197 research outputs found

    Determinan Pemilihan Program Keahlian Di SMK Negeri 2 Cilacap

    Get PDF
    BAMBANG WIDJONARKO. Determinan Pemilihan Program Keahlian di SMKN 2 Cilacap, Tesis, Program Studi Magister Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Tahun 2017 Munculnya fenomena perbedaan jumlah peminat antar program keahlian yang sangat mencolok hampir di setiap penerimaan siswa baru, dimana ada program keahlian yang sangat banyak peminatnya, namun ada pula program keahlian yang sangat sedikit peminatnya, adalah masalah klasik yang perlu dicarikan solusinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hal-hal apa saja yang menjadi faktor penentu (determinan) pada pemilihan jurusan di SMKN2 Cilacap sehingga dapat disusun strategi yang tepat pada saat penerimaan calon siswa baru agar diperoleh calon siswa (input) yang sebaik-baiknya. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah kualitatif. Sumber informasi (informan) utamanya adalah siswa SMKN 2 Cilacap berjumlah 4 kelas, mewakili 2 angkatan, dan dari tiap angkatan terdapat program keahlian yang banyak peminat maupun sedikit peminat. Sebagai sumber informasi tambahan adalah kepala sekolah dan beberapa orang guru atau pejabat terkait yang dipandang tepat sebagai sumber informasi, serta dari dokumentasi data yang terkait pula. Teknik pengumpulan data dengan angket,wawancara, observasi, dan dokumentasi. Dari temuan data penelitian dan analisisnya didapatkan kesimpulan bahwa ada beberapa determinan pemilihan paket keahlian, yaitu: (1)Motivasi eksternal, berupa dorongan /arahan /dukungan /inspirasi dari orang tua /saudara; ajakan teman; inspirasi dari kakak kelas atau tetangga alumnus program keahlian yang sama; (2)Motivasi internal, berupa minat, cita-cita, dan keinginan setelah lulus bisa lansung kerja; (3)Pengetahuan atau informasi tentang program keahlian; (4)Persepsi tentang program keahlian; (5)Kompetensi dan prestasi, berupa NEM atau nilai ijasah; hasil tes khusus; dan nilai atau bobot piagam penghargaan; (6)Jenis kelamin; (7)Kondisi fisik, meliputi tinggi badan dan buta warna atau tidak. Dari beberapa determinan di atas, khususnya dari informasi dan persepsi yang salah, muncul beberapa implikasi, diantaranya yaitu: (1)Paket Keahlian yang kurang peminat bisa makin berkurang peminatnya; (2)Adanya siswa yang bermasalah saat proses KBM jika proses masuknya cenderung dipaksa oleh orang tuanya untuk memilih prodi yang tidak diminatinya; (3)Muncul kekecewaan pada siswa tahun pertama prodi favorit karena persepsi yang salah atau ekspetasi yang berlebih terhadap prodi favorit yang dipilihnya. Berdasarkan hasil dan simpulan pada penelitian ini ada beberapa saran yang perlu penulis sampaikan yaitu: (1) Tingkatkan kegiatan penyebaran informasi dan promosi agar pengetahuan yang diterima oleh calon siswa maupun orang tua serta persepsi yang muncul setelahnya menjadi relatif lebih tepat, sehingga pilihan program studi yang dipilih oleh calon siswa merupakan pilihan yang tepat dan terbaik bagi calon siswa tersebut. Penyebaran informasi tersebut sebaiknya dilaksanakan secara terprogram dan terencana, dengan berbagai teknik, media, maupun sumber daya yang ada, baik secara kontinyu maupun pada waktu atau momen tertentu. (2) Berikan kesempatan, motivasi dan dorongan yang sebesar-besarnya kepada Kaprodi, khususnya prodi yang sedikit peminat, untuk dapat mengelola dan mengembangkan program keahlian yang dipimpinnya semaksimal mungkin agar menghasilkan lulusan seperti yang diharapkan sehingga calon siswa berikutnya akan lebih berminat terhadap program keahlian tersebut. (3) Berikan perhatian khusus terhadap perkembangan belajar siswa yang masuknya diketahui karena terpaksa

    Rancangan Pembelajaran Semester Program Studi S1 Teknik Elektro Manajemen Proyek dan Keselamatan Kerja

    No full text
    Rancangan Pembelajaran Semester Program Studi S1 Teknik Elektro Manajemen Proyek dan Keselamatan Kerj

    Petunjuk Praktikum Sistem Kontrol

    No full text
    Secara definitif, PID Controller adalah salah satu dari sekian jenis kontrol yang paling mudah untuk dilakukan pengaturan dan memiliki konsep yang sederhana. Selain itu, konsep PID juga memiliki proses pengolahan data yang cepat serta secara konsep dapat digabungkan dengan berbagai jenis model pengendalian seperti Fuzzy, ANN dan beberapa jenis kontrol lainnya Sshingga akan menjadi suatu sistem pengatur yang semakin baik

    Modul Ajar Elektronika Industri dan Otomasi

    No full text
    Secara umum, rangkaian elektrik didefinisikan sebagai sebuah jalur listrik ataupun rangkaian listrik yang didalamnya dialiri oleh listrik. Namun secara khusus rangkaian elektrik dapat diartikan sebagai sebuah susunan dari komponen kelistrikan yang memiliki tugas khusus untuk diselesaikan, sehingga tidak sebatas pada perlengkapan elektronik yang biasa kita pegang saat ini. Beberapa aplikasi dari rangkaian elektrik yang diterapkan didunia industri diantara lain adalah seperti sistem sortir barang dengan kamera, sistem robot penghantar otomatis, sistem lampu merah, sistem pengapian bahan bakar kereta otomatis dan masih banyak yang lainnya. Tetapi lebih luasnya lagi diaplikasikan didunia industri. Bahkan apabila dibandingkan teknologi yang sering kita pegang, apabila dilihat dari sisi kemajuan teknologi, justru di dunia industri kemajuan itu sangat pesat. Hal inilah yang kemudian mendengungkan kepada kita sebuah istilah yang disebut dengan revolusi industri

    MENUJU PEMBIAYAAN PRASARANA KOTA BERBIAYA TAK KEMBALI (Studi Kasus Jalan Lokal Kota Semarang)

    Get PDF
    As a public service provider the government faces a problem of sustainability of infrastructure services due to the budget constraint for operating and maintenance the infrastructure, especially for non cost recovery infrastructure such as road and drainage. The provider cannot directly charge the user for the usage of the non cost recovery infrastructure. The fund to operate and maintain the non cost recovery infrastructure is funded by tax. Therefore the government faces the sustainability problem for operating and maintenance the non cost recovery infrastructure. Based on that condition, the researcher needs to investigate the infrastructure sustainable fund and choose local road in Semarang City as a case study The road has an important role for regional development and so it does for Semarang City. Unfortunately this strategic role is not followed by well operated road management which is indicated by the increasing number of damaged road. In 1993 to 2004 the number of damaged road increases from 7.1% to 23% (BPS Kota Semarang, 1993-2004). It will directly imply for road user by increasing cost of fuel and decreasing safety and amenity. An interesting phenomenon which is used for research background is that most of damaged roads is local road which is locally managed by the government of Semarang City. On the contrary for neighborhood road which is managed by community is on good condition and well managed by the community it self. For this phenomenon the researcher need to investigate wether the community willing or not willing to financially participate for operating and maintenance the local road. This is interesting to be investigated because the damaged road will directly imply for their welfare. Severe damaged road meaning more social cost that should be paid by them. If the community receive the benefit of good road pavement, why does the government not involve the community to financially participate for operating and maintenance of local road in Semarang City? To address that research question, Contingent Valuation Method (CVM) is used to explore community willingness to finance the operating and maintenance cost. CVM is one of many methods use to valuing public good trough people’s stated preference. Variables to be examined are demographic variables, cost of fuel and service. The result is 53.33% of the people in Semarang City are willing to pay for financing operating and maintenance of local road by Rp 500 per months. The funds must be managed by an accountable and transparent independent institution. The conception for infrastructure sustainable funds is adopted from neighborhood infrastructure development, using finance sharing model between government and community to build road maintenance funds which is managed by community itself trough local independenden institution. Pemerintah sebagai penyedia prasarana kota menghadapi masalah sustainabilitas layanan prasarana, hal ini disebabkan minimnya dana untuk operasi dan pemeliharaan prasarana kota, khususnya untuk prasarana kota yang berbiaya tak kembali, seperti jalan dan drainase. Sebagaimana diketahui bahwa pembiayaan operasi dan pemeliharaan untuk prasarana berbiaya tak kembali diambil secara tidak langsung melalui pajak, berbeda dengan prasarana yang berbiaya kembali yang dapat dibebankan secara langsung kepada masyarakat (pengguna) melalui tarif yang sesuai dengan penggunaan, sehingga mempunyai peluang sustainabilitas yang lebih baik dibanding dengan yang berbiaya tak kembali. Padahal jika dilihat dari peran yang dimiliki prasarana berbiaya tak kembali mempunyai peran yang tidak kalah pentingnya bagi masyarakat, namun karena karakteristik penggunaannya yang bebas, menjadikan proses pembiayaan tidak dapat dibebankan secara langsung kepada pengguna. Bertitik tolak dari hal tersebut, maka peneliti ingin mengetahui bagaimana keberlanjutan pembiayaan prasarana kota yang berbiaya tak kembali, dengan mengambil contoh kasus pada jalan lokal di Kota Semarang. Jalan sebagai prasarana transportasi memegang peran penting dalam pembangunan wilayah, termasuk di Kota Semarang. Tetapi sayangnya peran strategis jalan tidak diimbangi dengan kemampuan penyelenggaraan jalan yang baik, hal ini dapat diindikasikan dengan tingkat kerusakan jalan yang tinggi. Berdasarkan data BPS Kota Semarang, terjadi kenaikan jumlah jalan yang rusak dari 7,1% hingga 23% dari tahun 1993 hingga tahun 2004. Kerusakan permukaan jalan akan berpengaruh secara langsung kepada para pengguna jalan (kendaraan bermotor), antara lain waktu tempuh yang lebih lama, meningkatkan biaya bahan bakar, berkurangnya faktor keamanan dan kenyamanan. Fenomena yang cukup menarik sebagai dasar pijakan dalam penelitian ini adalah bahwa kondisi jalan yang rusak sebagian besar adalah jalan lokal yang kewenangan penyelenggaraannya ada pada Pemerintah Kota Semarang, sedangkan jalan pada lingkungan permukiman kondisinya bagus, karena masyarakat secara mandiri mengelola jalan tersebut. Berdasarkan pada fenomena tersebut, maka peneliti ingin meneliti apakah masyarakat di Kota Semarang mau berperan secara finansial dalam penyelenggaraan jalan lokal, khususnya untuk pembiayaan operasi dan pemeliharaan jalan? Fenomena ini menarik untuk diteliti karena biaya sosial yang (mungkin) timbul akan semakin tinggi jika kondisi jalan semakin rusak dan pada akhirnya dapat berpengaruh terhadap kesejahteraan mereka. Jika masyarakat mendapatkan manfaat yang besar dari kualitas jalan yang baik, mengapa pemerintah tidak berusaha mengeluarkan kebijakan untuk meningkatkan peranan masyarakat dalam penyelenggaraan jalan, mengapa pemerintah tidak mengajak masyarakat untuk bersama-sama menanggung biaya operasi dan pemeliharaan jalan. ”Contingent Valuation Method” (CVM) suatu pendekatan untuk kuantifikasi nilai barang publik digunakan peneliti sebagai alat untuk mengidentifikasi besaran kemauan membayar masyarakat. Prinsip utama dalam metode ini adalah pada penentuan preferensi responden berkaitan dengan kemauan masyarakat membayar biaya operasi dan pemeliharaan jalan. Variabel-variabel yang akan diteliti antara lain, variabel demografi dan variabel pengeluaran untuk operasional kendaraan (BBM dan servis). Hasil dari penelitian didapat bahwa 53,33% responden menyatakan bersedia terlibat secara finansial dalam operasi dan pemeliharaan jalan dengan nilai rata-rata kemauan membayar sebesar Rp 500/bulan, dengan syarat harus dikelola secara transparan dan akuntabel oleh institusi independen. Dikaitkan dengan keberlanjutan pembiayaan prasarana kota berbiaya tak kembali, maka konsepsi awal berdasarkan pada kondisi dan karakteristik masyarakat di Kota Semarang yang menginginkan transparansi pengelolaan keuangan, maka konsepsi pembiayaan yang diusulkan mengadopsi konsepsi pembangunan prasarana pada lingkungan RT, dengan model pembiayaan bersama antara pemerintah dan masyarakat dalam bentuk dana pemeliharaan jalan yang dikelola oleh satu lembaga yang independen, akuntabel dan transparan dalam pengelolaan keuangan, dengan kontrol penuh oleh masyarakat

    Rancangan Pembelajaran Semester Berbasis Obe (Outcome Based Education) Elektronika Industri dan Otomatisasi

    No full text
    Mata kuliah ini menjelaskan tentang cara kerja tentang beberapa pengetahuan dasar yang dapat digunakan untuk memahami, merancang dan mengimplementasikan rangkaian elektrik dibidang instrumentasi dan dunia industri

    Komoditas Unggulan Tanaman Pangan Untuk Mendukung Perekonomian Wilayah Kabupaten Indramayu

    Get PDF
    Regional development is a general effort to reduce regional disparities by supporting economic activities in regions. Regional development is also a strategy to utilize the internal and external factors to increase production of goods and services. Economic aspect can be used as an indicator to determine whether the regional development is success. Regional economic growth will be determined by the natural resources and demand for its poducts or commodities. Economic activity in developing-countries, depends on the agricultural sector. This sector has a great contribution to economic growth in most of regions. The economic growth of Kabupaten Indramayu depends on its agricultural activities as well, especially food crops agriculture. The food crops production of Kabupaten Indramayu is able to supply the national needs. Rice, corn, cassava, sweet potatoes, soybeans, peanuts and mung beans are the 7 commodities of food crops in Kabupaten Indramayu. Based on the research conducted by quantitative methods using Location Quotient analysis, Shift Share analysis and Domestic Resource Costs analysis, were found that rice and soybean are the region’s flagship commodities. Meanwhile, based on SWOT analysis, was found that improving the quality and quantity of irrigation infrastructures; improving the quality and quantity of human resources; applying modern agriculture methods; and paying attention to the land conversions, become the main strategies in developing flagship commodities of food crops

    Rancangan Pembelajaran Semester Berbasis Obe (Outcome Based Education) Energi Terbarukan dan Energi Alternatif

    No full text
    Pembelajaran matakuliah energi terbarukan dan energi alternatif meliputi konsep dasar teori tentang pengonversian beberapa sumber energi seperti, energi matahari, energi air, energi panas bumi, nuklir, biogas, fuel cell, biomasa dan biofuel. Selain itu pada matakuliah ini, mahasiswa juga diberikan pengetahuan tentang konsep dasar pemodelan dan kendali sumber energi terbarukan serta rekayasa energi baik dengan konsep single energy resource, hybrid energy resource dan kombinasi energi terbarukan dan energi alternatif dalam berbagai bidang

    Petunjuk Praktikum Otomatisasi PLC

    No full text
    Buku Petunjuk Praktikum Sistem Otomatisasi PLC disusun sebagai perangkat pembelajaran mata praktikum Sistem Kontrol serta pegangan pelaksanaan praktikum bagi mahasiswa praktikan maupun dosen pengampu di Laboratorium Sistem Kendali
    corecore