1,720,969 research outputs found
KONFERENSI KASUS SEBAGAI TEKNIK PEMECAHAN MASALAH KONSELI
Untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah yang komplek dan rumit diperlukan keterlibatan berbagai pihak, baik personil yang ada dalam sekolah itu sendiri, orang tua, maupun helper lain yang ada di luar sekolah. Konferensi kasus (case conference) merupakan “sarana” yang dapat diselenggarakan oleh sekolah dalam upaya untuk mendiskusikan bersama membantu siswa yang bermasalah (kasus) agar memperoleh penyeleseaian yang sebaik-baiknya. Dalam forum pertemuan atau rapat itu dimaksudkan untuk memperoleh data atau informasi tambahan dari peserta agar pemahaman terhadap kasus menjadi lebih komprehensif dan mendalam, mendapatkan masukan bagi kemungkinan pemecahan masalah, serta penanganan yang sesuai dengan kemampuan, wewenang, dan tanggungjawab masing-masing
Peranan Guru Sekolah Dasar (Guru Sd) dalam Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling
Abstrak: Dalam proses belajar siswa tidak pernah lepas dari kesulitan, meski bagaimanapun hebatnya siswa itu. Kesulitan-kesulitan yang paling banyak muncul berdasar kenyataan yang ada ialah kesulitan belajar. Karena guru adalah menajemen proses belajar mengajar (PBM) di kelas maka peranan guru dalam memberikan bimbingan khususnya bimbingan belajar sangat besar. Peranan itu bisa bersifat aktif dan langsung yaitu berupa pemberian tindakan pengarahan belajar, memberikan informasi-informasi belajar, dan peranan lain yang bersifat tidak langsung yaitu memberikan kemudahan atau penciptaan situasi belajar yang menyenangkan sehingga siswa menjadi bergairah dalam belajarnya.Kata kunci: kesulitan belajar, peranan gur
Aplikasi Analisis Regresl Linear Ganda Metode Stepwise, Backward, Forward dan Enter (Data Laporan Tinggi Badan Anak Baru Masuk Sekolah SDN No.028226 Kotamadya Binjai Tahun 2002)
Penelitian ini adalah penelitian terapan (applied research) yang dilakukan untuk
melihat cara kerja dari berbagai metode pada Analisa Regresi ( Metode Enter, Forward,
Backward dan Stepwise). Data terapan adalah data tinggi badan dan umur sebagai variabel independent serta berat badan sebagai variabel dependent dari anak baru masuk sekolah di SON. No.028226 Kotamadya Binjai Tahun 2002. Dari hasil penelitian diketahui bahwa masing-masing metode mempunyai cara kerja yang berbeda, tetapi hasil akhir yang sama, yaitu adanya hubungan fungsional antara tinggi badan dengan berat badan, sedangkan umur tidak.79 HalamanSkripsi Sarjan
Penerapan Model Discovery Leraning sebagai Upaya Peningkatan Motivasi dan Hasil Belajar Fisika Materi Gravitasi
Penerapan Model Discovery Learning pada mata pelajaran Fisika di kelas X IPA-2 MAN 2 Klaten tahun pelajaran 2019/2020 berjalan dalam dua siklus. Hasil penelitian yang didapat, memperlihatkan peningkatan motivasi dan hasil belajar siswa kelas X IPA-2. Peningkatan ini berdasarkan data-data yang telah didapatkan pada tiap siklusnya.Berdasarkan data yang didapatkan, memperlihatkan kenaikan jumlah siswa yang mencapai kategori “tuntas†di setiap siklus. Indikator keberhasilan dari penelitian ini adalah terdapat 75% siswa yang tuntas KKM. Berdasarkan data pada tabel diatas dapat dilihat bahwa pada prasiklus hanya terdapat 6 (30%) siswa tuntas KKM. Pada siklus I terjadi peningkatan jumlah siswa X IPA-2 yang tuntas yaitu, terdapat 16 (80%) siswa tuntas KKM. Pada siklus II terjadi lagi peningkatan jumlah siswa X IPA-2 yang tuntas yaitu, terdapat 18 (90%) siswa tuntas KKM. Data tersebut memperlihatkan terjadi peningkatan dari prasiklus sampai siklus II. Keberhasilan penelitian sesuai dengan indikator keberhasilan didapat saat siklus I dan II, yaitu lebih dari 75% siswa tuntas KKM. Sedangkan pada nilai rata-rata kelas juga mengalami peningkatan. Pada siklus I nilai rata-rata kelas mencapai 78. Sedangkan pada siklus II nilai rata-rata kelas meningkat mencapai 84. Pada aspek motivasi belajar siswa juga mengalami peningkatan. Dari data yang diperoleh, baik di siklus I maupun di siklus II sudah mencapai indicator keberhasilan pada aspek peningkatan motivasi belajar siswa kelas X IPA-2. Pada siklus I, jumlah siswa yang mencapai kriteria minimal ketuntasan pada aspek peningkatan motivasi belajar mencapai 90%. Jumlah ini jauh lebih besar dari ketentuan minimal jumlah siswa yang harus mencapai kriteria ketuntasan minimal pada indicator keberhasilan, yaitu hanya 70% siswa. Apalagi jika kita lihat pada hasil peningkatan motivasi belajar siswa di siklus II, semua siswa mencapai kriteria ketuntasan minimal motivasi belajar
Bahasa Jawa etnis Bali:telaah struktur dan fungsinya
Latar Belakang Di Indonesia terdapat bermacam-macam etnis atau suku bangsa yang terbesar di seluruh pelosok tanah air. Tiap-tiap etnis hampir dapat dikatakan mempunyai bahasa daerah sebagai bahasa ibu (Kridalaksana, 1982). Bahasa daerah itu digunakan oleh masyarakat pendukungnya untuk kepentingan komunikasi yang sifatnya intern atau sesama suku (Poedjosoedarmo, 1979 :2). Sebagai contoh bahasa Jawa digunakan oleh masyarakat Jawa jika berkomunikasi dengan orang-orang yang berasal dari etnis Jawa. Namun, ada kalanya orang-orang nonetnis kIN juga menggunakan bahasa Jawa dalam berkomunikasi dalam situasi tertentu
IMPLEMENTASI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM ADAPTIF BAGI SISWA SMALB TUNAGRAHITA RINGAN KELAS X DI SLB NEGERI PEMBINA YOGYAKART
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi pendidikan agama islam adaptif bagi siswa SMALB Tunagrahita Ringan kelas X di SLB Negeri pembina Yogyakarta. Hal ini dilatarbelakangi bahwa siswa tunagrahita memiliki keterbatasan kecerdasan karena mereka rata-rata hanya memiliki IQ antara 55 sampai 70 sehingga mereka tidak dapat disamakan dengan siswa pada umumnya. Metode Penelitian ini menggunakan kualitatif yaitu mendiskripsikan tentang Implementasi Pendidikan Agama Islam Adaptif bagi siswa SMALB Tunagrahita Ringan Kelas X di SLB Negeri pembina Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran PAI untuk anak tunagrahita disesuaikan dengan kemampuan peserta didik atau disebut PAI Adaptif dengan cara: a) Menyederhanakan materi (downgrade) bila materi PAI yang terlalu sulit. b) Menghindari penyampaian materi PAI secara abtrak, teoristis, dan verbal. c) Penyampaian materi PAI secara kontektual, praktis, mudah, visual, bertahap, berkesinambungan dan berulang-ulang. d) Mengoptimalkan potensi afektif dan psikomotorik dari pada kognitif. e) Pendekatan pembelajaran individual. f) Menggunakan media dan metode yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. g) PAI Adaptif dapat dijadikan terapi psikologis bagi siswa tunagrahita
- …
