1,720,966 research outputs found
PENGARUH POST WELD HEAT TREATMENT (PWHT) TERHADAP STRUKTUR MIKRO DAN KEKERASAN SAMBUNGAN LAS STAINLESS STEEL
Aplikasi penyambungan dengan cara pengelasan sering dipakai pada struktur baja untuk memenuhi tuntutan desain. Ada beberapa prosedur yang perlu diperhatikan supaya mendapatkan hasil pengelasan yang optimal, salah satunya adalah perlakuan material setelah proses pengelasan. Tujuan penelitian ini adalah menyelidiki pengaruh temperatur post weld heat treatment (PWHT) terhadap struktur mikro dan kekerasan sambungan las stainless steel 301. Bahan utama yang digunakan adalah stainless steel 301, dengan filler E308. Pengelasan dilakukan menggunakan las TIG dengan pendinginan udara sekitar dan kemudian dilakukan post weld heat treatment dengan variasi temperatur 250°C, 450°C dan 650°C dengan media pendinginan air. Pengamatan struktur mikro dan pengujian kekerasan dilakukan pada masing-masing spesimen. Hasil pengamatan struktur mikro menunjukkan bahwa perlakuan post weld heat treatment terhadap stainless steel 301 didominasi adanya ferite dan austenite yang mengalami perubahan bentuk dan ukuran butirnya. Kondisi ini mengakibatkan terjadinya peningkatan nilai kekerasan hasil las pasca perlakuan, yaitu nilai kekerasan tertinggi pada perlakuan dengan temperatur 650°C, yaitu 289,73 VHN
PENGARUH MASUKAN PANAS (HEAT INPUT) TERHADAP KETANGGUHAN IMPAK SAMBUNGAN LAS TIG Al-13,5Si
Sambungan las masih menjadi pilihan utama pada bidang automotif. Hal ini dikarenakan kendaraan menjadi ringan, murah dan cepat dalam proses pengerjaanya. Kekuatan las sangat dipengaruhi oleh komposisi dan sifat logam induk maupun logam pengisi, proses pengelasan, pemanasan serta adanya tegangan sisa. Tujuan penelitian ini adalah menyelidiki pengaruh masukan panas (heat input) terhadap ketangguhan impak sambungan las TIG Al-13,5Si. Penelitian menggunakan bahan Al-13,5Si dan logam pengisi ER5356, dengan variasi masukan panas (heat input) berturut-turut adalah 2970 J/mm, 3300 J/mm dan 3630 J/mm. Pengujian ketangguhan impak dengan menggunakan mesin uji impak charpy, serta didukung dengan foto makro penampang patahan uji impaknya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada masukan panas (heat input) 3300 J/mm, ketangguhan impak las lebih tinggi dibandingkan dengan ketangguhan impak pada masukan panas (heat input) 2970 J/mm dan 3630 J/mm. Hasil foto makro penampang patahan uji impak pada masukan panas (heat input) 3300 J/mm, menunjukkan bentuk patahan lebih didominasi oleh patahan ulet yang ditandai dengan steriasi.
Kata kunci: heat input, TIG, ketangguhan, Al-Si
REKAYASA MESIN PRES GUNA MENINGKATKAN KAPASITAS PRODUKSI UKM LIMBAH TAHU
Limbah tahu (ampas tahu) tersedia cukup melimpah di tempat pengusaha tahu Watukelir, Sukoharjo. Potensi tersebut selain dijual untuk pakan ternak juga dapat diolah menjadi makanan ringan. Permasalahan terjadi yaitu pesanan selalu tidak dapat terpenuhi karena terbatasnya kapasitas produksi yang hanya dilakukan secara manual. Tujuan program ini adalah melakukan rekayasa alat pengepres limbah tahu sebagai upaya untuk meningkatkan kapasitas produksi dari UKM dalam memenuhi permintaan pasar sekaligus meningkatkan pendapatannya. Program ini didahului melalui surve ke UKM guna mendapatkan permasalahan-permasalahan yang ada dan selanjutnya ditindaklanjuti dengan penawaran alternative pemecahannya. Pemecahan yang ditawarkan yaitu berupa rancangan alat pres yang dapat digunakan untuk mengolah limbah tahu tersebut. Hasil dari program ini adalah berupa alat pres limbah tahu dengan ukuran lebar 75 cm dan tinggi105 cm, kapasitas 60 kg/jam. Dari hasil pengujian awal didapatkan hasil yang cukup baik pada alat tersebut yaitu berupa hasil presan yang sudah sangat sedikit kandungan airnya sehingga menjadi lebih mudah untuk diproses selanjutnya, serta kapasitas produksi naik menjadi tiga kali lipat. Kata kunci : Limbah tahu, Pres, UK
PENGARUH JUMLAH LAMINA TERHADAP KEKUATAN BENDING KOMPOSIT SANDWICH SERAT AREN-POLYESTER DENGAN CORE PELEPAH POHON PISANG
Penggunaan serat alam sebagai penguat komposit mempunyai berbagai keunggulan, diantaranya sebagai pengganti serat buatan, harga murah, mampu meredam suara, ramah lingkungan, mempunyai densitas rendah, dan kemampuan mekanik tinggi, yang dapat memenuhi kebutuhan industri. Tujuan penelitian ini adalah untuk menyelidiki peningkatan kinerja kekuatan bending komposit sandwich serat aren-polyester dengan core pelepah pohon pisang dengan variasi jumlah lamina. Penelitian dilakukan dengan bahan utama serat aren, matrik Polyester type 157 BQTN dan G3253T, katalis MEKPO, akselerator Cobalt naphtenate, max way, wax/miror, dan core/inti limbah pelepah pohon pisang. Peralatan yang digunakan adalah alat uji bending, timbangan digital, mikroskop mikro, foto makro dan peralatan fabrikasi komposit. Spesimen uji yang dibuat merupakan komposit jenis sandwich, dengan metoda hand lay up. Jumlah lamina pada lapisan atas adalah 1, 2 dan 3 layer serat aren, sedangkan lapisan bawah adalah 1 layer serat aren. Struktur lapisan komposit sandwich dan fabrikasinya berukuran 0,4 m x 0,6 m. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin banyak jumlah lamina komposit sandwich mengakibatkan kekuatan bendingnya juga semakin meningkat. Kekuatan bending komposit sandwich serat aren-polyeser dengan core pelepah pohon pisang berbanding lurus dengan penambahan variasi jumlah lamina yang diberikan. Kata kunci: bending, komposit sandwich, serat aren-polyeste
THE EFFECT OF ROTATION SPEED ON HARDNESS AND MICROSTRUCTURE OF VERTICAL CENTRIFUGAL CASTING RESULTS OF ALUMINUM ALLOY WITH 3% COPPER ADDITION
Pengecoran sentrifugal merupakan pengecoran yang memanfaatkan putaran untuk memutar cetakan sehingga logam cair dapat mengisi cetakan. Unsur dengan massa jenis yang lebih tinggi akan terdorong ke sisi luar cetakan sedangkan massa jenis yang lebih rendah akan terdorong ke sisi dalam cetakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kecepatan putaran terhadap sifat mekanik dan struktur mikro paduan Al-Si hasil remelting piston bekas yang ditambahkan dengan 3% tembaga. Proses pengecoran sumbu vertikal dilakukan dengan variasi kecepatan putaran 800, 1000, dan 1200 rpm, temperatur penuangan 800 ?C dan suhu pre-heat cetakan 450 ?C. Pengujian yang dilakukan dalam penelitian ini antara lain pengamatan struktur mikro dan kekerasan brinell. Hasil pengamatan struktur mikro menunjukkan nilai kekerasan tertinggi ada pada zona bagian 3 variasi kecepatan 1200 rpm yang nilainya sebesar 98,01 BHN, nilai kekerasan lebih tinggi dibandingkan dengan zona bagian 1 variasi kecepatan 800 rpm yang nilainya 71,30 BHN. Hasil struktur mikro pada zona bagian 3 ukurannya kecil dan rapat, sedangkan pada zona bagian 1 ukuran butir cenderung besar dan renggang. Hasil uji komposisi kimia kandungan tembaga pada hasil pengecoran mengalami peningkatan yang sebelumnya 1,183% menjadi 3,741%.Centrifugal casting is a type of casting that utilizes rotation to spin the mold so that molten metal can fill it. Elements with higher density will be pushed to the outer side of the mold, while those with lower density will be pushed to the inner side. This research aims to determine the effect of rotation speed on the mechanical properties and microstructure of remelted Al-Si alloy pistons with an addition of 3% copper. The vertical axis casting process was carried out with rotation speed variations of 800, 1000, and 1200 rpm, a pouring temperature of 800°C, and a pre-heat mold temperature of 450°C. The tests conducted in this research include microstructure observation and Brinell hardness testing. The microstructure observation results showed that the highest hardness value was in zone part 3 at a rotation speed variation of 1200 RPM, with a value of 98.01 BHN, higher than the hardness value in zone part 1 at a rotation speed variation of 800 RPM, which was 71.30 BHN. The microstructure results in zone part 3 showed small and dense grains, while in zone part 1, the grain size tended to be large and spaced apart. The chemical composition test showed increased copper content in the casting results from the previous 1.183% to 3.741%
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
