1,721,640 research outputs found
ADA MIGAS DI LADANG PETANI BOJONEGORO
Dalam beberapa dekade belakangan, Indonesia menjadi sorotan dunia internasional karena potensi minyak dan gas (migas) yang begitu berlimpah. Industri migas di Indonesia dapat ditemukan di beberapa kawasan, seperti lepas pantai, hutan, dan bahkan wilayah pedesaan. Menurut data Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (1998), potensi migas Indonesia sebagian besar ditemukan di kawasan lepas pantai (offshore) , misalnya di perairan Madura, Kalimantan, dan Aceh. Sedangkan di Kabupaten Bojonegoro, industri migas sebagian besar ditemukan di kawasan pedesaan dan hutan, hanya sebagian kecil yang berada di kawasan perkotaan.
Keberadaan beberapa sumur migas membentuk blok-blok migas di Bojonegoro yang kian hari semakin berkembang jumlahnya. Blok migas tersebut antara lain Blok Cepu, Blok Tuban, Blok Gundih, Blok Nona dan Blok Blora. Dalam setiap blok tersebut terdapat beberapa lapangan migas, misalnya di Blok Cepu terdapat lapangan Banyuurip, Jambaran dan Alastuwo Barat serta Timur. Di Blok Tuban terdapat lapangan Sukowati Pad A dan B, sedangkan di Blok Gundih terdapat lapangan Tiung Biru. Tersebarnya beberapa lapangan migas tersebut sudah mengindikasikan seberapa besar kekayaan alam yang terkandung di perut bumi daerah itu. Kendati angka pastinya masih menjadi perdebatan, namun data yang dihimpun dalam Tabloid Flamma dari beberapa pihak berikut sudah menunjukkan angka yang cukup fantastis. Analisa kandungan migas di Blok Cepu adalah sebagai berikut: (i) menurut anggota DPR RI Drajat Wibowo, kandungan minyak sebesar 700 juta barel dan gas sebesar 3,31 kaki trilyun kubik, (ii) menurut Kwik Kian Gie kandungan minyak sebesar 2 Milyar barel, (iii) menurut ExxonMobil sebesar 250 juta barel dengan kandungan gas yang belum bisa diperkirakan, (iv) serta dari data yang pernah diberitakan kompas sebesar 1,1 Milyar barel di kedalam kurang dari 1.700 meter dan 11 Milyar barel di atas kedalam 2.000 meter .
Awal tahun 2000an, ruang publik masyarakat Bojonegoro mulai dihangatkan dengan akan dimulainya proses eksploitasi cadangan migas yang begitu besar yang selanjutnya dikenal dengan Blok Cepu. Harapan besar mulai muncul, sekalipun tak steril pula dari persoalan. Hampir bersamaan dengan Blok Cepu, dimulai pula aktivitas awal sumur migas di sekitar Kota Bojonegoro yang kemudian dinamai Blok Tuban. Keberadaan dua blok migas tersebut menjadi magnet bagi masyarakat lokal hingga internasional. Pasalnya, Bojonegoro yang selama ini dikenal sebagai kota jati tak lama kemudian menjadi daya tarik tersendiri bagi investor yang berkompetisi memperebutkan kesempatan bisnis migas. Awalnya hanya sayup-sayup terdengar, namun ditemukannya potensi migas Bojonegoro menjadi pemberitaan yang kian menarik bagi media lokal hingga internasional. Migas telah menjadi ikon baru Bojonegoro, hingga media pun menjulukinya sebagai “Indonesia’s texas”.
Kondisi sosial, ekonomi serta budaya masyarakat Bojonegoro sedikit banyak akan terpengaruh geliat industri migas. Keberadaan industri migas di wilayah pedesaan Bojonegoro, akan berhadapan dengan kultur masyarakat agraris, sehingga rentan berakibat pada terjadinya benturan sosial yang intensif. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan kondisi sosial budaya masyarakat desa di lokasi industri migas yang ditandai dengan tingkat pendidikan dan kemampuan ekonomi relatif rendah. Dengan kondisi sosial ekonomi seperti itu, banyak masyarakat yang tidak mampu mengakses manfaat langsung dari keberadaan industri migas di wilayahnya. Tidak hanya itu, perbedaan sosial, ekonomi, dan budaya yang terbentuk antara masyarakat lokal dengan para pendatang cenderung memunculkan kesenjangan serta kantong-kantong masyarakat yang eksklusif. Situasi dan kondisi sosial yang ada di industri migas sangat berpotensi menimbulkan ketegangan sosial baik antara masyarakat dengan pihak pendatang, masyarakat dengan perusahaan migas, antara masyarakat yang tidak mampu dengan masyarakat yang mampu mengakses manfaat langsung dari perusahaan, juga antara masyarakat dengan pemerintah. Pada akhirnya, masyarakat lokal sering hanya menjadi penonton dalam hiruk pikuk industri migas di wilayah mereka sendiri.
Sementara itu, banyak laporan menunjukkan bahwa wilayah Bojonegoro sebagai pemilik potensi migas terbesar, masih menghadapi masalah kemiskinan di wilayah-wilayah berlokasinya sumur migas. Laporan tersebut dapat dilihat pada publikasi penelitian maupun pada situs-situs berita nasional dan internasional. Seperti yang dilaporkan Reuters, Bojonegoro sebagai pemilik cadangan minyak mentah terbesar di Asia Tenggara mencapai 350 juta barel, masih dihadapkan pada persoalan kemiskinan. Laporan tersebut menegaskan bahwa terlepas dari kepemilikan cadangan minyak yang berlimpah, Kabupaten Bojonegoro termasuk dalam peringkat keempat kabupaten termiskin di Propinsi Jawa Timur. Fakta serupa juga diungkap oleh media lokal, Suara Banyuurip, bahwa dari total jumlah penduduk 1,4 juta jiwa, jumlah warga miskin mencapai 128.981 keluarga/rumah tangga miskin.
Laporan ini secara sederhana menggambarkan bahwa di daerah kaya migas sekalipun masih banyak masyarakat miskin yang hidup tidak sejahtera. Di lain pihak, Dana Bagi Hasil (DBH) baru diterima pasca operasional industri migas dilakukan, sementara inflasi sudah terjadi sejak eksplorasi dilakukan. Dengan masih banyaknya masyarakat miskin di kawasan ini, maka terjadinya inflasi akan memicu penurunan taraf kehidupan masyarakat. Belum lagi, kehadiran industri migas dipastikan akan memunculkan kompetisi di antara masyarakat untuk dapat mengakses manfaat langsung. Jika situasi tersebut tidak direspon maka dipastikan ketegangan dan konflik sosial menjadi hal yang tidak terhindarkan. Oleh karena itu, upaya peningkatan kesejahteraan harus segera dilakukan dengan berbagai strategi dan upaya teknis.
Dalam konteks ini, percepatan peningkatan kesejahteraan masyarakat serta kesiapan masyarakat terhadap kehadiran industri menjadi hal yang urgen. Proses pembangunan masyarakat perlu berjalan secara linier dengan pembangunan industri migas dan harus diupayakan berjalan secara berkelanjutan. Hal tersebut berguna untuk meningkatkan partisipasi, kapasitas, serta aksesibilitas masyarakat dalam proses pembangunan, sehingga mereka dapat menerima manfaat langsung dari pembangunan. Masyarakat perlu mengenali kembali potensi-potensi yang ada di wilayahnya dan tidak serta merta menggantungkan kemakmuran dari hasil industri migas
APLIKASI MIKROFOTOGRAFI UNTUK MENGEKSPLORASI JENIS-JENIS CYANOPHYTA
Archiving and dissemination of data , techniques, and observations of Cyanophyta required for optimization of succesfully low plant systematics studies. This paper aims to present the preparation techniques and the results of Cyanophyta algae observing with light microscope and digitaly camera. Sources accurate specimen was also informed by the author repeatedly experience in organizing learning plant systematics. Preparation and microscopic observation Cyanophyta consists of preparation of accurate source of specimens , microscopic observation to obtain optimum picture of the object and focus , shooting or recording images using a digital camera. The image files are stored and are equipped with a scale.Results of preparation , observation and shooting showed that cells and colonies all Cyanophyta (Oscillatoria , Anabaena , Nostoc ) has a similar size range that requires preparation to optimize the use of the same light microscop . Cells of Cyanophyta colonies can be seen clearly in the eyepiece magnification of 10x and 40x objective. Less than that magnification, The thalus of Cyanophyta difficult to observe because of the relatively small cell size compared to the size of eukaryotic cells. By shooting with digitaly camera, microscopy observation images can be captured as digital specimen. Observing the digitaly specimen does not change depending on season and time. The digital images can also be analyzed and studied further
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
MONITORING OF PATIENT WITH DIABETES MELLITUS
Diabetes mellitus is a disease characterized by hyperglycemia, which is caused by impaired insulin secretion, impaired insulin action, or both. Chronic hyperglycemia will lead to dysfunction and damage to various organs, such as the eyes, kidneys, nerves, heart, and blood vessels.
This paper discusses the monitoring of patients with diabetes mellitus according to the laboratory tests, to know when the results of therapy has reached the optimum point as well as the prevention of complications that can occur
PENGELOLAAN SANGGAR KEGIATAN BELAJAR (SKB) PADA ERA OTONOMI DAERAH
This study aimed to describe the management implementation of Learning Activities Gallery (LAG) in the autonomy era. Description of Non-formal Education program management, Human Resources management, and financial management. Its purpose is able to create (1) facilities and able to bridge regions to the center, (2) the emergence of creativity in the construc-tion area, (3) political stability and regional centers, (4) the assurance of business continuity, and (5) open communication. But in fact the management of LAG was facing problems regarding the amount of funding that was not sufficient, human resources was not professional, and the prog-ram did not develop. Research used qualitative case studies approach of various problems in some LAG. Then dialogic analyzed by Milles and Huberman included; data collection, data reduc-tion, data display and conclusions. The study found that LAG management in the autonomy era, there was already successful and the support of the local government, but most of the LAG was not growing even threatened dissolved or merged. LAG institutional management were not well developed caused by the lack of professional Human Resources, the lack of funding support. So from some of these problems were concluded that LAG management in the era of regional auto-nomy had a tendency to decrease or even unprofessional. Regional autonomy must consider LAG as a unit organizer non-formal and informal education programs with the full support of the government both funds and human resources professionals
Pengaruh Perlakuan Amalgamasi Terhadap Tingkat Perolehan Emas dan Kehilangan Merkuri
Sampel bijih emas hasil dari penambangan secara selektif “pertambangan rakyat” di Waluran, Sukabumi telah digunakan sebagai bahan percobaan amalgamasi. Tujuan percobaan untuk memperoleh pola kecenderungan (trend) pengaruh dari faktor kadar umpan dan perlakuan amalgamasi terhadap tingkat perolehan (recovery) logam emas dan kehilangan merkuri (Hg). Percobaan dilaksanakan berdasarkan disain faktorial 2 level dari 2 faktor. Perlakuan amalgamasi hanya ditekankan pada faktor kadar umpan proses (bijih emas berkadar rendah dan bijih emas berkadar tinggi) dan faktor waktu proses amalgamasi (cara langsung dan cara tidak langsung) sehubungan dengan waktu memasukkan merkuri ke dalam amalgamator. Kedua faktor tersebut ditetapkan sebagai variabel independent, sedangkan tingkat perolehan logam emas dan kehilangan merkuri selama proses amalgamasi ditetapkan sebagai variabel dependent. Hasil percobaan mengindikasikan bahwa faktor perlakuan amalgamasi sehubungan dengan waktu memasukkan merkuri ke dalam amalgamator cara tidak langsung lebih dominan berpengaruh dibandingkan faktor kadar umpan proses. Dengan cara tersebut, baik untuk bijih emas berkadar rendah maupun yang berkadar tinggi memberikan pola kecenderungan meningkatkan perolehan logam emas dan pola kecenderungan menekan tingkat kehilangan merkuri. Proses amalgamasi dengan cara tidak langsung lebih baik dibandingkan dengan cara langsung, dan mampu meningkatkan perolehan logam emas hingga 14,580 % dan menekan tingkat kehilangan merkuri hingga 3,933 %. Hasil percobaan amalgamasi ini, diharapkan dapat digunakan sebagai bahan acuan dalam perencanaan percobaan amalgamasi maupun penerapannya dalam industri pertambangan emas
A Discovery and Characteristics Description of Telosma puberula (Asclepiadoideae) in Mount Gedang Atas and Mount Ijo, Baturagung Mountain Yogyakarta
Population of Telosma puberula in community forest bushes was identified at S.07.48'.44.1"; E.110.31.15.8", 411m, Mount Gedang Atas and S 070 04 '04.1"; E 1100 30 '47.9 ", 415m, Mount Ijo. Telosma puberula was also found in Mount Parangan, Mount Mintorogo, Mount Nglanggeran, and Baturagung Mountains Yogyakarta. The identification was based on herbarium specimens collected by Horsfield in 1802 and 1859 from Java island, Indonesia (K000873052, K000873053). Information about Telosma puberula is very limited. This article describe photographs of morphological characters of the plant’s stems, leaves, flowers, and pollinia.</p
- …
