5 research outputs found
PERKEMBANGAN IPTEK NUKLIR BIDANG KESEHATAN DI INDONESIA
Penemuan sinar-x di akhir abad 19 (November-1895), menunjukkan bahwa teknologi nuklir bukanlah suatu hal yang baru bagi dunia kesehatan. Begitu pula halnya dengan perkembangan ilmu kedokteran nuklir di Indonesia. Unit kedokteran nuklir di Indonesia didirikan tidak lama setelah reaktor atom pertama dioperasikan di tahun 1965, dan bahkan hingga saat ini aktivitasnya telah memberikan kontribusi cukup signifikan di bidang kesehatan. Kegiatan iptek nuklir di bidang ini lebih diarahkan pada lingkup teknologi proses, analisis, rekayasa peralatan dan instrumentasi, serta pembuatan perangkat medik berupa sediaan radioisotop dan radiofarmaka. Dalam konteks ini, pengembangan iptek nuklir lebih dipacu untuk diselaraskan dengan kebutuhan pengguna, terutama berkaitan dengan efisiensi, kualitas dan proses produksinya, serta aplikasinya baik untuk tujuan diagnosis maupun terapi. Beberapa kegiatan pengembangan iptek nuklir dan aplikasinya yang terkait dengan aspek kesehatan hingga saat ini, terutama di bidang kedokteran nuklir, dipaparkan dalam makalah ini. Sarana dan prasarana yang tersedia, serta kemampuan ilmiah yang ada masih dapat dioptimalkan dan perlu terus dibina. Untuk membangun bangsa, penghasil teknologi, pengguna/ industri/dunia usaha dan pembuat kebijakan perlu bersinergi dan memiliki visi dan persepsi yang sama
 
PERKEMBANGAN IPTEK NUKLIR BIDANG KESEHATAN DI INDONESIA
Penemuan sinar-x di akhir abad 19 (November-1895), menunjukkan bahwa teknologi nuklir bukanlah suatu hal yang baru bagi dunia kesehatan. Begitu pula halnya dengan perkembangan ilmu kedokteran nuklir di Indonesia. Unit kedokteran nuklir di Indonesia didirikan tidak lama setelah reaktor atom pertama dioperasikan di tahun 1965, dan bahkan hingga saat ini aktivitasnya telah memberikan kontribusi cukup signifikan di bidang kesehatan. Kegiatan iptek nuklir di bidang ini lebihdiarahkan pada lingkup teknologi proses, analisis, rekayasa peralatan dan instrumentasi, serta pembuatan perangkat medik berupa sediaan radioisotop dan radiofarmaka. Dalam konteks ini, pengembangan iptek nuklir lebih dipacu untuk diselaraskan dengan kebutuhan pengguna, terutama berkaitan dengan efisiensi, kualitas dan proses produksinya, serta aplikasinya baik untuk tujuan diagnosis maupun terapi. Beberapa kegiatan pengembangan iptek nuklir dan aplikasinya yang terkait dengan aspek kesehatan hingga saat ini, terutama di bidang kedokterannuklir, dipaparkan dalam makalah ini. Sarana dan prasarana yang tersedia, serta kemampuan ilmiah yang ada masih dapat dioptimalkan dan perlu terus dibina. Untuk membangun bangsa, penghasil teknologi, pengguna/ industri/dunia usaha dan pembuat kebijakan perlu bersinergi dan memiliki visi dan persepsi yang sam
Pembuatan, Pemurnian dan Stabilitas Virgin Coconut Oil (VCO) Bertanda Radioiodium-131
Minyak kelapa virgin (Virgin Coconut Oil atau VCO) telah dikenal sebagai minyak yang mengandung asam lemak jenuh rantai menengah dan bermanfaat untuk menangkal serta menyembuhkan berbagai penyakit. Namun demikian pengungkapan ilmiah terkait dengan cara kerja dan nasibnya di dalam tubuh masih sangat jarang ditemukan dalam pustaka. Salah satu metode yang dapat menjelaskan fenomena ini adalah uji farmakologis dengan mengunakan senyawa bertanda radionuklida. Pada tulisan ini dikemukakan cara pembuatan senyawa bertanda 131 I-VCO dan karakterisasinya. Metode penandaan dilakukan dengan cara langsung dan cara tidak langsung, sedangkan pemurniannya dilakukan dengan cara ekstraksi menggunakan pelarut kloroform. Penetapan kemurnian radiokimia dilakukan dengan metode kromatografi kertas menaik menggunakan fase diam Whatman-1 dan fase gerak larutan ammonium sitrat 0,02 N pada pH 9. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa VCO dapat ditandai dengan radioiodium-131 melalui metode tidak langsung dengan rendemen penandaan sebesar 75,7 ± 19,3%, dengan tingkat kemurnian radiokimia 95,9 ± 2,6%, dan konsentrasi radioaktivitas sebesar 57 mCi/mL. Sediaan 131 I-VCO yang disimpan dalam etanol absolut pada suhu dingin (4 o C) stabil selama 4 hari dengan tingkat kemurnian radiokimia masih di atas 90%, tetapi menurun sangat signifikan pada hari ke delapan dengan tingkat kemurnian di bawah 20%. Diharapkan dengan keberhasilan penandaan VCO disertai karakter yang dimilikinya tersebut, parameter farmakologisnya dapat dikaji lebih seksama, sehingga pemanfaatan VCO baik untuk tujuan preventif maupun terapeutik memiliki landasan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan
OPTIMALISASI PENANDAAN 99mTc-DTPA-KETOKONAZOL SEBAGAI RADIOFARMAKA UNTUK DETEKSI INFEKSI FUNGI
Kemiripan gejala yang timbul akibatpenyakit infeksi, baik oleh bakteri, fungi atau virus pada stadium awal, mengakibatkanpengobatan seringkali tidak tepat. Diagnosis yang tepat sasaran dapat menjadikan pengobatanlebih efektif dan memiliki tingkat kesembuhan yang maksimal. Pada penelitian ini dilakukanpengembangan diagnosis infeksi fungi berbasis drug-targeting relationship antara radiofarmaka99mTc-DTPA-ketokonazol sebagai radioperunut dan fungi yang terdapat di dalam tubuh sebagaitargetnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan sediaan radiofarmasi 99mTc-DTPAketokonazolmenggunakan teknik penandaan tidak langsung dengan ko-ligan atau bifunctionalagent sebagai penghubung antara radionuklida 99mTc dengan ketokonazol. Bifunctional agentyang digunakan dalam penelitian ini yaitu dietilen triamin pentaasetat (DTPA). Dari penelitian inidiperoleh kondisi optimal penandaan 99mTc-DTPA-ketokonazol, yaitu komposisi jumlahketokonazol 2 mg; DTPA 1,125 mg; SnCl2.2H2O 37,5 μg; pH 4,5 dan waktu inkubasi selama 5menit, sehingga diperoleh kemurnian radiokimia sebesar 97,77±0,33 %. Uji uptake in-vivo99mTc-DTPA-ketokonazol dilakukan terhadap Candida albicans yang diinfeksikan ke dalam pahakiri mencit. Hasil percobaan menunjukkan bahwa rasio organ terinfeksi dan tidak terinfeksi(T/NT) setelah 2 jam injeksi sebesar 3,16±0,04 (n=5). Dari hasil yang diperoleh, dapatdisimpulkan bahwa 99mTc-DTPA-ketokonazol berhasil dibuat dan memenuhi syarat sebagairadiofarmaka
Karakteristik Fisiko-kimia Dan Bioafinitas 99mtc-glukosa-6-fosfat Terhadap Jaringan Tumor Dalam Hewan Model
KARAKTERISTIK FISIKO-KIMIA DAN BIOAFINITAS 99mTc-GLUKOSA-6-FOSFATTERHADAP JARINGAN TUMOR DALAM HEWAN MODEL. Senyawa bertanda 99mTc-glukosa-6-fosfat apabila disuntikkan ke dalam tubuh manusia akan terakumulasi di dalam jaringan atauorgan yang tingkat metabolismenya relatif lebih cepat atau lebih tinggi seperti halnya sel-selkanker atau tumor Maligna dari pada organ atau jaringan lainnya yang normal, sehingga dapatdigunakan untuk mendeteksi keberadaan dan viabilitas sel-sel Maligna di dalam tubuh manusia.Telah dikembangkan metode baku preparasi kit-kering glukosa-6-fosfat yang akanmenghasilkan kit-diagnostik yang memenuhi persyaratan. Karakteristik fisiko-kimia 99mTcglukosa-6-fosfat yang ditentukan meliputi kemurnian radiokimia menggunakan metodekromatografi kertas dan lapis tipis, lipofilisitas menggunakan metode partisi n-oktanol/air,besarnya ikatan dengan protein plasma ditentukan dengan metode pengendapanmenggunakan larutan TCA 20 %, muatan listrik menggunakan metode elektroforesis kertas.Stabilitas sediaan baik berupa kit-kering maupun senyawa bertanda ditentukan dengan metodekromatografi. Adapun tingginya afinitas terhadap sel kanker dibuktikan dengan menyuntikkansenyawa tersebut ke dalam tubuh hewan model yang mempunyai jaringan tumor artifisial didalam tubuhnya. Hasilnya menunjukkan bahwa kit kering glukosa-6-fosfat stabil sampai 20minggu pada penyimpanan di lemari es (4 oC), sedangkan senyawa bertanda 99mTc-glukosa-6-fosfat stabil pada temperatur kamar sampai 2 jam setelah penandaan dengan kemurnianradiokimia yang diperoleh sebesar 94,4 ± 2,25 %. Radioaktivitas dari 99mTc-perteknetat yangdapat ditambahkan ke dalam kit-kering tersebut sekitar 5-30 mCi dengan volume tidak lebih dari3 mL. Senyawa bertanda 99mTc-glukosa-6-fosfat mempunyai sifat hidrofilik dengan koefisienpartisi octanol/air (P) sebesar 1,09 ± 0,45 dan tingginya ikatan dengan protein plasma sebesar81,26 ± 12,74 %. Rasio akumulasi pada jaringan tumor (target) terhadap jaringan normal (nontarget)otot dan hati masing-masing sebesar 4 kali (400 %) pada 60 menit pasca injeksi (p.i)dan 2,5 kali (250%) pada 45 menit p.i. Diharapkan senyawa bertanda tersebut dapatmengsubstitusi kebutuhan akan 18FDG-(flouro dioxy glucose bertanda F-18) bagi kedokterannuklir yang tidak memiliki fasilitas cyclotron dan PET yang harganya sangat mahal, untuk dapatmendeteksi adanya tumor
