29 research outputs found
SPIRIT DARI RUMAH GAYA JENGKI ULASAN TENTANG BENTUK ESTETIKA DAN MAKNA
This paper began from writer's concern regarding the decrease in Jengki style houses and threatened to be lost from our sight. Whereas, this Indonesian house or architectural style had coloured the big cities and even the small cities back in the sixties till the seventies. This had triggered the writer to attempt to present the Jengki house style regarding its form, aesthetics, and its meaning. Based on several concept approaches such as form follows function, eclectic concept, and art (architecture) as an expressive symbol, it is hoped that Jengki style houses could be revived in its former position of dominance in Indonesian architecture, in other words, not forgotten just like that. But more than that, it could promote the spirit in giving rebirth to unique Indonesian styles in houses and architecture.
Abstract in Bahasa Indonesia :
Tulisan ini berawal dari keprihatinan penulis karena semakin berkurangnya rumah gaya jengki, dan terancam lenyap dari pandangan. Padahal rumah gaya Jengki pada tahun 60-an sampai dengan 70-an pernah mewarnai tampilan kota-kota besar bahkan kota-kota kecil di Indonesia. Untuk itu penulis mencoba mengetengahkan rumah gaya jengki dilihat dari sisi bentuk, estetika, dan maknanya. Menggunakan pendekatan beberapa konsep seperti form follows function, konsep eklektik, dan seni (arsitektur) sebagai ekspresi simbol, dengan harapan dapat mendudukkan rumah gaya jengki pada tempat sewajarnya dalam ranah arsitektur Indonesia. Artinya tidak dilupakan begitu saja. Namun lebih dari itu, dapat diambil spiritnya dalam konteks melahirkan gaya rumah atau arsitektur yang khas Indonesia.
Kata kunci: rumah gaya jengki, bentuk, estetika, makn
PERSEPSI DESAINER INTERIOR DI SURAKARTA DALAM MENGHADAPI PERSAINGAN PASAR BEBAS DAN MENYIKAPI HKI PADA ERA GLOBALISASI (Kajian dengan Pardigma Hermeneutik)
this reserach was based on the growing discourse some interior designers in SUrakarta regarding to the future competition in the free trade. ther rise f plagiarism recenly makes them realize the need of legal protection for their master pieces. even more in the globalization era when the world has no limit, it will hard to conquer the competition and privacy.
the reserach obtained interesting data on the perception of sme interior designer in surakarta and interpretation of the observer, the preatitioners of intelectual property right (IPR), interior service user, as well as observes who understand the economic, cultural, and globalization. it is found that the most of interior designers might have been ready to respond the callenges of the free trade, with the need of IPR manual. however, there are some designers who refuse it because of its effectiveness. interior designer in surakarta who were interviewed in this reserach have egreed to explore and develop the local culture to compete at the global leve
KROBONGAN RUANG SAKRAL RUMAH TRADISI JAWA
Krobongan located in dalem at Java tradition house is room equiped with langse (gordyn), bed, bolster and pillow, lamp, decorated in such of way, do not use for daily sleep, but for the first night nuptials sleep, heirloom saving place, rice plant seed saving place, and supply of prosperity divice. Krobongan assumed as sacred room which only dedicated to mbok Sri or Goddess Sri representing agriculture goddess, prosperity, bliss and fertility. Tradition make of krobongan as that sacred house at Java the rising generation this time have next to nothing. But tradition make of holy room require to be continued although with different function, meaning and form.
Abstract in Bahasa Indonesia :
Krobongan yang terletak di dalem pada rumah tradisi Jawa adalah ruang yang dilengkapi dengan langse (gordyn), tempat tidur, bantal dan guling, lampu, didekorasi sedemikian indahnya, tidak digunakan untuk tidur sehari-hari, tetapi untuk tidur malam pertama pengantin, tempat menyimpan pusaka, tempat menyimpan benih padi, dan perlengkapan lambang kesejahteraan. Krobongan dianggap ruang sakral yang hanya dipersembahkan kepada sosok mbok Sri atau Dewi Sri yang merupakan dewi pertanian, kesejahteraan, kebahagiaan dan kesuburan. Tradisi membuat krobongan sebagai ruang sakral itu pada generasi muda Jawa sekarang ini sudah hampir tidak ada. Namun tradisi membuat ruang yang suci perlu diteruskan walaupun dengan fungsi, bentuk dan makna yang berbeda.
Kata kunci : Krobongan, ruang sakral, tempat dewi pertanian, kebahagian dan kesuburan
SPIRIT DARI RUMAH GAYA JENGKI ULASAN TENTANG BENTUK ESTETIKA DAN MAKNA
This paper began from writer's concern regarding the decrease in Jengki style houses and threatened to be lost from our sight. Whereas, this Indonesian house or architectural style had coloured the big cities and even the small cities back in the sixties till the seventies. This had triggered the writer to attempt to present the Jengki house style regarding its form, aesthetics, and its meaning. Based on several concept approaches such as form follows function, eclectic concept, and art (architecture) as an expressive symbol, it is hoped that Jengki style houses could be revived in its former position of dominance in Indonesian architecture, in other words, not forgotten just like that. But more than that, it could promote the spirit in giving rebirth to unique Indonesian styles in houses and architecture.
Abstract in Bahasa Indonesia :
Tulisan ini berawal dari keprihatinan penulis karena semakin berkurangnya rumah gaya jengki, dan terancam lenyap dari pandangan. Padahal rumah gaya Jengki pada tahun 60-an sampai dengan 70-an pernah mewarnai tampilan kota-kota besar bahkan kota-kota kecil di Indonesia. Untuk itu penulis mencoba mengetengahkan rumah gaya jengki dilihat dari sisi bentuk, estetika, dan maknanya. Menggunakan pendekatan beberapa konsep seperti form follows function, konsep eklektik, dan seni (arsitektur) sebagai ekspresi simbol, dengan harapan dapat mendudukkan rumah gaya jengki pada tempat sewajarnya dalam ranah arsitektur Indonesia. Artinya tidak dilupakan begitu saja. Namun lebih dari itu, dapat diambil spiritnya dalam konteks melahirkan gaya rumah atau arsitektur yang khas Indonesia.
Kata kunci: rumah gaya jengki, bentuk, estetika, makn
KROBONGAN RUANG SAKRAL RUMAH TRADISI JAWA
Krobongan located in dalem at Java tradition house is room equiped with langse (gordyn), bed, bolster and pillow, lamp, decorated in such of way, do not use for daily sleep, but for the first night nuptials sleep, heirloom saving place, rice plant seed saving place, and supply of prosperity divice. Krobongan assumed as sacred room which only dedicated to mbok Sri or Goddess Sri representing agriculture goddess, prosperity, bliss and fertility. Tradition make of krobongan as that sacred house at Java the rising generation this time have next to nothing. But tradition make of holy room require to be continued although with different function, meaning and form.
Abstract in Bahasa Indonesia :
Krobongan yang terletak di dalem pada rumah tradisi Jawa adalah ruang yang dilengkapi dengan langse (gordyn), tempat tidur, bantal dan guling, lampu, didekorasi sedemikian indahnya, tidak digunakan untuk tidur sehari-hari, tetapi untuk tidur malam pertama pengantin, tempat menyimpan pusaka, tempat menyimpan benih padi, dan perlengkapan lambang kesejahteraan. Krobongan dianggap ruang sakral yang hanya dipersembahkan kepada sosok mbok Sri atau Dewi Sri yang merupakan dewi pertanian, kesejahteraan, kebahagiaan dan kesuburan. Tradisi membuat krobongan sebagai ruang sakral itu pada generasi muda Jawa sekarang ini sudah hampir tidak ada. Namun tradisi membuat ruang yang suci perlu diteruskan walaupun dengan fungsi, bentuk dan makna yang berbeda.
Kata kunci : Krobongan, ruang sakral, tempat dewi pertanian, kebahagian dan kesuburan
ESTETIKA BARANG KAGUNAN INTERIOR DALEM AGENG DI RUMAH KAPANGÉRANAN KERATON SURAKARTA
ABSTRAK
Disertasi dengan judul “Estetika Barang Kagunan Interior Dalem
Ageng di Rumah Kapangéranan Keraton Surakarta” ini, berangkat dari keprihatinan adanya ungkapan
wong Jawa ilang omahé –orang Jawa kehilangan rumahnya. Bila rumahnya sudah hilang bagaimana dengan
interior dan barang kagunan atau benda seninya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pentingnya
barang kagunan, mengkaji rupa, mengungkap makna, menggali konsep estetika, dan melihat serta
mengkreasi barang kagunan saat ini dengan konsep estetika yang ditemukan.
Berdasarkan tujuan itu dilakukan penelitian secara kualitatif dengan meminjam model etik dan emik
untuk menggali konsep estetika, serta hermeneutik terkait tafsir makna barang kagunan. Hasil dan
pembahasan penelitian yakni 1) pentingnya barang kagunan sebagai penciri interior Dalem Ageng, 2)
aneka rupa barang kagunan, 3) makna dalam berbagai konteks, 4) temuan konsep wangun, 5) melihat dan
mengkreasi barang kagunan dengan konsep wangun.
Temuan signifikan penelitian ini berupa konsep estetika barang kagunan yaitu wangun. Rupa wangun
barang kagunan adalah unsur wangun yang disusun berdasarkan tata susun wangun, berpedoman pada
angger- angger dan wewaler, sakral, dan memiliki makna. Selanjutnya konsep pola penempatan wangun
adalah barang kagunan dipajang di interior ditata berdasarkan azas tata susun wangun, berpedoman
pada angger-angger dan wewaler, ditempatkan pada area yang sakral, dan memiliki makna.
Melihat barang kagunan saat ini dengan konsep wangun dihasilkan rupa dan penempatan wangun dan ora
wangun atau aèng. Mengkreasi barang kagunan dengan konsep wangun saat ini yaitu ngowahi rupa atau
merubah bentuk barang kagunan dengan tidak merubah “struktur dalam”- nya. Agar rupa dan penempatan
barang kagunan pada interior menjadi wangun, maka konsep wangun ini dapat dijadikan pedoman, dengan
harapan menghadirkan kembali suasana interior rumah Jawa –interior nJawani, agar orang Jawa tidak
kehilangan suasana rumahnya. Atau sesuai dengan ungkapan wong Jawa ora ilang omahé.
Kata Kunci: barang kagunan, konsep estetika, makna
PROSIDING SEMINAR NASIONAL ESTETIKA NUSANTARA
Dengan mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih
dan penyayang saya menyambut terbitnya Prosiding Seminar Estetika
Nusantara dengan pembicara para pakar yang sudah tidak asing lagi
bagi kita. Seminar ini telah terselenggara pada tanggal 4 Nopember
2010. Pengetahuan yang dapat kita serap dari seminar ini, kecuali
paparan para pembicara, juga yang lebih penting lagi dialog yang terjadi
dalam seminar itu ditambah dengan suplemen makalah dari beberapa
peserta yang telah dipilih oleh Panitia Pengarah. Para pemakalah dan
penulis suplemen makalah adalah Jokob Sumardjo; Matius Ali; Mudji
Sutrisno, S.J.; G.R. Lono L. Sipatupang; Dharsono; Rahmanu Widayat;
Pujiyanto; dan Marwati.
Tujuan seminar ini bagi ISI Surakarta sudah jelas yaitu untuk
menjaring pengetahuan guna menyempurkanan bahan pendidikan bagi
para calon seniman dan cendekiawan seni yang melakuan studi di ISI
Surakarta. Harapannya dengan berbagai seminar seperti itu ISI Surakarta
dapat meramu bahan pendidikan yang makin match dengan
permasalahan bangsa Indonesia yang berpangkal pada masalah budaya
lewat penanganan seni Nusantara.
Agaknya pendidikan seni di Indonesia ini belum mempunyai orang
tua asuh. Sebab orang-orang yang sebenarnya dapat menjadi orang
tua asuh pendidikan seni masih terbelenggu dengan kaidah ilmu
positif yang telah ada sehingga pertumbuhan disiplin seni belum dapat
berjalan wajar. Seni masih diletakan sebagai obyek ilmu positif yang
telah berkembang. Padahal kalau seni sudah menyatakan dirinya sebagai
sebuah disiplin harus tumbuh dari berbagai pengalaman yang telah
dilaksanakan beratus bahkan beribu tahun di dunia ini. Khususnya untuk
seni nusantara pengalaman kehidupan seni di bentangan nusantara.
Sebagai langkah awal seminar dan prosiding ini telah memadahi,
karena substansi yang tertampung di dalamnya cukup mempunyai unsur
yang tidak konvensional, artinya terdapat beberapa kebaruan, hanya
belum meluas sehingga mencakup pengalaman seni nusantara. Area
bahasannya ada dua yaitu urientasi pada dunia filsafat pada umumnya
dan budaya Jawa yang nota bene merupakan budaya agraris sempit.
Padahal nusantara setidaknya mempunyai tiga lingkungan budaya yang
sangat kompetitif bila diangkat kepermukaan dunia yaitu (1) budaya
kelautan (maritim), lihat seberapa luas masyarakat kita yang budayanya
dipengruhi oleh laut; (2) budaya hutan), demikian pula masyarakat kita
yang menggantungkan hidupnya kepada kehidupan hutan; dan (3)
budaya agraris yang kita anggap sebagai satu-satunya budaya nusantara.
Oleh sebab itu kiranya seminar seperti ini harus dilengkapi agar
wilayah-wilayah budaya nusantara yang sering kurang mendapatkan
perhatian kita seperti budaya maritim dan budaya hutang menjadi fokus
kajian
Dimensi Interior - Jurnal Desain Interior : Vol. 2, No. 1, Juni 2004
1. Krobongan Ruang Sakral Rumah Tradisi Jawa
2. Peran Warna Interior Terhadap Perkembangan dan Pendidikan Anak di Taman Kanak-kanak
3. Pola Tata Letak Ruang Hunian-Usaha Pada Rumah Tinggal Tipe Kolonial di Pusat Kota Tuban
4. Terbentuknya Citra dalam Konteks Suasana Ruang
5. Penmgaruh Elemen Interior terhadap Karakter Akustik Auditorium
6. Berpikir Lateral dalam Perspektif Pembelajaran Desai
