1,721,144 research outputs found
HERBAL FACEMASK BERBAHAN BERAS PUTIH DAN BENGKOANG DENGAN BAHAN TAMBAHAN GREEN TEA (Camelia sinensis) AROMA ANGGUR
HERBAL FACEMASK BERBAHAN BERAS PUTIH DAN BENGKOANG DENGAN BAHAN TAMBAHAN GREEN TEA (Camelia sinensis) AROMA ANGGUR Wulandari Dyah Permatasari1 H3513047 R.R. Aulia Qonita, S.P., M.P1 dan Dr. Ir. Eddy Tri Haryanto, M.P2 ABSTRAK Masker merupakan salah satu bentuk sediaan kosmetika berbentuk cairan atau pasta digunakan pada daerah kulit wajah, dengan tujuan untuk mencerahkan kulit wajah dan melindungi kulit terhadap radikal bebas. Masker Herbal Berbahan Beras Putih dan Bengkoang dengan Bahan Tambahan Green Tea (Camellia sinensis) Aroma Anggur merupakan masker yang terbuat dari tepung beras putih, bengkoang dan green tea yang bermanfaat untuk membersihkan, mencerahkan dan menghambat pertumbuhan jerawat pada wajah. Beras putih (Oryza sativa L.) dan bengkuang (Pachyrhizus erosus) memiliki kandungan yang dapat membersihkan dan mencerahkan wajah. Green tea (Camellia sinensis L.) dalam masker sebagai antibakteri Staphylococcus aureus yang menghambat pertumbuhan jerawat. Pembuatan Masker Herbal Berbahan Beras Putih dan Bengkoang dengan Bahan Tambahan Green Tea Aroma Anggur diawali dengan persiapan peralatan dan bahan baku produksi, penimbangan dan pencampuran bahan baku, pengemasan hingga pemasaran. Pemasaran masker tersebut menggunakan strategi yang disebut dengan bauran pemasaran atau marketing mix. Memiliki variabel-variabel pemasaran yaitu produk (product), harga (price), tempat pemasaran (place) dan promosi (promotion). Usaha pembuatan masker tersebut memiliki R/C ratio sebesar 1,21 dan memiliki B/C ratio sebesar 0,21 yang berarti produk Masker Herbal Berbahan Beras Putih dan Bengkoang dengan Bahan Tambahan Green Tea (Camellia sinensis) Aroma Anggur ini dikatakan layak dan menguntungkan untuk dijadikan usaha. Kata Kunci : Masker Herbal, Green Tea (Camellia sinensis L.), Bengkoang (Pachyrhizus erosus), Beras putih (Oryza sativa L.). Keterangan : 1. Mahasiswa Program Studi D-III Agribisnis Minat Agrofarmaka Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta dengan nama Wulandari Dyah Permatasari NIM. H3513047 2. Dosen Pembimbing 3. Dosenn Penguji
Sistem Upload Eprints
Logout
De
Desain dan Uji Kinerja Modifikasi Pipa Absorber untuk Kolektor Surya Tipe CPC (Compound Parabolic Collector).
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas perpindahan panas
pada kolektor surya tipe CPC menggunakan wire coil dan wiremesh pada sisi dalam
pipa absorber. Perbandingan antara rasio pitch dengan diameter dalam pipa (p/d)
dan nilai rasio diameter wire dengan diameter dalam pipa (e/d) merupakan aspek
penting dalam proses perancangan wire coil. Kedua nilai tersebut adalah 1 dan
0.125. Pada perancangan pipa absorber dengan wiremesh, ukuran pori dan
porositas merupakan aspek penting yang diperhatikan. Adapun wiremesh yang
digunakan mempunyai ukuran 50 pori/inci2 dengan porositas 0.963. Pengujian
dilakukan pada pipa absorber standar, pipa absorber dengan wire coil, dan pipa
absorber dengan wiremesh. Ketiga pipa tersebut dirangkai pada kolektor surya tipe
CPC. Variasi dari debit fluida yang diuji adalah 1 L/menit hingga 6 L/menit. Hasil
pengujian menunjukkan bahwa rata–rata kenaikan suhu tertinggi adalah 1.06 oC
untuk pipa absorber dengan wire coil. Nilai rata – rata kenaikan suhu tertinggi
untuk pipa absorber dengan wiremesh adalah 0.95 oC. Berdasarkan uji anasilis
ragam (ANOVA) dan uji lanjut (post-hoc test) dengan metode uji Tukey, jenis pipa
terbaik adalah pipa absorber dengan wire coil yang ditunjukkan dengan
perbandingan nilai rataan, yaitu 37.20%
Perbanyakan Mikro dan Karakter Morfo-genetika Talas (Colocasia esculenta) Kultivar Kaliurang Diploid dan Tetraploid
Talas Kaliurang merupakan tanaman umbi sebagai pangan fungsional.
Kultivar ini toleran terhadap hama dan penyakit tertentu, selain rasanya yang enak.
Untuk pengembangannya, talas Kaliurang memiliki kendala dalam penyediaan
benih bermutu. Benih unggul dapat diupayakan melalui induksi poliploid. talas
Kaliurang tetraploid telah berhasil dihasilkan oleh Ermayanti et al. (2018). Kendala
dalam penyediaan benih yang terbatas dapat diupayakan melalui perbanyakaan
mikro dengan teknik kultur in vitro. Komposisi media untuk perbanyakan mikro
menjadi faktor penting dalam keberhasilan proses ini, komposisi media untuk
menunjang penyediaan benih talas Kaliurang belum pernah dilakukan. Informasi
morfologi talas Kaliurang (diploid dan tetraploid) juga belum pernah
diinformasikan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan media yang optimum
untuk perbanyakan mikro tanaman talas Kaliurang diploid dan tetraploid
menggunakan perlakuan tiamin dan adenin pada media dasar (media MS dengan
penambahan 2 mg/L BAP), hingga proses aklimatisasinya, dan memastikan
kestabilan tingkat ploidi talas Kaliurang tetraploid setelah perlakuan perbanyakan
mikro dan menganalisis karakter morfologi dan genetik talas Kaliurang diploid dan
tetraploid.
Penelitian ini dilakukan sejak Mei 2018 hingga September 2019. Sampel
yang digunakan adalah stok tunas in vitro, koleksi Pusat Penelitian Bioteknologi,
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Cibinong. Perbanyakan mikro
dilakukan pada klon diploid dan tetraploid hasil induksi poliploid dengan kolkisin,
pada media dasar (MS dengan penambahan 2 mg/L BAP) dengan enam kombinasi
perlakuan tiamin dan adenin. Pertumbuhan tanaman diamati setiap minggu selama
enam minggu, pada jumlah tunas, daun, dan akar, serta panjang petiol. Tingkat
ploidi diamati menggunakan alat flositometer, untuk mengkonfirmasi stabilitas
ploidi tanaman tetraploid. Karakter morfologi dicatat, mengacu pada Mayo et al.
(1997) dan IPGRI (1999), dan dianalisis keragamannya dengan metode UPGMA
menggunakan NTSys 2.11. Analisis morfometrik geometris dilakukan dalam tiga
langkah utama: Digitasi daun menggunakan tpsDig untuk memperoleh data
kuantitatif, analisis statistik untuk mengevaluasi variasi bentuk menggunakan
tpsRelw dan tpsSplin, dan analisis kelompok berdasarkan jarak euclideus
menggunakan program R versi 3.6.1. Analisis molekuler dilakukan dengan
mengisolasi DNA dari daun menggunakan kit Zymo plant. Amplifikasi PCR dengan
20 primer ISSR pada suhu 35 – 60 ᴼC. Hasil PCR diamati menggunakan
elektroforesis dan difoto menggunakan GelDoc. Pita polimorfik diberi skor menjadi
data biner, dan dikompilasi dalam matriks data, yang akan digunakan untuk
mengetahui keragamannya dengan metode UPGMA menggunakan NTSys 2.11.
Hasil penelitian menunjukkan penambahan 4 mg/L tiamin dan 2 mg/L
adenin pada media dasar merupakan media optimal untuk perbanyakan mikro talas
Kaliurang, dengan rata-rata 3.45 tunas. Persentase keberhasilan aklimatisasi
mencapai 99.1 %. Ploidi tanaman telah stabil.
Secara fenotipik, tanaman tetraploid menunjukkan perubahan fenotipe yang
memisahkannya dari diploidnya. Ciri morfologi berbeda pada 22 karakter
morfologi, yaitu karakter Is, Ts, VSbZ, VSbY, AbC, AdC, TP, TC, SbC, AdVL1C,
AdVL2C, AdVL3C, UpC, UpT, TpC, pC, pdCo, pCo, ptDoC, BptC, GptC dan Td.
Analisis morfologi menunjukkan adanya 2 kelompok besar, dengan koefisien
kemiripan 0.35 – 0.78. Kelompok I terdiri dari klon K0 dan kelompok II dibagi
menjadi 2 sub-kelompok, sub-kelompok A yang terbagi dari klon K1 dan K2, dan
sub-kelompok B terdiri dari K3. Karakter morfometri berbeda pada titik Ts, Vn1,
Vn,2 Vn3, dan Vp. Morfometri daun terbagi menjadi 3 kelompok, kelompok I
terdiri dari K0, kelompok II terdiri dari K2, dan kelompok III memasukkan klon K1
dan K3.
Tanaman tetraploid menunjukkan perubahan genetik dari diploidnya hanya
pada klon K2 dan K3, yaitu pada primer (CT)8G T400, (AG)8YC T350,750, (AC)8CYT
T350 dan (CTC)6 T1000, sedangkan klon K1 tidak berbeda kelompok dengan
diploidnya. Penanda ISSR menunjukkan 2 kelompok; kelompok I terdiri dari klon
K0 dan K1, dan kelompok II terdiri dari klon K2 dan K3, dengan koefisien
kemiripan antara kedua kelompok 0.71
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
koamabayili/VECTRON-author-checklist: VECTRON author checklist
We have done our best to complete the author checklist relating to the use of animals in the hut study. Note that the objective for the hut study was to evaluate the IRS treatment applications for residual efficacy against Anopheles mosquitoes, including the local An. coluzzii mosquito population. Cows were only used to attract mosquitoes into the huts and no tests were carried out directly on the cows. The author checklist is intended for use with studies where experiments are carried out on animals, which is why we have had such difficulty in completing this for the hut study, as many of the questions do not relate to how the cows were used
- …
