja, Budaya Organisasi, Kepuasan.
Mei Ie, S.E., M.M
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
- …
