1,720,957 research outputs found

    Tari putri Sekar Pudyaningsih

    No full text
    Pada dasarnya tari Sekar Pudyaningsih merupakan tari permohonan / pepudyan yang dipergunakan untuk menyambut upacara pernikahan. Namun sekarang hal tersebut tidak begitu mutlak, sebab tarian ini telah diolah & disusun kembali menjadi suatu bentuk tari yang luwes & fleksibel. Tari ini menggambarkan seorang bidadari yang turun dari kayangan untuk memberikan restu serta memanjatkan doa keselamatan pada Tuhan YME, agar dalam mengarungi bahtera rumah tangga senantiasa mendapat rahmat serta kedamaian lahir & batin

    Pertunjukan tari di ndalem pujakusuman

    No full text
    Manajemen pertunjukan di ndalem Pujakusuman diharapkan dapat memberikan alternatif untuk meningkatkan volume penonton pertunjukan di ndalem Pujakusuman di bagi atas dua bagian yaitu tari yang rutin dan tari yang bersifat murgan

    Tari Putri Sekar Pudyaningsih

    Full text link
    Tari Sekar Pudyaningsih Menggambarkan seorang bidadari yang turun dari kayangan untuk memberikan restu serta memanjatkan doa keselamatan kepada Tuhan YME agar dalam mengarungi bahtera rumah tangga senantiasa mendapat rahmat serta kedamaian lahir batin. Tarian ini merupakan salah satu tarian putri tunggal gaya Yogyakarta. Penulis mengungkap melalui sajian tari dengan mempilkan repertoar tari Sekar Pudyaningsih sebagai perbendaharaan tari putri tunggal gaya Yogyakarta selain tari Golek

    Pertunjukan tari Ndalem Pujokesuman: satu tinjauan manajemen pertunjukan

    No full text
    Manajemen pertunjukan di Ndalem Pujokusuman diharapkan didapat memberikan alternatif untuk meningkatkan volume penonton. Pertunjukan di Ndalem Pujokusuman dibagi atas dua bagian yaitu tari yang rutin dan yang bersifat murgan

    KAJIAN SEMIO-KINESTETIK BEDHAYA WIWAHA SANGASKARA DALAM UPACARA PERKAWINAN DI KERATON KASULTANAN YOGYAKARTA

    Full text link
    Pelitian ini bertujuan mendeskripsikan makna atas simbol dan tanda-tanda yang terdapat dalam Bedhaya Wiwaha Sangaskara terkait dengan upacara perkawinan di Keraton Kasultanan Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan adaptasi, semiotik, hermeneutik, dan komunikasi estetik. Adaptasi digunakan untuk mengetahui struktur Bedhaya Wiwaha Sangaskara. Struktur tersebut selanjutnya di analisis menggunakan pendekatan semiotik dan hermeneutik. Hal itu digunakan untuk mendapatkan pemaknaan dan penafsiran terhadap tanda yang terdapat dalam Bedhaya Wiwaha Sangaskara. Hasil pemaknaan merupakan tafsir pesan yang ingin dikomunikasikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai pengirim pesan kepada penonton atau penerima pesan. Penelitian ini bersifat kualitatif menggunakan metode analisis dokumen/arsip dengan pendekatan pembacaan paralel, yaitu pembacaan terhadap dua teks yang berbeda. Pertama, teks yang bersumber pada naskah dan kedua, teks yang berupa Tari Bedhaya Wiwaha Sangaskara. Kedua sumber teks dicari kesesuaiannya berdasarkan struktur kemudian dilakukan tafsir makna. Sumber data dibagi menjadi dua besar, yaitu sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer penelitian ini adalah Tari Bedhaya Wiwaha Sangaskara. Sumber sekunder penelitian ini adalah naskah, manuskrip, dokumentasi, data kepustakaan, video, dan wawancara. Data-data tersebut dianalisis, dikondensasi, di-display, dan disimpulkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) terdapat adaptasi narasi, prosesi, gerakan, adaptasi filosofi elemen-elemen upacara, dan adaptasi pelaku upacara; 2) berbagai tanda atau simbol terdapat pada elemen-elemen pertunjukan Bedhaya Wiwaha Sangaskara yang membentuk makna; 3) Bedhaya Wiwaha Sangaskara menduduki fungsi estetis, edukatif, kultural, dan fungsi legitimasi. 4) Berdasarkan analisis semio-kinestetik ditemukan bahwa tanda-tanda yang terdapat pada elemen-elemen pertunjukan Bedhaya Wiwaha Sangaskara memuat makna kunci keharmonisan rumah tangga dalam perkawinan di Keraton Kasultanan Yogyakart

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Full text link
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts

    Full text link
    We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more sophisticated methods
    corecore